Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Fatihah

Al Fatihah (Pembukaan) surah 1 ayat 1


بِسْمِ اللہِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Bismillahir-rahmanir-rahiim(i);

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.
―QS. 1:1
Topik ▪ Kasih sayang Allah yang luas
1:1, 1 1, 1-1, Al Fatihah 1, AlFatihah 1, Al-Fatihah 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Fatihah (1) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Surah al-Fatihah dimulai dengan Basmalah Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan Basmalah yang terdapat pada permulaan surah Al-Fatihah.

Di antara pendapat-pendapat itu, yang termasyhur ialah:

1.
Basmalah adalah ayat tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara satu surah dengan surah yang lain.
Jadi dia bukanlah satu ayat dari al-Fatihah atau dari surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu.
Ini pendapat Imam Malik beserta ahli qiraah dan fuqaha (ahli fikih) Medinah, Basrah dan Syam, dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya.
Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah, Basmalah itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat, bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
Hadis Nabi ﷺ:

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Saya salat di belakang Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar dan Usman.
Mereka memulai dengan al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, tidak menyebut Bismillahirrahmanirrahim di awal bacaan, dan tidak pula di akhirnya.”(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

2.
Basmalah adalah salah satu ayat dari al-Fatihah, dan pada surah an-Naml/27:30, /27:30) yang dimulai dengan Basmalah.
Ini adalah pendapat Imam Syafi’i beserta ahli qiraah Mekah dan Kufah.
Sebab itu menurut mereka Basmalah itu dibaca dengan suara keras dalam salat (jahar).

Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu antara lain Hadis Nabi ﷺ:

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah ﷺ mengeraskan bacaan Bismillahirrahmanirrahim.
(Riwayat al-hakim dalam al-Mustadrak dan menurutnya, hadis ini sahih)

Dari Ummu Salamah, katanya, Rasulullah ﷺ berhenti berkali-kali dalam bacaanya Bismillahirrahmanirrahim, al-hamdulillahi Rabbil- ‘alamin, ar-Rahmanir-rahim, Maliki Yaumid-din.
(Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan al-hakim.

Menurut ad-Daruqutni, sanad hadis ini sahih).
Abu Hurairah juga salat dan mengeraskan bacaan basmalah.
Setelah selesai salat, dia berkata, “Saya ini adalah orang yang salatnya paling mirip dengan Rasulullah.”

Muawiyah juga pernah salat di Medinah tanpa mengeraskan suara basmalah.
Ia diprotes oleh para sahabat lain yang hadir disitu.
Akhirnya pada salat berikutnya Muawiyah mengeraskan bacaan basmalah.

Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ telah sependapat menuliskan Basmalah pada permulaan surah dari surah Al-Qur’an, kecuali surah at-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah ﷺ melarang menuliskan sesuatu yang bukan Al-Qur’an agar tidak bercampur aduk dengan Al-Qur’an, sehingga mereka tidak menuliskan ‘amin pada akhir surah al-Fatihah, maka Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain, bahwa “basmalah-basmalah” yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah ayat-ayat Al-Qur’an, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari al-Fatihah atau dari surah lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa surah al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat.
Mereka yang berpendapat bahwa Basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari al-Fatihah, memandang: adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat al-Fatihah itu tetap tujuh.
“Dengan nama Allah” maksudnya “Dengan nama Allah saya baca atau saya mulai”.
Seakan-akan Nabi berkata, “Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab ia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri.” Maka Basmalah di sini mengandung arti bahwa Al-Qur’an itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad ﷺ dan Muhammad itu hanyalah seorang Pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Al-Qur’an kepada manusia.
Makna kata Allah Allah adalah nama bagi Zat yang ada dengan sendirinya (wajibul-wujud).

Kata “Allah” hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan.
Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain.
Hikmah Membaca Basmalah Seorang yang selalu membaca Basmalah sebelum melakukan pekerjaan yang penting, berarti ia selalu mengingat Allah pada setiap pekerjaannya.
Dengan demikian ia akan melakukan pekerjaan tersebut dengan selalu memperhatikan norma-norma Allah dan tidak merugikan orang lain.
Dampaknya, pekerjaan yang dilakukannya akan berbuah sebagai amalan ukhrawi.

Seorang Muslim diperintahkan membaca Basmalah pada waktu mengerjakan sesuatu yang baik.
Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa sesuatu yang dikerjakan adalah karena perintah Allah, atau karena telah diizinkan-Nya.
Maka karena Allah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan agar pekerjaan terlaksana dengan baik dan berhasil.
Nabi ﷺ bersabda:

“Setiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan menyebut Basmalah adalah buntung (kurang berkahnya).” (Riwayat Abdul-Qadir ar-Rahawi).

Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu dengan menyebut al-Lata dan al-‘Uzza, nama-nama berhala mereka.
Sebab itu, Allah mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya, agar mereka mengerjakan sesuatu dengan menyebut nama Allah.

Al Fatihah (1) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Fatihah (1) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Fatihah (1) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Surat ini dimulai dengan menyebut nama Allah–satu-satunya Tuhan yang berhak disembah–Yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan tersucikan dari segala bentuk kekurangan.
Dialah Pemilik rahmah (sifat kasih) yang tak habis-habisnya, Yang menganugerahkan segala macam kenikmatan, baik besar maupun kecil.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Aku mulai membaca al-Quran dengan menyebut nama Allah sekaligus memohon pertolongan kepada-Nya.
Allah adalah nama bagi ar-Rabb Tabaraka wa Taala, yang disembah dengan haq bukan selainNya.Allah adalah nama Allah yang paling khusus, tidak ada selainNya yang berhak menyandang nama ini.
Ar-Rahman Pemilik rahmat yang umum di mana rahmat-Nya mencakup seluruh makhluk.
Ar-Rahim Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.
Ini adalah dua nama Allah di antara nama-nama-Nya yang lain yang menetapkan sifat rahmat bagi Allah Taala sesuai dengan kebesaran-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Para sahabat memulai bacaan Kitabullah dengan basmalah, dan para ulama sepakat bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari surat An-Naml.
Kemudian mereka berselisih pendapat apakah basmalah merupakan ayat tersendiri pada permulaan tiap-tiap surat, ataukah hanya ditulis pada tiap-tiap permulaan surat saja.
Atau apakah basmalah merupakan sebagian dari satu ayat pada tiap-tiap surat, atau memang demikian dalam surat Al-Fatihah, tidak pada yang lainnya, ataukah basmalah sengaja ditulis untuk memisahkan antara satu surat dengan yang lainnya, sedangkan ia sendiri bukan merupakan suatu ayat.
Mengenai masalah ini banyak pendapat yang dikatakan oleh ulama, baik Salaf maupun Khalaf.
Pembahasannya secara panjang lebar bukan diterangkan dalam kitab ini.

Di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّورَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

dari Ibnu Abbas r.a.
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ dahulu belum mengetahui pemisah di antara surat-surat sebelum diturunkan kepadanya: Bismillahir rahmanir rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).

Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Hakim, yaitu Abu Abdullah An-Naisaburi, di dalam kitab Mustadrak-nya.
Dia meriwayatkannya secara mursal dari Sa’id ibnu Jubair.

Di dalam kitab Sahih Ibnu Khuzaimah disebutkan dari Ummu Salamah r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ membaca basmalah pada permulaan surat Al-Fatihah dalam salatnya, dan beliau menganggapnya sebagai salah satu ayatnya.

Tetapi hadis yang melalui riwayat Umar ibnu Harun Balkhi, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ummu Salamah ini di dalam sanadnya terkandung kelemahan.

Imam Daruqutni ikut meriwayatkannya melalui Abu Hurairah secara marfu’ .
Hal semisal diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas serta selain keduanya

Di antara orang-orang yang mengatakan bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari tiap surat kecuali surat Bara’ah (surat At-Taubah) adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, dan Abu Hurairah sedangkan dari kalangan tabi’in ialah Ata, Tawus, Sa’id ibnu Jubair.
dan Makhul Az-Zuhri.
Pendapat inilah yang dipegang oleh Abdullah ibnu Mubarak, Imam Syafii, dan Imam Ahmad ibnu Hambal dalam salah satu riwayat yang bersumber darinya, dan Ishaq ibnu Rahawaih serta Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta murid-muridnya mengatakan bahwa basmalah bukan merupakan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah, bukan pula bagian dari surat-surat lainnya.

Imam Syafii dalam salah satu pendapat yang dikemukakan oleh sebagian jalur mazhabnya menyatakan bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari Al-Fatihah, tetapi bukan merupakan bagian dari surat lainnya.
Diriwayatkan pula dari Imam Syafii bahwa basmalah adalah bagian dari satu ayat yang ada dalam permulaan tiap surat.
Akan tetapi, kedua pendapat tersebut garib (aneh).

Daud mengatakan bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri dalam permulaan tiap surat, dan bukan merupakan bagian darinya.
Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad ibnu Hambal.
diriwayatkan pula oleh Abu Bakar Ar-Razi, dari Abul Hasan Al-Karkhi, yang keduanya merupakan pentolan murid-murid Imam Abu Hanifah.

Demikianlah pendapat-pendapat yang berkaitan dengan kedudukan basmalah sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah atau tidaknya.

Masalah pengerasan bacaan basmalah sesungguhnya merupakan cabang dari masalah di atas.
Dengan kata lain, barang siapa berpendapat bahwa basmalah bukan merupakan suatu ayat dari Al-Fatihah, dia tidak mengeraskan bacaannya.
Demikian pula halnya bagi orang yang sejak awalnya berpendapat bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri.

Orang yang mengatakan bahwa basmalah merupakan suatu ayat dari permulaan setiap surat, berselisih pendapat mengenai pengerasan bacaannya.
Mazhab Syafii mengatakan bahwa bacaan basmalah dikeraskan bersama surat Al-Fatihah, dan dikeraskan pula bersama surat lainnya.
Pendapat ini bersumber dari berbagai kalangan ulama dari kalangan para sahabat para tabi’in.
dan para imam kaum muslim.
baik yang Salaf maupun Khalaf.

Dari kalangan sahabat yang mengeraskan bacaan basmalah ialah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Mu’awiyah.
Bacaan keras basmalah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Bar dan Imam Baihaqi.
dari Umar dan Ali.
Apa yang dinukil oleh Al-Khatib dari empat orang khalifah —yaitu Abu Bakar.
Umar, Usman.
dan Ali— merupakan pendapat yang garib.

Dari kalangan tabi’in yang mengeraskan bacaan basmalah ialah Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Abu Qilabah, Az-Zuhri, Ali ibnul Husain dan anaknya (yaitu Muhammad serta Sa’id ibnul Musayyab), Ata, Tawus, Mujahid, Salim, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ubaid dan Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm, Abu Wail dan Ibnu Sirin, Muhammad ibnul Munkadir, Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas dan anaknya (Muhammad), Nafi’ maula Ibnu Umar, Zaid ibnu Aslam, Umar ibnu Abdul Aziz, Al-Azraq ibnu Qais.
Habib ibnu Abu Sabit.
Abusy Syasa, Makhul, dan Abdullah ibnu Ma’qal ibnu Muqarrin.
Sedangkan Imam Baihaqi menambahkan Abdullah ibnu Safwan, dan Muhammad ibnul Hanafiyyah menambahkan Ibnu Abdul Bar dan Amr ibni Dinar.

Hujah yang mereka pegang dalam mengeraskan bacaan basmalah adalah “Karena basmalah merupakan bagian dari surat Al-Fatihah, maka bacaan basmalah dikeraskan pula sebagaimana ayat-ayat surat Al-Fatihah lainnya”.

Telah diriwayatkan pula oleh Imam Nasai di dalam kitab Sunan-nya oleh Ibnu Khuzaimah serta Ibnu Hibban dalam kitab Sahih-nya masing-masing, juga oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui Abu Hurairah: bahwa ia melakukan salat dan mengeraskan bacaan basmalahnya, setelah selesai dari salatnya itu Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang yang salatnya paling mirip dengan salat Rasulullah ﷺ di antara kalian.”

Hadis ini dinilai sahih oleh Imam Daruqutni, Imam Khatib, Imam Baihaqi, dan lain-lainnya.

Abu Daud dan Turmuzi meriwayatkan melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah membuka salatnya dengan bacaan bismilahir rahmanir rahim.
Kemudian Turmuzi mengatakan bahwa sanadnya tidak mengandung kelemahan.

Hadis yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengeraskan bacaan bismillahir rahmanir rahim.
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadis tersebut sahih.

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan melalui Anas ibnu Malik bahwa ia pernah ditanya mengenai bacaan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, maka ia menjawab bahwa bacaan Nabi ﷺ panjang, beliau membaca bismillahir rahmanir rahim dengan bacaan panjang pada bismillah dan Ar-Rahman serta Ar-Rahim.
(Dengan kata lain, beliau ﷺ mengeraskan bacaan basmalahnya).

Di dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Abu Daud, Sahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Imam Hakim, disebutkan melalui Ummu Salamah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membacanya dengan cara berhati-hati pada setiap ayat, yaitu:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ.
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan ….

Ad-Daruqutni mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.

Imam Abu Abdullah Asy-Syafii meriwayatkan, begitu pula Imam Hakim dalam kitab Mustadrak-nya melalui Anas, bahwa Mu’awiyah pernah salat di Madinah, ia meninggalkan bacaan basmalah, maka orang-orang yang hadir (bermakmum kepadanya) dari kalangan Muhajirin memprotesnya.
Ketika ia melakukan salat untuk yang kedua kalinya.
barulah ia membaca basmalah.

Semua hadis dan asar yang kami ketengahkan di atas sudah cukup.
dijadikan sebagai dalil yang dapat diterima guna menguatkan pendapat ini tanpa lainnya.
Bantahan dan riwayat yang garib serta penelusuran jalur, ulasan, kelemahan-kelemahan serta penilaiannya akan dibahas pada bagian lain.

Segolongan ulama lainnya mengatakan bahwa bacaan basmalah dalam salat tidak boleh dikeraskan.
Hal inilah yang terbukti dilakukan oleh empat orang khalifah, Abdullah ibnu Mugaffal.
dan beberapa golongan dari ulama Salaf kalangan tabi’in dan ulama Khalaf, kemudian dipegang oleh mazhab Abu Hanifah, Imam Sauri, dan Ahmad ibnu Hambal.

Menurut Imam Malik, basmalah tidak boleh dibaca sama sekali, baik dengan suara keras ataupun perlahan.
Mereka mengatakan demikian berdasarkan sebuah hadis di dalam Sahih Muslim melalui Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ، والقراءة بالحمد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rasulullah ﷺ membuka salatnya dengan takbiratul ihram dan membuka bacaannya dengan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamina (yakni tanpa basmalah).

Di dalam kitab Sahihain yang menjadi dalil mereka disebutkan melalui Anas ibnu Malik yang mengatakan:

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وعثمان فكانوا يفتتحون بالحمد لله رب العالمين.

Aku salat di belakang Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Us’man.
Mereka membuka (bacaannya) dengan alhamdu lillahi rabbil ‘alamina.

Menurut riwayat Imam Muslim, mereka tidak mengucapkan bismil-lahir rahmanir rahim, baik pada permulaan ataupun pada akhir bacaannya.
Hal yang sama disebutkan pula dalam kitab-kitab Sunan melalui Abdullah ibnu Mugaffal r.a.
Demikianlah dalil-dalil yang dijadikan pegangan oleh para imam dalam masalah ini, semuanya berdekatan, karena pada kesimpulannya mereka sangat sepakat bahwa salat orang yang mengeraskan bacaan basmalah dan yang memelankannya adalah sah.

Informasi Surah Al Fatihah (الفاتحة)
Surat “Al Faatihah” (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surat Makkiyyah.

Surat ini disebut “Al Faatihah” (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulai­nya Al Qur’an.
Dinamakan “Ummul Qur’an ” (induk Al Qur’an) atau “Ummul Kitaab” (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur’an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur’an , dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat.
Dinamakan pula “As Sab’ul matsaany” (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an , yaitu:

Keimanan:

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyata­kan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni’mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni’mat yang terdapat dalam alam ini. Di antara ni’mat itu ialah:
ni’mat menciptakan, ni’mat mendidik dan menumbuh­kan, sebab kata “Rabb” dalam kalimat “Rabbul-‘aalamiin” tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni’mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemu­liaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: “lyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).

Yang dimaksud dengan “Yang menguasai hari pembalasan” ialah pada hari itu Allah-lah Yang berkuasa.segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil meng­harap ni’mat dan takut kepada siksaan-Nya.

Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. “Ibadat ” yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat not 6.

Hukum:

Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk mem­peroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

Kisah:

Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang­ orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sung­ guh-sungguh berirnan), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang­ orang yang saleh). “Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,” ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Lain-lain:

Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an pada surat­ surat yang lain.

QS 1 Al-Fatihah (1-7) - Indonesian - Afgansyah Reza
QS 1 Al-Fatihah (1-7) - Arabic - Afgansyah Reza
Tampilkan Terjemahan dan Teks Qur'an

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.” – (QS.1:1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bismillahir-rahmanir-rahiim(i)

002

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,” – (QS.1:2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Al-hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin(a)

003

“Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.” – (QS.1:3)

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ar-rahmanir-rahiim(i)

004

“Yang menguasai hari pembalasan.” – (QS.1:4)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Maaliki yaumiddiin(i)

005

“Hanya kepada Engkaulah, kami menyembah dan memohon pertolongan.” – (QS.1:5)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Ii-yaaka na’budu wa-ii-yaaka nasta’iin(u)

006

“Tunjukilah kami, ke jalan yang lurus,” – (QS.1:6)

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ihdinaash-shiraathal mustaqiim(a)

007

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan sesat.” – (QS.1:7)

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim walaadh-dhaalliin(a)


Gambar Kutipan Surah Al Fatihah Ayat 1 *beta

Surah Al Fatihah Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Fatihah

Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat.
Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.

Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.
Dinamakan Ummul Qur'an (أمّ القرءان; induk al-Quran) atau Ummul Kitab (أمّ الكتاب; induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran.
Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (السبع المثاني; tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam salat.

Nomor Surah1
Nama SurahAl Fatihah
Arabالفاتحة
ArtiPembukaan
Nama lainal-Hamd (Pujian), Ummu al-Qur'an (Induk Al-Quran), Saba'a al-Matsāni (Tujuh yang Diulang), Kanz (Khazanah), al-Asas (Asas), Munājat, asy-Syifa (Menyembuhkan), Doa, Kāfiyah (Yang Mencukupi), Wāfiyah (Yang Sempurna), Raqiyah (Tempat berlindung). Fatihatul Kitab, Ummul Kitab, asy-Syafiyah, as-Shalah, al-Ruqyah, asy-Syukru, ad-Du'au, al-Waqiyah.
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu5
JuzJuz 1
Jumlah ruku'1 ruku'
Jumlah ayat7
Jumlah kata29
Jumlah huruf143
Surah sebelumnyaTidak ada
Surah selanjutnyaSurah Al-Baqarah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku