Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 128


رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ
Rabbanaa waaj’alnaa muslimaini laka wamin dzurrii-yatinaa ummatan muslimatan laka waarinaa manaasikanaa watub ‘alainaa innaka antattau-waabur-rahiim(u);

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
―QS. 2:128
Topik ▪ Nabi-nabi Bani Israel
2:128, 2 128, 2-128, Al Baqarah 128, AlBaqarah 128, Al-Baqarah 128
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 128. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang Arab diingatkan bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil.
Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim.

Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.
Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari.
Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit.
Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a.
berkata di waktu beliau telah menciumnya:

Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat.
Kalau aku tidak melihat Rasulullah ﷺ mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah ﷺ pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa.
Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain.

Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hajarul Aswad itu adalah batu biasa saja.
Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya.
Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.

Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa:

“Terimalah daripada kami….”,
(maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala….”
“Allah Maha Mendengar” (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan “Allah Maha Mengetahui” (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini.

Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala apabila telah selesai mengerjakannya.
Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu.

Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s.
dan putranya Ismail a.s.
berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah.
Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah subhanahu wa ta’ala Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s.
dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya.

Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s.
melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Di dalam perkataan “muslim” (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s.
itu mempunyai sifat-sifat:

1.
Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja.
Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa.
Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.

2.
Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi.
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.
Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

(Q.S Al Furqan: 43)

Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya….
(Q.S Al Jasiyah: 23)

Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s.
berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah subhanahu wa ta’ala menjawab: “Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu.” Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s.
mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.

Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s.
dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria.
Keturunan Ismail a.s.
inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad ﷺ.
Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini.

(Q.S Al Hajj: 78)

Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah.

Di dalam ayat ini Ibrahim a.s.
memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya.
Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum).
Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah:

1.
Ibrahim a.s.
dan putranya Ismail a.s.
memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.

2.
Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.

“Allah Maha Penerima taubat” ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain.
Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh.

“Allah Maha Penyayang” ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.

Selanjutnya Ibrahim a.s.
berdoa agar Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s.
dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad ﷺ., nabi yang terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa.
(HR Ahmad)

Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s.
itu ialah:

1.
Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka.
Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya.

2.
Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.
Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus.

3.
Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.

Ibrahim a.s.
menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana.
Maha Perkasa ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.

Maha Bijaksana ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.

Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah subhanahu wa ta’ala

Al Baqarah (2) ayat 128 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Tuhan kami, restuilah kami.
Jadikanlah kami dan anak cucu kami manusia yang ikhlas berbuat demi Engkau.
Ajarkanlah kepada kami tata cara peribadatan kami di rumah suci ini.
Terimalah tobat kami jika kami lalai dan bersalah.
Sesungguhnya Engkau Maha Menerima tobat dan Maha Mengampuni dosa dengan karunia dan rahmat-Mu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh) dan tunduk (kepada-Mu dan) jadikanlah pula (di antara keturunan kami) maksudnya anak cucu kami (umat) atau golongan (yang patuh kepada-Mu).
‘Min’ menyatakan ‘sebagian’ dan diajukan mereka demikian karena firman Allah yang lalu, ‘Dan janji-Ku ini tidak mencapai orang-orang yang aniaya.’ (Dan tunjukkanlah kepada kami) ajarkanlah kepada kami (syariat ibadah haji kami) maksudnya cara-cara dan tempat-tempatnya (dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).
Mereka bertobat kepada Allah padahal mereka maksum atau terpelihara dari dosa, disebabkan kerendahan hati mereka dan sebagai pelajaran bagi anak cucu mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebadai dua orang yang teguh di atas islam, tunduk kepada hukum-hukumMu.
Jadikanlah anak keturunan kami sebagai umat yang tunduk kepada-Mu dengan beriman kepada-Mu, dan tunjukkanlah kami tatanan-tatanan ibadah kami kepda-Mu.
Maafkanlah kesalahan-kesalahan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dari hamba—hamba-Mu, pemilik rahmat yang luas bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Menurut Ibnu Jarir, keduanya bermaksud, “Jadikanlah kami orang yang tunduk kepada perintah-Mu dan patuh dalam ketaatan kepada-Mu.
Dalam taat kami kepada-Mu, kami tidak akan mempersekutukan Engkau dengan seorang pun selain Engkau sendiri, dan tidak pula daam beribadah kepada-Mu mempersekutukan-Mu dengan seorang pun selain Engkau sendiri.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Raja’ ibnu Hibban Al-Husaini Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ma’qal ibnu Abdullah, dari Abdul Karim sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(Al Baqarah:128) Yakni jadikanlah kami orang yang ikhlas kepada Engkau, dan jadikanlah pula di antara anak cucu kami umat yang ikhlas kepada Engkau.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Al-Maqdami, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Amir, dari Salam ibnu Abu Muti’ sehubungan dengan takwil ayat ini: Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau.
(Al Baqarah:128) Dikatakan bahwa keduanya memang orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, tetapi keduanya memohon hal tersebut kepada Allah hanyalah semata-mata untuk memperteguh dan menguatkan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau.
(Al Baqarah:128) Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menjawabnya, “Aku kabulkan.” Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(Al Baqarah:128) Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawabnya, “Aku perkenankan permintaanmu.”

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(Al Baqarah:128) Bahwa yang dimaksud oleh keduanya adalah orang-orang Arab.

Tetapi menurut Ibnu Jarir, pendapat yang benar doa tersebut ditujukan kepada umum, mencakup orang-orang Arab dan bangsa lain, karena sesungguhnya di antara anak cucu Nabi Ibrahim adalah Bani Israil.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.
(Al A’raf:159)

Menurut kami apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir tidaklah bertentangan dengan yang dikatakan oleh As-Saddi, mengingat apa yang dikatakan oleh As-Saddi merupakan takhsis dari apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, dan bukan berarti meniadakan selain mereka.
Konteks ayat hanyalah berkaitan dengan bangsa Arab.
Untuk itu disebutkan sesudahnya:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka.
(Al Baqarah:129), hingga akhir ayat.

Yang dimaksud dengan rasul dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya buat mereka.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya yang lain, yaitu:

Dialah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka.
(Al Jumuah:2)

Sekalipun demikian, bukan berarti risalah yang diemban olehnya hanya untuk orang-orang Arab saja, tetapi juga untuk kulit merah dan kulit hitam.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (Al A’raf:158)

Masih banyak ayat lainnya yang bermakna sama sebagai dalil pasti untuk pengertian ini.

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Ismail ‘alaihis salam, dipanjatkan pula oleh hamba-hamba Allah yang mukmin lagi bertakwa, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(Al-Furqah: 74)

Memanjatkan doa seperti ini dianjurkan oleh syariat, karena sesungguhnya termasuk kesempurnaan cinta ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah memohon dikaruniai keturunan yang hanya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Karena itu, ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Ibrahim ‘alaihis salam:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.
(Al Baqarah:124)

Maka Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengajukan permohonannya, yang disitir oleh firman-Nya seperti berikut

“Dan (saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Al Baqarah:124)

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman lain-nya, yaitu:

Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala..
(Ibrahim:35)

Telah disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.

Menurut Ibnu Juraij, dari Ata, makna ayat ini ialah: “Tunjukkanlah kepada kami hal tersebut agar kami mengetahuinya.”

Mujahid mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan manasikana ialah tempat-tempat penyembelihan kurban kami.
Hal yang semisal diriwayatkan pula dari Ata dan Qatadah.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Basyir, dari Khasif dan Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang disitir oleh firman-Nya: Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.
(Al Baqarah:128) Bahwa Malaikat Jibril datang dan membawanya ke Baitullah, lalu Jibril berkata, “Tinggikanlah fondasi-fondasi ini.” Maka Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah dan merampungkan pembangunannya, lalu Jibril menuntunnya dan membawanya ke Safa.
Jibril berkata, “Ini termasuk syiar-syiar Allah.” Kemudian Jibril membawanya pergi ke Marwah dan berkata pula, “Ini termasuk syiar-syiar Allah.” Lalu Jibril membawanya pergi ke Mina.
Ketika sampai di Aqabah, tiba-tiba iblis berdiri di bawah sebuah pohon, maka Jibril berkata, “Bertakbirlah dan lemparlah dia!” Maka Ibrahim bertakbir dan melemparnya.
Iblis pergi, lalu berdiri di bawah Jumrah Wusta.
Ketika Jibril dan Ibrahim melewatinya, maka Jibril berkata, “Bertakbirlah dan lemparlah dia!” Lalu Ibrahim bertakbir dan melemparnya.
Maka iblis yang jahat itu pun pergi, pada mulanya iblis yang jahat itu hendak memasukkan sesuatu ke dalam ibadah haji, tetapi dia tidak mampu.
Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Masy’aril Haram, lalu Jibril berkata, “Ini adalah Masy’aril Haram.” Kemudian Jibril membawanya lagi hingga sampai di Arafah.
Jibril berkata, “Sekarang kamu telah mengenal semua apa yang kuperlihatkan (kuperkenalkan) kepadamu,” Kalimat ini dikatakannya sebanyak tiga kali.
Ibrahim menjawab, “Ya.”

Telah diriwayatkan dari Abul Mijlaz dan Qatadah hal yang semisal dengan riwayat di atas.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abul Asim Al-Ganawi, dari Abut Tufail, dari Ibnu Abbas yang menceritakan, sesungguhnya Nabi Ibrahim itu ketika diperlihatkan kepadanya tanda-tanda dan tempat-tempat ibadah haji, setan menampakkan dirinya di tempat sa’i, tetapi kedahuluan oleh Nabi Ibrahim.
Kemudian Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Mina, lalu Jibril berkata, “Ini adalah tempat menginap orang-orang.” Ketika Jibril dan Ibrahim sampai di Jumrah Aqabah, maka setan menampakkan diri kepada Ibrahim, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga setan pergi.
Lalu Jibril membawanya ke Jumrah Wusta, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga pergi.
Kemudian Jibril membawa Ibrahim ke Jumrah Quswa, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga lenyap.
Kemudian Jibril membawanya ke Jam’an, lalu berkata kepadanya, “Ini adalah Masy’ar.” Setelah itu Jibril membawanya ke Arafah, lalu berkata kepadanya, “Apakah engkau telah mengenalnya?”

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.

QS 2 Al-Baqarah (128-129) - Indonesian - Fahmi Hendrawan
QS 2 Al-Baqarah (128-129) - Arabic - Fahmi Hendrawan


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 128 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 128



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku