Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 125 [QS. 2:125]

وَ اِذۡ جَعَلۡنَا الۡبَیۡتَ مَثَابَۃً لِّلنَّاسِ وَ اَمۡنًا ؕ وَ اتَّخِذُوۡا مِنۡ مَّقَامِ اِبۡرٰہٖمَ مُصَلًّی ؕ وَ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ اَنۡ طَہِّرَا بَیۡتِیَ لِلطَّآئِفِیۡنَ وَ الۡعٰکِفِیۡنَ وَ الرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ
Wa-idz ja’alnaal baita matsaabatan li-nnaasi waamnan waattakhidzuu min maqaami ibraahiima mushallan wa’ahidnaa ila ibraahiima waismaa’iila an thahhiraa baitiya li-ththaa-ifiina wal ‘aakifiina warrukka’issujuud(i);
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat.
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail,
“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”
―QS. Al Baqarah [2]: 125

Daftar isi

And (mention) when We made the House a place of return for the people and (a place of) security.
And take, (O believers), from the standing place of Abraham a place of prayer.
And We charged Abraham and Ishmael, (saying),
"Purify My House for those who perform ― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 125]

وَإِذْ dan ketika

And when
جَعَلْنَا Kami jadikan

We made
ٱلْبَيْتَ rumah

the House
مَثَابَةً tempat ziarah/berkumpul

a place of return
لِّلنَّاسِ bagi manusia

for mankind
وَأَمْنًا dan tempat aman

and (a place of) security
وَٱتَّخِذُوا۟ dan jadikanlah

and (said), "Take
مِن dari

[from]
مَّقَامِ makam

(the) standing place
إِبْرَٰهِۦمَ Ibrahim

(of) Ibrahim,
مُصَلًّى tempat sholat

(as) a place of prayer."
وَعَهِدْنَآ dan Kami memerintahkan

And We made a covenant
إِلَىٰٓ kepada

with
إِبْرَٰهِۦمَ Ibrahim

وَإِسْمَٰعِيلَ dan Ismail

and Ishmael
أَن bahwa

[that],
طَهِّرَا mensucikan

"[You both] purify
بَيْتِىَ rumahKu

My House
لِلطَّآئِفِينَ untuk orang-orang yang thawaf

for those who circumambulate
وَٱلْعَٰكِفِينَ dan orang-orang yang i’tikaf

and those who seclude themselves for devotion and
وَٱلرُّكَّعِ dan orang-orang yang ruku

and those who bow down
ٱلسُّجُودِ orang-orang yang sujud

and those who prostrate."

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:125

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 125. Oleh Kementrian Agama RI


Diperintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan kaum Muslimin agar mengingat ketika Allah menjadikan Ka’bah sebagai tempat berkumpul manusia, tempat yang aman, dan menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.
Maqam Ibrahim ialah tempat berpijak bagi Ibrahim ketika membangun Ka’bah.

Perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismail itu untuk menenteramkan hati Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muslimin dalam menghadapi keingkaran orang kafir dan untuk menerangkan kepada orang musyrik, Yahudi dan Nasrani bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad itu seasas dengan agama yang dibawa Nabi Ibrahim, agama nenek moyang mereka.


Ada dua faedah yang dapat diambil dari ayat di atas sehubungan dengan didirikannya Ka’bah:


Pertama, tempat berkumpul bagi manusia untuk ibadah.

Sejak zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus sampai saat ini Ka’bah atau Mekah telah menjadi tempat berkumpul manusia dari segala penjuru, dari segala macam bangsa dalam rangka menghormati dan melaksanakan ibadah haji.
Hati mereka merasa tenteram tinggal di sekitar Ka’bah.

Setelah mereka kembali ke tanah air, hati dan jiwa mereka senantiasa tertarik kepadanya dan selalu bercita-cita ingin kembali lagi bila ada kesempatan.


Kedua, Allah ﷻ menjadikannya sebagai tempat yang aman.

Maksudnya, Allah menjadikan tanah yang berada di sekitar Masjidilharam sebagai tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana.
Sejak dahulu sampai saat ini orang-orang Arab mengagungkan dan menyucikannya.

Orang-orang Arab terkenal dengan sifat suka menuntut bela atas orang atau kabilah yang membunuh atau menyakiti atau menghina keluarganya.
Di mana saja mereka temui orang atau kabilah itu, penuntutan balas akan mereka laksanakan.

Kecuali bila mereka menemuinya di Tanah Haram, mereka tidak mengganggu sedikit pun.
Dalam pada itu sejak zaman dahulu banyak usaha dari orang-orang Arab sendiri atau dari bangsa-bangsa yang lain untuk menguasai Tanah Haram atau untuk merusak Ka’bah, tetapi selalu digagalkan Allah, seperti usaha Abrahah Raja Najasyi dengan tentaranya untuk menguasai Tanah Haram dan Ka’bah.
Mereka dihancurkan.
Allah ﷻ berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِ ﴿۱﴾ اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ ﴿۲﴾ وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَ ﴿۳﴾ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍ ﴿۴﴾ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ﴿۵﴾

Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?
Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
(al-Fil [105]: 1-5)

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا اٰمِنًا وَّيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَةِ اللّٰهِ يَكْفُرُوْنَ

Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok.
Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah?
(al-‘Ankabut [29]: 67)


Allah memerintahkan agar Maqam Ibrahim dijadikan sebagai tempat salat.
Faedah perintah itu ialah untuk menghadirkan perintah itu di dalam pikiran atau agar manusia mengikuti apa yang diperintahkan itu, seolah-olah perintah itu dihadapkan kepada mereka sehingga perintah itu tertanam di dalam hati mereka dan mereka merasa bahwa diri mereka termasuk orang yang diperintah.


Dengan demikian, maksud ayat ialah:
Orang-orang dahulu yang beriman kepada Ibrahim `alaihis salam diperintahkan agar menjadikan sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.
Perintah itu ditujukan pula kepada orang-orang yang datang kemudian, yang mengakui Ibrahim `alaihis salam, sebagai nabi dan rasul Allah dan mengakui Nabi Muhammad ﷺ, salah seorang dari anak cucu Ibrahim `alaihis salam sebagai nabi yang terakhir.


Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membersihkannya dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti kiasan.
Membersihkan dalam arti yang sebenarnya ialah membersihkan dari segala macam benda yang dihukumkan syirik, perbuatan menyembah berhala, perbuatan-perbuatan yang terlarang, bertengkar dan sebagainya.


Perintah membersihkan Ka’bah ini sekalipun ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail, tetapi termasuk juga orang-orang yang datang sesudahnya.
Allah menamakan Ka’bah yang didirikan itu dengan
"Rumah Allah"
(Baitullah).
Penamaan itu bukan berarti Allah tinggal di dalam atau di sekitar Ka’bah.
Tetapi maksudnya ialah bahwa Allah menjadikan rumah itu tempat beribadah kepada-Nya dan dalam beribadah menghadap ke arah Ka’bah.


Hikmah menjadikan Ka’bah sebagai
"rumah Allah"
dan menjadikan sebagai arah menghadap di dalam beribadah kepada Allah Pencipta dan Penguasa seluruh makhluk agar manusia merasa dirinya dapat langsung menyampaikan pujian, pernyataan syukur, permohonan pertolongan dan permohonan doa kepada Allah.


Manusia kurang dapat menyatakan pikirannya dalam beribadah kepada Allah bila tidak dilakukan di tempat tertentu dan menghadap ke arah tertentu.
Dengan adanya tempat tertentu dan arah tertentu, manusia dapat menambah imannya setiap saat, memperdalam pengetahuannya, dan mempertinggi nilai-nilai rohani dalam dirinya.
Karena dengan demikian dia merasakan seolah-olah Allah ada di hadapannya demikian dekat, sehingga tidak ada yang membatasi antaranya dengan Allah.



Pada ayat yang lain ditegaskan bahwa ke mana saja manusia menghadap dalam beribadah, berdoa akan menemui wajah Allah, dan sampai kepada-Nya, karena Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.


Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa penamaan Ka’bah sebagai rumah Allah hanyalah untuk mempermudah manusia dalam membulatkan pikirannya dalam beribadah.
Pada asasnya Allah Mahabesar, Maha Mengetahui lagi Mahaluas.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 125. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Renungkanlah pula kisah pembangunan Rumah Allah (Bayt Allah) di Mekah oleh Ibrahim dan Ismail, anaknya.
Di dalamnya terkandung pelajaran yang amat berharga bagi yang memiliki hati nurani bersih.


Kami menjadikan rumah peribadatan itu sebagai rujukan bagi seluruh makhluk dan tempat perlindungan yang damai.
Kami memerintahkan manusia untuk menjadikan lokasi berdirinya Ibrahim saat pembangunan rumah itu sebagai musala.


Kami memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk menjaga rumah itu dari segala unsur yang menodai kesuciannya, mempersiapkannya dengan baik untuk mereka yang

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ingatlah wahai Nabi, ketika Kami menjadikan Ka’bah sebagai tempat kembali bagi manusia, mereka mendatangi kemudian pulang ke negeri mereka, kemudian mereka kembali lagi kepadanya.
Kami menjadikannya sebagai tempat berkumpul dalam haji, umrah, thawaf, shalat dan sebagai tempat yang aman bagi mereka.


Tiada musuh yang menyerang mereka di dalamnya.
Dan Kami berfirman,
"Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat",
yaitu batu dimana Ibrahim berpijak di atasnya saat ia membangun Ka’bah.


Kami mewahyukan kapada Ibrahim dan anaknya Ismail agar menyucikan rumah Kami dari segala kotoran dan masjid dan shalat di dalamnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan ketika Kami menjadikan Baitullah itu) yakni Kakbah


(sebagai tempat kembali bagi manusia) maksudnya tempat berkumpul dari segenap pelosok


(dan tempat yang aman) maksudnya aman dari penganiayaan dan serangan yang sering terjadi di tempat lain.
Sebagai contohnya pernah seseorang menemukan pembunuh bapaknya, tetapi ia tidak mau membalas dendam di tempat ini,


(dan jadikanlah) hai manusia


(sebagian makam Ibrahim) yakni batu tempat berdirinya Nabi Ibrahim a.s.
ketika membangun Baitullah


(sebagai tempat salat) yaitu dengan mengerjakan salat sunah (Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail)


(yang bunyinya)


("Bersihkanlah rumah-Ku) dari berhala


(untuk orang-orang yang iktikaf) artinya yang bermukim di sana


(orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud!") artinya orang-orang yang salat.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Kesimpulan dari penafsiran mereka terhadap ayat ini ialah, bahwa Allah menyebutkan kemuliaan Baitullah dan segala sesuatu yang menjadi ciri khasnya yang mengandung ritual dan ketetapan hukum, yaitu Baitullah sebagai tempat berkumpulnya manusia.

Dengan kata lain, Allah menjadikannya sebagai tempat yang dirindukan dan disukai manusia, dan tiada suatu keperluan pun padanya ditunaikan oleh para pelakunya (yakni dia tidak akan merasa puas dengannya), sekalipun ia kembali lagi setiap tahunnya.
Hal itu sebagai perkenan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap doa Nabi Ibrahimalaihis salam di dalam firman-Nya:

Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka —sampai dengan firman-Nya— Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku
(QS. Ibrahim [14]: 37-40)

Allah menjadikannya sebagai tempat yang aman.
Barang siapa yang memasukinya, niscaya dia aman.
Sekalipun dia telah melakukan apa yang telah dilakukannya, lalu dia masuk ke dalamnya, niscaya dia akan aman.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, pernah ada seorang lelaki menjumpai pembunuh ayahnya atau saudara laki-lakinya di dalam Masjidil Haram, ternyata lelaki tersebut tidak berani mengganggunya.
Seperti yang digambarkan di dalam surat Al-Ma-idah, yaitu melalui firman-Nya:

Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu, sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 97)

Dengan kata lain, ia merupakan tempat yang dapat melindungi mereka dari kejahatan disebabkan keagungannya.

Ibnu Abbas mengatakan,
"Seandainya manusia tidak berhaji ke Baitullah itu, niscaya Allah akan membalikkan langit ke atas bumi."
Kemuliaan ini tiada lain berkat kemuliaan orang yang mula-mula membinanya (membangunnya), yaitu kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan),
"Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku."
(QS. Al-Hajj [22]: 26)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:


Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu), menjadi amanlah dia.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 96-97)

Di dalam ayat ini disebutkan perihal maqam Ibrahim dan perintah mengerjakan salat padanya, yaitu melalui firman-Nya:

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.

Imam Bukhari mengatakan dalam bab tafsir firman-Nya:
Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Masabah artinya tempat berkumpul bagi mereka, setelah itu mereka kembali (ke negerinya masing-masing).

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Humaid, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Umar pernah berkata:
Aku bersesuaian dengan Tuhanku, atau Tuhanku bersesuaian denganku dalam tiga perkara.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan sebagian maqam Ibrahim tempat salat."
Maka turunlah firman-Nya,
"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat"
(QS. Al-Baqarah [2]: 125).
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, orang yang masuk menemuimu ada yang baik dan ada yang fajir (durhaka), sekiranya engkau perintahkan kepada Ummahatul Mu’minin untuk memakai hijab."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat hijab.
Umar melanjutkan kisahnya,
"Telah sampai kepadaku berita celaan Nabi ﷺ terhadap salah seorang istrinya, maka aku masuk menemui mereka (istri-istri Nabi ﷺ) dan kukatakan kepada mereka, ‘Berhentilah kalian dari tuntutan kalian atau Allah benar-benar akan memberikan ganti kepada Rasul-Nya wanita-wanita yang lebih baik daripada kalian,’ hingga sampailah aku pada salah seorang istrinya yang mengatakan, ‘Hai Umar, adapun Rasulullah ﷺ, beliau belum pernah menasihati istri-istrinya hingga engkau sendirilah yang menasihati mereka.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian yang patuh’ (At Tahriim:
5), hingga akhir ayat."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Hamid, dari Anas yang mengatakan bahwa Umar pernah berkata:
Aku bersesuaian dengan Tuhanku dalam tiga perkara.
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan sebagian maqam Ibrahim tempat salat"
Maka turunlah firman-Nya,
"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat (QS. Al-Baqarah [2]: 125).
Dan aku berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang yang masuk menemui istri-istrimu ada orang yang takwa dan ada pula orang yang fasik, maka sekiranya engkau memerintahkan mereka memakai hijab."
Lalu turunlah ayat hijab.
Dan semua istri Rasulullah ﷺ berkumpul menemuinya dalam masalah cemburu, maka aku berkata kepada mereka,
"Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian."
Maka ternyata turunlah ayat yang berbunyi demikian.

Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a. pernah berkata:
Tuhanku bersesuaian denganku dalam tiga perkara, atau aku bersesuaian dengan Tuhanku dalam tiga perkara.
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan sebagian maqam Ibrahim tempal salat.?
Maka turunlah fiman-Nya,
"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat"
(QS. Al-Baqarah [2]: 125).
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan hijab buat istri-istrimu.
Maka turunlah ayat hijab.
Dan yang ketiga ialah ketika Abdullah ibnu Ubay mati, Rasulullah ﷺ datang untuk menyalatkan (jenazah)nya, maka aku berkata,
"Wahai Rasulullah, apakah engkau salatkan orang kafir lagi munafik ini!"
Nabi ﷺ bersabda,
"Diamlah kamu, hai Ibnul Khatab."
Maka turunlah firman-Nya,
"Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) orang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya"
(QS. At-Taubah [9]: 84).

Sanad asar ini berpredikat sahih.
Tidak ada pertentangan di antara asar ini dan asar sebelumnya, bahkan semuanya sahih.
Dan apabila majhum ‘adad bertentangan dengan mantuq, maka majhum ‘adad lebih diprioritaskan atasnya.

Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir:
Bahwa Rasulullah ﷺ berlari kecil sebanyak tiga kali putaran dan berjalan biasa sebanyak empat kali putaran.
Setelah beliau menyelesaikan (tawafnya), lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim dan salat dua rakaat di belakangnya.
Setelah itu beliau membacakan firman-Nya,
"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat"
(QS. Al-Baqarah [2]: 125).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Hatim ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir yang mengatakan:
Rasulullah ﷺ mengusap rukun, lalu berlari kecil sebanyak tiga kali (putaran) dan berjalan biasa sebanyak empat kali (putaran).
Kemudian beliau menuju ke maqam Ibrahim dan membacakan firman-Nya,
"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat"
(QS. Al-Baqarah [2]: 125).
Maka beliau menjadikan posisi maqam berada di antara diri beliau dan Baitullah, lalu beliau salat dua rakaat.


Imam Bukhari meriwayatkan berikut sanadnya melalui Amr ibnu Dinar yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar menceritakan,
"Rasulullah ﷺ tiba (di Mekah), lalu melakukan Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dan salat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim."

Semua yang disebutkan di atas termasuk dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang pernah dijadikan sebagai tangga tempat berdiri Nabi Ibrahimalaihis salam ketika membangun Ka’bah.
Ketika tembok Ka’bah makin tinggi, maka Ismail datang membawa batu tersebut agar Nabi Ibrahim berdiri di atasnya, sedangkan Nabi Ismail mengambilkan batu-batu untuk tembok Ka’bah, lalu diberikan kepadanya, dan Nabi Ibrahim memasang batu-batuan tersebut dengan tangannya untuk meninggikan bangunan Ka’bah.
Manakala telah rampung dari satu sisi, maka batu itu dipindahkan oleh Nabi Ismail ke sisi berikutnya, demikianlah seterusnya hingga semua tembok Ka’bah selesai dibangun, seperti yang akan dijelaskan nanti dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah, melalui riwayat Ibnu Abbas yang hadisnya berada pada Imam Bukhari.

Jejak bekas kedua telapak kaki Nabi Ibrahim tampak jelas pada batu tersebut, hal ini masih tetap terkenal, orang-orang Arab di zaman Jahiliah mengetahuinya.
Karena itulah Abu Talib pernah mengatakan dalam salah satu qasidah lamiyahnya, yang antara lain disebutkan:

Tempat berpijak Nabi Ibrahim di batu besar itu masih basah, ia berdiri di atasnya pada kedua telapak kakinya tanpa memakai terompah.

Kaum muslim masih sempat menjumpainya pula, seperti yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Yazid, dari Ibnu Syihab, bahwa Anas ibnu Malik pernah menceritakan kepada mereka kisah berikut.
Ia berkata,
"Aku pernah melihat maqam Ibrahim, padanya masih ada jejak bekas jari-jari kaki Nabi Ibrahimalaihis salam, juga bekas kedua telapak kakinya, hanya sudah pudar karena banyak diusap oleh orang-orang dengan tangan-tangan mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Mu’az, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Sesungguhnya mereka hanya diperintahkan untuk melakukan salat di dekatnya, tidak diperintahkan mengusapnya.
Akan tetapi, umat ini telah memaksakan diri melakukan sesuatu hal seperti yang pernah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.
Pernah dikisahkan kepada kami oleh orang yang melihat jejak bekas telapak kaki dan jari-jarinya masih tetap ada pada batu tersebut.
Akan tetapi, umat ini masih terus mengusap-usapnya hingga jejak tersebut pudar dan terhapus.

Menurut kami, pada mulanya (yakni di masa silam) maqam Ibrahim ini menempel pada dinding Ka’bah, tempatnya berada di sebelah pintu Ka’bah (Multazam) yang berada di dekat Hajar Aswad.
Tepatnya tempat maqam Ibrahim tersebut berada di sebelah kanan pintu Ka’bah bagi orang yang hendak memasukinya, yaitu di salah satu bagian yang terpisah.
Ketika Nabi Ibrahimalaihis salam selesai membangun Baitullah, ia meletakkan (menempelkan) batu tersebut pada dinding Ka’bah.
Atau setelah menyelesaikan pembangunannya beliau tinggalkan batu tersebut di tempat beliau menyelesaikannya.
Karena itu —hanya Allah Yang lebih mengetahui—, diperintahkan melakukan salat di tempat itu bila seseorang telah selesai dari Ibrahim, ketika beliau selesai dari membangun Ka’bah.

Sesungguhnya orang yang menjauhkannya dari Ka’bah adalah Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a., salah seorang imam yang mendapat petunjuk dan salah seorang Khulafaur Rasyidin yang kita semua diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka.
Umar r.a. adalah salah seorang di antara dua orang lelaki yang pernah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ dalam salah satu sabdanya, yaitu:

Ikutilah oleh kalian dua orang yang sesudahnya, yaitu Abu Bakar dan Umar.

Dia adalah orang yang Alquran diturunkan bersesuaian dengan idenya menganjurkan melakukan salat di dekat maqam Ibrahim.
Karena itu, tiada seorang pun di antara para sahabat yang memprotes perbuatannya (menjauhkan maqam Ibrahim dari dinding Ka’bah).

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Ali ibnul Husain Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Husain ibnul Fadl Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Al-Abu Bakar Ahmad ibnu Kamil, telah menceritakan kepada kami Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Abu Sabit, telah menceritakan kepada kami Ad-Darawardi, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. yang mengatakan:
Bahwa maqam (Ibrahim) dahulu di masa Rasulullah ﷺ dan masa Abu Bakar r.a. menempel pada (dinding) Ka’bah, kemudian dijauhkan oleh Umar ibnul Khattab r.a.
Sanad hadis ini berpredikat sahih bersama riwayat-riwayat yang telah disebutkan sebelumnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Amr Al-Adani yang mengatakan bahwa Sufyan (yakni Ibnu Uyaynah, imam ulama Mekah di masanya) pernah mengatakan bahwa dahulu di masa Nabi ﷺ maqam Ibrahim merupakan bagian dari dinding Ka’bah, kemudian dipindahkan oleh Umar ke tempatnya yang sekarang setelah Nabi ﷺ wafat dan setelah firman-Nya:
Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail.
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Allah memerintahkan kepada keduanya untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan Baitullah jangan terkena sesuatu pun dari hal tersebut.

Sa’id ibnu Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Bersihkanlah rumah-Ku ini untuk orang-orang yang Al-Baqarah [2]: 125)
Yang dimaksud dengan dibersihkan ialah dibersihkan dari berhalaberhala.

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Bersihkanlah rumah-Ku ini untuk orang-orang yang Al-Baqarah [2]: 125)
Sesungguhnya perintah membersihkan Baitullah ini ialah membersihkannya dari berhalaberhala, perbuatan cabul (Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaid ibnu Umair, Abul Aliyah, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Ata, dan Qatadah sehubungan dengan takwil firman-Nya,
"Bersihkanlah rumah-Ku oleh kamu berdua"
(QS. Al-Baqarah [2]: 125), yakni dari kemusyrikan, dengan kalimat La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah).
Baitullah merupakan hal yang sudah dikenal.

Dari Sa’id ibnu Jubair, disebutkan bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya,
"Lit taifin."
Yang dimaksud ialah orang yang datang kepada Baitullah dari negeri lain, sedangkan yang dimaksud dengan al-‘akifin ialah orang-orang yang mukim (penduduk asli).
Hal yang sama dikatakan pula dari Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas, bahwa keduanya menafsirkan Yahya Al-Qattan meriwayatkan dari Abdul Malik (yakni Ibnu Abu Sulaiman), dari Ata sehubungan dengan tafsir firman-Nya,
"Al-‘akifin"
bahwa al-‘akifin ialah orang yang datang dari pelbagai kota, lalu bermukim di Baitullah.
Ata mengatakan kepada kami, sedangkan kami tinggal bersebelahan dengan Baitullah,
"Kalian adalah orang-orang yang i’tikaf."

Waki’ meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Huzali, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa apabila seseorang duduk padanya, maka dia termasuk orang-orang yang i’tikaf.

Menurut kami, di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Ibnu Umar sering tidur di dalam Masjid Rasul (di Madinah) ketika ia masih jejaka.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud.


Ibnu Jarir mengatakan, makna ayat ini ialah
"Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk menyucikan rumah-Ku bagi orang-orang yang Baitullah yang ditujukan kepada keduanya ialah agar menyucikannya dari berhalaberhala dan dari penyembahan kepada berhalaberhala di dalamnya, juga menyucikannya dari segala kemusyrikan.

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan hipotesisnya.
Untuk itu dia mengatakan, jika timbul pertanyaan
"Apakah sebelum Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, di dalam Ka’bah terdapat sesuatu dari hal tersebut yang Nabi Ibrahim diperintahkan untuk memberantasnya?"
Sebagai jawabannya dapat dikatakan dua alasan berikut.

Pertama, Allah memerintahkan keduanya (Ibrahim dan Ismail) untuk menyucikan Baitullah dari penyembahan segala macam berhala dan patung-patung, yang hal ini dilakukan di masa silam di zaman Nabi Nuhalaihis salam agar hal tersebut menjadi teladan bagi orang-orang sesudah zaman keduanya, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai seorang imam yang diikuti.
Seperti apa yang dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid sehubungan dengan takwil firman-Nya:
Bersihkanlah rumah-Ku olehmu berdua.
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Yakni dari segala macam berhala yang disembah dan diagungkan oleh orang-orang musyrik di masa lalu.

Menurut kami, jawaban ini menyimpulkan bahwa dahulu di masa sebelum Nabi Ibrahimalaihis salam dilakukan penyembahan terhadap berhala di tempat tersebut.
Tetapi hal ini memerlukan bukti berupa dalil dari orang yang ma’sum, yaitu dari Nabi ﷺ

Kedua, Allah memerintahkan keduanya ikhlas dalam membangunnya karena Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Maka keduanya membangunnya seraya menyucikannya dari kemusyrikan dan keraguan, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh.
(QS. At-Taubah [9]: 109)

Demikian pula dalam firman-Nya:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail,
"Bersihkanlah rumah-Ku."


Artinya, bangunlah rumah-Ku oleh kamu berdua dalam keadaan bersih dan suci dari kemusyrikan dan keraguan.
Seperti apa yang dikatakan oleh As-Saddi, makna an-tahhira baitiya ialah bangunlah oleh kamu berdua rumah-Ku ini buat orang-orang yang Kesimpulan dari jawaban di atas ialah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Ibrahimalaihis salam dan Nabi Ismailalaihis salam membangun Ka’bah atas nama-Nya semata —tiada sekutu bagi-Nya— buat orang-orang yang salat di dalamnya dari kalangan orang-orang yang rukuk dan sujud, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan),
"Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang rukuk dan sujud."
(QS. Al-Hajj [22]: 26)
serta beberapa ayat berikutnya.

Fuqaha (para ahli fiqih) berbeda pendapat mengenai masalah manakah yang lebih afdal antara salat di Baitullah dan Imam Malik rahimahullah mengatakan, Baitullah bagi penduduk kota-kota besar adalah lebih utama.
Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa salat lebih afdal secara mutlak.
Alasan masing-masing dari kedua pendapat ini disebutkan secara rinci di dalam pembahasan hukumhukum.

Maksud dan tujuan perintah tersebut adalah untuk membalas perbuatan orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah di rumah-Nya yang dibangun atas dasar menyembah-Nya semata dan tiada sekutu bagi-Nya.
Kemudian selain itu mereka menghalang-halangi kaum mukmin yang memilikinya, tidak boleh memasukinya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.
(QS. Al-Hajj [22]: 25)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan, sesungguhnya Baitullah itu hanya dibangun bagi orang yang menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, baik dengan cara salat.
Selanjutnya di dalam surat Al-Hajj disebutkan ketiga bagian dari salat, yaitu berdirinya, rukuknya, dan sujudnya, tetapi tidak disebutkan al-‘akifin karena telah disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu:
baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.
(QS. Al-Hajj [22]: 25)

Sedangkan di dalam ayat ini (QS. Al-Hajj [22]: 25)
tidak disebutkan rukuk, sujud, dan qiyam, tetapi hanya disebutkan taifin dan ‘akifin, karena sesungguhnya telah diketahui bahwa tiada rukuk dan tiada sujud melainkan sesudah qiyam (berdiri).
Di dalam ayat ini terkandung pula bantahan terhadap orang-orang yang tidak mau berhaji kepadanya dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Karena sesungguhnya mereka mengakui keutamaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan mereka pun mengetahui bahwa rumah itu (Baitullah) dibangun untuk ibadah haji dan umrah serta ibadah lainnya, juga untuk i’tikaf serta melakukan salat padanya, sedangkan mereka tidak mengerjakan sesuatu pun dari hal tersebut.
Maria mungkin mereka dinamakan sebagai orang-orang yang menganut agama Nabi Ibrahim, sedangkan mereka sendiri tidak mengerjakan apa yang telah disyariatkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim?

Sesungguhnya Nabi Musa ibnu Imran serta nabi-nabi lainnya telah melakukan haji ke Baitullah, seperti yang telah diberitakan oleh orang yang di-ma’sum yang tidak sekali-kali berbicara dari dirinya sendiri melainkan hanya semata-mata wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dengan demikian, berarti makna ayat adalah seperti berikut Wa’ahidna ila Ibrahima, Kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail melalui wahyu kami,
"Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang rukuk, dan yang sujud."
Dengan kata lain, bersihkanlah rumah-Ku dari kemusyrikan dan keraguan, dan bangunlah rumah-Ku dengan ikhlas karena Allah, yang kelak akan menjadi tempat bagi orang-orang yang i’tikaf, yang rukuk, dan yang sujud.

Pengertian menyucikan masjid diambil dari ayat ini dan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Bertasbih kepada Allah di masjidmasjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang.
(An Nuur:
36)

Sedangkan dalil dari sunnah banyak hadis yang memerintahkan membersihkan masjidmasjid dan memberinya wewangian serta lain-lainnya, seperti membersihkannya dari kotoran dan Nabi ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya masjidmasjid itu dibangun hanya untuk tujuan yang sesuai dengan fungsinya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 125

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Umar.
Bahwa ‘Umar menerangkan bahwa pendapatnya bersesuaian dengan firman Allah di dalam tiga perkara, yaitu 1) ketika ia mengemukakan usul: “Wahai Rasulallah.
Tidakkah sebaiknya tuan jadikan maqaam Ibrahim* ini tempat shalat?” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah:125)** ) ketika ia mengusulkan: “Telah berkunjung kepada istri-istri tuan orang baik dan orang jahat.
Bagaimana sekiranya tuan memerintahkan supaya dipasang hijab (penghalang).”

Maka turunlah ayat hijab (al-Ahzab: 53); dan 3) ketika Rasulullah ﷺ diboikot oleh istri-istrinya karena cemburu, maka ‘Umar berkata kepada mereka: “Mudah-mudahan Rabb-nya menceraikan kamu, dan menggantikan kamu dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu.” Maka turunlah ayat lainnya (at-Tahriim: 5) yang membenarkan peringatan ‘Umar terhadap istri-istri Nabi.

*maqaam Ibrahim: bekas telapak Nabi Ibrahimalaihis salam pada batu ketika membangun Ka’bah yang terdapat dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi.

**sejak itu maqaam Ibrahim dijadikan tempat imam berdiri bagi orang-orang yang shalat di Masjidil Haram, dan disunahkan shalat sunah Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Jabir.
Bahwa ketika Rasulullah ﷺ Umar kepadanya: “Ini adalah maqaam bapak kita, Ibrahim.” Nabi bersabda: “Benar.” ‘Umar berkata lagi: “Apakah tidak sebaiknya kita menjadikannya tempat shalat?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 125).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Amr bin Mainun yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khaththab.
Bahwa ‘Umar bin al-Khaththab lewat di maqaam Ibrahim bersama Rasulullah.
Umar berkata: “Wahai Rasulallah, apakah kita tidak berdiri shalat di maqaam kekasih Allah (Ibrahimalaihis salam)?” Rasulullah menjawab:
“Benar.” Kemudian ‘Umar berkata: “Apakah kita tidak menjadikannya tempat shalat?” Tiada lama kemudian turunlah ayat ini (al-Baqarah: 125).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 125

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata,
telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Humaid dari Anas bin Malik berkata Umar bin Al Khaththab, Aku memiliki pemikiran yang aku ingin jika itu dikabulkan oleh Rabbku dalam tiga persoalan. Maka aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, seandainya Maqam Ibrahim kita jadikan sebagai tempat shalat? Lalu turunlah ayat: Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat (QS. Al Baqarah: 125). Yang kedua tentang hijab. Aku lalu berkata,
"Wahai Rasulullah, seandainya Tuan perintahkan isteri-isteri Tuan untuk berhijab karena yang berkomunikasi dengan mereka ada orang yang shalih dan juga ada yang fajir (suka bermaksiat)." Maka turunlah ayat hijab. Dan yang ketiga, saat isteri-isteri beliau cemburu kepada beliau (sehingga banyak yang membangkang), aku katakan kepada mereka, "Semoga bila Beliau menceraikan kalian Rabbnya akan menggantinya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari kalian." Maka turunlah ayat tentang masalah ini. Abu Abdullah berkata,
telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam berkata,
telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub berkata,
telah menceritakan kepadaku Humaid ia berkata,
Aku mendengar Anas seperti hadits ini.

Shahih Bukhari, Kitab Shalat – Nomor Hadits: 387

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum haji dan umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 125 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 125 - Gambar 2
Statistik QS. 2:125
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’ 40 ruku’
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.5 (13 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

2:125, 2 125, 2-125, Surah Al Baqarah 125, Tafsir surat AlBaqarah 125, Quran Al-Baqarah 125, Surah Al Baqarah ayat 125

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Baqarah

۞ QS. 2:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:4 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:5 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 2:7 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:8 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:9 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:10 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:11 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:12 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:16 • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:17 • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:18 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:19 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:20 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:21 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 2:24 • Memasuki neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:25 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga • Makanan dan minuman ahli surga

۞ QS. 2:26 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:27 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:28 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:29 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:31 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:32 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:33 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:36 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:37 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:38 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:39 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:40 • Allah menepati janji

۞ QS. 2:41 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:46 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 2:48 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:51 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:52 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:54 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:56 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:57 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:58 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:59 Syirik adalah kezaliman • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:61 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:62 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:63 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:64 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:65 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:66 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:70 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:72 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:73 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:74 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:75 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 2:76 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:77 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:79 • Mendustai Allah • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:80 • Mendustai Allah • Allah menepati janji

۞ QS. 2:81 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:82 • Pahala iman • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:83 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 2:85 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:86 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:87 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:89 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:90 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:91 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:92 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:93 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:94 • Mendustai Allah • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:95 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 2:97 • Peranan dan tugas Jibril • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:98 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Kewajiban beriman pada para rasul • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:99 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:101 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:102 • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Sifat iblis dan pembantunya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 2:103 • Pahala iman

۞ QS. 2:104 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:105 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:106 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:107 • Segala sesuatu milik Allah • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 2:108 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:109 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:110 Al Bashir (Maha Melihat) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian

۞ QS. 2:111 • Mendustai Allah

۞ QS. 2:112 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:113 • Kepastian hari kiamat

۞ QS. 2:114 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:116 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 2:117 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Badi’ (Maha Pencipta)

۞ QS. 2:118 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:119 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:120 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:121 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:123 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 2:124 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:126 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:127 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:128 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:129 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:130 Islam agama para nabi

۞ QS. 2:131 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 2:132 Tauhid UluhiyyahIslam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:133 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi •

۞ QS. 2:134 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:135 Islam agama para nabi • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:136 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 2:137 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi

۞ QS. 2:138 Islam agama fitrah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:139 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:140 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:141 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:142 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:143 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Orang Islam sebagai saksi Allah terhadap manusia • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:144 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:145 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:146 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:147 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:148 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 2:149 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:152 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:154 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 2:157 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:158 Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:160 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:162 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:163 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Wahid (Maha Esa) •

۞ QS. 2:164 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:165 Al Qawiy (Maka Kuat) • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman • Siksa orang kafir • Dosa terbesar

۞ QS. 2:166 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 2:167 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 2:168 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 2:169 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:170 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:171 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:172 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:173 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:174 • Sifat Kalam (berfirman) • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Balasan dan pahala dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:175 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:176 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:177 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:178 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:181 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:182 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:183 Puasa rukun Islam

۞ QS. 2:184 • Toleransi Islam

۞ QS. 2:185 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Toleransi IslamHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:186 • Al Qarib (Maha Dekat) • Keutamaan iman

۞ QS. 2:187 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:191 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:192 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:193 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 2:194 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:196 • Siksaan Allah sangat pedih • Haji rukun Islam

۞ QS. 2:197 • Keluasan ilmu Allah • Haji rukun Islam • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:198 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:199 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:200 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:201 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:202 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:203 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Toleransi Islam

۞ QS. 2:204 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:205 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:206 • Perlunya saling menasehati antara sesama • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:207 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:208 • Menjaga diri dari syetan • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:209 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:210 • Kedahsyatan hari kiamat • Ancaman bagi orang