Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 103 [QS. 2:103]

وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَمَثُوۡبَۃٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ خَیۡرٌ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ
Walau annahum aamanuu waattaqau lamatsuubatun min ‘indillahi khairun lau kaanuu ya’lamuun(a);
Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.
―QS. Al Baqarah [2]: 103

Daftar isi

And if they had believed and feared Allah, then the reward from Allah would have been (far) better, if they only knew.
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 103]

وَلَوْ dan kalau

And if
أَنَّهُمْ sesungguhnya mereka

[that] they
ءَامَنُوا۟ beriman

(had) believed
وَٱتَّقَوْا۟ dan mereka bertakwa

and feared (Allah),
لَمَثُوبَةٌ sungguh pahala

surely (the) reward
مِّنْ dari

(of)
عِندِ sisi

from
ٱللَّهِ Allah

Allah
خَيْرٌ lebih baik

(would have been) better,
لَّوْ kalau

if
كَانُوا۟ adalah mereka

they were
يَعْلَمُونَ mereka mengetahui

(to) know.

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:103

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 103. Oleh Kementrian Agama RI


Allah ﷻ menerangkan bahwa jika orang-orang Yahudi percaya kepada Kitab mereka dan bertakwa, tentulah mereka akan mendapat pahala yang besar.
Selanjutnya Allah menerangkan bahwa mereka itu dalam setiap perbuatan dan kepercayaan tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan yang benar, karena kalau mereka mendasarkan kepercayaan dan perbuatannya itu pada ilmu pengetahuan, tentulah mereka percaya pada Nabi Muhammad ﷺ, dan mengikutinya, dan tentulah mereka tergolong pada orang-orang yang berbahagia.

Tetapi kenyataannya mereka itu hanya mengikuti dugaan dan bertaklid semata.
Sebenarnya di antara perbuatan mereka yang keterlaluan ialah mereka menyalahi isi kitab Taurat itu, dan mereka bergerak di bawah kekuasaan hawa nafsu dan kemauan mereka, sehingga mereka jatuh dalam kesesatan.

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 103. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya jika mereka beriman kepada kebenaran dan takut terhadap kekuasaan Tuhan, Allah pasti akan memberikan pahala yang baik kepada mereka.
Hal itu sebenarnya lebih baik daripada dongeng- dongeng yang mereka sampaikan dan kejelekan yang mereka simpan, apabila mereka membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Seandainya orang-orang Yahudi itu beriman dan takut kepada Allah, niscaya mereka akan meyakini bahwa pahala Allah adalah lebih baik bagi mereka daripada sihir dan dari apa yang mereka usahakan.
Seandainya mereka mengetahui pahala dan balasan yang akan mereka peroleh dari iman dan takwa secara hakiki, niscaya mereka akan beriman.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan seandainya mereka) orang-orang Yahudi


(beriman) terhadap Nabi dan Alquran


(dan menjaga diri mereka) dari siksa Allah dengan meninggalkan maksiat, seperti sihir.
Jawaban dari ‘lau’ ini dibuang.
Atau tentulah mereka akan diberi pahala.
Hal ini ditunjukkan oleh


(maka sesungguhnya pahala) ‘matsuubatun’ menjadi mubtada, sedangkan ‘lam’ menunjukkan sumpah


(di sisi Allah itu lebih baik) ‘khairun’ menjadi khabar, artinya ‘lebih baik’ yakni lebih baik dari hasil penjualan diri mereka itu


(seandainya mereka mengetahuinya) seandainya mereka tahu bahwa pahala itu lebih baik, tentulah mereka tak akan mementingkan yang lain darinya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa.

dijadikan dalil oleh orang-orang yang berpendapat bahwa mengerjakan sihir hukumnya kafir, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Imam Ahmad ibnu Hambal dan segolongan ulama Salaf.

Sedangkan menurut pendapat yang lain tidak kafir, tetapi ia hanya dikenai hukuman had, yaitu dengan dipancung lehernya.
Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Syafii dan Imam Ahmad ibnu Hambal.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan (yaitu Ibnu Uyaynah), dari Amr ibnu Dinar, bahwa ia pernah mendengar Bujalah ibnu Abdah menceritakan asar berikut, bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab r.a. pernah menulis surat yang di dalamnya disebutkan,
"Bunuhlah oleh kalian setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan."
Bujalah melanjutkan kisahnya,
"Maka kami pernah membunuh tiga orang wanita penyihir."

Asar ini diketengahkan pula oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Di dalam asar yang sahih disebut pula bahwa Siti Hafsah Ummul Mu’minin pernah disihir oleh seorang budak perempuannya, maka Siti Hafsah memerintahkan agar budak tersebut dihukum mati, lalu si budak perempuan itu pun dihukum mati.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, di dalam asar sahih dari ketiga orang sahabat Nabi ﷺ disebutkan bahwa penyihir dihukum mati.


Imam Turmuzi meriwayatkan melalui hadis Ismail ibnu Muslim, dari Al-Hasan, dari Jundub Al-Azdi yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hukuman had bagi penyihir ialah dipukul dengan pedang (dihukum mati).

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa kami tidak mengenal hadis ini secara marfu’ kecuali hanya dari segi ini.
Ismail ibnu Muslim orangnya da’if dalam periwayatan hadis.
Adapun yang sahih ialah yang dari Al-Hasan ibnu Jundub secara mauquf.

Menurut kami, hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Tabrani melalui segi lain, dari Al-Hasan, dari Jundub secara marfu’

Telah diriwayatkan melalui berbagai jalur bahwa Al-Walid ibnu Uqbah pernah mempunyai seorang tukang sihir untuk memainkan ilmu sihir di hadapannya.
Permainan sihir yang ditampilkannya itu ialah dia menebas batang leher seseorang, kemudian si penyihir itu membawa kepalanya seraya berteriak-teriak, setelah itu ia mengembalikan lagi kepada si lelaki yang dipancungnya itu.
Maka orang-orang berkata,
"Mahasuci Allah Yang Menghidupkan kembali orang-orang yang mati!"

Kejadian tersebut dilihat oleh seorang lelaki saleh dari kalangan kaum Muhajirin.
Pada keesokan harinya ia datang dengan menyandang pedangnya, sedangkan si penyihir itu seperti biasa memainkan permainannya.
Lalu lelaki Muhajirin itu mencabut pedangnya dan langsung dipukulkan ke leher si penyihir tersebut, kemudian berkata,
"Sekiranya dia benar, niscaya dia dapat menghidupkan dirinya sendiri."
Lalu ia membacakan firman-Nya:

maka apakah kalian menerima sihir itu, padahal kalian menyaksikannya?
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 3)

Maka Al-Walid murka karena lelaki Muhajirin tersebut tidak meminta izin lebih dahulu kepadanya dalam tindakannya itu.
Lalu Al-Walid memenjarakannya, kemudian melepaskannya.

Imam Abu Bakar Al-Khalal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq, dari Harisah yang menceritakan asar berikut:
Pernah di hadapan seorang Amir ada seseorang yang memainkan ilmu sihirnya, lalu datanglah Jundub seraya membawa pedangnya, maka Jundub membunuh lelaki penyihir itu, lalu ia berkata,
"Menurutku dia adalah tukang sihir."

Imam Syafii rahimahullah menginterpretasikan kisah sihir yang terjadi di masa Khalifah Umar dan yang dialami oleh Siti Hafsah sebagai perbuatan musyrik.

Fasal

Abu Abdullah Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan apa yang dikatakan oleh golongan Mu’tazilah, bahwa mereka mengingkari keberadaan sihir.
Abu Abdullah Ar-Razi mengatakan,
"Barangkali mereka mengafirkan orang yang meyakini keberadaan sihir itu."

Selanjutnya Ar-Razi mengatakan,
"Adapun menurut ahli sunnah, sesungguhnya mereka berpendapat bahwa bisa saja seorang ahli sihir dapat terbang di udara, atau mengubah rupa manusia menjadi keledai dan rupa keledai menjadi manusia.
Hanya saja mereka berpendapat bahwa sesungguhnya Allah menciptakan hal-hal tersebut di saat seorang penyihir membacakan mantera-mantera dan jampi-jampi tertentu.
Adapun bila dikatakan bahwa hal yang mempengaruhi kejadian-kejadian tersebut karena pengaruh falak dan bintang-bintang, maka hal tersebut tidak mungkin, berbeda halnya dengan pendapat ahli filsafat dan ahli peramal serta para pemeluk agama Sabi’ah."

Kemudian Abu Abdullah Ar-Razi mengemukakan dalil yang menyatakan bahwa terjadinya sihir itu adalah karena ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Sedangkan dalil dari hadis antara lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah disihir, dan bahwa sihir sempat mempengaruhinya.
Juga kisah Siti Aisyah r.a. bersama seorang wanita yang datang kepadanya mengakui bahwa dirinya pernah belajar sihir.
Banyak lagi kisah lainnya yang ia kemukakan dalam bab ini.
Setelah itu Abu Abdullah Ar-Razi mengatakan hal berikut:

Ilmu sihir bukan merupakan hal yang buruk, bukan pula hal yang dilarang.
Ulama ahli tahqiq sepakat menyatakan hal tersebut, mengingat ilmu itu ditinjau dari eksistensinya merupakan hal yang mulia, juga karena pengertian umum yang terkandung di dalam firman-Nya:

Katakanlah,
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar [39]: 9)

Karena ilmu sihir itu kalau tidak diketahui, niscaya tidak mungkin dapat dibedakan antara sihir dan mukjizat.
Sedangkan ilmu yang me-untun untuk mengetahui sesuatu sebagai mukjizat adalah wajib, dan sesuatu yang menjadi sandaran bagi hal yang wajib hukumnya wajib pula.
Maka dari hal ini tersimpul bahwa mengetahui ilmu sihir hukumnya wajib, sedangkan sesuatu yang wajib itu tidak mungkin dapat dikatakan sebagai hal yang haram atau buruk.
Demikianlah konteks dari pendapat Abu Abdullah Ar-Razi dalam masalah ini.

Pendapat ini masih perlu dipertimbangkan dari berbagai segi, antara lain ia mengatakan bahwa mengetahui ilmu sihir bukan merupakan hal yang buruk.
Jikalau yang dimaksud dengan kalimat ini ialah tidak buruk menurut rasio, maka orang-orang yang menentang pendapat ini dari kalangan golongan Mu’tazilah sudah pasti sangat tidak setuju dengan pendapat ini.
Jika yang dimaksud ialah tidak buruk menurut penilaian syara’ (agama), berarti di dalam ayat ini terkandung pengertian yang mempropagandakan belajar ilmu sihir.
Sedangkan di dalam kitab sahih disebutkan oleh salah satu hadisnya:

Barang siapa yang datang kepada tukang ramal atau tukang tenung, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) kepada kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Muhammad.


Di dalam kitab-kitab Sunan disebutkan sebuah hadis yang mengatakan:

Barang siapa membuat suatu buhul, lalu ia meniupkan napasnya pada buhul itu, maka sesungguhnya dia telah mengerjakan sihir.

Dalam menanggapi perkataan Abu Abdullah Ar-Razi yang menyatakan,
"Tiada larangan, para ulama ahli tahqiq sepakat atas hal ini,"
timbul suatu pertanyaan ‘mengapa ilmu sihir itu tidak dilarang, padahal ayat dan hadis yang telah kita kemukakan mengecamnya?’.
Kesepakatan ulama ahli tahqiq —seperti yang dikatakannya— menuntut adanya bukti berupa nas dalam masalah ini dari beberapa orang ulama atau dari kebanyakan mereka, lalu manakah nas-nas mereka yang menunjukkan adanya kesepakatan tersebut?

Mengenai pendapat Abu Abdullah Ar-Razi yang memasukkan ilmu sihir ke dalam pengertian umum firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
Katakanlah,
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui"
(QS. Az-Zumar [39]: 9)

Hal ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, mengingat ayat ini hanyalah menunjukkan makna memuji orang-orang yang alim dalam ilmu syariat Lalu mengapa dia sampai berani mengatakan bahwa ilmu sihir adalah bagian dari syariat, dan bahkan ia mengangkat ilmu sihir kepada kategori ilmu yang wajib dipelajari, dengan alasan untuk mengetahui mukjizat tidak dapat dilakukan melainkan dengan mengetahui ilmu sihir.
Alasan ini sangat lemah, bahkan dapat dikatakan batil.
Dikatakan demikian karena mukjizat yang paling agung dari Rasul kita ialah Alquranul ‘Azim yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.

Kemudian perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya untuk mengetahui sesuatu sebagai mukjizat, pada prinsipnya tidak bergantung kepada pengetahuan ilmu sihir.
Sebagai bukti yang akurat ialah para sahabat, para tabi’in, dan para imam kaum muslim serta kalangan awam, mereka mengetahui hal yang mukjizat, mereka pun dapat membedakan antara mukjizat dan sihir, sekalipun mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu sihir.
Dengan kata lain, mereka tidak pernah mempelajarinya, tidak pula mengerjakannya.

Sesungguhnya di antara ilmu bayan (paramasastra) itu benar-benar mengandung (pengaruh seperti pengaruh) sihir.

Dinamakan sahur karena dilakukan pada penghujung malam hari di saat cuaca masih gelap tak kelihatan.
Sahar berarti ri-ah (paru-paru) yang merupakan pusat pernapasan.
Dinamakan demikian karena tempatnya tersembunyi dan jaringannya lembut menyebar ke seluruh bagian tubuh dan semua syaraf.
Seperti yang dikatakan oleh Abu Jahal kepada Utbah pada hari Perang Badar,
"Intafakha saharuhu,’"’ yakni paru-parunya mengembang karena dicekam oleh rasa takut yang sangat.
Siti Aisyah r.a. pernah mengatakan:

Rasulullah ﷺ wafat di antara dada (sebelah kanan)ku dan pangkal tenggorokanku.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Mereka menyulap mata orang-orang.
(QS. Al-A’raf:
116)

Artinya, mereka menyembunyikan apa yang mereka lakukan dari mata orang-orang banyak.

Abu Abdullah Al-Qurtubi mengatakan,
"Menurut kalangan kami, sihir itu merupakan perkara yang nyata."
Ia mempunyai kenyataan karena Allah menciptakan untuknya apa yang dikehendaki oleh si penyihir (sebagai istidraj, pent.).

Lain halnya dengan pendapat golongan Mu’tazilah dan Abu Ishaq Al-Isfirayini, dari kalangan mazhab Syafi’i.
Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya sihir itu adalah pengelabuan dan ilusi semata.
Al-Qurtubi mengatakan, termasuk ke dalam kategori sihir ialah sesuatu yang dilakukan dengan tangan yang cepat seperti permainan sulap.
Ibnu Faris mengatakan bahwa pendapat ini bukan diutarakan oleh penduduk pedalaman (orang kampung).

Al-Qurtubi mengatakan, termasuk ke dalam sihir ialah bacaan yang dihafal dan melakukan ruqyah dengan menyebut asma Allah subhanahu wa ta’ala Adakalanya sihir itu merupakan perjanjian dengan setan-setan, maka kejadiannya akan menimbulkan berbagai macam penyakit dan kerusakan serta lain-lainnya yang berbahaya.


Al-Qurtubi mengatakan bahwa sabda Rasul ﷺ yang mengatakan:
Sesungguhnya di antara ilmu bayan (paramasastra) itu benar-benar mengandung (pengaruh seperti pengaruh) sihir.
Kalimat ini dapat diinterpretasikan sebagai pujian, menurut apa yang dikatakan oleh segolongan ulama.
Dapat pula diinterpretasikan sebagai celaan terhadap ilmu balagah.
Selanjutnya Al-Qurtubi memberikan komentarnya bahwa pendapat yang terakhir inilah yang lebih sahih, mengingat dapat saja balagah dijadikan sebagai sarana untuk membenarkan hal yang batil, sehingga pendengarnya terpesona oleh kata-katanya dan menduganya berada di pihak yang benar, seperti yang disebutkan oleh sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Barangkali sebagian dari kalian lebih pandai dalam mengutarakan alasannya daripada sebagian yang lain.
Karena itu, lalu aku memutuskan peradilan untuk kemenangannya.
Hingga akhir hadis.

Fasal

Al-Wazir Abul Muzaffar (yaitu Yahya ibnu Muhammad ibnu Hubairah) dalam kitabnya yang berjudul Al-Isyraf ‘Ala Maza Hibil Asyraf mengetengahkan sebuah bab yang membahas masalah sihir.
Ia mengatakan bahwa mereka telah sepakat bahwa sihir itu mempunyai kenyataan, kecuali Imam Abu Hanifah.
Abu Hanifah berpendapat bahwa sihir tidak ada kenyataannya.

Para ulama berselisih pendapat mengenai orang yang belajar sihir dan menggunakannya.
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad mengatakan bahwa pelakunya menjadi kafir.

Dari kalangan murid-murid Imam Abu Hanifah ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya kalau seseorang belajar ilmu sihir hanya untuk pertahanan diri atau untuk menghindarinya, hukumnya tidak kafir.
Barang siapa yang mempelajarinya dengan keyakinan bahwa sihir diperbolehkan atau sihir bermanfaat bagi dirinya, maka ia kafir.
Demikian pula orang yang meyakini bahwa setan dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya, maka dia kafir.

Imam Syafii rahimahullah mengatakan,
"Apabila seseorang belajar ilmu sihir (dan telah menguasainya), maka kami akan katakan kepadanya terlebih dahulu, ‘Peragakanlah sihirmu itu kepada kami.’ Jika ia memperagakan jenis sihir yang memastikannya kafir, misalnya dia berkeyakinan seperti apa yang diyakini oleh penduduk Babil —yakni mendekatkan diri kepada/tujuh bintang, dan bahwa ketujuh bintang tersebut dapat memberikan apa yang dimintakan kepadanya— maka dia kafir.
Apabila sihir yang diperagakannya itu tidak menyebabkan dia kafir (maka ia tidak kafir), tetapi jika dia meyakini bahwa belajar sihir itu boleh, maka hukumnya kafir."

Ibnu Hubairah mempertanyakan,
"Apakah seorang penyihir dibunuh hanya semata-mata karena ia memperlihatkan sihirnya dan menggunakannya?"

Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad dibunuh, dan menurut Imam Syafii serta Imam Abu Hanifah tidak.
Tetapi jika sihirnya itu telah membunuh seseorang manusia, maka ia dibunuh menurut Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa si penyihir tidak dibunuh kecuali jika ia melakukan perbuatannya itu (membunuh orang lain dengan ilmu sihirnya) secara berulang-ulang, atau dia mengakui sendiri telah melakukannya terhadap seseorang tertentu.
Apabila ilmu sihir seseorang digunakan untuk membunuh, maka ia dihukum mati sebagai hukuman had-nya menurut pendapat mereka, kecuali Imam Syafii.
Imam Syafii berpendapat bahwa bila keadaannya memang demikian, maka ia dihukum mati sebagai qisas.

Ibnu Hubairah mempertanyakan,
"Apakah dapat diterima tobat tukang sihir bila ia bertobat darinya?"
Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta Imam Ahmad menurut pendapat yang terkenal di kalangan mereka mengatakan bahwa tobatnya tidak diterima.
Akan tetapi, Imam Syafii dan Imam Ahmad menurut riwayat yang lain mengatakan dapat diterima tobatnya.

Tukang sihir dari kalangan ahli kitab menurut Imam Abu Hanifah dihukum mati, sebagaimana tukang sihir muslim pun dihukum mati.

Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Syafii mengatakan tidak dihukum mati, karena menimbang kisah Labid ibnul A’sam.
Mereka berselisih pendapat mengenai wanita muslimah tukang sihir, menurut Imam Abu Hanifah, ia tidak dibunuh melainkan hanya dihukum penjara.
Sedangkan menurut ketiga imam lainnya, hukumnya sama dengan hukum seorang laki-laki penyihir.

Abu Bakar Al-Khalal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi, bahwa Umar ibnu Harun pernah memba-ca (belajar) dari Abu Abdullah (yakni Imam Ahmad ibnu Hambal) bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri yang mengatakan,
"Penyihir dari kalangan kaum muslim dihukum mati, sedangkan penyihir dari kalangan kaum musyrik tidak dihukum mati, karena Rasulullah ﷺ pernah disihir oleh seorang wanita Yahudi, ternyata beliau tidak membunuhnya."

Imam Qurtubi menukil dari Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa tukang sihir dari kalangan kafir zimmi dihukum mati jika sihirnya itu ia gunakan untuk membunuh.

Ibnu Khuwaiz Mandad meriwayatkan dua buah riwayat dari Imam Malik sehubungan dengan kafir zimmi bila mempraktikkan sihir.
Salah satunya mengatakan bahwa ia diminta bertobat terlebih dahulu.
Jika ia masuk Islam, tidak dihukum, tetapi jika tidak mau masuk Islam, maka ia dihukum mati.
Pendapat kedua mengatakan bahwa dia tetap dihukum mati, sekalipun masuk Islam.

Seorang penyihir itu apabila ilmu sihirnya mengandung kekufuran, maka ia dihukumi kafir menurut keempat orang imam dan imam-imam lainnya, karena berdasarkan kepada firman-Nya:
sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan,
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu).
Sebab itu, janganlah kamu kafir."
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Tetapi Imam Malik mengatakan,
"Jika kekufuran tampak pada dirinya, maka tobatnya tidak diterima, karena kedudukannya sama dengan kafir zindiq.
Jika dia bertobat sebelum menampakkan kekufurannya, lalu ia datang kepada kami seraya bertobat, maka kami menerimanya.
Jika sihirnya itu ia gunakan untuk membunuh orang, maka ia dibunuh (dihukum mati)."

Imam Syafii mengatakan,
"Kalau si penyihir mengatakan, ‘Aku tidak sengaja membunuh,’ maka ia dihukumi sebagai orang yang keliru dan diharuskan membayar diat."

Masalah

Ada suatu pertanyaan,
"Apakah penyihir boleh diminta untuk melepaskan (mengobati) sihirnya?"
Sa’id ibnul Musayyab r.a. memperbolehkannya menurut apa yang dinukil oleh Imam Bukhari.
Amir Asy-Sya’bi mengatakan, tidak mengapa menggunakan nusyrah (pengobatan dengan memakai jampi).
Akan tetapi, Al-Hasan Al-Basri memakruhkannya.

Di dalam hadis sahih dari Siti Aisyah r.a. disebutkan bahwa ia pernah berkata,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak berobat dengan cara nusyrah?
Maka beliau ﷺ menjawab:

Adapun Allah, sesungguhnya Dia telah menyembuhkan diriku, dan aku merasa khawatir (bila memakai nusyrah) nanti aku membuka pintu kejahatan kepada manusia.

Al-Qurtubi meriwayatkan dari Wahb yang mengatakan,
"Hendaknya diambil tujuh helai daun sidr, terus ditumbuk di antara dua buah batu, lalu diperas dengan memakai air seraya dibacakan ayat Al-Kursi padanya.
Kemudian airnya diminumkan kepada orang yang terkena sihir sebanyak tiga tegukan, sedangkan sisanya dimandikan untuknya.
Sesungguhnya cara ini dapat melenyapkan sihir yang mengenainya, dan cara ini amat baik buat lelaki yang mengobati istrinya."

Menurut kami, pengobatan yang paling bermanfaat untuk melenyapkan pengaruh sihir ialah membacakan apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya untuk menghilangkan hal tersebut, yaitu membaca surat Mu’awwizatain.

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Tiada suatu ta’awwuz pun yang digunakan oleh seseorang sebanding dengan keduanya.

Demikian pula membaca ayat Kursi, karena sesungguhnya ayat Kursi itu dapat digunakan untuk mengusir setan.

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

▪ Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
▪ Menunaikan zakat.
▪ Hukum puasa.
▪ Hukum haji dan umrah.
▪ Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
▪ Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
▪ Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
▪ Hukum merusak masjid.
▪ Hukum merubah kitab-kitab Allah.
▪ Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
▪ Hukum susuan.
▪ Hukum melamar.
▪ Mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya.
▪ Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 103 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 103 - Gambar 2
Statistik QS. 2:103
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’ 40 ruku’
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.7 (29 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

2:103, 2 103, 2-103, Surah Al Baqarah 103, Tafsir surat AlBaqarah 103, Quran Al-Baqarah 103, Surah Al Baqarah ayat 103

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Baqarah

۞ QS. 2:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:4 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:5 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 2:7 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:8 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:9 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:10 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:11 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:12 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:16 • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:17 • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:18 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:19 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:20 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:21 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 2:24 • Memasuki neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:25 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga • Makanan dan minuman ahli surga

۞ QS. 2:26 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:27 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:28 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:29 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:31 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:32 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:33 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:36 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:37 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:38 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:39 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:40 • Allah menepati janji

۞ QS. 2:41 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:46 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 2:48 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:51 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:52 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:54 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:56 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:57 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:58 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:59 Syirik adalah kezaliman • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:61 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:62 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:63 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:64 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:65 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:66 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:70 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:72 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:73 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:74 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:75 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 2:76 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:77 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:79 • Mendustai Allah • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:80 • Mendustai Allah • Allah menepati janji

۞ QS. 2:81 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:82 • Pahala iman • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:83 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 2:85 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:86 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:87 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:89 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:90 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:91 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:92 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:93 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:94 • Mendustai Allah • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:95 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 2:97 • Peranan dan tugas Jibril • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:98 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Kewajiban beriman pada para rasul • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:99 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:101 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:102 • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Sifat iblis dan pembantunya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 2:103 • Pahala iman

۞ QS. 2:104 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:105 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:106 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:107 • Segala sesuatu milik Allah • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 2:108 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:109 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:110 Al Bashir (Maha Melihat) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian

۞ QS. 2:111 • Mendustai Allah

۞ QS. 2:112 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:113 • Kepastian hari kiamat

۞ QS. 2:114 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:116 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 2:117 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Badi’ (Maha Pencipta)

۞ QS. 2:118 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:119 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:120 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:121 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:123 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 2:124 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:126 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:127 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:128 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:129 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:130 Islam agama para nabi

۞ QS. 2:131 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 2:132 Tauhid UluhiyyahIslam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:133 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi •

۞ QS. 2:134 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:135 Islam agama para nabi • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:136 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 2:137 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi

۞ QS. 2:138 Islam agama fitrah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:139 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:140 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:141 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:142 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:143 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Orang Islam sebagai saksi Allah terhadap manusia • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:144 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:145 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:146 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:147 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:148 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 2:149 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:152 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:154 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 2:157 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:158 Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:160 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:162 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:163 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Wahid (Maha Esa) •

۞ QS. 2:164 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:165 Al Qawiy (Maka Kuat) • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman • Siksa orang kafir • Dosa terbesar

۞ QS. 2:166 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 2:167 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 2:168 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 2:169 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:170 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:171 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:172 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:173 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:174 • Sifat Kalam (berfirman) • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Balasan dan pahala dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:175 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:176 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:177 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:178 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:181 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:182 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:183 Puasa rukun Islam

۞ QS. 2:184 • Toleransi Islam

۞ QS. 2:185 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Toleransi IslamHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:186 • Al Qarib (Maha Dekat) • Keutamaan iman

۞ QS. 2:187 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:191 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:192 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:193 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 2:194 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:196 • Siksaan Allah sangat pedih • Haji rukun Islam

۞ QS. 2:197 • Keluasan ilmu Allah • Haji rukun Islam • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:198 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:199 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:200 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:201 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:202 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:203 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Toleransi Islam

۞ QS. 2:204 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:205 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:206 • Perlunya saling menasehati antara sesama • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:207 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:208 • Menjaga diri dari syetan • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:209 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:210 • Kedahsyatan hari kiamat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:211 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:212 • Pahala iman • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:213 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:214 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 2:215 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:216 • Keluasan ilmu Allah • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 2:217 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:218 • Pahala iman • Memohon hanya kepada Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:219 • Larangan menghina perbuatan baik

۞ QS. 2:220 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:221 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Keutamaan iman

۞ QS. 2:223 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:224 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:225 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:226 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:227 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:228 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:229 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:231 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:232 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:233 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Toleransi Islam • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 2:234 Al Khabir (Maha Waspada) • Perkabungan wanita dalam Islam • Berbicara saat berkabung

۞ QS. 2:235 • Keluasan ilmu Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Berbicara saat berkabung

۞ QS. 2:237 Al Bashir (Maha Melihat) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:239 • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 2:240 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:242 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:243 • Kekuasaan Allah • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Kebenaran dan hakikat takdir

۞ QS. 2:244 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:245 • Kebenaran hari penghimpunan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin

۞ QS. 2:246 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:247 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:248 Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:249 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 2:250 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:251 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminSifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:253 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat Kalam (berfirman) • Peranan dan tugas Jibril • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 2:254 Malaikat naik kepada Allah • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 2:255 Tauhid Uluhiyyah • Sifat Kamal (sempurna) • Menafikan sifat kantuk dan tidur • Syafaat hak Allah semata • Memperoleh syafaat dengan izin Allah

۞ QS. 2:256 Tauhid Uluhiyyah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keistimewaan Islam

۞ QS. 2:257 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Al Wali (Maha Pelindung) • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:258 Ar Rabb (Tuhan) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:259 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan •

۞ QS. 2:260 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:261 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas) • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:262 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:263 Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghaniy (Maha Kaya) • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 2:264 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:265 Al Bashir (Maha Melihat) • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:266 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Perbuatan dilihat dari akhirnya

۞ QS. 2:267 Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 2:268 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas) • Sifat iblis dan pembantunya •

۞ QS. 2:269 Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 2:270 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:271 Al Khabir (Maha Waspada) • Amal shaleh sebagai pelebur dosa-dosa kecil • Menghitung amal kebaikan • Pelebur dosa kecil •

۞ QS. 2:272 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Allah menggerakkan hati manusia • Perbuatan dan niat • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 2:273 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:274 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:275 Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Usaha jin untuk menyakiti manusia • Toleransi Islam

۞ QS. 2:276 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:277 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Shalat rukun IslamZakat rukun Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:278 • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 2:279 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:281 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Kebenaran hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:282 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:283 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:284 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 2:285 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:286 Ar Rabb (Tuhan) • Al Maula (Maha Penolong) • Keutamaan umat nabi Muhammad • Keadilan Allah dalam menghakimi • Keistimewaan Islam

Ayat Pilihan

(Ingatlah) ketika Allah jadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya,
dan Allah turunkan kepadamu hujan dari langit untuk sucikan kamu dengan hujan itu & menghilangkan dari kamu gangguan syaitan & untuk menguatkan hatimu
QS. Al-Anfal [8]: 11

Dan Kami tidak menciptakan langit & bumi & apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah.
Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir,
maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.
QS. Sad [38]: 27

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

+

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Pendidikan Agama Islam #12

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #15

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti …َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaituSalah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik … Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah …

Kamus

Tayammum

Apa itu Tayammum? Tayammum (bahasa Arab: تيمم‎) mengacu pada tindakan menyucikan diri tanpa menggunakan air dalam Islam, yaitu dengan menggunakan pasir atau debu. Secara literal atau bahasa, tay...

Tahsin

Apa itu Tahsin? Tahsin (bahasa Arab: تحسین) adalah kata Arab yang berarti memperbaiki, meningkatkan, atau memperkaya. Hal ini juga umumnya digunakan sebagai nama jang diberikan untuk anak-anak la...

Al-Bayyinah

Apa itu Al-Bayyinah? Surah Al-Bayyinah (bahasa Arab:البينة, “Pembuktian”) adalah surah ke-98 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyah, di...