Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 128 [QS. 2:128]

رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ
Rabbanaa waaj’alnaa muslimaini laka wamin dzurrii-yatinaa ummatan muslimatan laka waarinaa manaasikanaa watub ‘alainaa innaka antattau-waabur-rahiim(u);
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami.
Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
―QS. Al Baqarah [2]: 128

Our Lord, and make us Muslims (in submission) to You and from our descendants a Muslim nation (in submission) to You.
And show us our rites and accept our repentance.
Indeed, You are the Accepting of repentance, the Merciful.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 128]

رَبَّنَا ya Tuhan kami

Our Lord!
وَٱجْعَلْنَا dan jadikanlah kami

[and] Make us
مُسْلِمَيْنِ dua orang yang tunduk/patuh

both submissive
لَكَ pada Engkau

to You.
وَمِن dan dari

And from
ذُرِّيَّتِنَآ keturunan/anak cucu kami

our offspring
أُمَّةً umat

a community
مُّسْلِمَةً orang-orang yang tunduk/patuh

submissive
لَّكَ pada Engkau

to You.
وَأَرِنَا dan tunjukkan pada kami

And show us
مَنَاسِكَنَا cara beribadah our ways of worship
وَتُبْ dan terimalah taubat

and turn
عَلَيْنَآ atas kami

to us.
إِنَّكَ sesungguhnya Engkau

Indeed You!
أَنتَ Engkau

[You] (are)
ٱلتَّوَّابُ Maha Penerima taubat

the Oft-returning,
ٱلرَّحِيمُ Maha Penyayang

the Most Merciful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:128

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 128. Oleh Kementrian Agama RI


Orang-orang Arab diingatkan bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail.
Ibrahim adalah nenek moyang orang-orang Arab melalui putranya Ismail.

Sedangkan orang Israil melalui putranya Ishak.
Seluruh orang Arab mengikuti agama Ibrahim.


Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa yang membangun Baitullah ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.
Tujuannya adalah untuk beribadah kepada Allah bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya, yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari.

Bahan-bahan untuk membangun Ka’bah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan bukan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit.
Semua riwayat yang menerangkan Ka’bah secara berlebih-lebihan, adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dari Umar bin al-Khatthab  berkata pada waktu ia telah menciumnya:

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيْعَةَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ اَنَّهٗ جَاءَ اِلَى الْحَجَرِ الْاَسْوَدِ فَقَبَّلَهٗ فَقَالَ اِنِّيْ اَعْلَمُ اَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا اَنِّيْ رَاَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ

dari Abis bin Rabi’ah dari Umar  bahwa dia mendatangi Hajar Al Aswad lalu menciumnya kemudian berkata:
"Sungguh aku mengetahui bahwa kamu hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan madharat maupun manfa’at.
Namun kalau bukan karena aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu tentu aku tidak akan menciummu".

(Muttafaq ‘Alaih -ini adalah lafazh Bukhari)


Menurut riwayat ad-Daraqutni, Rasulullah ﷺ pernah menyatakan sebelum mencium Hajar Aswad bahwa itu adalah batu biasa.
Demikian pula halnya Abu Bakar , dan sahabat-sahabat yang lain.

Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hajar Aswad adalah batu biasa saja.
Perintah menciumnya berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Ka’bah, perintah melempar jamrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya.
Semuanya dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah Allah.


Setelah Ibrahim dan Ismail selesai meletakkan fondasi Ka’bah, mereka berdua berdoa:
"Terimalah dari kami",
(maksudnya ialah terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala …)
"Allah Maha Mendengar"
(maksudnya:
Allah Maha Mendengar doa kami), dan
"Allah Maha Mengetahui"
(maksudnya:
Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Ka’bah ini).



Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunah hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah apabila telah selesai mengerjakannya.
Dengan penyerahan itu berarti tugas seorang hamba ialah mengerjakan amalamal yang saleh karena Allah, dan Allah-lah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian-Nya.


Dari ayat di atas juga dapat dimengerti bahwa Ibrahim `alaihis salam dan putranya, Ismail `alaihis salam, berdoa kepada Allah setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah.
Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah.
Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim `alaihis salam dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberi pahala yang baik dari sisi-Nya.


Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim `alaihis salam melanjutkan doanya, agar keturunannya menjadi umat yang tunduk dan patuh kepada Allah.
Di dalam perkataan
"Muslim"
(tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim `alaihis salam itu mempunyai sifat-sifat:


1. Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah.
Hati seorang Muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa.
Kepercayaan ini bertolak dari kesadaran Muslim bahwa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah.
Allah saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.


2. Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan, dilakukan hanya karena dan kepada Allah saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan, dan bukan pula karena keuntungan duniawi.


Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.
Allah ﷻ berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا

Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya.
Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?
(al-Furqan [25]: 43)


Allah membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Allah ﷻ berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?
Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)?
Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.
(al-Jatsiyah [45]: 23)


Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim `alaihis salam berdoa agar keturunannya dijadi-kan imam, Allah menjawab,
"Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu."
Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim `alaihis salam mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.


Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail `alaihis salam dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang ia sendiri kembali ke Syam.
Keturunan Ismail `alaihis salam inilah yang menghuni Mekah dan sekitarnya, termasuk Nabi Muhammad ﷺ.
Inilah yang dimaksud dengan firman Allah.

مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ

(Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.
(al-Hajj [22:78)


Ibrahim dan Ismail memohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadah dalam rangka menunaikan ibadah, tempat wuquf, tawaf, sa’i, dan sebagainya, sehingga dia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan yang diperintahkan Allah.


Di dalam ayat ini, Ibrahim `alaihis salam memohon kepada Allah agar diterima tobatnya, padahal Ibrahim adalah seorang nabi dan rasul, demikian pula putranya.
Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (ma’sum).
Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya ialah:


1. Ibrahim `alaihis salam dan putranya Ismail `alaihis salam memohon kepada Allah agar diampuni segala kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.


2. Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa dengan bertobat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.


"Allah Maha Penerima tobat"
ialah Allah sendirilah yang menerima tobat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain.
Dia selalu menerima tobat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertobat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amalamal yang saleh.
"Allah Maha Penyayang"
ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.


Selanjutnya Ibrahim `alaihis salam berdoa agar Allah mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada-Nya, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.
Allah ﷻ mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad ﷺ, nabi yang terakhir.
Rasulullah ﷺ bersabda:


Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa.
(Riwayat Ahmad).


Sifat dari rasulrasul yang didoakan Ibrahim `alaihis salam ialah:
1. Membacakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat mereka.
Ayat-ayat itu mengandung ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang yang beramal saleh dan siksaan bagi orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik, dan sebagainya.


2. Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.
Al-Kitab ialah Alquran.
Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedahfaedah, hukumhukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul, yaitu agar menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka dapat menempuh jalan yang lurus.


3. "Menyucikan mereka"
ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.


Ibrahim `alaihis salam menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Mahaperkasa, dan Yang Mahabijaksana.
"Mahaperkasa"
ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.
"Maha-bijaksana"
ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaan-nya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.


Dari doa Nabi Ibrahim ini dapat dipahami bahwa ia memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayah, sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 128. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Tuhan kami, restuilah kami.
Jadikanlah kami dan anak cucu kami manusia yang ikhlas berbuat demi Engkau.


Ajarkanlah kepada kami tata cara peribadatan kami di rumah suci ini.
Terimalah tobat kami jika kami lalai dan bersalah.


Sesungguhnya Engkau Maha Menerima tobat dan Maha Mengampuni dosa dengan karunia dan rahmat-Mu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebadai dua orang yang teguh di atas islam, tunduk kepada hukumhukum-Mu.
Jadikanlah anak keturunan kami sebagai umat yang tunduk kepada-Mu dengan beriman kepada-Mu, dan tunjukkanlah kami tatanan-tatanan ibadah kami kepda-Mu.


Maafkanlah kesalahan-kesalahan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dari hamba-hamba-Mu, pemilik rahmat yang luas bagi mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh) dan tunduk


(kepada-Mu dan) jadikanlah pula


(di antara keturunan kami) maksudnya anak cucu kami


(umat) atau golongan


(yang patuh kepada-Mu).
‘Min’ menyatakan ‘sebagian’ dan diajukan mereka demikian karena firman Allah yang lalu, ‘Dan janji-Ku ini tidak mencapai orang-orang yang aniaya.’


(Dan tunjukkanlah kepada kami) ajarkanlah kepada kami


(syariat ibadah haji kami) maksudnya cara-cara dan tempat-tempatnya


(dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).
Mereka bertobat kepada Allah padahal mereka maksum atau terpelihara dari dosa, disebabkan kerendahan hati mereka dan sebagai pelajaran bagi anak cucu mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Menurut Ibnu Jarir, keduanya bermaksud,
"Jadikanlah kami orang yang tunduk kepada perintah-Mu dan patuh dalam ketaatan kepada-Mu.
Dalam taat kami kepada-Mu, kami tidak akan mempersekutukan Engkau dengan seorang pun selain Engkau sendiri, dan tidak pula daam beribadah kepada-Mu mempersekutukan-Mu dengan seorang pun selain Engkau sendiri."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Raja’ ibnu Hibban Al-Husaini Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ma’qal ibnu Abdullah, dari Abdul Karim sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Dan jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Yakni jadikanlah kami orang yang ikhlas kepada Engkau, dan jadikanlah pula di antara anak cucu kami umat yang ikhlas kepada Engkau.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Al-Maqdami, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Amir, dari Salam ibnu Abu Muti’ sehubungan dengan takwil ayat ini:
Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Dikatakan bahwa keduanya memang orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, tetapi keduanya memohon hal tersebut kepada Allah hanyalah semata-mata untuk memperteguh dan menguatkan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menjawabnya,
"Aku kabulkan."
Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawabnya,
"Aku perkenankan permintaanmu."

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Bahwa yang dimaksud oleh keduanya adalah orang-orang Arab.


Tetapi menurut Ibnu Jarir, pendapat yang benar doa tersebut ditujukan kepada umum, mencakup orang-orang Arab dan bangsa lain, karena sesungguhnya di antara anak cucu Nabi Ibrahim adalah Bani Israil.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.
(QS. Al-A’raf [7]: 159)

Menurut kami apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir tidaklah bertentangan dengan yang dikatakan oleh As-Saddi, mengingat apa yang dikatakan oleh As-Saddi merupakan takhsis dari apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, dan bukan berarti meniadakan selain mereka.
Konteks ayat hanyalah berkaitan dengan bangsa Arab.
Untuk itu disebutkan sesudahnya:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka.
(QS. Al-Baqarah [2]: 129), hingga akhir ayat.

Yang dimaksud dengan rasul dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya buat mereka.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya yang lain, yaitu:

Dialah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka.
(QS. Al-Jumuah:
2)

Sekalipun demikian, bukan berarti risalah yang diemban olehnya hanya untuk orang-orang Arab saja, tetapi juga untuk kulit merah dan kulit hitam.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Katakanlah,
"Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua."
(QS. Al-A’raf [7]: 158)

Masih banyak ayat lainnya yang bermakna sama sebagai dalil pasti untuk pengertian ini.

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi IbrahimNabi Ismailmukmin lagi bertakwa, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al-Furqah:
74)

Memanjatkan doa seperti ini dianjurkan oleh syariat, karena sesungguhnya termasuk kesempurnaan cinta ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah memohon dikaruniai keturunan yang hanya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Karena itu, ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada IbrahimSesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.
(QS.
Al-Baqarah [2]: 124)

Maka Nabi Ibrahimfirman-Nya seperti berikut

"Dan (saya mohon juga) dari keturunanku."
Allah berfirman,
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman lain-nya, yaitu:

Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhalaberhala..
(QS. Ibrahim [14]: 35)

Telah disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.


Menurut Ibnu Juraij, dari Ata, makna ayat ini ialah:
"Tunjukkanlah kepada kami hal tersebut agar kami mengetahuinya."

Mujahid mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan manasikana ialah tempat-tempat penyembelihan kurban kami.
Hal yang semisal diriwayatkan pula dari Ata dan Qatadah.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Basyir, dari Khasif dan Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan perkataan Nabi Ibrahimfirman-Nya:
Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Bahwa Malaikat Jibril datang dan membawanya ke Baitullah, lalu Jibril berkata,
"Tinggikanlah fondasi-fondasi ini."
Maka Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah dan merampungkan pembangunannya, lalu Jibril menuntunnya dan membawanya ke Safa.
Jibril berkata,
"Ini termasuk syiarsyiar Allah."
Kemudian Jibril membawanya pergi ke Marwah dan berkata pula,
"Ini termasuk syiarsyiar Allah."
Lalu Jibril membawanya pergi ke Mina.
Ketika sampai di Aqabah, tiba-tiba iblis berdiri di bawah sebuah pohon, maka Jibril berkata,
"Bertakbirlah dan lemparlah dia!"
Maka Ibrahim bertakbir dan melemparnya.
Iblis pergi, lalu berdiri di bawah Jumrah Wusta.
Ketika Jibril dan Ibrahim melewatinya, maka Jibril berkata,
"Bertakbirlah dan lemparlah dia!"
Lalu Ibrahim bertakbir dan melemparnya.
Maka iblis yang jahat itu pun pergi, pada mulanya iblis yang jahat itu hendak memasukkan sesuatu ke dalam ibadah haji, tetapi dia tidak mampu.
Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Masy’aril Haram, lalu Jibril berkata,
"Ini adalah Masy’aril Haram."
Kemudian Jibril membawanya lagi hingga sampai di Arafah.
Jibril berkata,
"Sekarang kamu telah mengenal semua apa yang kuperlihatkan (kuperkenalkan) kepadamu,"
Kalimat ini dikatakannya sebanyak tiga kali.
Ibrahim menjawab,
"Ya."

Telah diriwayatkan dari Abul Mijlaz dan Qatadah hal yang semisal dengan riwayat di atas.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abul Asim Al-Ganawi, dari Abut Tufail, dari Ibnu Abbas yang menceritakan, sesungguhnya Nabi Ibrahim itu ketika diperlihatkan kepadanya tanda-tanda dan tempat-tempat ibadah haji, setan menampakkan dirinya di tempat sa’i, tetapi kedahuluan oleh Nabi Ibrahim.
Kemudian Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Mina, lalu Jibril berkata,
"Ini adalah tempat menginap orang-orang."
Ketika Jibril dan Ibrahim sampai di Jumrah Aqabah, maka setan menampakkan diri kepada Ibrahim, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga setan pergi.
Lalu Jibril membawanya ke Jumrah Wusta, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga pergi.
Kemudian Jibril membawa Ibrahim ke Jumrah Quswa, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga lenyap.
Kemudian Jibril membawanya ke Jam’an, lalu berkata kepadanya,
"Ini adalah Masy’ar."
Setelah itu Jibril membawanya ke Arafah, lalu berkata kepadanya,
"Apakah engkau telah mengenalnya?"

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 128 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 128 - Gambar 2
Statistik QS. 2:128
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’40 ruku’
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.8 (16 votes)
Tags:

2:128, 2 128, 2-128, Surah Al Baqarah 128, Tafsir surat AlBaqarah 128, Quran Al-Baqarah 128, Surah Al Baqarah ayat 128

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Asy Shyuura (Musyawarah) – surah 42 ayat 20 [QS. 42:20]

20. Pada ayat yang lalu, Allah menggambarkan orang-orang yang membantah terjadinya Kiamat, sedangkan dalam ayat ini Allah menggambarkan keuntungan di akhirat bagi orang-orang yang beriman. Barang siap … 42:20, 42 20, 42-20, Surah Asy Shyuura 20, Tafsir surat AsyShyuura 20, Quran Asy Syura 20, Asy-Syura 20, Surah Asy Syura ayat 20

QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 12 [QS. 41:12]

12. Ayat ini masih menjelaskan tentang penciptaan langit. Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam waktu dua masa, dan pada setiap langit Dia mewahyukan dan menetapkan urusan masing-masing. Kemudian lan … 41:12, 41 12, 41-12, Surah Fushshilat 12, Tafsir surat Fushshilat 12, Quran Fushilat 12, Fusilat 12, Fussilat 12, Surah Fusilat ayat 12

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah yang menjelaskan bahwa “Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta”, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah ....

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang ...

Benar! Kurang tepat!

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #19
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #19 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #19 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … lima empat tujuh enam tiga Benar! Kurang tepat! Percaya kepada Allah

Pendidikan Agama Islam #11

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Memperbaiki tauhid masyarakat Mengubah kebiasaan bertaklid masyarakat Melatih

Instagram