QS. Al Fath (Kemenangan) – surah 48 ayat 26 [QS. 48:26]

اِذۡ جَعَلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡحَمِیَّۃَ حَمِیَّۃَ الۡجَاہِلِیَّۃِ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ وَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ اَلۡزَمَہُمۡ کَلِمَۃَ التَّقۡوٰی وَ کَانُوۡۤا اَحَقَّ بِہَا وَ اَہۡلَہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا
Idz ja’alal-ladziina kafaruu fii quluubihimul hamii-yata hamii-yatal jaahilii-yati fa-anzalallahu sakiinatahu ‘ala rasuulihi wa’alal mu’miniina wa-alzamahum kalimatattaqwa wakaanuu ahaqqa bihaa wa-ahlahaa wakaanallahu bikulli syai-in ‘aliiman;

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. 48:26
Topik ▪ Pembentukan langit dalam Al Qur’an
48:26, 48 26, 48-26, Al Fath 26, AlFath 26, Al-Fath 26

Tafsir surah Al Fath (48) ayat 26

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Fath (48) : 26. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini mengingatkan kaum Muslimin akan timbulnya rasa angkuh dan sombong di hati orang-orang musyrik Mekah.
Rasa itu timbul ketika mereka tidak setuju dituliskan “Bismillahir-Rahmanir-Rahimi” pada permulaan surat Perjanjian Hudaibiyyah.

Diriwayatkan, tatkala Rasulullah ﷺ bermaksud memerangi orang-orang musyrik, mereka mengutus Suhail bin ‘Amr, Khuwaithib bin ‘Abd al-‘Uzza, dan Mikras bin Hafadz kepada beliau.
Mereka menyampaikan permintaan kepada beliau agar mengurungkan maksudnya dan mereka menyetujui jika maksud itu dilakukan pada tahun yang akan datang.
Dengan demikian, ada kesempatan bagi mereka untuk mengosongkan kota Mekah pada waktu kaum muslimin mengerjakan umrah dan tidak akan mendapat gangguan dari siapa pun.
Maka dibuat suatu perjanjian.
Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Ali bin Abi thalib menulis “Bismillahir-Rahmanir-Rahimi”.
Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah mengatakan bahwa perjanjian ini sebagai tanda perdamaian dari beliau kepada penduduk Mekah.
Mereka berkata, “Kalau kami mengakui bahwa engkau rasul Allah, kami tidak menghalangi engkau dan tidak akan memerangi engkau, dan tuliskanlah perjanjian ini sebagai tanda perdamaian dari Muhammad bin Abdullah kepada penduduk Mekah.” Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Tulislah sesuai dengan keinginan mereka.” Karena sikap mereka, maka sebagian kaum Muslimin enggan menerima perjanjian itu, dan ingin menyerbu kota Mekah.
Maka Allah menanamkan ketenangan dan sikap taat dan patuh pada diri para sahabat kepada keputusan Rasulullah ﷺ Semua yang terjadi itu, baik di kalangan orang yang beriman maupun di kalangan orang kafir, diketahui Allah, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuannya.
Oleh karena itu, Dia akan membalas setiap amal dan perbuatan hamba-Nya dengan seadil-adilnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Penduduk Mekahlah yang kafir dan menghalang-halangi kalian untuk memasuki al-Masjid al-Haram dan menghalang-halangi hewan kurban yang kalian bawa untuk sampai ke tempat penyembelihannya.
Kalau sekiranya tidak karena khawatir bahwa kalian akan menimpakan kesusahan kepada orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, yang tidak kalian ketahui yang berada di antara orang-orang kafir Mekah sehingga kalian membunuh mereka yang menyebabkan kalian tercela dan terhina, niscaya Kami akan menjadikan kalian berkuasa atas mereka.
Namun Allah menahan kalian dari membinasakan mereka supaya Dia dapat melindungi orang-orang Mukmin yang berada di tengah-tengah mereka dan orang-orang kafir yang masuk Islam.
Kalau seandainya orang-orang Mukmin sudah dapat dibedakan, maka Kami pasti akan menghukum orang-orang yang bersikeras dalam kekufuran dengan siksa yang sangat pedih.
Yaitu ketika orang-orang kafir menimbulkan kesombongan dalam hati mereka sebagaimana kesombongan jahiliyah.
Lalu Allah menurunkan ketentraman pada Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin dan menetapkan pada diri mereka keterjagaan dari kesyirikan dan siksa.
Mereka adalah orang-orang yang berhak untuk mendapatkannya.
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ketika menanamkan) berta’alluq kepada lafal La’adzdzabnaa (orang-orang kafir itu) menjadi Fa’il dari lafal Ja’ala (ke dalam hati mereka kesombongan) perasaan tinggi diri dari sesuatu (yaitu kesombongan jahiliah) menjadi Badal dari lafal Hamiyah.

Makna yang dimaksud ialah hambatan dan cegahan mereka terhadap Nabi dan para sahabatnya untuk mencapai Masjidilharam (lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin) lalu akhirnya Nabi ﷺ dan para sahabatnya mengadakan perdamaian dengan mereka, yaitu hendaknya mereka diperbolehkan kembali ke Mekah tahun depan dan ternyata mereka tidak terbakar atau terpancing oleh panasnya perasaan, tidak sebagaimana yang menimpa orang-orang kafir, akhirnya peperangan antara mereka terhindarkan (dan Allah mewajibkan kepada mereka) yakni kepada orang-orang mukmin (kalimat takwa) yaitu “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”,
kalimat ini dikaitkan dengan takwa, karena merupakan penyebabnya (dan adalah mereka lebih berhak dengannya) yakni dengan kalimat takwa itu daripada orang-orang kafir (dan patut memilikinya) merupakan Athaf Tafsir.

(Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) artinya Dia tetap bersifat demikian, dan di antara apa yang diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala ialah bahwa orang-orang mukmin itu berhak memiliki kalimat takwa itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliah.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26)

Demikian itu terjadi ketika mereka menolak jika dituliskan Bismillahir Rahmanir Rahim, dan mereka menolak pula bila dituliskan dalam perjanjian tersebut, “Ini adalah janji yang disetujui oleh Muhammad utusan Allah.”

lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26)

Yang dimaksud dengan kalimat takwa ialah la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Abdullah ibnu Imam Ahmad, bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Quza’ah Abu Ali Al-Basri, telah men­ceritakan kepada kami Sufyan ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Saur, dari ayahnya, dari At-Tufail (yakni Ibnu Ubay ibnu Ka’b), dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (Q.S. Al-Fath-26)

Bahwa yang dimaksud adalah ucapan, “La ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).”

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kalimat takwa ialah ikhlas.
Ala ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa kalimah tersebut adalah, ‘Tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia atas segala sesuatu Mahakuasa’.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (Q.S. Al-Fath 26) Bahwa yang dimaksud adalah kalimat ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah’ dan berjihad di jalan-Nya.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26) Kalimat yang dimaksud ialah ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah’.

dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26)

Yakni orang-orang muslimlah yang lebih berhak dan mereka adalah pemiliknya.

Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26)

Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat kebaikan dan siapa yang berhak mendapat keburukan.

Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkannya pula hadis ini dengan pengetengahan yang cukup baik lagi panjang disertai dengan beberapa tambahan yang baik.
Untuk itu ia mengatakan di dalam Kitabusy Syurut bagian dari kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku Ma’mar, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair, dari Al-Miswar ibnu Makhramah dan Marwan ibnul Hakam yang hadis masing-masing dari keduanya membenarkan hadis lainnya.
Keduanya mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ keluar dari Hudaibiyah bersama beberapa ratus orang sahabatnya.
Dan ketika sampai di Zul Hulaifah, beliau mengalungi hewan kurbannya dan memberinya tanda, lalu berniat ihram dari Zul Hulaifah untuk umrah.
Sebelum itu Rasulullah ﷺ mengirimkan mata-mata dari Bani Khuza’ah, lalu beliau meneruskan perjalanannya.
Ketika beliau sampai di Gadirul Asytat, mata-mata beliau datang membawa berita bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy telah menghimpun pasukan yang banyak untuk menghadapi beliau.
Mereka telah mengumpulkan pasukan dari Habsyah, mereka akan memerangi dan menghalang-halangi beliau untuk dapat sampai ke Baitullah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hai manusia, kemukakanlah pendapat kalian kepadaku, bagaimanakah menurutmu bila kita serang anak-anak dan kaum wanita orang-orang yang hendak menghalang-halangi kita dari Baitullah itu.
Menurut lafaz lain disebutkan: Bagaimanakah pendapat kalian jika kita serang anak-anak dan kaum wanita orang-orang yang membantu mereka itu.
Jika datang menyerang kita, berarti Allah telah menakdirkan kita dapat mematahkan tulang punggung kaum musyrik, dan jika tidak, berarti kita biarkan mereka dalam keadaan duka cita.
Dan menurut lafaz yang lainnya lagi disebutkan: Dan Jika mereka duduk di tempat mereka, berarti mereka duduk dalam keadaan tegang, payah, dan sedih, dan jika mereka selamat, berarti Allah subhanahu wa ta’ala telah mematahkan tulang punggung kaum musyrik.
Ataukah kalian berpendapat sebaiknya kita terus menuju ke Baitullah, maka barang siapa yang menghalang-halangi kita, kita bunuh dia.

Lalu Abu Bakar r.a.
berkata, “Wahai Rasulullah, engkau keluar dengan tujuan untuk menziarahi Baitullah ini dan bukan untuk membunuh seseorang pun dan bukan pula untuk memeranginya.
Maka teruskanlah langkahmu menuju ke Baitullah, dan barang siapa yang mencoba menghalang-halangi kita dari Baitullah, kita bunuh dia.”

Menurut lafaz yang lain, Abu Bakar r.a.
mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, sesungguhnya kita datang hanya untuk umrah dan kita datang bukan untuk memerangi seseorang.
Tetapi siapa pun yang menghalang-halangi kita dari Baitullah, maka akan kita bunuh dia.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Kalau begitu, berangkatlah kalian semua.
Menurut lafaz yang lain menyebutkan: Maka berangkatlah kalian dengan menyebut nama Allah.
Ketika mereka berada di tengah perjalanan, Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Khalid ibnul Walid telah muncul memimpin pasukan berkuda Quraisy, maka ambillah jalan ke arah kanan.

Demi Allah Khalid bin Walid tidak menyadari taktik ini.
Hingga manakala pasukan berkuda itu melihat kepulan debu pasukan kaum muslim yang membelok ke arah kanan, maka Khalid bin Walid kembali ke Mekkah memberi peringatan kepada orang-orang Quraisy.

Nabi ﷺmelanjutkan perjalannya, Hingga manakala beliau sampai disuatu tempat yang mereka turuni tiba-tiba unta kendaraan beliau berhenti dan mendekam.
Maka orang-orang pun mengatakan “Husy, husy” untuk membangunkannya tetapi kendaraan Nabi ﷺtetap mogok.
Lalu mereka berkata “Qaswa (Unta kendaraan Nabi SAW) mogok tidak mau meneruskan perjalanan”.
Maka Nabi ﷺbersabda : Qaswa tidak mogok, karena itu bukanlah kebiasaannya, tetapi ia ditahan oleh Tuhan yang pernah menahan pasukan bergajah.
Kemudian Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku suatu rencana yang isinya mengandung penghormatan kepada tanah suci Allah, melainkan aku menyetujui rencana mereka itu.

Lalu beliau menghardik unta kendaraannya dan bangkitlah unta kendaraan beliau dan meneruskan perjalanannya bersama mereka, hingga sampailah Nabi ﷺ dan kaum muslim di perbatasan Hudaibiyah yang palingjauh, tepatnya di dekat sebuah sumur yang minim airnya, lalu orang-orang memberi minum hewan kendaraan mereka dan tidak lama kemudian air sumur itu pun habis dan kering.
Lalu diadukan kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka kehausan, maka beliau ﷺ mencabut sebuah anak panah dari wadahnya, lalu beliau memerintahkan agar mereka menancapkan anak panah itu ke dalam sumur tersebut.
Maka demi Allah, setelah anak panah itu ditancapkan ke dalam sumur itu, air sumur itu terus mengalir untuk mereka hingga mereka meninggalkannya.

Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Badil ibnu Warqa Al-Khuza’i bersama serombongan orang dari kaumnya Bani Khuza’ah, mereka adalah juru penengah dari kalangan ahli Tihamah dan selalu mengharapkan kebaikan bagi Rasulullah ﷺ Lalu Badil berkata, “Sesungguhnya aku tinggalkan Ka’b ibnu Lu’ay dan Amir ibnu Lu’ay sedang beristirahat di mata air Hudaibiyah, mereka membawa pasukan yang besar jumlahnya, mereka siap hendak memerangimu dan menghalang-halangimu dari Baitullah Maka Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kami datang bukan untuk memerangi seseorang.
Kami datang hanyalah untuk mengerjakan ibadah umrah.
Dan sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengalami peperangan berkali-kali hingga perang melemahkan mereka dan menimpakan kerugian yang besar kepada mereka.
Untuk itu bila mereka menghendaki agar aku memberikan masa tangguh kepada mereka, aku dapat memenuhinya, tetapi hendaknya mereka membiarkan antara aku dan orang-orang dengan bebas.
Dan jika mereka menghendaki ingin masuk bersama orang-orang (ke dalam agama Islam), mereka dapat melakukannya, dan jika mereka tetap tidak mau masuk Islam, maka keamanan mereka tetap terpelihara.
Tetapi jika mereka menolak semua usulanku ini, maka demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku benar-benar akan memerangi mereka demi membela urusanku ini hingga nyawa meregang badan, atau perintah Allah subhanahu wa ta’ala terlaksana.”

Badil mengatakan, “Aku akan menyampaikan kepada mereka apa yang kamu usulkan itu.” Lalu berangkatlah Badil (pulang).
Ketika sampai kepada kaum Quraisy, Badil mengatakan, “Sesungguhnya kami baru datang dari lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ), dan kami telah mendengarnya mengemukakan suatu usulan.
Maka jika kalian ingin mendengarkannya, aku akan mengemukakannya kepada kalian.”

Orang-orang yang pendek akalnya dari kalangan Quraisy mengatakan, “Kami tidak perlu mendengar sesuatu pun dari beritamu itu.” Dan orang-orang yang berakal panjang dari mereka mengatakan, “Coba ceritakanlah apa yang telah engkau dengar darinya.”

Badil mengatakan, “Aku mendengarnya mengatakan anu dan anu,” dan Badil menceritakan kepada mereka semua apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ

Maka Urwah ibnu Mas’ud berdiri, lalu bertanya, “Hai kaum, bukankah kalian kuanggap sebagai orang tua?”
Mereka menjawab, “Benar.” Urwah bertanya, “Bukankah aku ini seperti anak kalian?”
Mereka menjawab, “Benar.” Urwah berkata, “Apakah kalian mencurigaiku?”
Mereka menjawab, “Tidak.”

Urwah berkata, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa aku telah menyerukan kepada penduduk Hukaz untuk berpihak kepada kalian, tetapi setelah mereka menolak seruanku, maka aku datang kepada kalian dengan kaumku, anak-anakku, dan orang-orang yang taat kepadaku?”
Mereka menjawab, “Benar.”

Urwah berkata, “Sesungguhnya orang ini (Nabi ﷺ) telah menawarkan kepada kalian suatu rencana yang baik, maka terimalah rencana itu, dan biarkanlah aku yang akan datang kepadanya (sebagai wakil kalian).” Mereka berkata, “Kalau begitu, datangilah dia.”

Lalu Urwah berbicara kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ mengucapkan kepadanya perkataan seperti yang telah beliau katakan kepada Badil ibnu Warqa.
Maka saat itu juga Urwah berkata, “Hai Muhammad, bagaimanakah pendapatmu jika engkau bermaksud membinasakan kaummu sendiri.
Apakah engkau pernah mendengar seseorang Arab membinasakan kaumnya sebelum kaummu?
Dan jika engkau adalah orang yang kedua, maka sesungguhnya aku -demi Allah-akan melihat banyak orang yang akan lari meninggalkanmu.

Maka Abu Bakar r.a.
memotong pembicaraannya dengan mengatakan, “Isaplah itil Lata (berhala sembahan mereka), apakah engkau kira kami akan lari dan meninggalkannya?”
Urwah bertanya, “Siapakah orang ini?”
Mereka menjawab, “Abu Bakar.” Urwah berkata, “Ingatlah, demi Allah, seandainya engkau belum pernah berjasa kepadaku, tentulah akan kubalas makianmu itu.”

Lalu Urwah berbicara dengan Nabi ﷺ, dan setiap kali Urwah berbicara kepada Nabi ﷺ, ia memegang jenggot Nabi ﷺ Akan tetapi, saat itu Al-Mugirah ibnu Syu’bah r.a.
berdiri di dekat kepala Nabi ﷺ seraya memegang pedang dan Nabi ﷺ memakai pelindung kepala (dari anyaman besi), dan setiap kali Urwah hendak memegang jenggot Nabi ﷺ, Al-Mugirah memukul tangannya dengan pangkal pedang seraya berkata, “Jauhkanlah tanganmu dari jenggot Rasulullah.” Lalu Urwah mendongakkan kepalanya dan bertanya, “Siapakah orang ini?”
Nabi ﷺ menjawab, “Al-Mugirah ibnu Syu’bah.” Urwah berkata, “Hai pengkhianat, aku akan membalas perbuatan khianatmu.”

Dahulu di masa Jahiliah Al-Mugirah menemani suatu kaum, tetapi ia bunuh mereka dan ia ambil harta mereka, lalu ia datang dan masuk Islam.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Adapun jika kamu masuk Islam, akan saya terima.
Tetapi mengenai harta, aku tidak ikut campur dengannya.”

Kemudian Urwah melihat semua sahabat Rasulullah ﷺ dengan mata yang terbelalak karena keheranan.
Sebab demi Allah, tidak sekali-kali Rasulullah ﷺ mengeluarkan dahaknya melainkan dahaknya itu diterima telapak tangan seseorang dari mereka, lalu mengusapkan dahak (air ludah) itu ke wajah dan kulitnya.
Apabila beliau memerintahkan kepada mereka suatu perintah, mereka berebutan untuk mengerjakannya.
Dan apabila beliau berwudu, hampir saja mereka saling baku hantam karena merebut sisa air wudunya.
Apabila beliau berbicara, maka mereka merendahkan suaranya (yakni diam mendengarkan sabdanya), dan mereka tidak berani menatap pandangan mereka ke arah Nabi ﷺ karena menghormatinya.

Urwah kembali kepada teman-temannya, lalu berkata kepada mereka, “Hai kaum, demi Tuhan, aku pernah menjadi delegasi ke berbagai raja.
Aku pernah diutus menghadap kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi.
Tetapi demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh teman-temannya seperti yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad.
Demi Allah, jika dia meludah, tiada lain ludahnya itu diterima oleh telapak tangan seseorang dari mereka, lalu ia gunakan ludah itu untuk mengusap wajah dan kulit tubuhnya (karena ludah Rasulullah ﷺ baunya sangat harum).
Apabila dia memerintahkan sesuatu kepada mereka, maka mereka berebutan untuk melaksanakan­nya.
Dan apabila ia berwudu, maka hampir saja mereka baku hantam memperebutkan sisanya.
Apabila dia berbicara di hadapan mereka, maka mereka merendahkan suaranya, dan mereka tidak berani manatap wajahnya karena mengagungkannya.
Dan sesungguhnya dia telah menawarkan suatu rencana kepada kalian, yaitu rencana yang baik, maka sebaiknya kalian terima.”

Maka berkatalah seseorang dari mereka dari kalangan Bani Kinanah, “Biarkanlah aku yang akan datang kepadanya.” Mereka menjawab, “Datangilah dia.” Ketika lelaki itu telah tampak kedatangannya di mata Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: Dia adalah Fulan, dia berasal dari kaum yang menghormati hewan kurban, maka giringlah hewan-hewan kurban itu agar kelihatan olehnya.
Al-Mugirah ibnu Syu’bah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menggiring hewan kurban dan kaum muslim berpapasan dengannya seraya mengucapkan talbiyah.
Ketika lelaki itu menyaksikan pemandangan tersebut, berkatalah ia, “Subhdnallah, tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah:’

Ketika ia kembali kepada teman-temannya, ia berkata, “Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri hewan-hewan kurban telah dikalungi dan diberi tanda, maka menurut hemat saya tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi dari Baitullah.” Maka berdirilah seseorang dari mereka yang dikenal dengan nama Mukarriz ibnu Hafs, lalu ia mengatakan, “Biarkanlah aku yang akan datang kepadanya.” Mereka berkata, “Datangilah dia olehmu.” Ketika ia tampak oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya, maka berkatalah beliau ﷺ: Orang ini adalah Mukarriz, seorang lelaki yang pendurhaka.

Lalu Mukarriz berbicara dengan Nabi ﷺ Dan ketika dia sedang berbicara, tiba-tiba datanglah Suhail ibnu Amr.

Ma’mar menceritakan, telah menceritakan kepadaku Ayyub, dari Ikrimah yang telah mengatakan bahwa ketika Suhail datang, Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya telah dimudahkan bagi kalian urusan kalian ini.

Ma’mar mengatakan bahwa Az-Zuhri telah menyebutkan dalam hadis yang dikemukakannya, bahwa lalu datanglah Suhail dan berkata, “Marilah kita tuangkan perjanjian antara kami dan kamu ke dalam suatu naskah perjanjian.” Maka Nabi ﷺ memanggil Ali r.a.
dan memerintahkan kepadanya: Tulislah “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Tetapi Suhail memotong dan mengatakan, “Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah) demi Allah, aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi sebaiknya tulislah ‘Dengan menyebut nama Engkau ya Allah’ seperti biasanya kamu pakai.” Maka kaum muslim menjawab, “Dem.
Allah kami tidak mau menulisnya kecuali dengan ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.” Maka Nabi ﷺ menengah-nengahi ketegangan itu melalui sabdanya: Tulislah “Dengan menyebut nama Engkau, ya Allah, ” kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Ini adalah perjanjian yang telah disetujui oleh Muhammad utusan Allah.” Suhail kembali memprotes, “Demi Allah, seandainya kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, tentulah kami tidak menghalang-halangi engkau untuk sampai ke Baitullah, dan tentu kami pun tidak akan memerangimu, tetapi sebaiknya tulislah ‘Muhammad Ibnu Abdullah’.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar utusan Allah, sekalipun kalian mendustakanku.
Tulislah Muhammad ibnu Abdullah.

Az-Zuhri mengatakan bahwa demikian itu karena Rasulullah ﷺ telah bersabda sebelumnya: Demi Allah tidaklah mereka meminta kepadaku suatu rencana yang di dalamnya mereka muliakan syiar-syiar Allah yang suci, melainkan aku memberikannya kepada mereka (yakni menyetujuinya).

Maka Nabi ﷺ berkata kepada Suhail, “Dengan syarat hendaklah kalian biarkan antara kami dan Baitullah karena kami akan melakukan tawaf padanya.” Suhail menjawab, “Demi Allah, demi mencegah agar orang-orang Arab jangan membicarakan bahwa kami ditekan, tetapi sebaiknya hal itu dilakukan untuk tahun depan (yakni bukan tahun itu).”

Suhail mengajukan syarat, “Dan syarat lainnya ialah tiada seorang pun dari kami yang datang kepadamu, sekalipun dia memeluk agamamu, melainkan engkau harus mengembalikannya (memulangkannya) kepada kami.” Maka kaum muslim berkata, “Subhdnalldh, mana mungkin dia dikembalikan kepada orang-orang musyrik, sedangkan dia datang dalam keadaan muslim.”

Ketika mereka sedang dalam keadaan tawar menawar, tiba-tiba datanglah Abu Jandal ibnu Suhail ibnu Amr dalam keadaan terbelenggu dengan rantai.
Dia telah melarikan diri dari Mekah melalui jalan yang terendah, hingga sampailah ia di hadapan kaum muslim.
Maka Suhail berkata, “Hai Muhammad, ini adalah orang yang mula-mula termasuk ke dalam perjanjian yang harus engkau tunaikan kepadaku untuk mengembalikannya kepadaku.” Maka Nabi ﷺ berkata, “Kita masih belum menyelesaikan naskah perjanjian ini.”

Suhail ibnu Amr berkata, “Kalau begitu, demi Tuhan, aku tidak mau berdamai denganmu atas sesuatu pun selamanya.” Maka Nabi ﷺ mendesak, “Kalau begitu, perbolehkanlah dia demi untukku.” Abu Sufyan menjawab, “Aku tidak akan membolehkan hal itu bagimu.” Nabi ﷺ mendesak lagi, “Tidak, biarkanlah dia untukku.” Abu Sufyan bersikeras, “Aku tidak akan membiarkannya diambil olehmu.” Mukarriz mengatakan, “Ya, kalau kami memperbolehkan engkau untuk mengambilnya.” Abu Jandal berkata, “Hai orang-orang muslim, apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku datang sebagai seorang muslim, tidaklah kalian lihat apa yang telah kualami?”
Tersebutlah bahwa Abu Jandal selama itu disiksa dengan siksaan yang berat karena membela agama Allah subhanahu wa ta’ala

Umar r.a.
mengatakan bahwa lalu ia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata kepadanya, “Bukankah engkau Nabi Allah yang sebenarnya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Aku (Umar) bertanya, “Bukankah kita berada di pihak yang benar dan musuh kita berada di pihak yang batil?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Benar.” Aku bertanya, “Maka mengapa kita mengalah dalam membela agama kita?”
Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak akan mendurhakai perintah-Nya, Dia pasti akan menolongku.

Umar bertanya, “Bukankah engkau telah mengatakan kepada kami bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan tawaf padanya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”
Umar menjawab, “Tidak.” Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan akan tawaf padanya.”

Umar melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia datang kepada Abu Bakar dan mengatakan kepadanya, “Hai Abu Bakar, bukankah dia adalah Nabi Allah yang sebenarnya?”
Abu Bakar menjawab, “Benar.” Umar bertanya, “Bukankah kita di pihak yang benar dan musuh kita di pihak yang batil?”
Abu Bakar menjawab, “Benar.” Umar bertanya, “Lalu mengapa kita mengalah dalam membela agama kita?”

Abu Bakar merasa kesal, lalu berkata, “Hai lelaki (maksudnya Umar), sesungguhnya beliau adalah utusan Allah dan beliau tidak akan mendurhakai Tuhannya.
Dia pasti akan menolongnya, maka terimalah apa yang telah ditetapkannya.
Demi Allah, sesungguhnya dia berada pada keputusan yang benar.”

Umar berkata, “Bukankah dia telah berbicara kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan melakukan tawaf padanya?”
Abu Bakar menjawab, “Benar.” Abu Bakar balik bertanya, “Apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”
Umar menjawab, “Tidak.” Abu Bakar berkata, “Maka sesungguhnya engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf padanya.”

Az-Zuhri menceritakan, Umar r.a.
mengatakan bahwa karena peristiwa tersebut ia melakukan banyak amal kebaikan (untuk melebur dosanya karena ia merasa berdosa dengan kata-katanya itu kepada Nabi ﷺ).

Setelah usai dari penandatanganan naskah gencatan senjata itu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya: Bangkitlah kalian dan sembelihlah (hewan kurban kalian), kemudian bercukurlah.

Umar r.a.
menceritakan bahwa demi Allah, tiada seorang pun dari mereka yang bangkit melaksanakannya, hingga Nabi ﷺ mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali.
Ketika beliau ﷺ melihat tiada seorang pun dari mereka yang melakukannya, maka masuklah beliau ke dalam kemah Ummu Salamah r.a., lalu menceritakan kepadanya apa yang dilakukan oleh kaum muslim terhadap perintahnya.
Ummu Salamah r.a.
bertanya kepada beliau ﷺ, “Hai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan agar hal tersebut terlaksana?
Sekarang keluarlah dan janganlah engkau berkata sepatah kata pun kepada seseorang dari mereka sebelum engkau menyembelih kurbanmu dan kamu panggil tukang cukurmu untuk mencukurmu.”

Maka Rasulullah ﷺ keluar dan tidak berbicara kepada seseorang pun dari mereka hingga melakukan apa yang telah disarankan oleh Ummu Salamah itu.
Beliau menyembelih hewan kurbannya, lalu memanggil tukang cukurnya.
Maka tukang cukur mencukur rambut beliau ﷺ

Ketika mereka melihat hal tersebut, maka bangkitlah mereka menuju ke tempat hewan kurban masing-masing, lalu mereka menyembelihnya dan sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian, hingga sebagian dari mereka hampir saja membunuh sebagian yang lainnya karena kesusahan.

Kemudian datanglah menghadap kepada Rasulullah ﷺ wanita-wanita mukmin, dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan beriman.
(Q.S. Al-Mumtahanah:10) Sampai dengan firman-Nya: pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.
(Q.S. Al-Mumtahanah:10)

Maka Umar menceraikan dua orang istrinya pada hari itu juga, yang keduanya masih tetap dalam kemusyrikannya.
Kemudian salah seorangnya dikawini oleh Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan, sedangkan yang lainnya dikawini oleh Safwan ibnu Umayyah.

Kemudian Nabi ﷺ kembali ke Madinah, lalu beliau kedatangan Abu Busair, seorang lelaki dari kalangan Quraisy yang telah masuk Islam.
Maka orang-orang Quraisy mengirimkan utusannya yang terdiri dari dua orang lelaki untuk memulangkannya.
Lalu mereka berkata, “Kami menuntut janj i yang telah engkau berikan kepada kami.” Maka Nabi ﷺ menyerahkan Abu Busair kepada kedua lelaki utusan Cmraisy itu yang segera membawanya pulang.
Dan ketika keduanya sampai di Zul Hulaifah, mereka bertiga turun dan beristirahat untuk memakan buah kurma bekal mereka.

Abu Busair berkata kepada salah seorang dari keduanya, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar melihat pedangmu ini, hai Fulan, sangat bagus.” Maka lelaki lainnya menghunus pedangnya dan mengatakan, “Benar, demi Tuhan, aku telah mencobanya.
Ternyata pedang itu benar-benar bagus.” Abu Busair berkata, “Bolehkah aku lihat pedangmu itu?”
Maka lelaki itu memberikan pedangnya kepada Abu Busair, dan dengan segera dan cepat Abu Busair memukulkan pedang itu kepada pemiliknya hingga mati seketika itu juga, sedangkan lelaki yang lainnya melarikan diri dan sampai di Madinah, lalu ia berlari memasuki masjid, maka Rasulullah ﷺ bersabda saat melihat kedatangannya, “Sesungguhnya orang ini telah mengalami peristiwa yang menakutkan.” Setelah sampai di hadapan Nabi ﷺ, lelaki itu berkata, “Demi Tuhan, temanku telah dibunuh, dan aku pun akan dibunuhnya pula.”

Tidak lama kemudian datanglah Abu Busair, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh Allah telah melunaskan tanggunganmu, engkau telah mengembalikan aku kepada mereka, kemudian Allah menyelamatkan diriku dari mereka.” Nabi ﷺ bersabda, “Celakalah dia, dia menyalakan api peperangan, sekiranya saja dia bersama seseorang lagi.” Ketika Abu Busair mendengar sabda Nabi ﷺ yang demikian, maka dia mengetahui bahwa beliau pasti akan mengembalikannya kepada mereka.

Maka Abu Busair keluar (melarikan diri) hingga sampai di tepi laut, dan Abu Jandal ibnu Suhail melarikan diri pula dari mereka, lalu bergabung bersama Abu Busair.
Maka sejak saat itu tidak sekali-kali ada seseorang lelaki dari Quraisy yang telah Islam melarikan diri melainkan ia bergabung bersama dengan Abu Busair, hingga terbentuklah segerombolan orang-orang.
Maka demi Allah, tidak sekali-kali mereka mendengar akan ada kafilah Quraisy yang keluar menuju negeri Syam, melainkan mereka rampok dan mereka bunuh orang-orangnya serta mereka jarah harta bendanya.

Mengalami gangguan ini orang-orang Quraisy kewalahan, lalu mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah ﷺ seraya meminta kepadanya demi nama Allah dan pertalian kekeluargaan agar sudilah Nabi ﷺ mengirimkan utusan kepada gerombolan Abu Busair itu supaya menghentikan kegiatan mereka.
Bahwa barang siapa dari mereka yang kembali pulang , maka keamanannya akan dijamin.
Lalu Nabi ﷺ mengirimkan utusan kepada mereka, dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan menahan tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah.
(Q.S. Al-Fath [48]: 24) sampai dengan firman-Nya: (yaitu) kesombongan Jahiliah.
(Q.S. Al-Fath [48]: 26)

Tersebutlah pula bahwa kesombongan mereka ialah tidak mau mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah, dan tidak mau mengakui bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dan mereka menghalang-halangi kaum muslim untuk dapat sampai ke Baitullah.

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dalam bab ini.
Ia telah mengetengahkannya pula di dalam kitab tafsir, pada Bab “Umrah Hudaibiyah” dan Bab “Haji” serta bab-bab lainnya melalui hadis Ma’mar dan Sufyan ibnu Uyaynah, keduanya menerima hadis ini dari Az-Zuhri dengan teks yang sama.

Tetapi di bagian yang lain disebutkan dari Az-Zuhri, dari Urwah ibnu Marwan dan Al-Miswar, dari beberapa orang sahabat Nabi hal yang semisal dengan hadis di atas, dan riwayat ini lebih mendekati kepada kebenaran, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Bukhari tidak mengetengahkan hadis ini sepanjang apa yang tertera di dalam kitab ini, antara teks yang dikemukakannya dengan teks yang dikemukakan oleh ibnu Ishaq terdapat perbedaan di beberapa bagian.
Tetapi padanya terdapat banyak keterangan yang bermanfaat.
Karena itulah maka sebaiknya dihimpunkan dengan apa yang tertera dalam kitab ini, sebab itulah maka keduanya dikemukakan.
Hanya kepada Allah-lah memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya-lah bertawakal, tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitab Tafsir, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Ya’la, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Siyah, dari Habib ibnu Abu Sabit yang menceritakan bahwa ia pernah datang kepada Abu Wa’il untuk bertanya kepadanya.
Maka Abu Wa’il bercerita, ‘Ketika kami berada di Siffin, ada seorang lelaki berkata, ‘Tidakkah engkau lihat orang-orang yang menyeru (kita) kepada KitabullahT Maka Ali r.a.
menjawab, ‘Ya.’ Sahl ibnu Hanif mengatakan, ‘Salahkanlah diri kalian sendiri, sesungguhnya ketika kami berada di hari Hudaibiyah —yakni Perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan antara Nabi ﷺ dengan kaum musyrik— seandainya kami memilih berperang, niscaya kami akan berperang.’ Maka datanglah Umar r.a., lalu bertanya, ‘Bukankah kita berada di pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang batil?
Bukankah orang-orang yang gugur dari kalangan kita dimasukkan ke dalam surga dan orang-orang yang gugur dari kalangan mereka dimasukkan ke dalam neraka?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Benar.’ Umar bertanya, ‘Lalu mengapa kita harus mengalah dalam membela agama kita, lalu kita kembali (ke Madinah), padahal Allah masih belum memutuskan (kemenangan) di antara kita?’ Rasulullah ﷺ menjawab: Hai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan diriku.

Maka Umar mundur dengan hati yang tidak puas, dan ia tidak tahan, lalu datanglah ia kepada Abu Bakar r.a.
dan berkata kepadanya, ‘Hai Abu Bakar, bukankah kita berada di pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang batil?’ Abu Bakar menjawab, ‘Hai Ibnul Khattab, sesungguhnya dia adalah utusan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan selamanya,’ lalu turunlah surat Al-Fath.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula hadis ini di tempat yang lain, juga Imam Muslim serta Imam Nasai melalui berbagai jalur yang lain dari Abu Wa’il alias Sufyan ibnu Salamah, dari Sahl ibnu Hanif dengan sanad yang sama.
Dan menurut sebagian lafaznya, disebutkan bahwa Sahl ibnu Hanif mengatakan, “Hai manusia, curigailah pendapat (usulan) itu, karena sesungguhnya ketika di hari peristiwa yang dialami oleh Abu Jandal, seandainya aku mempunyai kekuatan untuk mengembalikan kepada Rasulullah ﷺ akan urusannya, tentulah aku akan mengembalikannya.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa lalu turunlah surat Al-Fath, maka Rasulullah ﷺ memanggil Umar ibnul Khattab dan membacakan surat itu kepadanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sabit, dari Anas r.a.
y ang menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy berdamai dengan Nabi ﷺ dan di kalangan mereka terdapat Suhail ibnu Amr.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada Ali r.a.: Tulislah ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.

Sahl memotong, “Kami tidak mengenal apakah Bismillahir Rahmanir Rahim itu, tetapi tulislah ‘Dengan nama Engkau ya Allah’.” Rasulullah ﷺ bersabda lagi: Tulislah dari Muhammad utusan Allah.
Suhail kembali memprotes, “Seandainya kami meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah, tentulah kami mengikutimu, tetapi tulislah namamu dan nama ayahmu.”

Maka Nabi ﷺ memerintahkan (kepada Ali r.a.): Tulislah ‘Dari Muhammad putra Abdullah’.
Lalu mereka (orang-orang musyrik) membebankan syarat-syarat kepada Nabi ﷺyang isinya ialah bahwa orang yang datang dan kalangan kamu maka kami akan mengembalikannya kepadamu, dan orang yang datang kepadamu dari kami, kalian harus mengembalikannya kepada kami.
Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus menulisnya?”
Nabi ﷺ bersabda: Ya, sesungguhnya orang yang pergi kepada mereka dari kalangan kami, maka semoga Allah menjauhkannya.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Fath (48) Ayat 26

JAAHILIYYAH
جَٰهِلِيَّة

Arti lafaz jaahiliyyah adalah keadaan manusia sebelum datangnya hidayah dan nabi. Kata dasarnya al jahlu yang berarti tidak tahu atau bodoh.

Menurut Isfahaani al jahlu ada tiga bentuk yaitu :
(1) Tiada ilmu;
(2) Meyakini sesuatu tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang diyakini;
(3) Melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan baik itu ketika melakukan­nya dia mempunyai keyakinan yang benar atau salah contohnya orang yang meninggal­kan shalat dengan sengaja.

Kata jaahiliyyah diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 154;
-Al Maa’idah (5), ayat 50;
-Al Ahzab (33), ayat 33;
-Al Fath (48), ayat 26.

Di dalam Al Qur’an, perkara-perkara yang dikaitkan dengan jaahiliyyah selalunya teruk sehingga tidak boleh dilakukan atau di­ikuti dan mesti dijauhi. Perkara-perkara itu adalah:

Sangkaan jahiliyyah (dhzannal jaahiliyyah)
Maksudnya ialah keraguan kepada Allah. Keraguan inilah yang dialami orang munafik setelah tentara muslim kalah dalam Perang Uhud. Selesai perang, mereka tidak dapat menikmati rasa mengantuk seperti yang dirasakan oleh orang yang kuat imannya karena mereka bingung, cemas, kuatir dan berburuk sangka pada Allah, malah mereka yakin kemenangan kaum musyrik dalam Perang Uhud me­nunjukkan agama Islam sudah ber­akhir. Mereka adalah orang yang ragu-ragu. Ketika terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan, muncul sangkaan-sangkaan buruk kepada Allah. Inilah yang diterangkan dalam surah Ali Imran (3), ayat 154.

Hukum jahiliyyah (hukmal jaahiliyyah)
Maksudnya ialah hukum-hukum selain yang ditetapkan oleh Allah. Imam Ibnu Katsir menafsirkan surah Al Maa’idah (5), ayat 50 dengan berkata,
“(Pada ayat ini), Allah mengingkari orang yang tidak mau mengikuti hukum Nya yang jelas (muhkam), yang meliputi semua bentuk kebajikan dan melarang semua bentuk keburukan, kemudian orang itu malahan berpindah mengikuti pendapat yang dibuat oleh manusia, mentaati keinginan-keinginan dan juga istilah-istilahnya yang tidak ber­ sandarkan kepada syariat Allah seperti hukum-hukum buatan orang jahiliyah yang penuh dengan kesesatan dan kebodohan karena mereka membuatnya berdasarkan pendapat dan keinginan pribadi mereka.
Sebagaimana hukum-hukum yang di­pakai oleh kaum Tatar dalam masalah politik kerajaan yang dibuat oleh Jengis Khan, dimana dia membuat kitab undang-undang yang bernama Yasiq. Di dalamnya terdapat aturan-aturan campuran yang diambil dari hukum-hukum yang beragama seperti hukum Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya. Di dalamnya juga terdapat banyak hukum yang diambil dari pendapat dan keinginan Jengis Khan, kemudian hukum-hukum itu men­jadi pegangan rakyat dan mereka lebih mengutamakan hukum-hukum itu daripada berhukum dengan Kitab Allah dan sunnah Rasulullah. Sesiapa yang melakukan perbuatan itu, maka dia adalah orang kafir yang wajib di­ perangi hingga dia kembali kepada hukum Allah dan rasul Nya hingga dia tidak mau lagi berhukum dengan se­lain dua perkara itu baik itu sedikit maupun banyak.”

Perhiasan dan tingkah laku perempuan jahiliyyah (tabarrujul jaahiliyyah)
Yaitu perilaku perempuan yang memamerkan per­hiasan dan keindahan tubuhnya yang dapat menyebabkan syahwat lelaki te­rangsang. Perhiasan dan keindahan tubuh harus ditutupi. Meskipun ada perbedaan pendapat dalam menetap­kan masa jahiliyyah yang dimaksud­kan dalam ayat ini, namun Imam Ibnu Atiyah menegaskan dengan mempertimbangkan konteks ayat, masa jahiliyyah yang dimaksudkan pada ayat itu adalah masa jahiliyyah yang pernah dijumpai oleh para isteri nabi ketika ajaran Islam belum tersebar hingga menyebabkan wanita berkelakuan buruk karena kafir.

Ada banyak perilaku negatif wanita yang termasuk “tabarrujul jaahiliyyah”. Imam Mujahid dan Qatadah menyatakan, termasuk tabarruj apabila wanita keluar rumah dan berjalan lenggak- lenggok di hadapan kaum lelaki. Imam Muqatil bin Hayyan menyebutkan ter­masuk sikap tabarruj adalah meletak­ kan tudung di atas kepala, tetapi tidak mengikatnya sehingga rantai, anting­-anting dan lehernya terdedah. Imam Mubarrad pula menerangkan wanita­-wanita jahiliyyah suka memamerkan bahagian tubuh yang tidak patut di­pamer hingga perempuan itu ter­biasa duduk bersama dengan suami dan juga kawan lelaki (suami)nya. Kawan lelaki (suami)nya bermain dengan tubuh wanita bahagi­an atas kain, sedangkan suaminya ber­main dengan tubuh wanita yang be­rada pada bahagian bawah kain, malah lelaki itu kadang-kadang meminta bertukar isteri.” Intinya “tabarrujul jaahiliyyah” adalah sikap tidak ada rasa malu dan tidak ada rasa cemburu pada isteri.

Kesombongan jahiliyyah (hamiyyatal jaahiliyyah)
Adalah perasaan bangga diri yang tinggi sehingga tidak mau me­nerima kebenaran. Sikap seperti ini­lah yang tertanam kuat di hati orang musyrik Makkah, sehingga semasa Perjanjian (Sulh) Hudaibiyah, mereka menolak kalimat Basmalah untuk me­ngawali surat perjanjian dan juga me­nolak kata Rasulullah sebagai sifat Muhammad yang menyetujui perjanji­an itu. Inilah yang diterangkan dalam surah Al Fath (48), ayat 26.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:133-134

Informasi Surah Al Fath (الفتح)
Surat Al Fat-h terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Jumu’ah.

Dinamai “Al Fath (kemenangan)” diambil dari perkataan “Fat-han” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad ﷺ dalam peperangan-peperangannya.

Nabi Muhammad ﷺ sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari
“Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.”

Kegembiraan Nabi Muhammad ﷺ itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad ﷺ dalam petjuangannya dan tentang

Keimanan:

Allah mempunyai tentara di langit dan di bumi
janji Allah kepada orang mu’min bahwa mereka akan mendapat ampunan Tuhan dan pahala yang besar
Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
Agama Islam akan mengalahkan agama-agama lain

Hukum:

Orang pincang dan orang-orang yang sakit dibebaskan dari kewajiban berperang

Kisah:

Kejadian-kejadian sekitar Bai’aturridhwan dan Perdamaian Hudaibiyyah”.

Lain-lain:

Berita gembira yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa dia bersama-sama orang-orang mu’min akan memasuki kota Mekah dengan kemenangan, dan hal ini memang terlaksana setelah setahun kemudian
sikap orang­ orang mu’min terhadap sesama mu’min dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir
sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya sudah disebutkan dalam Taurat dan Injil
janji Allah bahwa orang Islam akan menguasai daerah-­daerah yang sewaktu Nabi Muhammad s.a.w, belum dikuasai

Ayat-ayat dalam Surah Al Fath (29 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Fath (48) ayat 26 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Fath (48) ayat 26 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Fath (48) ayat 26 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Fath - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 29 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 48:26
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Fath.

Surah Al-Fath (Arab: الفتح , "Kemenangan") adalah surah ke-48 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al-Fath yang berarti Kemenangan diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad S.A.W dalam peperangannya.

Nabi Muhammad S.A.W sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda dia yang diriwayatkan Sahih Bukhari; Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.
Kegembiraan Nabi Muhammad S.A.W itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad S.A.W dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah[1] kepadanya.

Nomor Surah 48
Nama Surah Al Fath
Arab الفتح
Arti Kemenangan
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 111
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 29
Jumlah kata 560
Jumlah huruf 2509
Surah sebelumnya Surah Muhammad
Surah selanjutnya Surah Al-Hujurat
4.4
Ratingmu: 5 (1 orang)
Sending







Pembahasan ▪ arti al fath ▪ surat al fath juz 26

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim