QS. Al Fath (Kemenangan) – surah 48 ayat 27 [QS. 48:27]

لَقَدۡ صَدَقَ اللّٰہُ رَسُوۡلَہُ الرُّءۡیَا بِالۡحَقِّ ۚ لَتَدۡخُلُنَّ الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ اِنۡشَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ ۙ مُحَلِّقِیۡنَ رُءُوۡسَکُمۡ وَ مُقَصِّرِیۡنَ ۙ لَا تَخَافُوۡنَ ؕ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُوۡا فَجَعَلَ مِنۡ دُوۡنِ ذٰلِکَ فَتۡحًا قَرِیۡبًا
Laqad shadaqallahu rasuulahurru’yaa bil haqqi latadkhulunnal masjidal haraama in syaa-allahu aaminiina muhalliqiina ruuusakum wamuqash-shiriina laa takhaafuuna fa’alima maa lam ta’lamuu faja’ala min duuni dzalika fathan qariiban;

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut.
Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
―QS. 48:27
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Segala sesuatu milik Allah
48:27, 48 27, 48-27, Al Fath 27, AlFath 27, Al-Fath 27

Tafsir surah Al Fath (48) ayat 27

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Fath (48) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan bahwa mimpi Rasulullah yang melihat dirinya dan para sahabatnya memasuki kota Mekah dengan aman dan tenteram serta beliau melihat pula di antara para sahabat ada yang menggunting dan mencukur rambutnya adalah mimpi yang benar dan pasti akan terjadi dalam waktu dekat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya untuk memasuki Masjidil Haram.
Dan Aku bersumpah bahwa sesungguhnya kamu, Muhammad, benar-benar akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur dan menggunting rambut, tanpa rasa takut.
Sesungguhnya Allah telah mengetahui kebaikan yang tidak kamu ketahui ketika menunda waktu kamu untuk memasuki Masjidil Haram.
Maka sebelum kamu memasukinya Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya) Rasulullah ﷺ bermimpi pada tahun terjadinya perjanjian Hudaibiah, yaitu sebelum beliau berangkat menuju ke Hudaibiah, bahwasanya ia memasuki kota Mekah bersama-sama dengan para sahabatnya dalam keadaan aman hingga mereka dapat bercukur dan ada pula yang hanya memendekkan rambutnya.

Kemudian Rasulullah ﷺ menceritakan hal mimpinya itu kepada para sahabatnya, maka mereka sangat gembira mendengarnya.

Ketika para sahabat berangkat bersama Rasulullah menuju Mekah, tiba-tiba mereka dihalang-halangi oleh orang-orang kafir sewaktu mereka sampai di Hudaibiah.

Akhirnya mereka kembali ke Madinah dengan perasaan yang berat, pada saat itu timbullah rasa keraguan di dalam hati sebagian orang-orang munafik, lalu turunlah ayat ini.

Firman-Nya, “Bil haqqi” berta’alluq kepada lafal Shadaqa, atau merupakan Hal atau kata keterangan keadaan dari lafal Ar-Ru’yaa sedangkan kalimat sesudahnya berfungsi menjadi penafsirnya (yaitu bahwa sesungguhnya kamu sekalian pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah) lafal Insya Allah artinya, jika Allah menghendaki, hanyalah sebagai kalimat Tabarruk saja, yaitu untuk meminta keberkahan (dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala) mencukur semua rambut kepala (dan mengguntingnya) yakni menggunting sebagiannya saja, kedua lafal ini merupakan Hal bagi lafal yang diperkirakan keberadaannya (sedangkan kalian tidak merasa takut) selama-lamanya (Maka Allah mengetahui) di dalam perjanjian damai itu (apa yang tidak kalian ketahui) mengenai kemaslahatan yang terkandung di dalamnya (dan Dia memberikan sebelum itu) sebelum kalian memasuki Mekah (kemenangan yang dekat) yaitu ditaklukkannya tanah Khaibar, kemudian mimpi itu menjadi kenyataan pada tahun berikutnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ telah bermimpi bahwa dirinya memasuki Mekah dan melakukan tawaf di Baitullah, lalu beliau menceritakan mimpinya itu kepada para sahabatnya, sedangkan beliau saat itu berada di Madinah.
Dan ketika mereka berangkat di tahun Perjanjian Hudaibiyah, tiada suatu golongan pun dari kalangan sahabat-sahabatnya yang merasa ragu bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan tahun itu.
Akan tetapi, ketika terjadi perjanjian damai dan gencatan senjata, lalu mereka kembali ke Madinah untuk tahun itu dan mereka baru boleh kembali tahun depannya.
Maka sebagian dari kalangan sahabat ada yang mengalami tekanan jiwa karena peristiwa tersebut, hingga Umar ibnul Khattab r.a.
menanyakan hal tersebut dan mengatakan kepada Nabi ﷺ seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, yang antara lain Umar mengatakan, “Bukankah engkau telah memberi tahu kepada kami bahwa kami akan datang ke Baitullah dan melakukan tawaf padanya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Benar, tetapi apakah aku menceritakan kepadamu bahwa kamu akan mendatanginya tahun ini?”
Umar menjawab, “Tidak.” Nabi ﷺ bersabda, “Maka sesungguhnya kamu bakal mendatanginya dan tawaf padanya.” Hal yang senada dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq r.a.
ketika Umar bertanya kepadanya.
Karena itulah maka disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Ini merupakan pengukuhan bagi terealisasinya berita dan sama sekali bukan sebagai pengecualian yang tidak pasti.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dalam keadaan aman.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Yakni saat kamu memasuki Masjidil Haram.

dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya.
(Q.S. Al-

ini merupakan keterangan keadaan bagi kalimat yang tidak disebutkan karena saat mereka memasukinya tidak dalam keadaan telah mencukur rambut kepala dan tidak pula mengguntingnya.
Melainkan hal tersebut terjadi dalam lain keadaan.
Tersebutlah bahwa sebagian dari mereka mencukur rambut kepalanya, dan sebagian yang lainnya hanya mengguntingnya.

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺmendoakan orang-orang yang mencukur rambut kepalanya:

Semoga Allah merahmati Orang-orang yang mencukur rambut.
Para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, doakanlah pula bagi orang-orang yang mengguntingnya.” Maka Rasulullah ﷺ berdoa lagi “Dan juga bagi, orang-orang yang mengguntingnya,” yang hal ini diucapkannya pada yang ketiga atau keempat kali.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sedangkan kamu tidak merasa takut.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Berkedudukan sebagai kata keterangan keadaan untuk mempertegas pengertian, pada mulanya ditetapkan bagi mereka jaminan keamanan saat memasuki Mekah, selanjutnya dinafikan dari mereka rasa takut saat mereka menetap di Mekah, tanpa harus merasa takut terhadap seseorang.

Peristiwa ini terjadi di masa umrah qada, yaitu dalam bulan Zul Qa’dah, tahun tujuh Hijriah.
Karena sesungguhnya setelah Nabi ﷺ kembali dari Hudaibiyah dalam bulanZul Qa’dah dan pulang ke Madinah, lalu beliau ﷺ tinggal di Madinah dalam bulan Zul Hijjah dan bulan Muharam, kemudian dalam bulan Safar beliau ﷺ keluar menuju Khaibar dan Allah menaklukkan sebagiannya kepada Nabi ﷺ dengan paksa, sedangkan sebagian lainnya secara damai.

Khaibar adalah suatu daerah yang cukup luas, banyak memiliki pohon kurma dan lahan pertanian.
Rasulullah ﷺ menyerahkan penggarapannya kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di dalamnya dengan ketentuan bagi hasil paroan.
Dan Nabi ﷺ membagi-bagikan tanah Khaibar kepada orang-orang yang ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah (dari kalangan kaum muslim) semata.
Tiada seorang pun yang mendapat pembagian ini dari selain mereka kecuali orang-orang yang baru datang dari negeri Habsyah, antara lain Ja”far ibnu AbuTalib dan kawan-kawannya, dan Abu Musa Al-Asy’ari beserta kawan-kawannya.
Tiada seorang pun dari mereka yang tidak hadir.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa terkecuali Abu Dujanah alias Samak ibnu Kharsyah, seperti yang akan diterangkan nanti pada pembahasannya.
Setelah itu Nabi ﷺ pulang ke Madinah.

Kemudian pada tahun tujuh Hijriah, bulan Zul Qa’dah, Nabi ﷺ berangkat menuju Mekah untuk umrah dengan diikuti oleh ahli Hudaibiyah.
Maka beliau berihram dari Zul Hulaifah dan membawa serta hadyu-nya, yang menurut suatu pendapat jumlahnya enam puluh ekor unta.
Lalu Nabi ﷺ mengucapkan talbiyah dan para sahabatnya mengucapkan talbiyah pula seraya bergerak.

Ketika perjalanan Nabi ﷺ sampai di dekat Zahran, maka beliau mengirimkan Muhammad ibnu Maslamah bersama pasukan berkuda yang lengkap dengan senjatanya berada di depan mendahului beliau ﷺ Ketika orang-orang musyrik melihat pasukan berkuda itu, mereka dicekam oleh rasa takut yang sangat, mereka mengira bahwa Rasulullah ﷺ akan menyerang mereka.
Dan bahwa Rasulullah ﷺ telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah ditandatangani antara mereka dan beliau, yang isinya ialah menghentikan peperangan di antara mereka selama sepuluh tahun.

Maka orang-orang musyrik itu pergi menuju Mekah dan memberitahukan hal tersebut kepada penduduknya.
Setelah Rasulullah ﷺ tiba di dekat Mekah, maka beliau turun istirahat di Marruz Zahran, yang dari situ beliau dapat menyaksikan pemandangan tanah suci.
Lalu beliau memerintahkan agar semua senjata yang berupa panah dan tombak dikumpulkan, lalu diletakkan di Lembah Ya’juj.
Setelah itu beliau meneruskan perjalanannya ke Mekah hanya dengan membawa senjata pedang yang disarungkan seperti yang mereka minta dalam syarat perjanjian tersebut.

Ketika beliau ﷺ berada di tengah perjalanan, orang-orang Quraisy mengirimkan Mukarriz ibnu Hafs.
Maka Mukarriz berkata, “Hai Muhammad, kami belum pernah melihatmu merusak perjanjian.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang kamu maksudkan?”
Mukarriz menjawab, “Engkau masuk ke kota Kami dengan membawa senjata panah dan tombak serta senjata lainnya.” Maka Rasulullah ﷺ berkata, “Itu tidak benar sama sekali, karena kami telah mengirimkan senjata-senjata tersebut ke Ya’juj.” Mukarriz berkata, “Kalau demikian, berarti engkau menepati janji.”

Lalu para pemimpin orang-orang kafir keluar dari kota Mekah untuk sementara waktu, karena mereka tidak mau menyaksikan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di Mekah, hati mereka dipenuhi oleh rasa dendam dan marah.
Adapun penduduk Mekah lainnya dari kalangan kaum laki-laki dan wanita serta anak-anak, maka mereka duduk di pinggir-pinggir jalan di atas rumah-rumah mereka untuk menyaksikan kedatangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya memasuki Mekah, di barisan depan para sahabat berjalan mengawalnya seraya membaca talbiyah, sedangkan hewan-hewan kurban mereka telah dikirimkan oleh Nabi ﷺ ke Zu Tuwa Nabi ﷺ saat itu mengendarai unta kendaraannya yang bernama Oaswa seperti pada hari Hudaibiyah dan Abdullah ibnu Rawwahah Al-Ansari memegang tali kendalinya, seraya mendendangkan syair berikut:

Dengan nama Tuhan yang tiada agama yang diterima kecuali agama-Nya, dan dengan nama Tuhan yang Muhammad menjadi utusan-Nya.
Hai Banil Kuffar (orang-orang kafir), menyingkirlah kalian dari jalannya, pada hari ini kami pukul kalian sesuai dengan apa yang diperintahkannya, sebagaimana kami pun memukul kalian berdasarkan perintah yang diturunkan kepadanya, yaitu dengan pukulan yang dapat memisahkan kepala dari tubuhnya, dan dapat membuat sedih seseorang karena ditinggal kekasihnya.
Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Pemurah telah menurunkan wahyu-Nya yang dicatat di dalam lembaran-lembaran yang dibacakan kepada Rasul-Nya bahwa sebaik-baik mati ialah dalam membela jalan-Nya.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada sabdanya.

Ini merupakan himpunan dari berbagai riwayat yang terpisah-pisah.
Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Hazm yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ memasuki kota Mekah dalam umrah qadanya, beliau memasukinya dengan berkendaraan, sedangkan Abdullah ibnu Rawwahah r.a.
memegang tali kendali unta kendaraannya seraya mengucapkan bait-bait syair berikut:

Menyingkirlah, hai orang-orang kafir, dari jalannya.
Sesungguhnya aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah.
Menyingkirlah kalian, semua kebaikan ada pada Rasul-Nya.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada sabdanya.
Kami memerangi kalian karena perintahnya sebagaimana kami memerangi kalian karena wahyu yang diturunkan kepadanya.
Kami lakukan pukulan yang dapat memisahkan kepala dari tubuhnya dan mengakibatkan orang bersedih hati karena ditinggal orang yang dikasihinya.

Menyingkirlah, hai orang-orang kafir, dari jalannya.
Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Pemurah telah menurunkan wahyu yang menyebutkan, bahwa sebaik-baik kematian ialah dalam membela jalan-Nya.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada sabdanya.
Kami memerangi kalian karena perintahnya sebagaimana kami perangi kalian karena wahyu yang diturunkan kepadanya.
Pada hari ini kami pukul kalian karena perintahnya dengan pukulan yang dapat melenyapkan kepala dari tubuhnya dan membuat sedih seseorang karena ditinggalkan oleh orang yang disayanginya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Ismail (yakni Ibnu Zakaria), dari Abdullah (yakni Ibnu Usman), dari Abut Tufail, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ beristirahat di MarruzZahran dalam umrahnya, sampailah berita kepada sahabat-sahabat beliau ﷺ bahwa orang-orang Quraisy mengatakan bahwa kaum muslim tidak datang dari arah Al-Ajf.

Maka sahabat-sahabat beliau berkata, “Sebaiknya kita sembelih saja sebagian dari unta kendaraan kita, lalu kita makan dagingnya dan kita teguk gulainya, sehingga besok bila kita memasuki Mekah kita dalam keadaan segar dan kuat.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan kalian lakukan itu, tetapi kumpulkanlah semua bekal yang masih ada pada kalian.” Maka mereka mengumpulkannya kepada Nabi ﷺ dan mereka menggelar tikar, lalu mereka makan hingga semuanya kenyang dan masing-masing dari mereka memenuhi wadah minumnya dan mengambil bekal dari makanan itu (yang tadinya sedikit, ternyata bahkan lebih, berkat doa Nabi ﷺ).

Kemudian Rasulullah ﷺ datang ke Mekah dan langsung masuk ke Masjidil Haram, sedangkan orang-orang Quraisy duduk di arah sebelah Al-Hijr.
Maka Rasulullah ﷺ melilitkan kain selendangnya ke bawah ketiaknya dan bersabda, “Jangan sampai kaum itu (orang-orang Quraisy) melihat suatu kelemahan pun pada kalian.”

Maka Rasulullah ﷺ mengusap rukun yang ada Hajar Aswadnya, lalu berlari kecil dalam tawafnya.
Hingga manakala rukun Yaman i sudah dilewatinya, beliau berjalan kaki biasa menuju Hajar Aswad (maksudnya agar orang-orang Quraisy saat melihatnya, ia dalam keadaan tegar dan kuat, makanya beliau pada permulaan tawafnya berlari-lari kecil).
Maka orang-orang Quraisy mengatakan, “Kelihatannya kamu tidak suka berjalan kaki, sesungguhnya kalian berlari lincah bagaikan kijang.” Maka Rasulullah ﷺ melakukan tawafnya dengan berlari kecil sebanyak tiga putaran, sejak saat itu hal tersebut dijadikan sebagai sunnah.

Abut Tufail mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal tersebut dalam haji wada’nya, yakni berlari kecil dalam tiga putaran pertamanya.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ tiba di Mekah bersama para sahabatnya, sedangkan keadaan mereka lemah karena cuaca kota Yas’rib yang buruk yang hal ini mempengaruhi kondisi kesehatan mereka.

Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian suatu kaum yang telah dilemahkan oleh demam Yasrib yang menjadikan kondisi tubuh mereka buruk.” Dan orang-orang musyrik duduk di bagian yang bersebelahan dengan Al-Hijr, maka Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik itu.

Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabatnya untuk berlari kecil dalam tiga putaran pertama, agar orang-orang musyrik melihat kekuatan mereka, bahwa keadaan mereka tidaklah seperti yang diduga oleh orang-orang musyrik.
Para sahabat melakukan lari-lari kecil dalam tiga putaran pertama, dan Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka untuk berjalan biasa di antara dua rukun yang tidak terlihat oleh pandangan mata kaum musyrik.
Dan tidaklah Nabi ﷺ melarang mereka berlari kecil pada keseluruhan putaran tawaf, melainkan demi menjaga kondisi kesehatan mereka.

Melihat kenyataan itu (sebagian orang musyrik) berkata (kepada sebagian yang lain), “Itukah mereka yang kalian sangka bahwa demam telah membuat kondisi mereka melemah?
Ternyata mereka lebih kuat daripada apa yang terbayangkan.” Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing melalui hadis Hammad ibnu Zaid dengan sanad yang sama.

Menurut lafaz yang lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabatnya tiba di Mekah pada pagi hari tanggal empat bulan Zul Qa’dah.
Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Ssungguhnya telah datang kepada kalian delegasi yang kondisi kesehatan mereka lemah karena pengaruh cuaca Yasrib yang buruk.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk berlari kecil pada tiga putaran pertama.
Dan tiada faktor yang menyebabkan Nabi’ﷺ tidak memerintahkan mereka untuk berlari kecil dalam semua putaran, melainkan demi memelihara kondisi kesehatan mereka.”

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Salamah (yakni Hammad ibnu Salamah) menambahkan dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di tahun yang dia beroleh keamanan padanya, bersabdalah beliau, “Berlari-lari kecillah kamu sekalian, agar kaum musyrik melihat kekuatan kalian.” Saat itu kaum musyrik menonton mereka dari sebelah Qu’aiqa’an.
Telah menceritakan pula kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ berlari kecil sewaktu tawaf di Baitullah dan sa’i di antara Safa dan Marwah hanyalah untuk memperlihatkan kepada orang-orang musyrik kekuatan yang masih dimilikinya.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula di tempat yang lain, juga Imam Muslim serta Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada, kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abu Aufa mengatakan, “Ketika Rasulullah ﷺ melakukan umrah kami tamengi diri Rasulullah ﷺ dari anak-anak kaum musyrik dan orang-orang dewasa mereka karena khawatir mereka akan mengganggunya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal tanpa Imam Muslim.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Rafi’, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Falih dan telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Husain ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Falih ibnu Sulaiman, dari Nafi’, dari Ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ berangkat untuk umrah, maka orang-orang kafir Quraisy menghalang-halanginya dari Baitullah.
Karenanya beliau menyembelih kurbannya dan mencukur rambut kepalanya di Hudaibiyah.
Rasulullah ﷺ menyetujui permintaan mereka yang meminta kepadanya agar umrahnya ditunda sampai tahun depan.
Dan bila tahun depan tiba, beliau baru boleh umrah tanpa membawa senjata kecuali hanya pedang, dan tidak boleh tinggal di Mekah, melainkan selama yang mereka (kaum Quraisy) kehendaki.

Maka tahun berikutnya Rasulullah ﷺ berangkat umrah, dan memasuki Mekah dalam keadaan seperti apa yang telah beliau janjikan kepada mereka.
Setelah beliau tinggal selama tiga hari di Mekah, mereka (kaum Kuffar Quraisy) meminta kepada beliau agar meninggalkan Mekah.
Maka beliau pun kembali ke Madinah.
Hadis ini disebutkan pula di dalam kitab Sahih Muslim.

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra r.a.
yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ melakukan umrah pada bulan Zul Qa’dah, tetapi penduduk Mekah menolak beliau masuk Mekah.
Akhirnya Nabi ﷺ menandatangani perjanjian dengan mereka, bahwa hendaknya mereka membolehkan beliau tinggal di Mekah selama tiga hari (di tahun berikutnya).
Setelah mereka mengeluarkan lembaran untuk naskah perjanjian itu, mereka (kaum muslim) menulisnya dengan kata pembukaan ‘Ini adalah perjanjian yang dinyatakan oleh Muhammad utusan Allah’.
Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Kami tidak mengakui hal itu.
Sekiranya kami meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah, niscaya kami tidak mencegahmu melakukan apa pun.
Tetapi tulislah ‘Muhammad putra Abdullah’.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Aku utusan Allah dan Aku Muhammad ibnu Abdullah.

Kemudian beliau ﷺ memerintahkan kepada Ali ibnu Abu Talib r.a.
untuk menghapus kata ‘utusan Allah’.
Tetapi Ali r.a.
berkata, “Tidak, demi Allah, aku selamanya tidak akan mau menghapusnya darimu.” Lalu Rasulullah ﷺ mengambil naskah tersebut, padahal beliau tidak pandai menulis.
Akhirnya Ali r.a.
menulis:

Ini adalah pernyataan dari Muhammad ibnu Abdullah, bahwa dia tidak akan memasuki Mekah dengan memakai senjata kecuali pedang yang tetap pada sarungnya.
Dan ia tidak akan keluar dengan membawa seseorang dari penduduk Mekah yang ingin mengikutinya, dan ia tidak akan melarang seseorang dari sahabatnya yang ingin tinggal di Mekah.

Ketika Nabi ﷺ memasuki Mekah dan masa tinggal baginya (tiga hari telah berlalu), maka orang-orang Quraisy datang kepada Ali dan mengatakan kepadanya, “Katakanlah kepada temanmu itu hendaknya dia keluar dari kota kami, karena sesungguhnya masa yang telah ditetapkan baginya telah habis.”

Maka keluarlah Nabi ﷺ meninggalkan kota Mekah, tetapi anak perempuan Hamzah r.a.
(yang telah gugur di medan Perang Uhud) mengikuti Nabi ﷺ seraya memanggil-manggil, “Hai paman, hai paman.” Maka anak perempuan itu diambil olehAli r.a.
dan menuntun tangannya, lalu Ali berkata kepada Fatimah r.a., “Bawalah anak perempuan pamanmu ini,” lalu Fatimah menggendongnya.

Maka bertengkariah Ali, Zaid, dan Ja’far untuk memperebutkan anak perempuan itu.
Ali beralasan bahwa dialah yang mengambilnya dan anak perempuan itu adalah anak pamannya.
Ja’far beralasan, “Dia adalah anak perempuan pamanku, dan bibinya menjadi istriku.” Zaid mengatakan, “Dia adalah anak saudaraku.”

Maka Nabi ﷺ memutuskan bahwa anak perempuan Hamzah itu diserahkan kepada bibinya, yakni istri Ja’far ibnu Abu Talib r.a., seraya bersabda:

Kedudukan bibi itu sama dengan ibu kandung.

Dan Nabi ﷺ bersabda kepada Ali r.a.:

Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.
Kemudian beliau ﷺ bersabda kepada Ja’far r.a.:

Rupa dan akhlakmu mirip dengan diriku.

Dan kepada Zaid r.a., Nabi ﷺ bersabda:

Engkau adalah saudara kami dan maula kami.

Maka Ali r.a.
bertanya (kepada Nabi ﷺ), “Tidakkah engkau kawini saja anak perempuan Hamzah ini?”
Nabi ﷺ menjawab:

Sesungguhnya dia adalah anak perempuan saudara sepersusuanku.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui jalur ini secara munfarid (tunggal).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Yakni pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memilih kebaikan dan maslahat bagi kalian ialah memalingkan kalian dari Mekah dan kalian tidak dapat memasukinya tahun itu, hal terbut di luar jangkauan pengetahuan kalian.

dan Dia memberikan sebelum itu.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Maksudnya, sebelum kalian memasukinya, seperti apa yang diperlihatkan kepada Nabi ﷺ melalui mimpinya.

kemenangan yang dekat.
(Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Yaitu perjanjian yang ditandatangani antara kalian dengan musuh-musuh kalian dari kalangan kaum musyrik.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyampaikan berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Rasulullah ﷺ akan mendapat pertolongan dari-Nya dalam menghadapi musuhnya dan semua penduduk bumi:


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Fath (48) Ayat 27

Diriwayatkan oleh al-Faryabi, ‘Abd bin Humaid, dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di Hudaibiyyah, beliau bermimpi masuk Mekah bersama Shahabat-shahabatnya dengan aman tenteram.
Dalam mimpi itu terlihat sebagian shahabatnya bercukur bersih dan sebagian rambutnya digunting pendek, sebagai tanda selesai melakukan ihram.
(Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyyah, mereka tidak dapat melaksanakan ihram) sehingga Rasulullah ﷺ memerintahkan menyembelih hadyu (kurban) sebagai tandai tahalul.
Para pengikut Rasul (yang munafik) menagih isi mimpi itu: “Mana ya Rasulullah, bukti impian itu?” Maka turunlah ayat ini (al-Fath:27) yang menjanjikan kebenaran impian Rasulullah itu (akan) terlaksana.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Fath (الفتح)
Surat Al Fat-h terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Jumu’ah.

Dinamai “Al Fath (kemenangan)” diambil dari perkataan “Fat-han” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad ﷺ dalam peperangan-peperangannya.

Nabi Muhammad ﷺ sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari
“Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.”

Kegembiraan Nabi Muhammad ﷺ itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad ﷺ dalam petjuangannya dan tentang

Keimanan:

Allah mempunyai tentara di langit dan di bumi
janji Allah kepada orang mu’min bahwa mereka akan mendapat ampunan Tuhan dan pahala yang besar
Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
Agama Islam akan mengalahkan agama-agama lain

Hukum:

Orang pincang dan orang-orang yang sakit dibebaskan dari kewajiban berperang

Kisah:

Kejadian-kejadian sekitar Bai’aturridhwan dan Perdamaian Hudaibiyyah”.

Lain-lain:

Berita gembira yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa dia bersama-sama orang-orang mu’min akan memasuki kota Mekah dengan kemenangan, dan hal ini memang terlaksana setelah setahun kemudian
sikap orang­ orang mu’min terhadap sesama mu’min dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir
sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya sudah disebutkan dalam Taurat dan Injil
janji Allah bahwa orang Islam akan menguasai daerah-­daerah yang sewaktu Nabi Muhammad s.a.w, belum dikuasai

Ayat-ayat dalam Surah Al Fath (29 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Fath (48) ayat 27 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Fath (48) ayat 27 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Fath (48) ayat 27 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Fath (48) ayat 27-29 - Acha Septriasa (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Fath (48) ayat 27-29 - Acha Septriasa (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Fath - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 29 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 48:27
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Fath.

Surah Al-Fath (Arab: الفتح , "Kemenangan") adalah surah ke-48 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al-Fath yang berarti Kemenangan diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad S.A.W dalam peperangannya.

Nabi Muhammad S.A.W sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda dia yang diriwayatkan Sahih Bukhari; Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.
Kegembiraan Nabi Muhammad S.A.W itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad S.A.W dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah[1] kepadanya.

Nomor Surah 48
Nama Surah Al Fath
Arab الفتح
Arti Kemenangan
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 111
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 29
Jumlah kata 560
Jumlah huruf 2509
Surah sebelumnya Surah Muhammad
Surah selanjutnya Surah Al-Hujurat
4.5
Ratingmu: 4.3 (11 orang)
Sending







Pembahasan ▪ lagod shodaqallahu rasullahuruyat ▪ laqad shadaqallahu ▪ Qs Al-fath Laod sodakallahu ▪ surah 48 : 27

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim