Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 7 [QS. 2:7]

خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ
Khatamallahu ‘ala quluubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘azhiim(un);
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.
―QS. Al Baqarah [2]: 7

Allah has set a seal upon their hearts and upon their hearing, and over their vision is a veil.
And for them is a great punishment.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 7]

خَتَمَ menutup/mengunci

Has set a seal
ٱللَّهُ Allah

Allah
عَلَىٰ atas

on
قُلُوبِهِمْ hati mereka

their hearts
وَعَلَىٰ dan atas

and on
سَمْعِهِمْ pendengaran mereka

their hearing,
وَعَلَىٰٓ dan atas

and on
أَبْصَٰرِهِمْ penglihatan mereka

their vision
غِشَٰوَةٌ tutup/tabir

(is) a veil.
وَلَهُمْ dan bagi mereka

And for them
عَذَابٌ siksaan

(is) a punishment
عَظِيمٌ besar/berat

great.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:7

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 7. Oleh Kementrian Agama RI


Hal yang menyebabkan orang-orang kafir tidak menerima peringatan adalah karena hati dan pendengaran mereka tertutup, bahkan terkunci mati, tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasihat tidak berbekas pada mereka.
Karena penglihatan mereka tertutup, mereka tidak dapat melihat, memperhatikan dan memahami ayat-ayat Alquran yang telah mereka dengar, tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.


Terkuncinya hati dan pendengaran, serta tertutupnya penglihatan orang-orang kafir itu karena mereka selalu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang.
Tiap-tiap perbuatan terlarang yang mereka lakukan akan menambah rapat dan kuatnya kunci yang menutup hati dan pendengaran mereka.

Makin banyak perbuatan itu mereka lakukan, makin bertambah kuat pula kunci dan tutup pada hati dan telinga mereka:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَقَتْلِهِمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَّقَوْلِهِمْ قُلُوْبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا

Maka (Kami hukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, serta karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan karena mereka mengatakan,
"Hati kami tertutup."
Sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman
(an-Nisa’ [4]: 155)

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ۔

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Alquran), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.

(al-An’am [6]: 110)


Proses bertambah kuatnya tutup dan bertambah kuatnya kunci hati dan pendengaran orang-orang kafir itu diterangkan oleh hadis :


Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

"Sesungguhnya seorang hamba apabila ia mengerjakan perbuatan dosa terdapatlah suatu noda hitam di dalam hatinya, maka jika ia bertobat, mengkilat hatinya, dan jika ia tambah mengerjakan perbuatan buruk, bertambahlah noda hitam
".
Itulah firman Allah,
"Tidak, tetapi perbuatan mereka menjadi noda hitam di hati mereka".

(Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Jarir ath-Thabari dari Abu Hurairah)

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 7. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mereka adalah golongan yang telah dikuasai oleh sikap ingkar (kufr), hingga hati mereka seolah tertutup oleh sekat yang tidak akan pernah dimasuki sesuatu pun.
Pendengaran mereka terkunci, hingga tak sanggup mendengarkan kebenaran.


Penglihatan mereka terhalang, hingga tak mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang akan menuntun kepada keimanan.
Oleh sebab itulah mereka pantas menerima siksa yang keras.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah telah menutup rapat-rapat hati dan pendengaran mereka.
Allah telah meletakkan penutup di depan pandangan mata mereka di sebabkan oleh kekufuran mereka dan pengingkaran mereka setelah sebelumnya mereka mengetehui kebenaran, sehingga Allah tidak membimbing mereka kepada petunjuk, dan bagi mereka siksa yang berat di dalam api neraka Jahannam.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan


(begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima


(sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran


(dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap.
Terhadap orang-orang munafik diturunkan:

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah Allah mengunci mati.

Menurut Qatadah, ayat ini bermakna
"setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup.
Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya".

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan makna khatamallahu ‘ala qulubihim, bahwa makna at-tab’u ialah dosa-dosa telah melekat di hati dan meliputinya dari semua sisinya hingga menutupinya dengan rapat.
Istilah menutup inilah yang dinamakan, yakni dilak.

Menurut Ibnu Juraij sendiri, yang terkunci mati ialah kalbu dan pendengarannya.
Selanjutnya Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kasir, bahwa ia pernah mendengar Mujahid berkata,
"Istilah ar-ran (kotoran) lebih ringan daripada istilah at-tab’u (tertutup rapat), sedangkan at-tab’u lebih ringan daripada al-iqfal (terkunci), dan al-iqfal lebih berat daripada kesemuanya."

Al-A’masy mengatakan bahwa Mujahid pernah berisyarat memperagakan kepadaku dengan tangannya tentang pengertian ini.
Dia mengatakan,
"Mereka berpendapat bahwa kalbu seseorang itu semisal dengan ini, yakni telapak tangannya.
Apabila seseorang hamba melakukan suatu dosa, maka sebagian darinya tergenggam seraya menggenggamkan jari manisnya.
Apabila dia berbuat dosa lagi, maka tergenggam pula yang lainnya seraya menggenggamkan jari yang lainnya, hingga semua jari jemari telapak tangannya tergenggam."
Kemudian dia mengatakan,
"Maka tertutup rapatlah kalbunya oleh dosa-dosa tersebut."
Mujahid mengatakan pula,
"Mereka memandang bahwa hal tersebutlah yang dinamakan kotoran dosa yang menutupi."

Ibnu Jarir meriwayatkan hal yang sama dari Kuraib, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Mujahid.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya makna firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.
merupakan berita dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang sifat takabur orang-orang kafir dan berpalingnya mereka dari perkara hak yang disampaikan kepada mereka, yakni mereka tidak mau mendengarkannya.
Perihalnya sama dengan perkataan seseorang,
"Sesungguhnya si Fulan tuli, tidak mau mendengar perkataan ini,"
yakni bila dia tidak mau mendengarkannya dan merasa tinggi diri, tidak mau memahaminya karena takabur.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini tidak benar, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahukan bahwa Dialah yang mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka.

Az-Zamakhsyari mengulas dengan pembahasan panjang lebar dalam menyanggah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir tadi, dan Az-Zamakhsyari menakwilkan makna ayat dari lima hipotesis, tetapi semuanya itu lemah sekali.
Menurut kami, tiada yang mendorongnya berbuat demikian melainkan hanya aliran mu’tazilah yang dianutnya.
Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa makna
"mengunci mati hati mereka dan membuatnya menolak untuk menerima perkara yang disampaikan kepadanya"
merupakan suatu hal yang buruk (jahat) menurut Az-Zamakhsyari, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Tinggi dari perbuatan tersebut, demikianlah keyakinannya.

Akan tetapi, seandainya dia memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.
(Ash Shaff:
5)

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
(QS. Al-An’am [6]: 110)

Masih banyak ayat serupa lainnya yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengunci mati kalbu orang-orang kafir dan menghalang-halangi antara mereka dan hidayah, hanyalah sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang terus-menerus tenggelam di dalam kebatilan dan mereka tidak mau mengikuti perkara yang hak.
Hal ini merupakan keadilan dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sikap yang baik, bukan yang buruk.
Seandainya Az-Zamakhsyari menyadari hal ini, niscaya dia tidak akan mengeluarkan pendapatnya itu.

Al-Qurtubi mengatakan, para ulama sepakat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menyifati diri-Nya berlaku mengunci mati dan mengelak kalbu orang-orang kafir sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 155)

Selanjutnya Al-Qurtubi menyebutkan hadis yang menceritakan tentang berbolak-baliknya hati, yaitu:

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbu kami dalam agama-Mu.

Ia mengetengahkan hadis Huzaifah yang terdapat di dalam kitab Sahih, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Berbagai macam fitnah (dosa) ditampilkan pada kalbu bagaikan tikar yang dianyam sehelai demi sehelai.
Hati siapa yang melakukannya, maka dosa itu membuat suatu noktah hitam padanya, dan hati siapa yang mengingkarinya, maka terukirlah padanya suatu sepuhan yang putih.
Hingga hati manusia itu ada dua macam, yaitu ada yang putih semisal warna yang jernih, hati yang ini tidak akan tertimpa bahaya oleh suatu dosa pun selagi masih ada langit dan bumi.
Sedangkan hati yang lainnya tampak hitam kelam seperti tembikar yang hangus terbakar, ia tidak mengenal perkara yang makruf dan tidak ingkar terhadap perkara yang mungkar
hingga akhir hadis.

Ibnu Jarir mengatakan,
"Menurut kami, yang benar sehubungan dengan masalah ini adalah sebuah hadis sahih yang bermakna semisal dari Rasulullah ﷺ, yaitu sebuah hadis yang diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Basysyar, dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ajlan, dari Al-Qa’qa’, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya.
Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali).
Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya,
"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka."
(QS. Al-Muthaffifin:
14)

Hadis ini dari segi yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai, dari Qutaibah, Lais ibnu Sa’d dan Ibnu Majah, dari Hisyam ibnu Ammar, dari Hatim ibnu Ismail dan Al-Walid ibnu Muslim, semuanya berasal dari Muhammad ibnu Ajlan dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan,
"Rasulullah ﷺ telah memberitakan bahwa dosa-dosa itu apabila berturut-turut membuat noktah hitam pada hati maka ia akan menutup hati.
Apabila telah tertutup, maka saat itulah dilakukan penguncian oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dilak.
Setelah itu tiada jalan bagi iman untuk menembusnya dan tiada jalan keluar bagi kekufuran untuk meninggalkannya."


Pengertian inilah yang dimaksud oleh istilah penguncian dan pengelakan yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.

Pengertian ini diserupakan dengan penguncian dan pengelakan hal yang dapat diinderawi dengan mata, yakni diserupakan dengan wadah dan botol yang tidak dapat diambil isinya kecuali dengan membuka dan memutar tutupnya.
Dengan kata lain, demikian pula iman, tidak dapat sampai ke dalam kalbu orang-orang yang disifati oleh Allah subhanahu wa ta’ala hati dan pendengaran mereka telah dikunci mati, kecuali setelah membuka dan melepaskan penutup yang menguncinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf yang sempurna (menghentikan bacaan secara total) pada firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup.

Menandakan masing-masing sebagai jumlah yang sempurna.
Dengan kata lain, penguncian dilakukan terhadap hati dan pendengaran, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.
Sebagaimana yang dikatakan As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud r.a. dan dari sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ sehubungan dengan firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.

As-Saddi mengatakan,
"Karena itu, mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berpikir dan tidak dapat pula mendengarnya."
Disebutkan pula,
"Dan penglihatan mereka ditutup,"
makna yang dimaksud ialah pada penglihatan mereka ada penutupnya hingga mereka tidak dapat melihat perkara yang hak.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku (QS. Al-Husain ibnul Hasan), dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah telah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penutup terdapat pada penglihatan mereka.
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Abu Daud), telah menceritakan kepadaku Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad Al-A’war), telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij yang pernah mengatakan bahwa penguncian terjadi pada hati dan penglihatan, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu.
(Asy Syuura:
24)

Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.
(QS. Al-Jaatsiyah:
23)

Ibnu Jarir mengatakan lafaz gisyawah pada firman-Nya,

“Wa’ala absarihim gisyawatan”, barangkali yang me-nasab-kannya adalah fi’il yang tidak disebutkan.
Bentuk lengkapnya ialah wa-ja’ala ‘ala absarihim gisyawatan (Dan Dia menjadikan pada penglihatan mereka penutup).
Barangkali nasab-nya itu karena mengikut kepada mahall i’rab dari lafaz wa ‘ala sam’ihim, sebagaimana i’rab ittiba’ pada firman-Nya:

Dan (mereka dikelilingi oleh) bidadari-bidadari yang bermata jeli.
(QS. Al-Waaqi’ah:22)

Setelah disebutkan sifat orang-orang mukmin dalam permulaan surat melalui empat ayat yang mengawalinya, kemudian diperkenalkan pula keadaan orang-orang kafir melalui dua ayat berikutnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala mulai menjelaskan keadaan orang-orang munafik.
Orang-orang munafik adalah mereka yang menampakkan lahiriahnya seakan-akan beriman, sedangkan di dalam batin mereka memendam kekufuran.
Mengingat perkara mereka membingungkan kebanyakan orang, maka Allah subhanahu wa ta’ala mengetengahkan perihal mereka dalam pembahasan yang cukup panjang dengan menyebutkan sifat dan ciri khas yang beraneka ragam, tetapi masing-masing ragam dan bentuk tersebut merupakan ciri khas kemunafikan tersendiri.
Sebagaimana Allah pun menyebutkan perihal mereka dalam surat Baraah (surat At-Taubah), surat Munafiqun, dan surat An-Nur serta surat-surat lainnya, untuk memperkenalkan keadaan dan sepak terjang mereka agar dihindari dan jangan sampai orang yang belum mengetahuinya terjerumus ke dalamnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 7

ABSHAR
أَبْصَٰر

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari bashar. Apabila disandarkan kepada hati, maknanya ialah pandangan dan fikiran atau ide yang timbul dalam hati.
la juga bermakna penglihatan mata yang meliputi objek pandangnya.
Kadangkala perkataan bashar itu disebut secara mazaj (allegory) bagi menggambarkan kekuatan mata dan pandangan (ide),atau pemandangan, tempat melihat atau ilmu dan pengetahuan.

Kata abshar disebut 39 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
Al Baqarah (2), ayat 7 dan 20;
Ali Imran (3), ayat 13;
-Al An’aam (6), ayat 103, 46, 110;
-Al A’raaf (7), ayat 47;
At Taubah (9), ayat 79;
Yunus (10), ayat 31;
Ibrahim (14), ayat 2;
Al Hijr (15), ayat 15;
-Al Nahl (16), ayat 78, 108;
-Al Anbiyaa (21), ayat 97;
Al Hajj (22), ayat 46;
-Al Mu’minuun (23), ayat 78;
An Nuur (24), ayat 30, 31, 37, 43, 44;
As Sajadah (32), ayat 4;
Al Ahzab (33), ayat 10,
-Ash Shaffaat (37), ayat 175;
Fushshilat (41), ayat 20, 22;
-Al Ahqaaf (46), ayat 26, 26;
Muhammad (47), ayat 23,
Al Qamar (54), ayat 7;
Al Hasyr (59), ayat 2;
Al Mulk (67), ayat 23;
Al Qalam (68),ayat 42, 51;
-Al Ma’aarij (70), ayat 44.
Az Zamaksyari berkata,
makna kata al abshar dalam surah Al An’aam, ayat 103, adalah inti pati yang halus yang dibentuk oleh Allah pada deria mata yang dengannya dapat mengetahui apa yang dilihat.
Pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang diliputi oleh mata.

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan lainnya dengan sanad yang lemah dari Abu Sa’id Al Khudri, dari Rasulullah, tentang ayat laa tudrikuhul abshaar di mana beliau berkata,
"Sekiranya jin, manusia, syaitan dan malaikat sejak mula mereka diciptakan hingga mereka fana, berhimpun menjadi satu himpunan, maka mereka pasti tidak dapat meliputi Allah dengan penglihatan mata mereka selama-lamanya.
Makna ini sesuai dengan makna bahasa di atas tentang al abshaar ialah penglihatan mata yang meliputi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 15

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 7 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 7 - Gambar 2
Statistik QS. 2:7
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.7 (21 votes)
Tags:

2:7, 2 7, 2-7, Surah Al Baqarah 7, Tafsir surat AlBaqarah 7, Quran Al-Baqarah 7, Surah Al Baqarah ayat 7

▪ terjemah khotamallahu ala ▪ walahum adabun mukim artinya ▪ walahum adzabun adzim artinya
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 119 [QS. 4:119]

Dan pasti kusesatkan mereka dari jalan-Mu yang benar dan lurus, kapan pun dan di mana pun, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka sehingga mereka tidak dapat melakukan kebajikan-kebajika … 4:119, 4 119, 4-119, Surah An Nisaa’ 119, Tafsir surat AnNisaa 119, Quran AnNisa 119, An-Nisa’ 119, Surah An Nisa ayat 119

QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 3 [QS. 52:3]

1-6. Surah až-Žàriyàt ditutup dengan penegasan jatuhnya ancaman Allah bagi mereka yang kafir. Surah at-Tùr diawali dengan kepastian jatuhnya azab bagi mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah. Penegasa … 52:3, 52 3, 52-3, Surah Ath Thuur 3, Tafsir surat AthThuur 3, Quran Ath Thur 3, At Thur 3, At-Tur 3, Surah At Thur ayat 3

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa waḍa'nā 'angka wizrak

'dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,'
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

+

Array

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #7

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … amaliyah i’tiqadiyah jinayah fiqih khuluqiyah Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Makanan yang lezat untuk dimakan tetapi

Pendidikan Agama Islam #15

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَDalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu Al Dzikr Al furqan At

Instagram