Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 255 [QS. 2:255] – Ayat Kursi

اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ الۡعَظِیۡمُ
Allahu laa ilaha ilaa huwal hai-yul qai-yuumu laa ta’khudzuhu sinatun walaa naumun lahu maa fiis-samaawaati wamaa fiil ardhi man dzaal-ladzii yasyfa’u ‘indahu ilaa biidznihi ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyai-in min ‘ilmihi ilaa bimaa syaa-a wasi’a kursii-yuhus-samaawaati wal ardha walaa ya-uuduhu hifzhuhumaa wahuwal ‘alii-yul ‘azhiim(u);
Allah, tidak ada tuhan selain Dia.
Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur.
Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.
Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki.
Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.
Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.
―QS. Al Baqarah [2]: 255

Allah – there is no deity except Him, the Ever-Living, the Sustainer of (all) existence.
Neither drowsiness overtakes Him nor sleep.
To Him belongs whatever is in the heavens and whatever is on the earth.
Who is it that can intercede with Him except by His permission?
He knows what is (presently) before them and what will be after them, and they encompass not a thing of His knowledge except for what He wills.
His Kursi extends over the heavens and the earth, and their preservation tires Him not.
And He is the Most High, the Most Great.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 255]

ٱللَّهُ Allah

Allah –
لَآ tidak

(there is) no
إِلَٰهَ tuhan

God
إِلَّا melainkan

except
هُوَ Dia

Him,
ٱلْحَىُّ yang hidup

the Ever-Living,
ٱلْقَيُّومُ terus menerus mengurus

the Sustainer of all that exists.
لَا tidak

Not
تَأْخُذُهُۥ menimpaNya

overtakes Him
سِنَةٌ kantuk

slumber
وَلَا dan tidak

[and] not
نَوْمٌ tidur

sleep.
لَّهُۥ kepunyaanNya

To Him (belongs)
مَا apa

what(ever)
فِى didalam

(is) in
ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)

the heavens
وَمَا dan apa

and what(ever)
فِى di

(is) in
ٱلْأَرْضِ bumi

the earth.
مَن siapakah

Who
ذَا orang

(is) the one
ٱلَّذِى yang

who
يَشْفَعُ memberi syafa’at

can intercede
عِندَهُۥٓ disisiNya

with Him
إِلَّا kecuali

except
بِإِذْنِهِۦ dengan izinnya

by His permission.
يَعْلَمُ Dia mengetahui

He knows
مَا apa

what
بَيْنَ diantara

(is)
أَيْدِيهِمْ tangan/hadapan mereka

before them

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:255

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 255. Oleh Kementrian Agama RI


Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, dan hanya Dia yang berhak untuk disembah.
Adapun tuhan-tuhan yang lain yang disembah oleh sebagian manusia dengan alasan yang tidak benar, memang banyak jumlahnya.

Akan tetapi Tuhan yang sebenarnya hanyalah Allah.
Hanya Dialah Yang hidup abadi, yang ada dengan sendiri-Nya, dan Dia pulalah yang selalu mengatur makhluk-Nya tanpa ada kelalaian sedikit pun.


Kemudian ditegaskan lagi bahwa Allah tidak pernah mengantuk.
Orang yang berada dalam keadaan mengantuk tentu hilang kesadarannya, sehingga dia tidak akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, padahal Allah ﷻ senantiasa mengurus dan memelihara makhluk-Nya dengan baik, tidak pernah kehilangan kesadaran atau pun lalai.


Karena Allah tidak pernah mengantuk, sudah tentu Dia tidak pernah tidur, karena mengantuk adalah permulaan dari proses tidur.
Orang yang tidur lebih banyak kehilangan kesadaran daripada orang yang mengantuk.


Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah bahwa Dialah yang mempunyai kekuasaan dan yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi.
Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas, sehingga Dia dapat berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Semuanya ada dalam kekuasaan-Nya, sehingga tidak ada satu pun dari makhluk-Nya termasuk para nabi dan para malaikat yang dapat memberikan pertolongan kecuali dengan izin-Nya, apalagi patung-patung yang oleh orang-orang kafir dianggap sebagai penolong mereka.


Yang dimaksud dengan
"pertolongan"
atau
"syafaat"
dalam ayat ini ialah pertolongan yang diberikan oleh para malaikat, nabi dan orang-orang saleh kepada umat manusia pada hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah.

Syafaat itu akan terjadi atas izin Allah.
Dalam hadis disebutkan :


Nabi ﷺ bersabda,
"Kemudian Allah ﷻ berfirman,
"Para Malaikat memberikan syafaat, para Nabi memberikan syafaat, dan orang-orang mukmin juga memberikan syafaat.
(Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)


Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah:
bahwa Allah senantiasa mengetahui apa saja yang terjadi di hadapan dan di belakang makhluk-Nya, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah, melainkan sekadar apa yang dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui.
Kursi Allah mencakup langit dan bumi.
Allah tidak merasa berat sedikit pun dalam memelihara makhluk-Nya yang berada di langit dan di bumi, dan di semua alam ciptaan-Nya.
Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.


Mereka tidak mengetahui ilmu Allah, kecuali apa yang telah dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui.
Dengan demikian, yang dapat diketahui oleh manusia hanyalah sekadar apa yang dapat dijangkau oleh pengetahuan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, dan jumlahnya amat sedikit dibanding dengan ilmu-Nya yang luas.
Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلً

"Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit."
(al-Isra‘ [17]: 85)

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 255. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Hanya Allahlah yang berhak untuk disembah.
Dia hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk ciptaan-Nya tanpa pernah lalai.


Dia tidak pernah ceroboh atau tidur, sebab Dia tidak memiliki sifat kekurangan.
Hanya Dialah yang memiliki langit dan bumi, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya.


Maka dari itu, tak seorang makhluk pun dapat memberi syafaat kepada yang lainnya kecuali dengan izin Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu yang telah dan akan terjadi.


Tidak ada seorang pun mampu mengetahui ilmu Allah kecuali orang-orang yang dipilih-Nya.
Kekuasaan-Nya sangat luas, meliputi langit dan bumi.


Tidak sulit bagi-Nya mengatur itu semua, sebab Dia terhindar dari sifat kurang dan lemah, dan Mahaagung dengan kekuasaan-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah, tiada tuhan yang berhak untuk disembah selian Dia, Dia Mahahidup, Pemilik seluruh makna kehidupan sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Pemelihara segala sesuatu, tidak pernah mengantuk apalagi tidur.
Segala apa yang ada dilangit dan dibumi adalah milik-Nya, tidak ada seorangpun yang berani berbuat lancang dengan memberi syafaat dihadapan-Nya kecuali dengan izin-Nya.


Ilmu-Nya mencakup segala apa yang ada, dimasa lalu, saat ini dan yang akan datang.
Dia mengetahui perkara-perkara yang akan datang yang dihadapi oleh para makhluk dan mengetahui perkara-perkara masa lalu yang telah ditinggalkan oleh makhluk.


Tidak seorangpun dari makhluk yang mengetahui sedikitpun dari ilmu-Nya , kecuali sebatas apa yang Allah ajarkan dan sampaikan kepadanya.
Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi.


Kursi adalah tempat pijakan kedua kaki Rabb, dan hanya Allah yang mengetahui bagaimananya.
Menjaga langit dan bumi tidak memberiatkan bagi Allah, Dialah yang Mahatinggi dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, pemilik segala sifat keagungan dan kesombongan.


Ayat ini adalah ayat yang paling agung di dalam Alquran dan bernama ayat kursi.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Allah, tak ada Tuhan), artinya tak ada ma`bud atau sembahan yang sebenarnya di alam wujud ini,


(melainkan Dia Yang Maha Hidup), artinya Kekal lagi Abadi


(dan senantiasa mengatur), maksudnya terus-menerus mengatur makhluk-Nya


(tidak mengantuk) atau terlena,


(dan tidak pula tidur.
Milik-Nyalah segala yang terdapat di langit dan di bumi) sebagai kepunyaan, ciptaan dan hamba-Nya.


(Siapakah yang dapat), maksudnya tidak ada yang dapat


(memberi syafaat di sisi-Nya, kecuali dengan izin-Nya) dalam hal itu terhadapnya.


(Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka), maksudnya di hadapan makhluk


(dan apa yang di belakang mereka), artinya urusan dunia atau soal akhirat,


(sedangkan mereka tidak mengetahui suatu pun dari ilmu-Nya), artinya manusia tidak tahu sedikit pun dari apa yang diketahui oleh Allah itu,


(melainkan sekadar yang dikehendaki-Nya) untuk mereka ketahui melalui pemberitaan dari para Rasul.


(Kursinya meliputi langit dan bumi) ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah ilmu-Nya, ada pula yang mengatakan kekuasaan-Nya, dan ada pula Kursi itu sendiri yang mencakup langit dan bumi, karena kebesaran-Nya, berdasarkan sebuah hadis,
"Tidaklah langit yang tujuh pada kursi itu, kecuali seperti tujuh buah uang dirham yang dicampakkan ke dalam sebuah pasukan besar


(Dan tidaklah berat bagi-Nya memelihara keduanya), artinya memelihara langit dan bumi itu


(dan Dia Maha Tinggi) sehingga menguasai semua makhluk-Nya,


(lagi Maha Besar).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ayat ini disebut
"ayat Kursi",
ia mempunyai kedudukan yang besar.


Di dalam sebuah hadis sahib, dari Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa ayat Kursi merupakan ayat yang paling utama di dalam Kitabullah.

Imam Ahmad mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sa’id Al-Jariri, dari Abus Salil, dari Abdullah ibnu Rabah, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepadanya,
"Ayat Kitabullah manakah yang paling agung?"
Ubay menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ mengulang-ulang pertanyaannya, maka Ubay menjawab,
"Ayat Kursi."
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
Selamatlah dengan ilmu yang kamu miliki, hai Abul Munzir.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya ayat Kursi itu mempunyai lisan dan sepasang bibir yang selalu menyucikan Tuhan Yang Mahakuasa di dekat pilar Arasy.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abdul A’la ibnu Abdul A’la, dari Al-Jariri dengan lafaz yang sama.
Akan tetapi, pada hadis yang ada pada Imam Muslim tidak terdapat kalimat
"Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya",
hingga akhir hadis.

Hadis yang lain diriwayatkan dari Ubay pula mengenai keutamaan ayat Kursi ini.
Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi, telah menceritakan kepada kami Maisarah, dari Al-Auza’i, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Ubaidah ibnu Abu Lubabah, dari Abdullah ibnu Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa ia memiliki sebuah wadah besar yang berisikan buah kurma.
Ayahnya biasa menjaga tong berisikan kurma itu, tetapi ia menjumpai isinya berkurang.
Di suatu malam ia menjaganya, tiba-tiba ia melihat seekor hewan yang bentuknya mirip dengan anak lelaki yang baru berusia balig.
Lalu aku (Ka’b) bersalam kepadanya dan ia menyalami salamku.
Aku bertanya,
"Siapakah kamu, jin ataukah manusia?"
Ia menjawab,
"Jin."
Aku berkata,
"Kemarikanlah tanganmu ke tanganku."
Maka ia mengulurkan tangannya ke tanganku, ternyata tangannya seperti kaki anjing, begitu pula bulunya.
Lalu aku berkata,
"Apakah memang demikian bentuk jin itu?"
Ia menjawab,
"Kamu sekarang telah mengetahui jin, di kalangan mereka tidak ada yang lebih kuat daripada aku."
Aku bertanya,
"Apakah yang mendorongmu berbuat demikian?"
Ia menjawab, ‘Telah sampai kepadaku bahwa kamu adalah seorang manusia yang suka bersedekah, maka kami ingin memperoleh sebagian dari makananmu."
Lalu ayahku (Ka’b) berkata kepadanya,
"Hal apakah yang dapat melindungi kami dari gangguan kalian?"
Jin itu menjawab,
"Ayat ini,"
yakni ayat Kursi.
Pada keesokan harinya Ka’b berangkat menemui Nabi ﷺ, lalu menceritakan hal itu kepadanya.
Nabi ﷺ bersabda:
Benarlah (apa yang dikatakan oleh) si jahat itu.

Imam Bukhari di dalam Bab
"Fadailil Qur’an (Keutamaan Alquran)",
yaitu bagian Wakalah, mengenai sifat iblis, dalam kitab sahihnya mengatakan:


bahwa Usman ibnul Haisam yang dijuluki Abu Amr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan hadis berikut:
Rasulullah ﷺ menugasi diriku untuk menjaga (hasil) zakat Ramadan.
Datanglah kepadaku seseorang yang langsung mengambil sebagian dari makanan, maka aku menangkapnya dan kukatakan (kepadanya),
"Sungguh aku akan melaporkan kamu kepada Rasulullah."
Ia menjawab,
"Lepaskanlah aku, sesungguhnya aku orang yang miskin dan banyak anak serta aku dalam keadaan sangat perlu (makanan)."
Aku melepaskannya, dan pada pagi harinya Nabi ﷺ bersabda (kepadaku),
"Hai Abu Hurairah, apakah yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?"
Aku menjawab,
"Wahai Rasulullah, dia mengadu tentang kemiskinan yang sangat dan banyak anak, hingga aku kasihan kepadanya, maka kulepaskan dia."
Nabi ﷺ bersabda,
"Ingatlah, sesungguhnya dia telah berdusta kepadamu dan dia pasti akan kembali lagi."
Aku mengetahui bahwa dia pasti akan kembali karena sabda Rasul ﷺ yang mengatakan bahwa dia akan kembali.
Untuk itu aku mengintainya, ternyata dia datang lagi, lalu mengambil sebagian dari makanan itu.
Maka kutangkap dia, dan aku berkata kepadanya,
"Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah ﷺ"
Ia berkata,
"Lepaskanlah aku, karena sesungguhnya aku orang yang miskin dan banyak tanggungan anak-anak, aku kapok tidak akan kembali lagi."
Aku merasa kasihan kepadanya dan kulepaskan dia.
Pada pagi harinya Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku,
"Hai Abu Hurairah, apakah yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?"
Aku menjawab,
"Wahai Rasulullah, dia mengadukan keadaannya yang miskin dan banyak anak, aku merasa kasihan kepadanya, akhirnya terpaksa kulepaskan dia."
Nabi ﷺ bersabda,
"Ingatlah, sesungguhnya dia telah berdusta kepadamu dan dia pasti akan kembali lagi."
Kuintai untuk yang ketiga kalinya, ternyata dia datang lagi, lalu mengambil sebagian dari makanan.
Maka aku tangkap dia, dan kukatakan kepadanya,
"Sungguh aku akan menghadapkan dirimu kepada Rasulullah.
Kali ini untuk yang ketiga kalinya kamu katakan bahwa dirimu tidak akan kembali, tetapi ternyata kamu kembali lagi."
Ia menjawab,
"Lepaskanlah aku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yang akan membuatmu mendapat manfaat dari Allah karenanya."
Aku bertanya,
"Kalimat-kalimat apakah itu?"
Ia menjawab,
"Apabila kamu hendak pergi ke peraduanmu, maka bacalah ayat Kursi, yaitu ‘Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)’, hingga kamu selesaikan ayat ini.
Sesungguhnya engkau akan terus-menerus mendapat pemeliharaan dari Allah dan tiada setan yang berani mendekatimu hingga pagi harinya."
Maka aku lepaskan dia.
Pada pagi harinya Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku,
"Apakah yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?"
Aku menjawab,
"Wahai Rasulullah, dia menduga bahwa dirinya mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang menyebabkan aku mendapat manfaat dari Allah karenanya, maka dia kulepaskan."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah kalimat-kalimat itu?"
Aku menjawab,
"Dia mengatakan kepadaku, ‘Apabila engkau hendak pergi ke peraduanmu, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat, yaitu:
Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).’ Dia mengatakan kepadaku, ‘Engkau akan terus-menerus mendapat pemeliharaan dari Allah dan tidak ada setan yang berani mendekatimu hingga pagi harinya’."
Sedangkan para sahabat adalah orang-orang yang paling suka kepada kebaikan.
Maka Nabi ﷺ bersabda,
"Ingatlah, sesungguhnya dia percaya kepadamu, tetapi dia sendiri banyak berdusta.
Hai Abu Hurairah, tahukah kamu siapakah orang yang kamu ajak bicara selama tiga malam itu?"
Aku menjawab,
"Tidak."
Nabi ﷺ bersabda,
"Dia adalah setan."

Sesungguhnya banyak hadis lain yang menceritakan keutamaan ayat Kursi ini, sengaja tidak kami ketengahkan untuk meringkas, mengingat predikatnya tidak ada yang sahih lagi sanadnya daif, seperti hadis Ali yang menganjurkan membacanya di saat hendak ber-hijamah (berbekam).
Disebutkan bahwa membaca ayat Kursi di saat hendak berhijamah sama kedudukannya dengan melakukan hijamah dua kali.
Dan hadis Abu Hurairah yang menceritakan perihal menulis ayat Kursi pada telapak tangan kiri dengan memakai minyak za’faran sebanyak tujuh kali, lalu dijilat yang faedahnya untuk menguatkan hafalan dan tidak akan lupa pada hafalannya.
Kedua hadis tersebut diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, juga hadishadis yang lain mengenainya.

Ayat Kursi Mengandung Sepuluh Kalimat yang Menyendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia.

Pemberitahuan yang menyatakan bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Esa bagi semua makhluk.

Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).

Yakni Dia adalah Zat Yang Hidup kekal, tidak mati selama-lamanya, lagi terus-menerus mengurus selain-Nya.
Sahabat Umar membacanya qiyamun dengan pengertian bahwa semua makhluk berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Mahakaya dari semua makhluk.
Dengan kata lain, segala sesuatu tidak akan berujud tanpa perintah dari-Nya.
Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam firman-Nya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya.
(Ar Ruum:25)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

tidak mengantuk dan tidak tidur.

Artinya, Dia tidak pernah terkena kekurangan, tidak lupa, tidak pula lalai terhadap makhluk-Nya.
Bahkan Dia mengurus semua jiwa berikut amal perbuatannya, lagi menyaksikan segala sesuatu.
Tiada sesuatu pun yang gaib (tidak diketahui) oleh-Nya, tiada suatu perkara yang samar pun yang tidak diketahui-Nya.
Di antara kesempurnaan sifat Qayyum-Nya ialah Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah pula tidur.

Lafaz la ta-khuzuhu artinya tidak pernah terkena, sinatun, artinya mengantuk, yaitu pendahuluan dari tidur.
Wala naum, dan tidak pula tidur, lafaz ini disebutkan karena pengertiannya lebih kuat daripada yang pertama.


Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan dari Abu Musa:

Rasulullah ﷺ berdiri di antara kami, lalu mengucapkan empat kalimat berikut, yaitu:
"Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur.
Dia merendahkan dan mengangkat timbangan (amal perbuatan), dilaporkan kepada-Nya semua amal perbuatan siang hari sebelum amal perbuatan malam hari, dan amal perbuatan malam hari sebelum amal perbuatan siang hari.
Hijab (penghalang)-Nya adalah nur atau api.
Seandainya Dia membuka hijab-Nya, niscaya Kesucian Zat-Nya akan membakar semua makhluk sejauh pandangan-Nya."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepadaku Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah maula Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Tidak mengantuk dan tidak tidur.
(Al Baqarah:255)
Bahwa Musamalaikat,
"Apakah Allah subhanahu wa ta’ala.
pernah tidur?"
Maka Allah mewahyukan kepada para malaikat dan memerintahkan mereka untuk membuat Musa mengantuk selama tiga hari, dan mereka tidak boleh membiarkannya terjaga.
Mereka mengerjakan apa yang diperintahkan itu.
Mereka memberi dua buah botol kepada Musa supaya dipegang, lalu mereka meninggalkannya.
Sebelum itu mereka mewanti-wanti kepada Musa agar hati-hati terhadap kedua botol tersebut, jangan sampai pecah.
Maka Musa mulai mengantuk, sementara kedua botol itu dipegang oleh masing-masing tangannya.
Kemudian Musa mengantuk dan sadar, dan mengantuk serta sadar.
Akhirnya ia mengantuk selama beberapa saat, lalu salah satu dari kedua botol itu beradu dengan yang lainnya hingga pecah.

Ma’mar mengatakan, sesungguhnya apa yang disebutkan oleh kisah di atas merupakan misal (perumpamaan) yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Ma’mar ‘mengatakan bahwa demikian pula halnya langit dan bumi di tangan kekuasaan-Nya (seandainya Dia mengantuk, niscaya keduanya akan hancur berantakan).

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Al-Hasan ibnu Yahya, dari Abdur Razzaq yang mengetengahkan kisah ini.
Pada kenyataannya kisah ini merupakan salah satu dari berita kaum Bani Israil, yang kesimpulannya menyatakan bahwa hal seperti ini termasuk salah satu hal yang diajarkan kepada Musa untuk mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
itu tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dan bahwa Dia Mahasuci dari hal tersebut.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Atiyyah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman Ad-Dustuki, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Asy’as ibnu Ishaq, dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Bani Israil pernah bertanya,
"Hai Musa, apakah Tuhanmu tidur?"
Musa menjawab,
"Ber-takwalah kalian kepada Allah."
Maka Tuhan berseru kepadanya,
"Hai Musa, mereka menanyakan kepadamu, apakah Tuhanmu tidur?
Maka ambillah dua buah botol, lalu peganglah pada kedua tanganmu dan janganlah kamu tidur pada malam harinya."
Musa melakukan hal itu.
Ketika sepertiga malam hari lewat, Musa merasa mengantuk hingga ia jatuh terduduk, tetapi ia terbangun, lalu dengan segera ia membetulkan letak kedua botol itu.
Tetapi ketika malam hari berada pada penghujungnya, Musa mengantuk dan kedua botol itu jatuh, lalu pecah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman,
"Hai Musa, seandainya Aku mengantuk, niscaya terjatuhlah langit dan bumi dan hancur berantakan, sebagaimana kedua botol yang ada pada kedua tanganmu itu terjatuh."
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan ayat Kursi ini kepada Nabi-Nya ﷺ

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.

Ayat ini memberitakan bahwa semuanya adalah hamba-hamba-Nya, berada dalam kekuasaan-Nya dan di bawah pengaturan dan pemerintahan-Nya.
Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.
Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.
(QS. Maryam [19]: 93-95)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.

Makna ayat ini sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya).
(QS. An-Najm [53]: 26)

Sama pula dengan firman-Nya:

dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.
(Al Anbiyaa:28)

Demikian itu karena keagungan dan kebesaran serta ketinggian-Nya, hingga tidak ada seorang pun yang berani memberikan syafaat kepada seseorang di sisi-Nya melainkan dengan izin dari-Nya.
Seperti hal yang disebutkan di dalam hadis mengenai syafaat, yaitu:

Aku datang ke bawah Arasy, lalu aku menyungkur bersujud, dan Allah membiarkan diriku dalam keadaan demikian menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Kemudian Dia berfirman,
"Angkatlah kepalamu dan katakanlah (apa yang engkau kehendaki), niscaya kamu didengar, dan mintalah syafaat, niscaya kamu diberi izin untuk memberi syafaat."
Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya,
"Kemudian Allah memberikan suatu batasan kepadaku, lalu aku masukkan mereka ke dalam surga."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:


Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pengetahuan Allah meliputi semua yang ada, baik masa lalu, masa sekarang, maupun masa depannya.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung dalam ayat lain yang mengisahkan malaikat:

Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu.
Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.
(QS. Maryam [19]: 64)

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

Yakni tidak ada seorang pun yang mengetahui sesuatu dari ilmu Allah kecuali sebatas apa yang Allah beri tahukan kepadanya dan apa yang diperlihatkan kepadanya.

Akan tetapi, makna ayat ini dapat ditafsirkan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka tidak dapat mengetahui sesuatu pun mengenai pengetahuan tentang Zat dan sifat-sifat-Nya melainkan hanya sebatas apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.
(Thaahaa:
110)

Kursi Allah meliputi langit dan bumi.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dari Mutarrif, dari Tarif, dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini.
Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan ‘Kursi-Nya’ ialah ilmu-Nya.


Hal yang sama telah diriwayatkan Ibnu Jarir melalui hadis Abdullah ibnu Idris dan Hasyim, keduanya dari Mutarrif ibnu Tarif dengan lafaz yang sama.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan pula dari Sa’id ibnu Jubair hal yang semisal.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan,
"Yang dimaksud dengan Kursi ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya)."
Kemudian ia meriwayatkannya dari Abu Musa, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan Muslim Al-Batin.

Syuja’ ibnu Makhlad mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, dari Sufyan, dari Ammar Az-Zahabi, dari Muslim Al-Batin, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman-Nya:
Kursi Allah meliputi langit dan bumi.Maka beliau ﷺ menjawab:

Kursi Allah ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya), sedangkan Arasy tiada yang dapat menaksir luasnya kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala.
sendiri.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadis ini melalui jalur Syuja’ ibnu Makhlad Al-Fallas yang menceritakan hadis ini, tetapi ke-marfu‘-an hadis ini adalah suatu kekeliruan.
Karena Waki’ meriwayatkannya pula di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ammar Az-Zahabi, dari Muslim Al-Batin, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Kursi adalah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan)-Nya, dan Arasy, tidak ada seorang pun yang dapat menaksir luasnya.

Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, dari Abul Abbas (yaitu Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahbubi), dari Muhammad ibnu Mu’az, dari Abu Asim, dari Sufyan (yaitu As-Sauri) berikut sanadnya, dari Ibnu Abbas, tetapi mauquf sampai kepada Ibnu Abbas saja (dan tidak marfu‘ sampai kepada Nabi ﷺ).
Selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkan asar ini.

Ibnu Murdawaih meriwayakan pula melalui jalur Al-Hakim ibnu Zahir Al-Fazzari Al-Kufi yang dikenal hadisnya tak terpakai, dari As-Saddi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfu‘, tetapi tidak sahih predikatnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Abu Malik bahwa Kursi terletak di bawah Arasy.

As-Saddi sendiri mengatakan bahwa langit dan bumi berada di dalam Kursi, sedangkan Kursi berada di hadapan Arasy.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas,
"Seandainya langit dan bumi yang masing-masingnya terdiri atas tujuh lapis dihamparkan, kemudian satu sama lainnya disambungkan, maka semuanya itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan luasnya Kursi, melainkan hanya seperti suatu halqah (sekerumunan manusia) yang berada di tengah-tengah padang pasir."

Hal ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, bahwa Ibnu Zaid pernah mengatakan, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Tiadalah langit yang tujuh (bila) diletakkan di dalam Kursi, melainkan seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas sebuah tameng.

Disebutkan pula, Abu Zar r.a. pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Tiadalah Kursi itu (bila) diletakkan di dalam Arasy melainkan seperti sebuah halqah (lingkaran) besi yang dilemparkan di tengah-tengah sebuah padang pasir dari bumi.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wuhaib Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abul Yusri Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah At-Tamimi, dari Al-Qasim ibnu Muhammad As-Saqafi, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar Al-Gifari, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Kursi.
Maka beliau ﷺ bersabda:
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiadalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh lapis bila diletakkan pada Kursi melainkan seperti sebuah lingkaran (besi) yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir.
Dan sesungguhnya keutamaan Arasy atas Kursi sama dengan keutamaan padang pasir atas lingkaran itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya.

Maksudnya, tidak memberatkan-Nya dan tidak mengganggu-Nya sama sekali memelihara langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya, bahkan hal tersebut mudah dan sangat ringan bagi-Nya.
Dialah yang mengatur semua jiwa beserta semua apa yang diperbuatnya, Dialah yang mengawasi segala sesuatu.
Tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari-Nya, dan tiada sesuatu pun yang gaib bagi-Nya.
Segala sesuatu seluruhnya hina di hadapan-Nya dalam keadaan tunduk dan patuh bila dibandingkan dengan-Nya, lagi berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji, Maha melakukan semua yang dikehendaki-Nya, tidak dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dilakukan-Nya, sedangkan mereka dimintai pertanggungjawaban.
Dia Mahamenang atas segala sesuatu, Maha Menghitung atas segala sesuatu, Maha Mengawasi (Waspada), Mahaagung.
Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Firman Allahsubhanahu wa ta’ala.:

Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

Sama maknanya dengan firman-Nya:

Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.
(QS. Ar Ra’du [13]: 9)

Cara memahami ayat-ayat ini dan hadishadis sahih yang semakna dengannya lebih baik memakai metode yang dilakukan oleh ulama Salaf yang saleh dan dianjurkan oleh mereka, yaitu tidak serupa dan tidak mirip dengan apa yang digambarkan dalam teksnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Baqarah (2) Ayat 255

ALIYY
عَلِىّ

Lafaz ini berasal dari perkataan ‘alaa, jamaknya ‘aliyyun dan ‘iiyah, artinya yang tinggi, yang keras, dan amat kuat, berkedudukan tinggi yang mulia.

Al Fayruz berkata,
"Apabila lafaz al ‘aliy disandarkan kepada Allah, maknanya salah satu nama dari nama- nama Allah yang bermakna Dia begitu tinggi dan jauh untuk diketahui hakikatnya oleh para ahli sufi dan oleh ilmu ahli makrifat."

Lafaz ‘aliy disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 255;
An Nisaa‘ (4), ayat 34;
Maryam (19), ayat 50, 57;
Al Hajj (22), ayat 62;
Luqman (31), ayat 30;
Saba‘ (34), ayat 23;
-Al Mu’min (40), ayat 12;
Asy Syuura (42), ayat 4, 51;
Az Zukhruf (43), ayat 4.

At Tabari berkata,
"Al uliy, wazannya (bentuk katanya) adalah al fa’il dari ungkapan ‘alaa-ya’lu-‘uluwwan maknanya apabila ia naik, dan ism fa’ilnya ialah ‘ali dan ‘aliy.

Makna ‘aliy adalah yang memiliki ketinggian di atas makhluk Nya dengan kekuasaannya.
Terdapat perbedaan pendapat berkenaan lafaz al ‘aliy.

– Sebahagian ulama berpendapat, makna al ‘aliy adalah yang maha tinggi dari segala apa yang serupa dengannya dan mereka tidak bersepakat jika ia diberi makna yang tinggi tempatnya karena makna itu bisa diartikan Allah berada di suatu tempat dan tidak berada di suatu tempat.

– Sebahagian yang lain mengatakan, makna al ‘aliy adalah yang Maha Tinggi diatas makhluk Nya dengan ketinggian tempatnya dari tempat makhluk Nya karena Allah di atas seluruh makhluk Nya dan makhluk Nya berada di bawah Nya, sebagaimana Allah menyifatkan diri Nya di atas Al Arsy, yaitu yang tinggi tempatnya di atas mereka.

Ibn ‘Atiyyah berkata,
"Pendapat kedua di atas adalah dari kalangan Mufassirin yang jahil karena sepatutnya ianya (makna Al ‘aliy) jangan diperselisihkan."

Asy Syawkani berkata,
"Makna lafaz al ‘aliy adalah ke tinggian, kekuasaan dan kedudukan Nya."

Kesimpulannya, lafaz al ‘aliy adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang bermakna yang Maha Tinggi dari segala tasybih (penyerupaan) dan tamthil (pe nyamaan dengan yang lain) lagi Maha Mulia dari segala sesuatu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 378-379

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 255 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 255 - Gambar 2 Surah Al Baqarah ayat 255 - Gambar 3
Statistik QS. 2:255
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.7 (27 votes)
Tags:

2:255, 2 255, 2-255, Surah Al Baqarah 255, Tafsir surat AlBaqarah 255, Quran Al-Baqarah 255, Surah Al Baqarah ayat 255

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Haaqqah (Hari kiamat) – surah 69 ayat 42 [QS. 69:42]

41-43. Dania Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair yang biasanya menghias kata dan kalimat dengan indah tanpa menghiraukan kandungannya. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan Al-Qur’an … 69:42, 69 42, 69-42, Surah Al Haaqqah 42, Tafsir surat AlHaaqqah 42, Quran Al Haqqah 42, AlHaqqah 42, Al-Haqqah 42, Surah Al Haqah ayat 42

QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 24 [QS. 41:24]

24. Agar terasa betapa besar murka Allah terhadap musuh-musuh-Nya itu, maka pembicaraan tidak ditujukan kepada mereka, karena mereka tidak layak lagi untuk diajak bicara, tetapi dikatakan bahwa meskip … 41:24, 41 24, 41-24, Surah Fushshilat 24, Tafsir surat Fushshilat 24, Quran Fushilat 24, Fusilat 24, Fussilat 24, Surah Fusilat ayat 24

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.121 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #26
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #26 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #26 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … hadits ijma ‘ulama fatwa para ulama ijtihad UUD 1945 Benar!

Pendidikan Agama Islam #7

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah .. Alquran UUD 1945 Qiyas Sunnah Ijtihad Benar! Kurang tepat! Hadits adalah Mubayyin untuk

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? Abdullah Yusuf Abu Bakar Imran Abu Lahab Benar! Kurang tepat! Siapa nama

Instagram