Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Fajr (Fajar) – surah 89 ayat 9 [QS. 89:9]

وَ ثَمُوۡدَ الَّذِیۡنَ جَابُوا الصَّخۡرَ بِالۡوَادِ ۪ۙ
Watsamuudal-ladziina jaabuush-shakhra bil waad(i);
dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah,
―QS. Al Fajr [89]: 9

And (with) Thamud, who carved out the rocks in the valley?
― Chapter 89. Surah Al Fajr [verse 9]

وَثَمُودَ dan Samud

And Thamud,
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
جَابُوا۟ (mereka) memotong

carved out
ٱلصَّخْرَ batu-batu besar

the rocks
بِٱلْوَادِ di lembah

in the valley,

Tafsir

Alquran

Surah Al Fajr
89:9

Tafsir QS. Al Fajr (89) : 9. Oleh Kementrian Agama RI


Begitu juga Allah telah menghancurleburkan kaum Samud, umat Nabi Saleh.
Bangsa ini juga telah memiliki peradaban yang tinggi, yang ditunjukkan oleh kemampuan mereka membangun gedung-gedung megah di tempat-tempat datar dan memotong, memahat batu-batu di pegunungan untuk dibuat tempat-tempat peristirahatan, serta membuat relief-relief dan perhiasan-perhiasan dari batu atau marmer.

Keahlian mereka itu diceritakan dalam ayat lain:

وَتَنْحِتُوْنَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا فٰرِهِيْنَ

Dan kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah. (asy-Syu’ara’ [26]: 149)


Walaupun mereka sudah begitu maju, kuat, dan memiliki peradaban yang tinggi, Allah tetap kuasa menghancurkan mereka karena pembangkangan mereka.

Tafsir QS. Al Fajr (89) : 9. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu menurunkan hukuman-Nya kepada bangsa Tsamud, kaum Shalih, yang memotong batu-batu besar dari gunung-gunung untuk membangun istana di atas lembah?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan bagaimana perlakuan Allah terhadap kaum Tsamud dan kaum Nabi Shalih yang telah memotong batu-batu besar di lembah dan menjdikannya sebagai rumah?

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan kaum Tsamud yang memotong) yang memahat


(batu-batu besar) lafal Ash-Shakhr adalah bentuk jamak dari lafal Shakhrah, kemudian batu-batu besar yang mereka lubangi itu dijadikan sebagai rumah tempat tinggal mereka


(di lembah) yakni Wadil Qura namanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.
(QS. Al-Fajr [89]: 8)

Ibnu Zaid mengatakan bahwa domir yang ada merujuk kepada ‘imad karena ketinggiannya yang tidak terperikan, dan ia mengatakan bahwa mereka telah membangun bangunan-bangunan yang tinggi di atas bukit-bukit pasir, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.
Lain halnya dengan Qatadah dan Ibnu Jarir, keduanya merujukkan damir yang ada kepada kabilah.
Yakni belum pernah ada suatu kabilah pun yang diciptakan seperti mereka di masanya.
Pendapat inilah yang benar, sedangkan pendapat Ibnu Zaid dan orang-orang yang mengikutinya lemah.
Karena seandainya makna yang dimaksud adalah seperti yang ditakwilkan oleh mereka, tentulah bunyi ayat bukan lam yukhlaq, melainkan lamyu’mal mi’sluha fil bilad.
Dan sesungguhnya bunyi ayat adalah seperti berikut:
yang belum pernah diciptakan (suatu kabilah pun) seperti mereka di negeri-negeri lain.
(QS. Al-Fajr [89]: 8)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh juru tulis Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Saleh, dari orang yang telah menceritakan hadis ini kepadanya, dari Al-Miqdam, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.
Maka beliau ﷺ bersabda:
Adalah seseorang dari mereka (kaum ‘Ad) dapat mengangkat sebuah batu yang amat besar (seperti bukit), lalu ia memikulnya dan menimpakannya kepada suatu penduduk desa, maka binasalah mereka.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abut Tahir, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, dari Saur ibnu Zaid Ad-Daili yang mengatakan bahwa ia pernah membaca sebuah prasasti kuno yang bunyinya seperti berikut,
"Akulah Syaddad ibnu Ad, akulah yang meninggikan bangunan-bangunan yang tinggi.
dan akulah orang yang hastaku sama besarnya dengan tubuh satu orang;
dan akulah orang yang menyimpan perbendaharaan sedalam tujuh hasta, tiada yang dapat mengeluarkannya selain umat Muhammad ﷺ"

Menurut hemat saya, pendapat apa pun dari yang telah disebutkan di atas, baik yang mengatakannya sebagai bangunan-bangunan tinggi yang mereka bangun, atau menganggapnya sebagai tiang-tiang rumah mereka di daerah pedalaman, ataukah menganggapnya sebagai senjata yang dipakai mereka untuk berperang atau menggambarkan ketinggian seseorang dari mereka.
Semuanya itu pada garis besarnya menunjukkan bahwa mereka adalah suatu umat yang disebutkan di dalam Alquran bukan hanya pada satu tempat saja yang penyebutan mereka dibarengi dengan kisah kaum Samud, sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Dan mengenai orang yang mengira bahwa firman-Nya:
(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.
(QS. Al-Fajr [89]: 7)
Bahwa makna yang dimaksud adalah suatu kota yang adakalanya kota Dimasyq seperti apa yang diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyab dan Ikrimah, atau menganggapnya kota Iskandariah seperti yang diriwayatkan dari Al-Qurazi, atau dianggap kota lainnya.
Maka pendapat-pendapat ini masih perlu diteliti kebenarannya;
karena bila diartikan demikian, mana mungkin dapat sesuai dengan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangun an-bangunan yang tinggi.
(QS. Al-Fajr [89]: 6-7)

Jika hal itu dijadikan sebagai badal atau ‘ataf bayan, maka tidak sealur dengan konteks pembicaraannya.
Karena sesungguhnya yang dimaksud dalam topik pembicaraan ayat ini tiada lain memberitakan tentang kebinasaan suatu kabilah yaitu ‘Ad, dan azab yang ditimpakan oleh Allah kepada mereka sebagai pembalasan dari-Nya, tanpa ada seorang pun yang dapat mencegahnya.
Dan makna yang dimaksud bukanlah menceritakan perihal suatu kota atau suatu kawasan.

Sesungguhnya kami ingatkan hal ini tiada lain agar jangan ada orang yang terpedaya oleh berbagai macam pendapat yang dikemukakan oleh sebagian ulama tafsir sehubungan dengan ayat ini.
Yang diantaranya ada yang menyebutkan bahwa Iram adalah suatu kota yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang dibangun dengan bata emas dan perak gedung-gedung, rumah-rumah, dan taman-tamannya.
Dan bahwa batu kerikilnya dari intan dan mutiara, sedangkan tanahnya dari kesturi, dan sungai-sungainya mengalir, sedangkan buah-buahannya berjatuhan;
rumah-rumahnya tiada berpenghuni, tembok-tembok dan pintu-pintunya dalam keadaan terbuka, tetapi tiada seorang pun yang ada di dalamnya.
Dan bahwa kota tersebut berpindah-pindah;
adakalanya di negeri Syam dan adakalanya di negeri Yaman, dan adakalanya berpindah ke negeri Iraq, dan lain sebagainya.
Maka sesungguhnya kisah seperti ini termasuk dongengan-dongengan Israiliyat, yang tiada kenyataanya, dan termasuk yang dibuat oleh orang-orang Zindiq dari kalangan mereka, yang sengaja dituangkan untuk memperdaya akal orang-orang yang bodoh agar mau percaya dengan kisah buatan mereka.

As-Sa’labi dan lain-lainnya menyebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki Badui yang bernama Abdullah ibnu Qilabah hidup di masa mu’awiyah.
Lelaki Badui itu pergi mencari beberapa ekor untanya yang lepas;
ketika ia sedang mencarinya kemana-mana, tersesatlah ia di suatu daerah.
Dan tiba-tiba ia menjumpai suatu kota yang besar dengan tembok-temboknya yang tinggi dan pintu-pintu gerbangnya yang besar.
Lalu ia memasukinya dan menjumpai di dalamnya banyak hal yang mendekati, seperti apa yang telah kami sebutkan diatas, yaitu kota emas.
Lalu lelaki itu kembali dan menceritakan kepada orang-orang apa yang telah dilihatnya, maka orang-orang beramai-ramai pergi bersama dia menuju ke tempat yang disebutkannya, dan ternyata mereka tidak melihat sesuatu pun di tempat tersebut.

Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan kisah mengenai kota Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi ini dengan kisah yang panjang sekali.
Dan kisah ini tidak sahih sanadnya.
Seandainya memang sahih sampai kepada lelaki Badui tersebut, maka barangkali lelaki Badui itu membuat-buatnya;
atau dia terkena semacam penyakit kejiwaan yang menimbulkan ilusi berbagai macam hal, sehingga ia menganggap bahwa ilusinya itu suatu kenyataan, padahal hakikatnya tidaklah demikian.
Dan faktor inilah yang memastikan tidak sahnya kisah lelaki Badui itu.

Hal ini hampir sama dengan apa yang di beritakan oleh kebanyakan orang yang kurang akalnya, yang tamak kepada keduniawian.
Mereka beranggapan bahwa di dalam perut bumi terdapat banyak emas, perak dan berbagai macam permata, yaqut, mutiara, dan keajaiban (teka-teki) yang besar.
Akan tetapi, mereka beranggapan bahwa untuk mencapainya ada banyak hambatan yang harus dilenyapkan terlebih dahulu agar dapat diambil.
Karenanya mereka banyak menipu harta orang-orang kaya dan orang-orang yang lemah lagi kurang akalnya (yang mau membelanjakan hartanya untuk tujuan itu) sehingga mereka yang melakukan praktek demikian, memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Mereka mengilusikan kepada orang-orang yang mereka perdaya, bahwa biaya itu untuk membeli dupa, ramu-ramuan, dan lain sebagainya yang diada-adakan oleh mereka, padahal kenyataanya hanyalah tipuan belaka.

Akan tetapi, yang pasti memang di dalam tanah banyak terdapat harta-harta yang terpendam, yang dahulunya adalah bekas-bekas peninggalan masa jahiliah dan masa Islam pertama.
Maka barang siapa yang berhasil mendapatkannya, ia dapat memindahkannya.
Adapun mengenai harta terpendam seperti apa yang digambarkan oleh dugaan mereka, hal itu hanyalah dusta dan buat-buatan belaka., dan tidak benar sama sekali bahwa hal itu dapat dipindahkan atau dapat diambil oleh orang yang menemukannya.
Hanya Allah-lah yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Dan mengenai pendapat Ibnu Jarir yang mengatakan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala:
(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.
(QS. Al-Fajr [89]: 7).
dapat ditakwilkan sebagai nama suatu kabilah atau suatu negeri (kota) yang dihuni oleh kaum ;
Ad, yang karenanya lafaz Iram tidak menerima tamyin.
Pendapat ini masih perlu diteliti, karena makna yang dimaksud oleh konteks cerita hanyalah menceritakan tentang kabilah.
untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

dan kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah.
(QS. Al-Fajr [89]: 9)

Yakni mereka memotong batu-batu yang ada di lembah tempat mereka.
Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa mereka mengukirnya dan melubanginya.
Hal yang sama di katakan oleh Mujahid, Qatadah.
Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid.
Dan termasuk kedalam pengertian kata ini bila dikatakan mujtabin nimar, artinya bila mereka melubanginya.
Dan dikatakan wajtabassauba bila seseorang membukanya (memotongnya);
oleh karena itulah maka kantong dalam bahasa Arab disebut al-jaib.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.
(Asy-Syu’ara:
149)

Dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan kisah ayat ini menyebutkan ucapan seorang penyair:


Ingatlah segala sesuatu selain Allah pasti lenyap (binasa) sebagaimana telah lenyap suatu kabilah dari Syanif dan Marid.


Mereka telah mengukir dan memotong batu-batu gunung dengan tangan-tangan yang keras dan lengan-lengan yang kekar.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang Arab, dan tempat tinggal mereka adalah di lembah Al-Qura.
Kami telah menyebutkan kisah kaum ‘Ad secara rinci di dalam tafsir surat Al-A’raf, sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Unsur Pokok Surah Al Fajr (الفجر)

Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Lail.

Nama "Al Fajr" diambil dari kata Al Fajr yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "fajar".

Keimanan:

▪ Allah bersumpah bahwa azab terhadap orang-orang kafir tidak akan dapat dielakkan.
▪ Beberapa contoh dari umat-umat yang sudah dibinasakan.
▪ Kenikmatan hidup atau bencana yang dialami oleh seseorang, bukanlah tanda penghormatan atau penghinaan Allah kepadanya, melainkan cobaan belaka.
▪ Celaan terhadap orang-orang yang tidak mau memelihara anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.
▪ Kecaman terhadap orang yang memakan harta warisan dengan campur aduk dan orang yang amat mencintai harta.
▪ Malapetaka yang dihadapi orang-orang kafir di hari kiamat.
▪ Orang-orang yang berjiwa muthmainnah (tenang) mendapat kemuliaan di sisi Allah.

Audio

QS. Al-Fajr (89) : 1-30 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 30 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Fajr (89) : 1-30 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 30

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Fajr ayat 9 - Gambar 1 Surah Al Fajr ayat 9 - Gambar 2
Statistik QS. 89:9
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Fajr.

Surah Al-Fajr (bahasa Arab:الفجر, “Fajar”) adalah surah ke-89 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 30 ayat.
Dinamakan Al-Fajr yang berarti Fajar diambil dari perkataan Al-Fajr yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah89
Nama SurahAl Fajr
Arabالفجر
ArtiFajar
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu10
JuzJuz 30
Jumlah ruku’1 ruku’
Jumlah ayat30
Jumlah kata139
Jumlah huruf584
Surah sebelumnyaSurah Al-Gasyiyah
Surah selanjutnyaSurah Al-Balad
Sending
User Review
4.3 (27 votes)
Tags:

89:9, 89 9, 89-9, Surah Al Fajr 9, Tafsir surat AlFajr 9, Quran Al-Fajr 9, Surah Al Fajr ayat 9

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Asy Syu’araa (Penyair) – surah 26 ayat 93 [QS. 26:93]

93. Selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri me-reka sendiri?” Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan berhala-berhala itu dan yang menyembahnya akan masuk neraka b … 26:93, 26 93, 26-93, Surah Asy Syu’araa 93, Tafsir surat AsySyuaraa 93, Quran Asy Syuara 93, Asy Syu’ara 93, Asy-Syu’ara 93, Surah Asy Syuara ayat 93

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 75 [QS. 20:75]

75-76. Tetapi, sebaliknya, barang siapa meninggal dunia dan datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka mereka itulah orang yang m … 20:75, 20 75, 20-75, Surah Thaa Haa 75, Tafsir surat ThaaHaa 75, Quran Thoha 75, Thaha 75, Ta Ha 75, Surah Toha ayat 75

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah yang menjelaskan bahwa “Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta”, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang ...

Benar! Kurang tepat!

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah ....

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #19
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #19 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #19 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … alumul hadist Isra Mi’raj ulumul qur’an asbabun nuzul asbabul wurud Benar! Kurang tepat! Jumlah

Pendidikan Agama Islam #3

Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Abu Bakar Shiddiq

Pendidikan Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya … Amal yang pahalanya terus

Instagram