Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 203


وَ اذۡکُرُوا اللّٰہَ فِیۡۤ اَیَّامٍ مَّعۡدُوۡدٰتٍ ؕ فَمَنۡ تَعَجَّلَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ فَلَاۤ اِثۡمَ عَلَیۡہِ ۚ وَ مَنۡ تَاَخَّرَ فَلَاۤ اِثۡمَ عَلَیۡہِ ۙ لِمَنِ اتَّقٰی ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّکُمۡ اِلَیۡہِ تُحۡشَرُوۡنَ
Waadzkuruullaha fii ai-yaamin ma’duudaatin faman ta’ajjala fii yaumaini falaa itsma ‘alaihi waman taakh-khara falaa itsma ‘alaihi limaniittaqa waattaquullaha waa’lamuu annakum ilaihi tuhsyaruun(a);

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.
Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya.
Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa.
Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.
―QS. 2:203
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Kehancuran jagad raya
2:203, 2 203, 2-203, Al Baqarah 203, AlBaqarah 203, Al-Baqarah 203
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 203. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah jamaah haji berada di Mina, kembali dari Arafah, sekali lagi Allah memperingatkan supaya mereka berzikir mengingat Allah subhanahu wa ta’ala yakni bertakbir di hari-hari tertentu, yaitu pada hari-hari tasyrik dengan meninggalkan kebiasaan pada zaman jahiliyah, yaitu pada hari-hari itu mereka mengadakan rapat besar untuk bermegah-megah, menonjolkan jasa nenek-moyang leluhurnya, dan hal-hal lain yang menjadi kebanggaan masing-masing.
Untuk ini maka di kala Nabi Besar Muhammad ﷺ.
selesai mengerjakan haji wadak beliau memberikan khutbah pengarahan di Mina sebagaimana yang telah disebut di atas.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya para jamaah haji berzikir mengingat Allah pada hari-hari tertentu.
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hari-hari tertentu, yaitu tiga hari sesudah hari raya haji, tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah.
Arti zikir dalam ayat ini adalah takbir dan dilakukan pada setiap selesai melakukan salat fardu dan pada setiap kali melempar jumrah.

Yang dimaksud dengan zikir dalam ayat ini ialah bertakbir pada hari-hari tasyrik sesudah salat fardu.
Dan lafaz takbir tersebut adalah sebagai berikut:

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan melainkan Allah.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji untuk Allah.

Takbir sesudah salat Asar pada hari ketiga tasyrik merupakan takbir terakhir dalam rangka pelaksanaan perintah takbir yang disebutkan dalam ayat ini.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam satu hadis bagai berikut:

Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ.
bertakbir sesudah setiap batu dilontarkan ke Jumrah dengan ucapan: Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar.

Para jemaah haji yang berada di Mina dua hari sesudah hari raya haji mereka boleh bersegera kembali ke Mekah.
Mereka berada di Mina adalah untuk melempar Jumrah.
Hal ini oleh karena jamaah haji itu wajib bermalam di Mina hanya pada malam pertama dan kedua dari hari-hari tasyrik.
Dan mereka boleh pula terkemudian kembali ke Mekah.

Dengan demikian mereka penuh tiga hari di Mina, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah.
Mana saja dari dua hal tersebut dipilih dan dikerjakan oleh mereka tidak ada dosa baginya, sekalipun yang kembali terkemudian itu lebih afdal.

Ini adalah satu penegasan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghilangkan pendirian orang-orang jahiliyah yang sebahagian berpendapat bahwa orang-orang yang segera kembali ke Mekah berdosa, dan sebagian lagi berpendapat bahwa orang yang terlambat kembali ke Mekah itulah yang berdosa.
Yang bersegera itu dinamakah Nafar Awwal (rombongan pertama) sedang yang terlambat Nafar Tsani (rombongan kedua).
Bagi nafar awwal, mereka harus meninggalkan Mina pada hari kedua tasyrik, sesudah melontar jumrah dan sesudah tengah hari sebelum matahari terbenam.

Kalau mereka sampai waktu terbenamnya matahari belum juga meninggalkan Mina karena sesuatu sebab, maka nafar awwal menjadi batal dan mereka harus bermalam lagi dan baru bisa meninggalkan Mina sesudah melontar jumrah pada hari ketiga tasyrik sesudah tengah hari.

Kelonggaran dan kesempatan memilih ini diberikan Allah kepada jemaah haji adalah karena kedua hal itu dapat dilaksanakan dengan penuh ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Bagi yang bersegera adalah karena takut melakukan pelanggaran-pelanggaran seperi membunuh binatang-binatang terlarang, tidur dengan istrinya (bersenggama) dan hal-hal yang masih dilarang sesudah tahallul pertama sebelum tahallul kedua.
Sesuatu amal ibadah yang dikerjakan tidak dengan takwa, tidak akan diterima.
Dan bagi yang berlambat adalah karena ingin melakukan afdal dan meyakini bahwa dia sanggup menjauhi segala larangan-larangan tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala hanya menerima amal ibadah orang-orang yang bertakwa.
(Q.S Al Ma’idah: 27)

Oleh karena pentingnya takwa dan untuk menetapkan takwa itu dalam hati, Allah subhanahu wa ta’ala menekankan sekali lagi dengan firman-Nya:

Dan bertakwalah kepada Allah.
(Q.S Al Baqarah: 203)

Lalu disusul dengan kata-kata yang dapat menguatkan hati untuk bertakwa, yaitu:

Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.
(Q.S Al Baqarah: 203)

Seseorang yang mengetahui dan meyakini bahwa ia akan dikumpulkan di hari kemudian dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia tentu akan lebih banyak berbuat kebaikan dan menambah takwanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Al Baqarah (2) ayat 203 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 203 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 203 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Berzikirlah kepada Allah dengan mengucap takbir dan sebagainya, di hari-hari yang berbilang, yaitu pada hari-hari melempar jumrah tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah.
Tetapi kalian tidak diharuskan melakukannya di semua hari itu, karena tolok ukur kebajikan adalah ketakwaan kepada Allah, bukan jumlah bilangan.
Bertakwalah kepada Allah dan ingatlah bahwa kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.
Pada saat itulah kalian harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berzikirlah kepada Allah) dengan membaca takbir ketika melempar jumrah (pada beberapa hari yang berbilang), yakni pada hari-hari Tasyrik yang tiga.
(Barang siapa yang ingin cepat-cepat), maksudnya ingin cepat berangkat dari Mina (dalam dua hari), artinya pada hari yang kedua hari tasyrik setelah melempar jumrah-jumrahnya, (maka tiadalah ia berdosa) dengan tindakan itu.
(Dan barang siapa yang ingin mengundurkannya) hingga ia bermalam pada malam ketiga dan melempar jumrah-jumrahnya, (maka tiadalah ia berdosa) dengan perbuatannya itu.
Jadi mereka diberi kesempatan untuk memilih tanpa memikul dosa apa pun (yakni bagi orang-orang yang bertakwa) kepada Allah dalam ibadah hajinya, karena pada hakikatnya itulah haji yang sebenarnya.
(Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya), yakni di akhirat yang nantinya amal perbuatanmu akan mendapat balasan dari-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Berdzikirlah dengan tasbih dan takbir di hari-hari yang tidak banyak, yaitu hari-hari tasyriq, sebelas, dua belas dan tiga belas Dzul Hijjah.
Barangsiapa yang tergesa-gesa dan hendak meninggalkan Mina sebelum terbenam matahari di hari kedua belas setelah melempar jamarat, maka tiada dosa atasnya.
Namun barangsiapa yang menunda dengan bermalam di Mina sehingga bisa melempar jamarat di hari ketiga belas, maka tiada dosa atasnya bagi siapa yang bertakwa kepada Allah dalam hajinya.
Menunda lebih utama, karena ia termasuk berbekal dengan ibadah dan juga meneladani perbuatan Nabi.
Takutllah kalian wahai kaum muslimin kepada Allah dan hendaknya kalian merasakan pengawasan-Nya di segala perbuatan kalian.
Ketahuilah bahwa kalian akan kembali kepada-Nya semata, kalian akan dibangkitkan setelah kematian untuk di hisab dan dibalas.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan hari-hari yang berbilang ialah hari-hari tasyriq (menjemur dendeng), juga dikenal dengan sebutan hari-hari yang telah diketahui, yaitu hari belasan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.

Yang dimaksud dengan berzikir ialah bertakbir dalam hari-hari tasyriq sesudah salat lima waktu, yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Hari Arafah dan hari Kurban serta hari-hari tasyriq adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, ia adalah hari-hari makan dan minum.

Imam Ahmad meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Abul Malih, dari Nabisyah Al-Huzali yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Hari-hari tasriq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.

Imam Muslim meriwayatkan pula hadis ini.

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis Jubair ibnu Mut’im yang bunyinya mengatakan:

Arafah seluruhnya adalah tempat wuquf, dan hari-hari tasyriq adalah hari kurban.

Telah disebutkan pula hadis Abdur Rahman ibnu Ya’mur Ad-Daili, yang bunyinya mengatakan:

Hari-hari Mina adalah tiga hari.
Maka barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, tiada dosa bag-nya, dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim dan Khallad ibnu Aslam, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Amr ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan berzikir kepada Allah.

Telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Aslam, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Saleh, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ menyuruh Abdullah ibnu Huzafah untuk berkeliling di Mina menyampaikan seruan berikut: Janganlah kalian melakukan puasa pada hari-hari ini, karena sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Abdullah ibnu Huzafah pada hari-hari tasyriq untuk menyerukan pengumuman berikut: Sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah, kecuali bagi orang yang diwajibkan puasa atas dirinya sebagai ganti dari berkurban.

Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang baik dan memperjelas makna, tetapi mursal.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Hisyam, dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Amr ibnu Dinar, bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Bisyar ibnu Suhaim untuk menyerukan maklumat berikut pada hari-hari tasyriq, yaitu:

Sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berzikir kepada Allah.

Hasyim meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari Ata, dari Siti Aisyah yang menceritakan: Rasulullah ﷺ melarang puasa pada hari-hari tasyriq.
Beliau bersabda bahwa hari-hari tasyriq itu merupakan hari-hari untuk makan dan minum serta berzikir kepada Allah.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Hakim ibnu Hakim, dari Mas’ud ibnul Hakam Az-Zurqi, dari ibunya yang menceritakan: Sesungguhnya aku benar-benar melihat Ali yang sedang mengendarai hewan bigal putih Rasulullah ﷺ, lalu ia berhenti diperkemahan orang-orang Ansar seraya mengatakan seruan berikut: “Hai manusia, sesungguhnya hari-hari ini bukanlah hari-hari puasa, melainkan hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Miqsam meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayyamam ma’dudat atau ‘hari-hari yang berbilang’ adalah hari-hari tasyriq, yaitu selama empat hari, dimulai dari Hari Raya Kurban hingga tiga hari berikutnya.

Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, Abu Musa, Ata, Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Ibrahim An-Nakha’i, Yahya ibnu Abu Kasir, Al-Hasan, Qata-dah, As-Saddi, Az-Zuhri, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan, Ata Al-Khurrasani, dan Malik ibnu Anas serta lain-lainnya.

Ali ibnu Abu Talib r.a.
mengatakan bahwa hari-hari tasyriq itu adalah tiga hari (yaitu Hari Raya Kurban dan dua hari sesudahnya).
Berkurbanlah di hari mana pun yang kamu sukai (di antara ketiga hari itu).
Akan tetapi, yang paling utama ialah pada hari pemulaannya.

Pendapat yang pertama lebih terkenal karena pendapat ini selaras dengan makna lahiriah yang ditunjukkan oleh firman-Nya:

Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya.
Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya.

Dengan demikian, makna lahiriah ayat ini menunjukkan tiga hari ditambah dengan Hari Raya Kurban sebelumnya, hingga jumlah keseluruhannya empat hari.

Hal tersebut berkaitan dengan makna firman-Nya:

Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.

Yakni melakukan zikir kepada Allah sewaktu melakukan kurban.
Dalam keterangan yang lalu telah disebutkan bahwa pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah mazhab Imam Syafii rahimahullah, yaitu bahwa waktu untuk berkurban dimulai pada Hari Raya Kurban sampai dengan akhir hari-hari tasyriq.
Berkaitan pula dengannya yaitu melakukan zikir sementara sesudah melakukan tiap-tiap salat, dan zikir yang mutlak yang dianjurkan dalam semua keadaan.
Mengenai waktu berzikir ini banyak pendapat dari ulama yang mengatakannya, yang paling terkenal dan banyak diamalkan ialah dimulai dari salat Subuh hari Arafah sampai dengan salat Asar di akhir hari tasyriq, tepatnya di akhir waktu nafar yang terakhir.
Sehubungan dengan waktu ini ada sebuah hadis yang membicarakannya, diriwayatkan oleh Imam Daruqutni, tetapi tidak sahih predikat marfu’-nya.

Sesungguhnya telah diriwayatkan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
melakukan takbir di dalam kemah kecilnya.
Maka bertakbir pulalah semua orang yang ada di pasar karena takbirnya, hingga Mina bergetar oleh suara takbir semua orang.

Berkaitan pula dengan hal tersebut yaitu membaca takbir dan zikrullah di saat melempar jumrah setiap hari di hari-hari tasyriq.
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan lain-lainnya telah disebutkan bahwa sesungguhnya tawaf di Baitullah, sa’i di antara Safa dan Marwah, dan melempar jumrah disyariatkan hanyalah untuk menegakkan zikrullah.

Setelah Allah menyebutkan perihal nafar awwal dan nafar sani, yaitu berpencarnya semua orang dari musim haji menuju ke berbagai negeri sesudah mereka melakukan ijtima’-nya.
dalam manasik dan tempat-tempat wuquf, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kalian akan dikumpulkan kepada-Nya.

Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan Dialah yang menciptakan serta mengembangbiakkan kalian di muka bumi ini, dan kepada-Nyalah kalian akan dihimpunkan.
(Al-Muminun: 79)

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 203 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 203



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku