Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 115


وَ لِلّٰہِ الۡمَشۡرِقُ وَ الۡمَغۡرِبُ ٭ فَاَیۡنَمَا تُوَلُّوۡا فَثَمَّ وَجۡہُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
Walillahil masyriqu wal maghribu fa-ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullahi innallaha waasi’un ‘aliimun;

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
―QS. 2:115
Topik ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
2:115, 2 115, 2-115, Al Baqarah 115, AlBaqarah 115, Al-Baqarah 115
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 115. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan pemilikan-Nya terhadap seluruh alam ini.
Dia sendiri yang mengaturnya, mengetahui apa saja yang terjadi di dalamnya, baik kecil maupun besar.

Firman Allah:

.....Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

(Q.S Al Hadid: 4)

Dan firman Allah:

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya, dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.
(Q.S Al Mujadalah: 7)

Dan firman Allah:

(Mereka berkata), "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau.
(Q.S Al Mukmin: 7)

Karena itu pada azaznya ke mana saja manusia menghadapkan mukanya dalam berdoa atau beribadah, ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, ke bawah, ke atas dan sebagainya, pasti doa dan ibadahnya itu didengar Allah subhanahu wa ta'ala dan sampai kepada-Nya.

Ayat ini menyalahkan kepercayaan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala mempunyai tempat, bahwa doa atau ibadat akan didengar dan sampai kepada Allah bila hamba yang berdoa dan beribadat itu menghadap ke arah tertentu saja atau suatu tempat yang dianggap lebih mulia dari tempat yang lain dan sebagainya.

Sebab ayat ini diturunkan ialah: Diriwayatkan oleh Jabir sebagai berikut: "Kami telah diutus oleh Rasulullah ﷺ ke Syria yang dahulu kami pernah ke sana.
Sedang kami berada di tengah perjalanan kegelapan mencekam kami sehingga kami tidak mengetahui arah kiblat.
Segolongan di antara kami berkata, "Kami telah mengetahui arah kiblat, yaitu di sana, di arah utara." Maka mereka salat dan membuat garis di tanah.
Dan sebahagian kami berkata, "Arah kiblat di sana di arah selatan." Dan mereka membuat garisan di tanah.
Tatkala hari subuh dan matahari pun terbit, garis itu mengarah ke arah yang bukan arah kiblat.
Tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan kepada Rasulullah ﷺ tentang peristiwa itu, maka Nabi ﷺ.
diam dan turunlah ayat ini.

Berdasarkan ayat di atas dan sebab turunnya dapat ditetapkan hukum sebagai berikut:

1.
Pada azasnya kiblat itu ialah seluruh arah.
Ke mana saja hamba menghadap pasti menemui wajah Allah.
Untuk memelihara kesatuan dan persatuan kaum muslimin ditetapkanlah Kakbah sebagai arah kiblat.

2.
Apabila keadaan hari sangat gelap dan arah kiblat tidak diketahui, maka boleh salat menghadap ke arah yang diyakini sebagai kiblat.
Jika ternyata kemudian bahwa arah itu bukan arah kiblat maka salatnya tetap sah.

3 .Bagi orang yang berada di atas kendaraan yang sedang berjalan, ia boleh berkiblat ke arah yang ia sukai.
Sebahagian ulama menganjurkan berkiblat ke arah depan dari kendaraan itu.

Al Baqarah (2) ayat 115 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 115 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 115 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalaulah orang-orang musyrik itu telah berhasil melarang orang-orang Muslim untuk salat di al-Masjid al-Haram itu bukan berati bahwa mereka dapat mencegah orang-orang Muslim itu untuk melakukan salat dan beribadah kepada Allah di tempat lain, karena pada dasarnya semua arah dan kawasan di bumi itu adalah milik Allah.
Dia akan menyambut dan menerima salat orang-orang Muslim dengan perkenan-Nya di mana pun mereka berada.
Sesungguhnya Allah Mahalapang dan tidak bermaksud mempersulit hamba- hamba-Nya.
Dia Mahatahu niat seorang yang menghadap kepada-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ketika orang-orang Yahudi mengecam penggantian kiblat atau tentang salat sunah di atas kendaraan selama dalam perjalanan dengan menghadap ke arah yang dituju, turunlah ayat, (Dan milik Allahlah timur dan barat) karena keduanya merupakan ujung dan pangkalnya, (maka ke mana saja kamu menghadap) maksudnya menghadapkan mukamu di waktu salat atas titah-Nya, (maka di sanalah) di arah sanalah (wajah Allah) maksudnya kiblat yang diridai-Nya.
(Sesungguhnya Allah Maha Luas) maksudnya kemurahan-Nya meliputi segala sesuatu (lagi Maha Mengetahui) tentang pengaturan makhluk-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hanya milik Allah dua arah:
arah terbit matahari dan arah terbenam matahari, termasuk diantara keduanya.
Dialah penguasa bumi seluruhnya.
Ke arah manapun kalian menghadap dalam shalat dengan perintah dari Allahuntuk kalian, maka kalian melakukannya demi memncari wajah-Nya, kalian tidak keluar dari ketaatan dan kekuasaan-Nya.
Sesungguhnya Allah adalah pemilik rahmat yang luas kepada hamba-hamba-Nya, Maha Mengetahui perbuatan mereka, tiada sesuatupun yang samar bagii-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Makna ayat ini —hanya Allah yang mengetahuinya— merupakan penghibur bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang telah diusir dari Mekah dan berpisah meninggalkan masjid dan tempat salat mereka.
Pada mulanya Rasulullah ﷺ salat di Mekah menghadap ke arah Baitul Maqdis, sedangkan Ka'bah berada di hadapannya.
Ketika beliau ﷺ tiba di Madinah, beliau masih menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memalingkannya ke arah Ka'bah.
Karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.

Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam telah meriwayatkan di dalam kitab Nasikh wal Mansukh, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Juraij dan Usman ibnu Ata, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa bagian permulaan dari Al-Qur'an yang dimansukh bagi kami menurut apa yang diceritakan kepada kami —hanya Allah Yang lebih mengetahui— adalah mengenai masalah kiblat.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.

Maka Rasulullah ﷺ menghadap ke arah Baitul Maqdis dalam salatnya dan meninggalkan arah Baitul 'Atiq (Ka'bah).
Kemudian Allah me-nasakh-nya dan memalingkannya ke arah Baitul 'Atiq, yaitu melalui firman-Nya:

Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.
Dan di mana saja kamu sekalian berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.
(Al Baqarah:150)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa permulaan ayat Al-Qur'an yang di-mansukh adalah mengenai masalah kiblat.
Hal ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah yang penduduknya antara lain adalah orang-orang Yahudi.
Maka Allah memerintahkannya untuk menghadap ke arah Baitul Maqdis (dalam salatnya), hingga orang-orang Yahudi gembira melihat hal itu.
Rasulullah ﷺ menghadap ke arah Baitul Maqdis (dalam salatnya) selama belasan bulan, padahal Rasulullah ﷺ sendiri lebih menyukai kiblat Nabi Ibrahim 'alaihis salam (yaitu Ka'bah).
Karena itu, beliau ﷺ selalu menengadahkan pandangannya ke langit.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit —sampai dengan firman-Nya— maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.
(Al Baqarah:144-150)

Melihat hal tersebut orang-orang Yahudi merasa curiga, lalu mereka berkata, "Apakah gerangan yang memalingkan mereka dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang pada mulanya mereka telah berkiblat kepada-nya?"
Lalu Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:

Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat." (Al Baqarah:142)

Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya,

Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah

Yang dimaksud dengan wajah Allah ialah kiblat Allah, yakni ke mana pun kamu menghadap, di situlah kiblat Allah, baik ke arah timur ataupun ke arah barat.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya,

Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah

yakni di mana pun kalian berada, maka menghadaplah kalian ke arah kiblat yang kalian sukai, yaitu Ka'bah.

Sesudah mengetengahkan riwayat asar di atas, Ibnu Abu Hatim meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas sebuah asar mengenai pe-nasakh-an kiblat ini melalui Ata, dari Ibnu Abbas.
Telah diriwayatkan dari Abul Aliyah, Al-Hasan, Ata Al-Khurrasani, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan Zaid ibnu Aslam hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya bahkan ada yang mengatakan bahwa Allah menurunkan ayat ini sebelum ada kewajiban menghadap ke arah Ka'bah.
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat ini hanya untuk memberitahukan kepada Nabi-Nya dan para sahabatnya bahwa dalam salatnya mereka boleh menghadapkan wajah ke arah mana pun yang mereka sukai di antara arah timur dan barat.
Karena sesungguhnya tidak sekali-kali mereka menghadapkan wajahnya ke suatu arah mana pun melainkan Allah subhanahu wa ta'ala berada di arah tersebut, mengingat semua arah timur dan barat hanyalah milik-Nya belaka, dan bahwa tiada suatu arah pun melainkan Allah subhanahu wa ta'ala selalu berada padanya, seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:

Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.
(Al Mujaadalah:7)

Mereka mengatakan bahwa setelah itu keharusan yang ditetapkan atas mereka adalah menghadap ke arah Masjidil Haram.
Demikianlah menurut keterangan Ibnu Jarir.
Mengenai penjelasan yang mengatakan bahwa tiada suatu tempat pun melainkan Allah selalu berada padanya, jika yang dimaksudkan adalah ilmu Allah subhanahu wa ta'ala, berarti benar.
Tetapi jika yang dimaksudkan adalah Zat-Nya, maka tidak benar, karena Zat Allah tidak dapat dibatasi oleh sesuatu pun dari makhluk-Nya (yakni Allah tidak membutuhkan tempat).
Mahasuci Allah dari hal tersebut, dan Maha Tinggi Dia dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, bahkan ayat ini diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya sebagai izin dari-Nya boleh menghadap ke arah mana pun —baik ke arah timur atau-pun ke arah barat— dalam salat sunatnya, juga dalam perjalanannya, ketika perang sedang berkobar, dan dalam keadaan yang sangat menakutkan.

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik alias Ibnu Abu Sulaiman, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah salat menghadap ke arah mana unta kendaraannya menghadap, lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan hal itu berdasarkan takwil ayat berikut:

maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.

Asar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai serta Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih melalui berbagai jalur dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman dengan lafaz seperti tersebut di atas.
Asal hadis ini berada di dalam kitab Sahihain (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) melalui hadis Ibnu Umar dan Amir ibnu Rabi'ah, tetapi tanpa menyebutkan ayat.

Di dalam kitab Sahih Bukhari melalui hadis Nafi’ dari Ibnu Umar r.a.
disebutkan bahwa Ibnu Umar apabila ditanya mengenai salat Khauf, ia menggambarkan (memperagakan)nya.
Kemudian ia mengatakan, "Apabila keadaan semakin menakutkan, maka mereka salat dengan berjalan kaki, ada pula yang berkendaraan, ada yang menghadap ke arah kiblat ada pula yang tidak menghadap ke arah kiblat." Selanjutnya Nafi' mengatakan, "Aku merasa yakin bahwa Ibnu Umar tidak sekali-kali menyebutkan hal ini melainkan dari Nabi ﷺ"

Imam Syafii, menurut pendapat yang masyhur darinya, tidak membedakan antara perjalanan biasa dan perjalanan untuk melakukan perang.
Keduanya memang bersumber dari dia, ia memperbolehkan salat tatawwu' di atas kendaraan (dalam dua keadaan tersebut).
Pendapat ini dianut oleh Imam Abu Hanifah, lain halnya dengan Imam Malik dan jamaahnya yang berpendapat berbeda.
Sedangkan Abu Yusuf dan Abu Sa'id Al-Astakhri memilih pendapat boleh melakukan salat sunat di atas kendaraan ketika di Mesir.
Pendapat ini diriwayatkan oleh Abu Yusuf melalui Anas ibnu Malik r.a., tetapi Abu Ja'far At-Tabari memilih pendapat ini dan pendapat yang membolehkannya bagi orang yang berjalan kaki.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama yang lainnya lagi mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang buta sama sekali akan arah kiblat hingga mereka tidak mengetahui mana arahnya, lalu mereka melakukan salatnya menghadap ke arah yang berbeda-beda.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan kepunyaan Akulah timur dan barat itu.
Maka ke arah mana pun kalian menghadapkan wajah kalian, di situlah terdapat wajah-Ku yang merupakan kiblat kalian, hal ini sebagai pemberitahuan buat kalian bahwa salat kalian harus tetap dilangsungkan."

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi' As-Samman, dari Asim ibnu Ubaidillah, dari Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi'ah, dari ayahnya yang menceritakan:

Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ di suatu malam yang gelap gulita dan kami turun istirahat di suatu tempat, lalu seseorang mulai mengambil batu-batu untuk membuat masjid (tempat sujud) untuk salat.
Ketika pagi harinya, ternyata jelas bagi kami bahwa kami telah salat bukan menghadap ke arah kiblat.
Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tadi malam salat bukan menghadap ke arah kiblat." Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya,

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.
(Al Baqarah:115), hingga akhir ayat.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadis yang semisal melalui Sufyan ibnu Waki', dari ayahnya, dari Abur Rabi' As-Samman.
Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Mahmud ibnu Gailan, dari Waki', sedangkan Ibnu Majah, dari Yahya ibnu Hakim, dari Abu Daud, dari Abur Rabi' As-Samman.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, dari Sa'id ibnu Sulaiman, dari Ar-Rabi' As-Samman yang nama aslinya ialah Asy'as ibnu Sa'id Al-Basri, dia orang yang daif hadisnya.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan, tetapi sanadnya tidaklah demikian, dan kami tidak mengetahuinya kecuali melalui hadis Al-Asy'as As-Samman, sedangkan Asy'as dinilai lemah hadisnya.
Menurut kami (penulis), gurunya juga (yaitu Asim) dinilai lemah, bahkan menurut Imam Bukhari hadisnya dinilai munkar.
Ibnu Mu'in mengatakan bahwa dia orangnya daif, hadisnya tidak dapat dijadikan hujah.
Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadisnya berpredikat matruk.

Sesungguhnya telah diriwayatkan dari jalur yang lain melalui Jabir.
Untuk itu, Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkan di dalam tafsir ayat ini bahwa telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ali ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Syabib, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdullah ibnul Hasan yang mengatakan bahwa di dalam kitab catatan ayahnya ia pernah menemukan hal berikut, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdul Malik Al-Azrami, dari Ata ibnu Jabir yang menceritakan hadis berikut:

Rasulullah ﷺ mengutus suatu pasukan yang aku termasuk salah satu anggotanya, maka kami mengalami malam yang gelap gulita hingga kami tidak mengetahui arah kiblat.
Lalu segolongan orang dari kami berkata, "Sesungguhnya kami telah mengetahui arah kiblat mengarah ke sebelah ini, yakni sebelah utara." Maka mereka melakukan salat dan membuat garis-garis sebagai tandanya, ketika mereka berada di pagi hari dan matahari terbit, ternyata garis-garis tersebut bukan menghadap ke arah kiblat.
Ketika kami kembali dari perjalanan misi kami, maka kami tanyakan hal itu kepada Nabi ﷺ, tetapi beliau diam (tidak menjawab), dan Allah menurunkan firman-Nya,

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah

Imam Daruqutni mengatakan, telah dibacakan kepada Abdullah ibnu Abdul Aziz, sedangkan aku mendengarkannya.
Si pembaca hadis mengatakan, telah menceritakan kepada kalian Daud ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid Al-Wasiti, dari Muhammad ibnu Salim, dari Ata, dari Jabir yang menceritakan, "Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, kemudian awan menutupi (pandangan kami) hingga kami kebingungan.
Maka kami berbeda pendapat dalam masalah kiblat, dan masing-masing orang dari kami melakukan salat dengan menghadap ke arahnya masing-masing, dan seseorang di antara kami membuat garis di depannya sebagai tanda untuk mengetahui tempat kami menghadap.
Kemudian kami ceritakan hal tersebut kepada Nabi ﷺ, dan ternyata beliau tidak memerintahkan kami untuk mengulangi salat kami, lalu beliau ﷺ bersabda, "Salat kalian telah lewat"

Kemudian Imam Daruqutni mengatakan bahwa demikianlah apa yang telah dikatakan oleh Muhammad ibnu Salim.
Sedangkan selain Imam Daruqutni meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Azrami, dari Ata, tetapi keduanya (Muhammad ibnu Salim dan Muhammad ibnu Abdullah Al-Azrami) berpredikat daif.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih melalui hadis Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengirim suatu pasukan sariyyah, lalu mereka tertutup oleh kabut hingga mereka tidak mendapat petunjuk untuk mengetahui arah kiblat.
Maka mereka salat dengan menghadap ke arah selain kiblat, kemudian jelaslah bagi mereka setelah matahari cerah, bahwa mereka salat menghadap ke arah selain kiblat.
Ketika mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, mereka menceritakan hal itu kepadanya, lalu Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat ini, yaitu:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah

Semua sanad yang telah diketengahkan di atas mengandung ke-daif-an, barangkali sebagian darinya memperkuat sebagian yang lain.

Mengulangi salat bagi orang yang keliru (menghadap bukan ke arah kiblat), sehubungan dengan masalah ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.
Semua hadis yang telah dikemukakan merupakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa qada itu tidak ada.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini (Al-Baqarah ayat 115) diturunkan karena masalah Raja Najasyi, seperti yang diceritakan oleh Muhammad ibnu Basysyar kepada kami, bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, "Sesungguhnya seorang saudara kalian telah meninggal dunia, maka salatkanlah dia oleh kalian." Mereka bertanya, "Apakah kami akan menyalatkan seorang lelaki yang bukan muslim?"
Qatadah melanjutkan riwayatnya, bahwa setelah itu turunlah firman-Nya: Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kalian dan apa yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah.
(Ali Imran:199) Qatadah melanjutkan kisahnya, bahwa mereka mengatakan, "Sesungguhnya dia (Raja Najasyi) tidak salat menghadap ke arah kiblat." Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat.
Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.
(Al Baqarah:115)

Hadis ini berpredikat garib.
Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Raja Najasyi salat menghadap ke arah Baitul Maqdis sebelum sampai kepadanya pe-nasakh-an yang memerintahkan beralih menghadap ke arah Ka'bah, menurut riwayat yang diketengahkan oleh Al-Qurtubi melalui Qatadah.

Imam Qurtubi menyebutkan pula bahwa ketika Raja Najasyi meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menyalatkannya.
Maka hadis ini dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang mengatakan disyariatkannya salat gaib.
Selanjutnya Imam Quitubi mengatakan, hal ini merupakan suatu kekhususan menurut pendapat di kalangan kami, dengan alasan-alasan sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah ﷺ menyaksikan kematiannya.
Di saat Raja Najasyi meninggal dunia, maka bumi dilipat untuk Rasulullah ﷺ hingga beliau dapat menyaksikannya.

Kedua, ketika Raja Najasyi meninggal dunia, tiada seorang pun yang menyalatkannya di negeri tempat tinggalnya.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Arabi.
Tetapi menurut Imam Qurtubi, mustahil bila ada seorang raja muslim, sedangkan di kalangan kaumnya tiada seorang pun yang seagama dengannya.
Ibnul Arabi menjawab sanggahan tersebut, barangkali di kalangan mereka masih belum disyariatkan salat mayat.
Jawaban ini cukup baik.

Ketiga, Nabi ﷺ sengaja menyalatkannya dengan maksud untuk memikat hati raja-raja lainnya.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Abu Ma'syar, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Di antara timur dan barat terdapat kiblat bagi penduduk Madinah, penduduk Syam, dan penduduk Irak.

Hadis ini mempunyai kaitan dengan bab ini, dan telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Abu Ma'syar yang nama aslinya ialah Nujaih ibnu Abdur Rahman As-Saddi Al-Madani dengan lafaz yang sama, yaitu:

Di antara timur dan barat terdapat kiblat.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah.
Sebagian kalangan ahlul ilmi mengenai diri Abu Ma'syar dari segi hafalan hadisnya (yakni hafalannya lemah).

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan:

telah menceritakan kepadaku Al-Hasan ibnu Bakar Al-Mawarzi, telah menceritakan kepada kami Al-Ma’la ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far Al-Makhzumi, dari Usman ibnu Muhammad ibnul Mugirah Al-Akhnas, dari Abu Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Di antara timur dan barat terdapat kiblat.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan, hadis ini berpredikat hasan sahih.
Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa dia telah mengatakan hadis ini lebih kuat dan lebih sahih daripada hadis Abu Ma'-syar.

Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan hadis berikut oleh bukan hanya seorang dari kalangan sahabat, yaitu: Di antara timur dan barat terdapat kiblat.
Di antara mereka adalah Umar ibnul Khattab, Ali, dan Ibnu Abbas radiyallahu 'anhum.
Ibnu Umar r.a.
pernah mengatakan:

Apabila engkau jadikan arah barat di sebelah kananmu dan arah timur di sebelah kirimu, maka di antara keduanya adalah arah kiblat, jika engkau hendak menghadap ke arah kiblat.

Kemudian Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Yusuf maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, dari Abdullah ibnu Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Di antara timur dan barat terdapat arah kiblat.

Ibnu Jarir mengatakan, makna ayat ini (Al-Baqarah ayat 115) dapat diinterpretasikan seperti berikut: "Ke mana pun kalian mengarahkan wajah kalian dalam doa kalian kepada-Ku, maka di situlah terdapat wajah-Ku, Aku akan memperkenankan doa yang kalian panjatkan." Seperti yang diceritakan kepada kami oleh Al-Qasim yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj yang mengatakan bahwa Ibnu Juraij pernah meriwayatkan dari Mujahid, ketika ayat ini diturunkan (yaitu firman-Nya): Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.
(Al-Mu’min: 60) maka mereka bertanya, "Ke arah manakah kami menghadap?"
Lalu turunlah firman-Nya: Maka ke arah mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.
(Al Baqarah:115)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Artinya, rahmat Allah mencakup semua makhluk-Nya dengan memberi mereka kecukupan, karunia, dan anugerah dari-Nya.
Firman-Nya, "'Alimun" artinya sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, tiada sesuatu pun dari amal mereka yang tidak diketahui-Nya dan tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi pengetahuan-Nya, bahkan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mengetahui kesemuanya itu (baik yang lahir maupun yang batin).

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Baqarah (2) ayat 115
Dan telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Yahya bin Said dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman katanya, telah menceritakan kepada kami Said bin Jubair dari Ibnu Umar katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah shalat diatas kendarannya ke arah mana saja beliau menghadap, yaitu ketika berangkat dari Makkah menuju Madinah. Dan pada saat itu diturunkan pula ayat Kearah manapun engkau menghadap, maka engkau menghadap wajah Allah QS. Albaqarah, 115, Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak danIbnu Zaidah (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami ayahku, semuanya dari Abdul Malik dengan sanad seperti ini, namun dalam hadis Ibnu Al Mubarak dan Ibnu Abi Zaidah disebutkan, Kemudian Ibnu Umar membacakan ayat Kearah manapun engkau menghadap, maka engkau menghadap wajah Allah. QS. Al Baqarah: 115, Dia lalu berkata,
Tentang masalah inilah ayat ini diturunkan.

Shahih Muslim, Kitab Shalatnya Musafir dan Penjelasan Tentang Qashar - Nomor Hadits: 1131

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 115

Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang besumber dari Ibnu ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar membacakan ayat ini (al-Baqarah: 115), kemudian menjelaskan peristiwanya sebagai berikut: ketika Rasulullah ﷺ dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah, beliau shalat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraannya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.
Hadits ini sahih menurut syarat Muslim, terutama isnadnya.
Bahwa turunnya ayat,… fa ainamaa tuwalluu…(..maka kemanapun kamu menghadap…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 115) membolehkan kita shalat sunat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Ali bin Abi Thalib, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Isnaad hadits ini kuat, dan maknanya pun membantu menguatkannya, sehingga dapat dijadikan dasar turunnya ayat tersebut.
Bahwa ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis di waktu shalat.
Maka gembiralah kaum Yahudi.
Rasulullah ﷺ melaksanakan perintah itu beberapa belas bulan lamanya, tetapi dalam hatinya ingin tetap menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim 'alaihis salam (Mekah).
Beliau selalu berdoa kepada Allah sambil menghadapkan muka ke langit, menantikan turunnya wahyu.
Maka turunlah ayat, qad naraa taqalluba wajhika fis samaa’…(sungguh kami [sering] melihat mukamu menengadah ke langit..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 144).
Kaum Yahudi menjadi bimbang karena turunnya ayat tersebut (al-Baqarah: 144) sehingga mereka berkata: “Apa yang menyebabkan mereka membelok dari kiblat yang mereka hadapi sekarang ini?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 115) sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi.

Hadits ini daif diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Daraquthni, dari Asy’ats as-Samman, dari ‘Ashim bin ‘Abdlillah, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Rabi’ah, yang bersumber dari bapaknya.
Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini gharib, dan Asy’ats didaifkan di dalam meriwayatkan hadits ini.
Bahwa pada suatu malam gelap gulita, dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah ﷺ, mereka (para shahabat) tidak mengetahui arah kiblat.
Mereka shalat ke arah hasil ijtihad masing-masing.
Keesokan harinya mereka mengemukakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 115).

Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan Ibnu Marduwaih, dari al-’Arzami, dari ‘Atha’, yang bersumber dari Jabir.
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus suatu pasukan perang (termasuk di dalamnya Jabir).
Pada suatu waktu yang gelap gulita, mereka tidak mengetahui arah kiblat.
Berkatalah segolongan dari mereka: “Kami tahu arah kiblat, yaitu arah ini (sambil menunjuk ke arah utara).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka.
Segolongan lain berkata: “Kiblat di sebelah sana (sambil menunjuk ke arah selatan).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka.
Keesokan harinya setelah matahari terbit, garis-garis itu tidak menunjukkan arah kiblat yang sebenarnya.
Sesampainya di Madinah, bertanyalah mereka kepada Rasulullah ﷺ tentang hal itu.
Beliau terdiam.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 115) sebagai penjelasan atas peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang menerima dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan suatu pasukan perang.
Mereka diliputi kabut yang tebal, sehingga tidak mengetahui arah kiblat.
Kemudian mereka shalat.
Ternyata setelah terbit matahari, shalatnya tidak menghadap kiblat.
Setibanya di hadapan Rasulullah ﷺ, mereka menceritakan hal itu.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 115) yang membenarkan ijtihad mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika turun ayat,…ud’uunii astajiblakum..(..berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60), para shahabat bertanya: “Kemana kami menghadap?” Maka turunlah,….fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhullaah…(..maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah….) (Al-Baqarah: 115) sebagai jawaban terhadap pertanyaan mereka.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai "Fusthaathul-Qur'an" (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da'wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa'
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 115 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 115



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku' 40 ruku'
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (27 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku