QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 215 [QS. 2:215]

یَسۡـَٔلُوۡنَکَ مَا ذَا یُنۡفِقُوۡنَ ۬ؕ قُلۡ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ خَیۡرٍ فَلِلۡوَالِدَیۡنِ وَ الۡاَقۡرَبِیۡنَ وَ الۡیَتٰمٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنِ وَ ابۡنِ‌السَّبِیۡلِ ؕ وَ مَا تَفۡعَلُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ
Yasaluunaka maadzaa yunfiquuna qul maa anfaqtum min khairin falilwaalidaini wal aqrabiina wal yataama wal masaakiini waabnissabiili wamaa taf’aluu min khairin fa-innallaha bihi ‘aliimun;

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan.
Jawablah:
“Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”.
Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.
―QS. 2:215
Topik ▪ Bahaya senggama ketika haid
2:215, 2 215, 2-215, Al Baqarah 215, AlBaqarah 215, Al-Baqarah 215

Tafsir surah Al Baqarah (2) ayat 215

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 215. Oleh Kementrian Agama RI

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Amir bin Al-Jamuh Al-Anshari, seorang yang telah lanjut usianya dan mempunyai banyak harta, bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Harta apakah yang sebaiknya saya nafkahkan dan kepada siapa nafkah itu saya berikan?”
Sebagai jawaban turunlah ayat ini.

Nafkah yang dimaksud dalam ayat ini, ialah nafkah sunat, yaitu sedekah, bukan nafkah wajib seperti zakat dan lain-lain.

Ayat ini mengajarkan bahwa apa saja yang dinafkahkan, banyak atau pun sedikit pahalanya adalah untuk orang yang bernafkah itu dan tercatat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai amal saleh sebagaimana dijelaskan dalam satu hadis yang berbunyi:

Bahwasanya pahala amal perbuatanmu adalah kepunyaanmu Akulah yang mencatatnya untukmu.
(H.R. Muslim dari Abu Zar Al Ghafiri)

Sesuatu yang dinafkahkan itu hendaklah diberikan lebih dahulu kepada orang tua yaitu ibu-bapak, karena keduanya adalah orang yang paling berjasa kepada anaknya.
Merekalah yang mendidiknya sejak dalam kandungan, dan di waktu kecil dan bersusah payah dalam menjaga pertumbuhannya.
Sesudah itu barulah nafkah itu diberikan kepada kaum kerabat, seperti anak-anak saudara-saudara yang memerlukan bantuan.
Mereka itu adalah orang-orang yang semestinya dibantu.

Karena kalau dibiarkan saja, akhirnya mereka akan mengemis kepada orang lain.
Akibatnya akan memalukan keluarga.
Kemudian kepada anak-anak yatim yang miskin karena masih kecil, belum bisa berusaha untuk memenuhi keperluannya.
Akhirnya kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan untuk menutupi keperluannya, meringankan bebannya, karena sekalipun mereka tidak ada hubungan famili, tetapi mereka adalah anggota keluarga kaum muslimin, yang sewajarnya dibantu di kala mereka dalam kesusahan.

Apa saja yang dinafkahkan, Allah mengetahui yang halal.
Oleh karena itu tidak boleh digembar-gemborkan, karena Allahlah yang akan membalasnya dan memberikan pahala berlipat ganda menurut keikhlasan seseorang.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang Mukmin bertanya kepadamu mengenai masalah infak.
Katakan, “Infak itu dikeluarkan dari harta yang baik, untuk diberikan kepada orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang terputus dari keluarga dan hartanya.
Kebaikan apa saja yang kalian perbuat, akan diketahui dan akan dibalas pahala oleh Allah.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka bertanya kepadamu) hai Muhammad (tentang apa yang mereka nafkahkan) Yang bertanya itu ialah Amar bin Jamuh, seorang tua yang hartawan.

Ia menanyakan kepada Nabi ﷺ apa yang akan dinafkahkan dan kepada siapa dinafkahkannya?
(Katakanlah) kepada mereka (Apa saja harta yang kamu nafkahkan) ‘harta’ merupakan penjelasan bagi ‘apa saja’ dan mencakup apa yang dinafkahkan yang merupakan salah satu dari dua sisi pertanyaan, tetapi juga jawaban terhadap siapa yang akan menerima nafkah itu, yang merupakan sisi lain dari pertanyaan dengan firman-Nya, (maka bagi ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan), artinya mereka lebih berhak untuk menerimanya.

(Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat) baik mengeluarkan nafkah atau lainnya, (maka sesungguhnya Allah mengetahuinya) dan akan membalasnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sahabat-sahabatmu wahai Nabi bertanya kepadamu apa yang mereka infakkan dari berbagai bentuk harta yang mereka miliki demi mendapatkan diri mereka kepada Allah dan kepada siapa mereka harus berinfak?
Katakanlah kepada mereka :
Infakkanlah kebaikan apa pun yang mudah bagi kalian dari berbagai bentuk harta benda yang halal lagi baik.
Letakkanlah apa yang kalian nafkahkan kepada bapak ibu orang-orang terdekat dari keluarga kalian dan sanak kerabat kalian, anak-anak yatim yang ditinggal wafat bapak mereka saat mereka belum berusia baligh, orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki apa yang bisa mencukupi mereka dan menutup hajat mereka, musafir yang membutuhkan yang jauh dari harta dan keluarga.
Kebaikan apa pun yang kalian lakukan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah nafkah tatawwu’ (sunat).

As-Saddi mengatakan bahwa ayat ini di-nasakh oleh zakat, tetapi pendapatnya ini masih perlu dipertimbangkan.

Makna ayat: Mereka bertanya kepadamu bagaimanakah caranya mereka memberi nafkah.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Mujahid.
Maka Allah menjelaskan kepada mereka hal tersebut melalui firman-Nya:

Katakanlah, “Harta apa saja yang kalian nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.”

Dengan kata lain, belanjakanlah harta tersebut untuk golongan-golongan itu.
Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis, yaitu:

Ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian orang yang lebih bawah (nasabnya) darimu dan yang lebih bawah lagi darimu.

Maimun ibnu Mahram pernah membacakan ayat ini, lalu berkata, “Inilah jalur-jalur nafkah, tetapi di dalamnya tidak disebutkan gendang, seruling, boneka kayu, tidak pula kain hiasan dinding.”

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan apa saja kebajikan yang kalian buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Yakni kebajikan apa pun yang telah kamu lakukan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Dan kelak Dia akan memberikan balasannya kepada kamu dengan balasan yang berlimpah, karena sesungguhnya Dia tidak akan berbuat aniaya terhadap seseorang barang sedikit pun.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 215

Diriwayatkan oleh Ibu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij.
Bahwa kaum Muslimin bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Dimana kami tabungkan (infakkan) harta benda kami, ya Rasulallah?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (al-Baqarah: 215).

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Abu Hayyan.
Bahwa ‘Umar bin al-Jamuh bertanya kepada Nabi ﷺ: “Apa yang mesti kami infakkan, dan kepada siapa diberikan?” Sebagai jawabannya turunlah ayat tersebut (al-Baqarah: 215).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 215 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 215 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 215 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 215 - Gita Gutawa (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 215 - Gita Gutawa (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Baqarah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 286 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 2:215
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.9
Ratingmu: 4.7 (29 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al baqarah 215 ▪ qs al baqoroh 2:215 ▪ al baqoraoh 215 ▪ Albagara 215-238 ▪ q s al-baqarah 2:215

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta