Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 221 [QS. 2:221]

وَ لَا تَنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکٰتِ حَتّٰی یُؤۡمِنَّ ؕ وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ ۚ وَ لَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا ؕ وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ اِلَی النَّارِ ۚۖ وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ الۡمَغۡفِرَۃِ بِاِذۡنِہٖ ۚ وَ یُبَیِّنُ اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ
Walaa tankihuul musyrikaati hatta yu’minna wal-amatun mu’minatun khairun min musyrikatin walau a’jabatkum walaa tunkihuul musyrikiina hatta yu’minuu wala’abdun mu’minun khairun min musyrikin walau a’jabakum uula-ika yad’uuna ilannaari wallahu yad’uu ilal jannati wal maghfirati biidznihi wayubai-yinu aayaatihi li-nnaasi la’allahum yatadzakkaruun(a);
Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman.
Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu.
Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman.
Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu.
Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
(Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.
―QS. Al Baqarah [2]: 221

And do not marry polytheistic women until they believe.
And a believing slave woman is better than a polytheist, even though she might please you.
And do not marry polytheistic men (to your women) until they believe.
And a believing slave is better than a polytheist, even though he might please you.
Those invite (you) to the Fire, but Allah invites to Paradise and to forgiveness, by His permission.
And He makes clear His verses to the people that perhaps they may remember.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 221]

وَلَا dan jangan

And (do) not
تَنكِحُوا۟ kamu nikahi

[you] marry
ٱلْمُشْرِكَٰتِ wanita-wanita musyrik

[the] polytheistic women
حَتَّىٰ sehingga

until
يُؤْمِنَّ mereka beriman

they believe.
وَلَأَمَةٌ dan sungguh budak wanita

And a bondwoman
مُّؤْمِنَةٌ beriman

(who is) believing
خَيْرٌ baik

(is) better
مِّن daripada

than
مُّشْرِكَةٍ wanita musyrik

a polytheistic woman
وَلَوْ walaupun

[and] even if
أَعْجَبَتْكُمْ ia menarik hatimu

she pleases you.
وَلَا dan jangan

And (do) not
تُنكِحُوا۟ kamu menikahkan

give in marriage (your women)
ٱلْمُشْرِكِينَ orang-orang musyrik

(to) [the] polytheistic men
حَتَّىٰ sehingga

until
يُؤْمِنُوا۟ mereka beriman

they believe,
وَلَعَبْدٌ dan sungguh budak

and a bondman
مُّؤْمِنٌ beriman

(who is) believing
خَيْرٌ lebih baik

(is) better
مِّن daripada

than
مُّشْرِكٍ orang musyrik

a polytheistic man
وَلَوْ walaupun

[and] even if
أَعْجَبَكُمْ dia menarik hatimu

he pleases you.
أُو۟لَٰٓئِكَ mereka itu

[Those]
يَدْعُونَ mereka mengajak

they invite
إِلَى kepada

to
ٱلنَّارِ neraka

the Fire,
وَٱللَّهُ dan Allah

and Allah
يَدْعُوٓا۟ Dia mengajak

invites

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:221

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 221. Oleh Kementrian Agama RI


Di dalam ayat ini ditegaskan larangan bagi seorang Muslim mengawini perempuan musyrik dan larangan mengawinkan perempuan mukmin dengan laki-laki musyrik, kecuali kalau mereka telah beriman.
Walaupun mereka itu cantik dan rupawan, gagah, kaya, dan sebagainya, budak perempuan atau budak laki-laki yang mukmin lebih baik untuk dikawini daripada mereka.

Dari pihak perempuan yang beriman tidak sedikit pula jumlahnya yang cantik, menarik hati, dan berakhlak.


Dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda:


Jangan kamu mengawini perempuan karena kecantikannya, mungkin kecantikan itu akan membinasakan mereka, janganlah kamu mengawini mereka karena harta kekayaannya, mungkin harta kekayaan itu akan menyebabkan mereka durhaka dan keras kepala.

Tetapi kawinilah mereka karena agamanya (iman dan akhlaknya).
Budak perempuan yang hitam, tetapi beragama, lebih baik dari mereka yang tersebut di atas.

(Riwayat Ibnu Majah dari Abdullah bin ‘Umar).


Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:


Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu:
karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.

Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


Perkawinan erat hubungannya dengan agama.

Orang musyrik bukan orang beragama, mereka menyembah selain Allah.
Dalam soal perkawinan dengan orang musyrik ada batas larangan yang kuat, tetapi dalam soal pergaulan, bermasyarakat itu biasa saja.

Sebab perkawinan erat hubungannya dengan keturunan dan keturunan erat hubungannya dengan harta warisan, makan dan minum, dan ada hubungannya dengan pendidikan dan pembangunan Islam.


Perkawinan dengan orang musyrik dianggap membahayakan seperti diterangkan di atas, maka Allah melarang mengadakan hubungan perkawinan dengan mereka.
Golongan orang musyrik itu akan selalu menjerumuskan umat Islam ke dalam bahaya di dunia, dan menjerumuskannya ke dalam neraka di akhirat, sedang ajaran-ajaran Allah kepada orang-orang mukmin selalu membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 221. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tidak berdosa mempergauli anak-anak yatim.
Yang berdosa adalah mempergauli orang-orang musyrik.


Maka, seorang Mukmin tidak boleh menikahi wanita musyrik yang tidak beriman kepada kitabkitab suci samawi.
Janganlah kekayaan, kecantikan, status sosial dan keturunan yang dimiliki seorang wanita musyrik membuat salah seorang di antara kalian menikahinya.


Seorang wanita budak Mukmin lebih baik daripada wanita musyrik merdeka yang memiliki kekayaan, kecantikan, kedudukan dan keturunan terhormat.
Dan seorang Mukmin yang mempunyai hak perwalian juga tidak boleh menikahkan wanita dengan seorang musyrik yang tidak beriman kepada kitabkitab suci samawi.


Jangan sampai ada di antara kalian lebih memilih seorang musyrik hanya karena kekayaan dan status sosialnya yang tinggi.
Seorang budak yang Mukmin lebih baik daripada dia.


Orang-orang musyrik itu selalu berusaha mengajak keluarganya untuk berbuat maksiat yang akan menjerumuskan ke dalam api neraka.
Allah, ketika memisahkan kalian dari orang-orang musyrik dalam masalah perkawinan, sebenarnya mengajak kalian kepada kebaikan dan petunjuk yang benar.


Dengan begitu, kalian akan memperoleh surga dan ampunan serta mengarungi jalan kebaikan dengan mudah.
Allah telah menjelaskan syariat dan petunjuk-Nya kepada manusia agar mereka mengetahui apa-apa yang mengandung maslahat dan baik buat mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Jangan menikahi -wahai kaum muslimin– wanita-wanita musyrikin yang menyembah berhala sehingga mereka masuk ke dalam Islam.
Ketahuilah bahwa wanita hamba sahaya tanpa harta dan tanpa kedudukan, namun beriman kepada Allah adalah lebih baik daripada wanita musyrik, sekalipun wanita muysrik yang merdeka tersebut menakjubkan kalian.


Jangan pula kalian menikahkan wanita-wanita muslimah, baik hamba sahaya maupun merdeka, dengan orang-orang musyrikin sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketahuilah bahwa seorang hamba mukmin sekalipun miskin adalah lebih baik daripada laki-laki musyrik sekalipun musyrik tersebut menakjubkanmu.


Orang-orang musyrik, baik laki-laki maupun wanita selalu mengajak orang-orang yang bergaul dengan mereka kepada apa yang menyeret ke dalam api Neraka.
Sementara Allah mengajak hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya yang haq yang membawa mereka ke surga dan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dengan izin-Nya.


Allah menjelaskan ayat-ayat dan hukumhukum-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran dan mengingat-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Janganlah kamu nikahi) hai kaum muslimin,


(wanita-wanita musyrik), maksudnya wanita-wanita kafir


(sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita musyrik) walaupun ia merdeka.
Sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan celaan yang ditujukan kepada laki-laki yang menikahi budak wanita dan menyanjung serta menyenangi laki-laki yang menikahi wanita merdeka yang musyrik


(walaupun ia menarik hatimu) disebabkan harta dan kecantikannya.
Ini dikhususkan bagi wanita yang bukan ahli kitab dengan ayat
"Dan wanita-wanita yang terpelihara di antara golongan ahli kitab".


(Dan janganlah kamu kawinkan) atau nikahkan


(laki-laki musyrik), artinya laki-laki kafir dengan wanita-wanita beriman


(sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya budak yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik walaupun ia menarik hatimu) disebabkan harta dan ketampanannya.


(Mereka itu) atau ahli syirik


(mengajak ke neraka) disebabkan anjuran mereka melakukan perbuatan membawa orang ke dalamnya, hingga tidaklah baik kawin dengan mereka.


(Sedangkan Allah mengajak) melalui lisan para Rasul-Nya


(ke surga serta ampunan), maksudnya amal perbuatan yang menjurus kepada keduanya


(dengan izin-Nya), artinya dengan kehendak-Nya, maka wajiblah bagi kamu atau wali-walinya mengabulkan perkawinan


(Dan dijelaskan-Nya ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka beroleh peringatan) atau mendapat pelajaran.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Melalui ayat ini Allah mengharamkan atas orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita yang musyrik dari kalangan penyembah berhala.
Kemudian jika makna yang dimaksud bersifat umum, berarti termasuk ke dalam pengertian setiap wanita musyrik kitabiyah dan wasaniyah.
Akan tetapi, dikecualikan dari hal tersebut wanita Ahli Kitab oleh firman-Nya:

(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 5)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Bahwa Allah mengecualikan dari hal tersebut wanita Ahli Kitab.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Makhul, Al-Hasan, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan lain-lainnya.

Menurut pendapat yang lain, bahkan yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang musyrik dari kalangan penyembah berhala, dan bukan Ahli Kitab secara keseluruhan.
Makna pendapat ini berdekatan dengan pendapat yang pertama tadi.

Adapun mengenai apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir:

yaitu telah menceritakan kepadaku Ubaid ibnu Adam ibnu Abu lyas Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid ibnu Bahram Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abbas mengatakan hadis berikut:
Rasulullah ﷺ telah melarang menikahi berbagai macam wanita kecuali wanita-wanita yang mukmin dari kalangan Muhajirin dan mengharamkan pula mengawini wanita beragama selain Islam.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
Barang siapa yang kafir sesudah beriman, maka hapuslah amalannya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 5)
Talhah ibnu Abdullah pernah kawin dengan seorang wanita Yahudi, dan Huzaifah ibnul Yaman pernah kawin dengan seorang wanita Nasrani, maka Khalifah Umar ibnul Khattab marah sekali mendengarnya hingga hampir-hampir dia menghajar keduanya.
Tetapi keduanya mengatakan,
"Wahai Amirul Muminin, janganlah engkau marah, kami akan menceraikannya."
Khalifah Umar menjawab,
"Kalau boleh ditalak, berarti halal dinikahi.
Tidak, aku akan mencabut mereka dari kalian secara hina dina."

Hadis di atas berpredikat garib jiddan (aneh sekali), demikian pula asar yang dari Umar ibnul Khattab r.a.
Abu Ja’far ibnu Jarir sesudah meriwayatkan perihal adanya kesepakatan boleh menikahi wanita Ahli Kitab mengatakan bahwa sesungguhnya Khalifah Umar hanyalah tidak menyukai perkawinan seperti itu dengan maksud agar kaum muslim tidak enggan menikahi wanita-wanita muslimah, atau karena alasan lainnya.
Seperti yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami As-Silt ibnu Bahram, dari Syaqiq yang menceritakan bahwa Huzaifah mengawini seorang wanita Yahudi, lalu Umar r.a. berkirim surat kepadanya yang isinya mengatakan,
"Lepaskanlah dia."
Lalu Huzaifah membalas suratnya,
"Apakah engkau menduga bahwa kawin dengan dia haram hingga aku harus melepaskannya?"
Umar mengatakan,
"Aku tidak menduganya haram dikawin, melainkan aku merasa khawatir kalian enggan menikahi wanita-wanita mukmin karena mereka (wanita-wanita Ahli Kitab)."
Sanad asar ini sahih.

Al-Khalal meriwayatkan hal yang semisal dari Muhammad ibnu Ismail, dari Waki’, dari As-Silt.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Abdur Rahman Al-Masruq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Sa’d, dari Yazid ibnu Abu Ziyad, dari Zaid ibnu Wahb yang menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab pernah mengatakan:
Lelaki muslim boleh mengawini wanita Nasrani, tetapi lelaki Nasrani tidak boleh mengawini wanita muslimah.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa asar ini lebih sahih sanadnya daripada yang pertama tadi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Tamim ibnul Muntasir, telah menceritakan kepada kami Ishaq Al-Azraqi, dari Syarik, dari Asy’as ibnu Siwar, dari Al-Hasan, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Kami boleh mengawini wanita-wanita Ahli Kitab, tetapi mereka tidak boleh mengawini wanita-wanita kami.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa hadis ini sekalipun dalam sanadnya terdapat sesuatu, tetapi semua umat sepakat akan hal tersebut.
Demikianlah pendapat Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ja’far ibnu Barqan, dari Maimun ibnu Mihran, dari Ibnu Umar, bahwa ia menghukumi makruh mengawini wanita Ahli Kitab atas dasar takwil firman-Nya: Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Umar pernah berkata,
"Aku belum pernah mengetahui perbuatan syirik yang lebih besar daripada perkataan wanita Ahli Kitab, bahwa tuhannya adalah Isa."

Abu Bakar Al-Khalal Al-Hambali mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim.
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Saleh ibnu Ahmad, bahwa keduanya pernah bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad ibnu Hambal mengenai makna firman-Nya:
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
(QS. Al-Baqarah [2]: 221)
Bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita musyrik ialah mereka yang menyembah berhala.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.

As-Saddi mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Rawwahah.
Dia mempunyai seorang budak wanita hitam, lalu di suatu hari ia marah kepadanya, kemudian menamparnya.
Setelah itu ia merasa menyesal, lalu ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan kepadanya peristiwa yang telah dialaminya itu.
Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya,
"Bagaimanakah perilakunya?"
Abdullah ibnu Rawwahah menjawab,
"Dia puasa, salat, melakukan wudu dengan baik, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Abu Abdullah, kalau demikian dia adalah wanita yang beriman."
Abdullah ibnu Rawwahah lalu berkata,
"Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, aku benar-benar akan memerdekakannya, lalu akan aku nikahi."
Abdullah ibnu Rawwahah melakukan apa yang telah dikatakannya itu.
Lalu ada sejumlah kaum muslim yang mengejeknya dan mengatakan bahwa dia telah mengawini budak perempuannya.

Mereka bermaksud akan menikahkan budak-budak wanita mereka kepada orang-orang musyrik karena faktor ingin mengambil keturunan dan kedudukannya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya budak perempuan yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.

Sesungguhnya budak lelaki yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.

Abdu ibnu Humaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ziyad Al-Afriqi, dari Abdullah ibnu Yazid, dari Abdullah ibnu Umar, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Janganlah kamu mengawini wanita karena kecantikannya, karena barangkali kecantikannya akan menjerumuskan mereka.
Dan janganlah kamu nikahi wanita karena harta bendanya, karena barangkali harta bendanya itu membuatnya kelewat batas.
Tetapi nikahilah karena agamanya, sesungguhnya budak wanita hitam lagi tidak cantik tetapi beragama adalah lebih utama.

Akan tetapi, Al-Afriqi orangnya daif.

Disebutkan di dalam kitab Sahihain, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Wanita itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang kuat agamanya, niscaya kamu akan beruntung.

Disebutkan pula oleh Imam Muslim, dari Jabir r.a., hal yang semisal.

Imam Muslim meriwayatkan pula melalui Ibnu Umar r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Dunia itu adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia ialah (mempunyai) istri yang saleh.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:


Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita beriman) sebelum mereka beriman.

Artinya, janganlah kalian mengawinkan wanita yang beriman dengan lelaki yang musyrik.
Pengertian ayat ini sama dengan firman-Nya:

Mereka (wanita-wanita yang beriman) tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.
(QS. Al-Mumtahanah:10)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.

Dengan kata lain, seorang lelaki mukmin —sekalipun sebagai budak yang berkulit hitam (Habsyi)— adalah lebih baik daripada orang musyrik, sekalipun ia sebagai pemimpin lagi orang yang kaya.

Mereka mengajak ke neraka.

Yakni bergaul dan berjodoh dengan mereka membangkitkan cinta kepada keduniawian dan gemar mengumpulkannya serta mementingkan duniawi di atas segalanya dan melupakan perkara akhirat.
Hal tersebut akibatnya akan sangat mengecewakan.

…sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.

Yang dimaksud dengan bi iznihi ialah dengan syariat-Nya dan perintah serta larangan-Nya.

Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.
(QS. Al-Baqarah [2]: 221)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 221

Diriwayatkan oleh Ibnul Mudzir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Wahidi, yang bersumber dari Muqatil.
Bahwa turunnya ayat, wa laa tangkihul musyrikaati hattaa yu’minn..(dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman..) (al-Baqarah: 221) sebagai petunjuk atas permohonan Ibnu Abi Murtsid al-Ghanawi yang meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk menikah dengan seorang wanita musyrik yang cantik dan terpandang.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari as-Suddi, dari Abu Malik, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi, hadits ini munqathi’.
Bahwa kelanjutan ayat ini, mulai dari… wa laa amatum mu’minatun khair…(…sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 221), berkenaan dengan ‘Abdullah bin Rawahah yang mempunyai hamba sahaya wanita yang hitam.
Pada suatu waktu ia marah kepadanya, sampai menamparnya.

Ia menyesali kejadian itu, lalu menghadap Nabi ﷺ ia menceritakan hal itu seraya berkata: “Saya akan memerdekakan dia dan mengawininya.” Kemudian iapun melaksanakannya.
Pada waktu itu orang-orang mencela dan mengejeknya atas perbuatannya itu.
Ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 221) menegaskan bahwa kawin dengan seorang hamba sahaya Muslimah, lebih baik daripada kawin dengan wanita musyrik.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 221 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 221 - Gambar 2
Statistik QS. 2:221
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.5 (11 votes)
Tags:

2:221, 2 221, 2-221, Surah Al Baqarah 221, Tafsir surat AlBaqarah 221, Quran Al-Baqarah 221, Surah Al Baqarah ayat 221

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. As Sajdah (Sajdah) – surah 32 ayat 11 [QS. 32:11]

11. Baik yang mengimani maupun yang mengingkari hari kebangkitan sama-sama belum bisa membuktikannya secara langsung sebelum mati. Karena itu, wahai Nabi Muhammad dan kaum mukmin, katakanlah kepada or … 32:11, 32 11, 32-11, Surah As Sajdah 11, Tafsir surat AsSajdah 11, Quran As-Sajdah 11, Surah As Sajdah ayat 11

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 30 [QS. 3:30]

Pada hari kiamat, setiap jiwa yang sudah dewasa dan layak diberi beban agama akan mendapatkan balasan atau ganjaran atas kebajikan yang telah dikerjakan dan akan dihadapkan atau dihadirkan kepadanya, … 3:30, 3 30, 3-30, Surah Ali Imran 30, Tafsir surat AliImran 30, Quran Al Imran 30, Surah Ali Imran ayat 30

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #7

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … jinayah fiqih amaliyah khuluqiyah i’tiqadiyah Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah … Al lahab Ad Duha An Nasr Ali Imron Al Asr Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah

Pendidikan Agama Islam #29

Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Ibnu Miskawaih Ibnu Sina Al Khawarizmi Al Farabi

Instagram