Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 7


خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ
Khatamallahu ‘ala quluubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘azhiim(un);

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.
Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
―QS. 2:7
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Balasan dari perbuatannya ▪ Sifat orang munafik
2:7, 2 7, 2-7, Al Baqarah 7, AlBaqarah 7, Al-Baqarah 7
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Hal yang menyebabkan orang-orang kafir tidak menerima peringatan adalah karena hati dan pendengaran mereka tertutup, bahkan terkunci mati, tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasihat tidak berbekas pada mereka.
Karena penglihatan mereka tertutup, mereka tidak dapat melihat, memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka dengar, tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.

Terkuncinya hati dan pendengaran serta tertutupnya penglihatan orang-orang kafir karena mereka selalu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang.
Tiap-tiap perbuatan yang terlarang yang mereka lakukan akan menambah terkunci dan tertutupnya hati dan pendengaran mereka.
Makin banyak perbuatan itu mereka lakukan, makin bertambah kuat pula kunci dan tutupan pada hati dan telinga mereka sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan “Hati kami tertutup”,
bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.
Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

(Q.S An Nisa’: 155)

Dan firman-Nya:

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka.
sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya (Alquran) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat.

(Q.S Al An’am: 110)

Proses bertambahnya tutupan dan bertambah kuatnya kunci hati dan pendengaran orang-orang kafir diterangkan oleh hadis:

Bersabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya orang yang beriman apabila ia mengerjakan perbuatan dosa terdapatlah suatu titik-titik hitam di dalam hatinya, maka jika ia bertobat, mencabut perbuatannya dan berusaha untuk menghapuskannya cemerlanglah hatinya dan jika ia tambah mengerjakan perbuatan buruk bertambahlah titik itu hingga tertutup hatinya”.
(H.R At Tirmizi dan Ibnu Jarir At Tabari dari Abu Hurairah)

Al Baqarah (2) ayat 7 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka adalah golongan yang telah dikuasai oleh sikap ingkar (kufr), hingga hati mereka seolah tertutup oleh sekat yang tidak akan pernah dimasuki sesuatu pun.
Pendengaran mereka terkunci, hingga tak sanggup mendengarkan kebenaran.
Penglihatan mereka terhalang, hingga tak mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang akan menuntun kepada keimanan.
Oleh sebab itulah mereka pantas menerima siksa yang keras.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan (begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima (sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran (dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap.
Terhadap orang-orang munafik diturunkan:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah Subhanahu Wa Taala telah menutup rapat-rapat hati dan pendengaran mereka.
Allah telah meletakkan penutup di depan pandangan mata mereka di sebabkan oleh kekufuran mereka dan pengingkaran mereka setelah sebelumnya mereka mengetehui kebenaran, sehingga Allah Subhanahu Wa Taala tidak membimbing mereka kepada petunjuk, dan bagi mereka siksa yang berat di dalam api Neraka Jahannam .

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah Allah mengunci mati.

Menurut Qatadah, ayat ini bermakna “setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup.
Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya”.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan makna khatamallahu ‘ala qulubihim, bahwa makna at-tab’u ialah dosa-dosa telah melekat di hati dan meliputinya dari semua sisinya hingga menutupinya dengan rapat.
Istilah menutup inilah yang dinamakan, yakni dilak.

Menurut Ibnu Juraij sendiri, yang terkunci mati ialah kalbu dan pendengarannya.
Selanjutnya Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kasir, bahwa ia pernah mendengar Mujahid berkata, “Istilah ar-ran (kotoran) lebih ringan daripada istilah at-tab’u (tertutup rapat), sedangkan at-tab’u lebih ringan daripada al-iqfal (terkunci), dan al-iqfal lebih berat daripada kesemuanya.”

Al-A’masy mengatakan bahwa Mujahid pernah berisyarat memperagakan kepadaku dengan tangannya tentang pengertian ini.
Dia mengatakan, “Mereka berpendapat bahwa kalbu seseorang itu semisal dengan ini, yakni telapak tangannya.
Apabila seseorang hamba melakukan suatu dosa, maka sebagian darinya tergenggam seraya menggenggamkan jari manisnya.
Apabila dia berbuat dosa lagi, maka tergenggam pula yang lainnya seraya menggenggamkan jari yang lainnya, hingga semua jari jemari telapak tangannya tergenggam.” Kemudian dia mengatakan, “Maka tertutup rapatlah kalbunya oleh dosa-dosa tersebut.” Mujahid mengatakan pula, “Mereka memandang bahwa hal tersebutlah yang dinamakan kotoran dosa yang menutupi.”

Ibnu Jarir meriwayatkan hal yang sama dari Kuraib, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Mujahid.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya makna firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.
merupakan berita dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang sifat takabur orang-orang kafir dan berpalingnya mereka dari perkara hak yang disampaikan kepada mereka, yakni mereka tidak mau mendengarkannya.
Perihalnya sama dengan perkataan seseorang, “Sesungguhnya si Fulan tuli, tidak mau mendengar perkataan ini,” yakni bila dia tidak mau mendengarkannya dan merasa tinggi diri, tidak mau memahaminya karena takabur.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini tidak benar, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahukan bahwa Dialah yang mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka.

Az-Zamakhsyari mengulas dengan pembahasan panjang lebar dalam menyanggah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir tadi, dan Az-Zamakhsyari menakwilkan makna ayat dari lima hipotesis, tetapi semuanya itu lemah sekali.
Menurut kami, tiada yang mendorongnya berbuat demikian melainkan hanya aliran mu’tazilah yang dianutnya.
Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa makna “mengunci mati hati mereka dan membuatnya menolak untuk menerima perkara yang disampaikan kepadanya” merupakan suatu hal yang buruk (jahat) menurut Az-Zamakhsyari, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Tinggi dari perbuatan tersebut, demikianlah keyakinannya.

Akan tetapi, seandainya dia memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.
(Ash Shaff:5)

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
(Al An’am:110)

Masih banyak ayat serupa lainnya yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengunci mati kalbu orang-orang kafir dan menghalang-halangi antara mereka dan hidayah, hanyalah sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang terus-menerus tenggelam di dalam kebatilan dan mereka tidak mau mengikuti perkara yang hak.
Hal ini merupakan keadilan dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sikap yang baik, bukan yang buruk.
Seandainya Az-Zamakhsyari menyadari hal ini, niscaya dia tidak akan mengeluarkan pendapatnya itu.

Al-Qurtubi mengatakan, para ulama sepakat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menyifati diri-Nya berlaku mengunci mati dan mengelak kalbu orang-orang kafir sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.
(An Nisaa:155)

Selanjutnya Al-Qurtubi menyebutkan hadis yang menceritakan tentang berbolak-baliknya hati, yaitu:

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbu kami dalam agama-Mu.

Ia mengetengahkan hadis Huzaifah yang terdapat di dalam kitab Sahih, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Berbagai macam fitnah (dosa) ditampilkan pada kalbu bagaikan tikar yang dianyam sehelai demi sehelai.
Hati siapa yang melakukannya, maka dosa itu membuat suatu noktah hitam padanya, dan hati siapa yang mengingkarinya, maka terukirlah padanya suatu sepuhan yang putih.
Hingga hati manusia itu ada dua macam, yaitu ada yang putih semisal warna yang jernih, hati yang ini tidak akan tertimpa bahaya oleh suatu dosa pun selagi masih ada langit dan bumi.
Sedangkan hati yang lainnya tampak hitam kelam seperti tembikar yang hangus terbakar, ia tidak mengenal perkara yang makruf dan tidak ingkar terhadap perkara yang mungkar…
hingga akhir hadis.

Ibnu Jarir mengatakan, “Menurut kami, yang benar sehubungan dengan masalah ini adalah sebuah hadis sahih yang bermakna semisal dari Rasulullah ﷺ, yaitu sebuah hadis yang diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Basysyar, dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ajlan, dari Al-Qa’qa’, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya.
Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali).
Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka.” (Al Muthaffifin:14)

Hadis ini dari segi yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai, dari Qutaibah, Lais ibnu Sa’d dan Ibnu Majah, dari Hisyam ibnu Ammar, dari Hatim ibnu Ismail dan Al-Walid ibnu Muslim, semuanya berasal dari Muhammad ibnu Ajlan dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, “Rasulullah ﷺ telah memberitakan bahwa dosa-dosa itu apabila berturut-turut membuat noktah hitam pada hati maka ia akan menutup hati.
Apabila telah tertutup, maka saat itulah dilakukan penguncian oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dilak.
Setelah itu tiada jalan bagi iman untuk menembusnya dan tiada jalan keluar bagi kekufuran untuk meninggalkannya.”

Pengertian inilah yang dimaksud oleh istilah penguncian dan pengelakan yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.

Pengertian ini diserupakan dengan penguncian dan pengelakan hal yang dapat diinderawi dengan mata, yakni diserupakan dengan wadah dan botol yang tidak dapat diambil isinya kecuali dengan membuka dan memutar tutupnya.
Dengan kata lain, demikian pula iman, tidak dapat sampai ke dalam kalbu orang-orang yang disifati oleh Allah subhanahu wa ta’ala hati dan pendengaran mereka telah dikunci mati, kecuali setelah membuka dan melepaskan penutup yang menguncinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf yang sempurna (menghentikan bacaan secara total) pada firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup.

Menandakan masing-masing sebagai jumlah yang sempurna.
Dengan kata lain, penguncian dilakukan terhadap hati dan pendengaran, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.
Sebagaimana yang dikatakan As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud r.a.
dan dari sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ sehubungan dengan firman-Nya:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.

As-Saddi mengatakan, “Karena itu, mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berpikir dan tidak dapat pula mendengarnya.” Disebutkan pula, “Dan penglihatan mereka ditutup,” makna yang dimaksud ialah pada penglihatan mereka ada penutupnya hingga mereka tidak dapat melihat perkara yang hak.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku (Al-Husain ibnul Hasan), dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah telah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penutup terdapat pada penglihatan mereka.
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Abu Daud), telah menceritakan kepadaku Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad Al-A’war), telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij yang pernah mengatakan bahwa penguncian terjadi pada hati dan penglihatan, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu.
(Asy Syuura:24)

Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.
(Al Jaatsiyah: 23)

Ibnu Jarir mengatakan lafaz gisyawah pada firman-Nya,

“Wa’ala absarihim gisyawatan”, barangkali yang me-nasab-kannya adalah fi’il yang tidak disebutkan.
Bentuk lengkapnya ialah wa-ja’ala ‘ala absarihim gisyawatan (Dan Dia menjadikan pada penglihatan mereka penutup).
Barangkali nasab-nya itu karena mengikut kepada mahall i’rab dari lafaz wa ‘ala sam’ihim, sebagaimana i’rab ittiba’ pada firman-Nya:

Dan (mereka dikelilingi oleh) bidadari-bidadari yang bermata jeli.
(Al Waaqi’ah:22)

Setelah disebutkan sifat orang-orang mukmin dalam permulaan surat melalui empat ayat yang mengawalinya, kemudian diperkenalkan pula keadaan orang-orang kafir melalui dua ayat berikutnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala mulai menjelaskan keadaan orang-orang munafik.
Orang-orang munafik adalah mereka yang menampakkan lahiriahnya seakan-akan beriman, sedangkan di dalam batin mereka memendam kekufuran.
Mengingat perkara mereka membingungkan kebanyakan orang, maka Allah subhanahu wa ta’ala mengetengahkan perihal mereka dalam pembahasan yang cukup panjang dengan menyebutkan sifat dan ciri khas yang beraneka ragam, tetapi masing-masing ragam dan bentuk tersebut merupakan ciri khas kemunafikan tersendiri.
Sebagaimana Allah pun menyebutkan perihal mereka dalam surat Baraah (surat At-Taubah), surat Munafiqun, dan surat An-Nur serta surat-surat lainnya, untuk memperkenalkan keadaan dan sepak terjang mereka agar dihindari dan jangan sampai orang yang belum mengetahuinya terjerumus ke dalamnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 7

ABSHAR
أَبْصَٰر

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari bashar. Apabila disandarkan kepada hati, maknanya ialah pandangan dan fikiran atau ide yang timbul dalam hati. la juga bermakna penglihatan mata yang meliputi objek pandangnya. Kadangkala perkataan bashar itu disebut secara mazaj (allegory) bagi menggambarkan kekuatan mata dan pandangan (ide),atau pemandangan, tempat melihat atau ilmu dan pengetahuan.

Kata abshar disebut 39 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
-Al Baqarah (2), ayat 7 dan 20;
-Ali Imran (3), ayat 13;
-Al An’aam (6), ayat 103, 46, 110;
-Al A’raaf (7), ayat 47;
-At Taubah (9), ayat 79;
-Yunus (10), ayat 31;
-Ibrahim (14), ayat 2;
-Al Hijr (15), ayat 15;
-Al Nahl (16), ayat 78, 108;
-Al Anbiyaa (21), ayat 97;
-Al Hajj (22), ayat 46;
-Al Mu’minuun (23), ayat 78;
-An Nuur (24), ayat 30, 31, 37, 43, 44;
-As Sajadah (32), ayat 4;
-Al Ahzab (33), ayat 10,
-Ash Shaffaat (37), ayat 175;
-Shad (38), ayat 45, 63;
-Fushshilat (41), ayat 20, 22;
-Al Ahqaaf (46), ayat 26, 26;
-Muhammad (47), ayat 23,
-Al Qamar (54), ayat 7;
-Al Hasyr (59), ayat 2;
-Al Mulk (67), ayat 23;
-Al Qalam (68),ayat 42, 51;
-Al Ma’aarij (70), ayat 44.

Az Zamaksyari berkata,
makna kata al abshar dalam surah Al An’aam, ayat 103, adalah inti pati yang halus yang dibentuk oleh Allah pada deria mata yang dengannya dapat mengetahui apa yang dilihat. Pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang diliputi oleh mata.

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan lainnya dengan sanad yang lemah dari Abu Sa’id Al Khudri, dari Rasulullah, tentang ayat laa tudrikuhul abshaar di mana beliau berkata,
“Sekiranya jin, manusia, syaitan dan malaikat sejak mula mereka diciptakan hingga mereka fana, berhimpun menjadi satu himpunan, maka mereka pasti tidak dapat meliputi Allah dengan penglihatan mata mereka selama-lamanya. Makna ini sesuai dengan makna bahasa di atas tentang al abshaar ialah penglihatan mata yang meliputi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:15

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (1-7) - Indonesian - Barsena Bestandhi
QS 2 Al-Baqarah (1-7) - Arabic - Barsena Bestandhi


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 7 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 7



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku