QS. Al Balad (Negeri) – surah 90 ayat 13 [QS. 90:13]

فَکُّ رَقَبَۃٍ
Fakku raqabatin;

(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,
―QS. 90:13
Topik ▪ Neraka ▪ Perbuatan yang menghalangi api neraka ▪ Sifat iblis dan pembantunya
90:13, 90 13, 90-13, Al Balad 13, AlBalad 13, Al-Balad 13

Tafsir surah Al Balad (90) ayat 13

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Balad (90) : 13. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menegaskan bahwa pekerjaan besar yang sulit dilaksanakan itu adalah memerdekakan budak.
Hal itu karena perbudakan pada waktu itu sudah sangat dalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, baik di dunia Arab maupun di luarnya.
Segala aktivitas manusia, seperti perdagangan, pertanian, kemiliteran, bahkan kehidupan sehari-hari, dan sebagainya, tidak akan bisa berjalan dengan baik pada waktu itu tanpa adanya budak yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat.
Namun Allah meminta umat Islam agar menghapus perbudakan.
Pelaksanaannya memang tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur.
Seorang tuan seharusnya dapat memerdekakan budaknya, inilah yang dirasakan mereka sangat berat.
Pemerdekaan budak juga dilakukan melalui cara-cara lain, misalnya dengan sanksi pelanggaran-pelanggaran yang hukumannya adalah memerdekakan budak.
Juga dengan cara memberi kesempatan kepada budak itu untuk menebus dirinya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Membebaskan seseorang dari perbudakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Melepaskan budak) dari perbudakan, yaitu dengan cara memerdekakannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Ismail ibnu Mujalid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, dari ayahnya, dari Abu Atiyyah, dari Ibnu Umar sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(Q.S. Al-Balad [90]: 11) Maksudnya, memasuki jalan yang mendaki lagi sulit, yaitu nama sebuah gunung di dalam neraka Jahanam.
(Dengan demikian, berarti huruf lam di sini bukan lam nafi, melainkan lam taukid.
Sehingga makna ayat menjadi seperti berikut, “Maka sesungguhnya manusia itu akan menempuh jalan yang sulit lagi mendaki,” pent).

Ka’bul Ahbar mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(Q.S. Al-Balad [90]: 11) ‘Aqabah adalah tingkatan yang terdiri dari tujuh puluh tingkatan di dalam neraka Jahanam.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit.
(Q.S. Al-Balad [90]: 11) Yaitu jalan yang mendaki lagi sulit di dalam neraka Jahanam.
Qatadah mengatakan bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan mendaki, sulit, lagi keras, maka jinakkanlah ia dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah.

Qatadah mengatakan bahwa selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya: Tahukah ‘kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(Q.S. Al-Balad [90]: 12) Lalu disebutkan pula bagaimana cara melaluinya dalam firman berikutnya: (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan.
(Q.S. Al-Balad [90]: 13-14)

Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?
(Q.S. Al-Balad [90]: 11) Yakni tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang membawanya kepada keselamatan dan kebaikan.

Kemudian dijelaskan dalam firman berikutnya:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ}

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu: (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan atau memberi makan.
(Q.S. Al-Balad [90]: 12-14)

Suatu qiraat ada yang membacanya fakku raqabatin dengan me-mudaf-kannya.
Dan qiraat lain ada yang membacanya fakkun raqabatan.
Lafaz fakkun menjadi mudaf yang beramal dengan amal fi’il-nya.
Ia mengandung damir yang menjadi fa’il-nya, sedangkan raqabatan menjadi maf’ulnya.
Kedua qiraat ini maknanya berdekatan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa’id ibnu Abu Hindun, dari Ismail ibnu Abu Hakim pelayan keluarga Az-Zubair, dari Sa’id ibnu Marjanah; ia pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

«مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ إرب- أي عضو- مِنْهَا إِرْبًا مِنْهُ مِنَ النَّارِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُعْتِقُ بِالْيَدِ الْيَدَ وَبِالرِّجْلِ الرِّجْلَ وَبِالْفَرْجِ الْفَرْجَ»

Barang siapa yang memerdekakan seorang budak yang mukmin.
maka Allah memerdekakan tiap anggota tubuhnya dengan tiap anggota tubuh budak itu dari api neraka, sehingga sesungguhnya Allah memerdekakan tangan dengan tangan, kaki dengan kaki, dan kemaluan dengan kemaluan.

Kemudian Ali ibnul Husain bertanya, “Apakah engkau benar mendengar hadis ini dari Abu Hurairah?”
Sa’id menjawab, “Benar.” Maka Ali ibnul Husain berkata kepada salah seorang budaknya untuk memanggil budak yang paling disayanginya.”Panggilah si Mutarrif!” Ketika Mutarrif telah berada di hadapan Ali ibnu Husain, maka Ali berkata kepadanya.
Pergilah kamu, sekarang engkau merdeka karena Allah.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga Imam Turmuzi dan Imam Nasai, telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Sa’id ibnu Mirjanah dengan sanad yang sama.
Menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim budak yang dimerdekakan oleh Ali ibnul Husain alias Zainul Abidin ini adalah seorang budak yang sebelum dimerdekakan diberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham (untuk bekalnya).

Qatadah telah meriwayatkan dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah, dari Abu Najih yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا مُسْلِمٍ أَعْتَقَ رَجُلًا مُسْلِمًا فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ وَفَاءَ كل عظم من عظامه عظما من عظامه محررا من النار، وأيما امرأة أَعْتَقَتِ امْرَأَةً مُسْلِمَةً فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ وَفَاءَ كُلِّ عَظْمٍ مِنْ عِظَامِهَا عَظْمًا مِنْ عِظَامِهَا مِنَ النَّارِ

Orang muslim yang memerdekakan seorang budak laki-laki yang muslim, maka sesungguhnya Allah menjadikan imbalannya untuk setiap anggota tubuhnya dengan anggota tubuh budak yang dimerdekakannya itu dari neraka.
Dan wanita muslimah yang memerdekakan seorang budak perempuan, maka sesungguhnya Allah menjadikan imbalannya untuk setiap anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh budak perempuan yang dimerdekakannya itu dimerdekakan dari api neraka,

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Dan Abu Najih ini adalah Amr ibnu Absah As-Sulami r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih.
telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepadaku Bujair ibnu Sa’d.
dari Khalid ibnu Ma’dan.
dari Kasir ibnu Murrah, dari Amr ibnu Absah; ia telah menceritakan kepada mereka bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِيُذْكَرَ اللَّهُ فِيهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.
وَمَنْ أَعْتَقَ نَفْسًا مُسَلِمَةً كَانَتْ فِدْيَتَهُ مِنْ جَهَنَّمَ، وَمَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Barang siapa yang membangun masjid agar disebutkan nama Allah di dalamnya, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga.
Dan barang siapa yang memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi tebusannya dari neraka Jahanam.
Dan barang siapa yang mengalami ubanan pada sehelai rambutnya di masa Islam, maka hal itu kelak akan menjadi nur (cahaya) baginya di hari kiamat.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Salim ibnu Amir, bahwa Syurahbil ibnus Simt pernah mengatakan kepada Amr ibnu Absah, “Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tidak panjang dan tidak mudah dilupakan.” Maka Amr ibnu Absa berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi kebebasannya dari neraka; setiap anggota tubuh dengan setiap anggota tubuh lainnya.
Dan barang siapa yang tumbuh ubannya sehelai dijalan Allah, maka hal itu akan menjadi cahaya baginya kelak di hari kiamat.
Dan barang siapa yang membidikkan anak panahnya, lalu mencapai sasarannya atau meleset (di jalan Allah), maka dia bagaikan seorang yang memerdekakan seorang budak dari kalangan Bani Ismail.

Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkan sebagian dari hadis ini.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Luqman, dari Abu Umamah, dari Amr ibnu Absah As-Sulami.
Abu Umamah mengatakan kepadanya, “Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang di dalamnya tidak mengandung kekurangan dan tidak pula hal yang sulit dicapai.” Amr ibnu Absah menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang dilahirkan baginya tiga orang anak dalam masa Islam, lalu mereka semuanya mati sebelum mencapai usia balig, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kemurahan rahmat-Nya kepada mereka.
Dan barang siapa yang beruban sehelai rambutnya di jalan Allah, maka uban itu akan menjadi cahaya baginya kelak di hari kiamat.
Dan barang siapa yang membidikkan anak panah di jalan Allah hingga mencapai musuhnya, baik mengenainya atau meleset, maka baginya pahala seperti memerdekakan seorang budak.
Dan barang siapa memerdekakan seorang budak yang mukmin, maka Allah memerdekakan tiap anggota tubuhnya berkat tiap anggota tubuh budak yang dimerdekakannya dari api neraka.
Dan barang siapa yang membelanjakan dua jenis keperluan di jalan Allah, maka sesungguhnya surga itu mempunyai delapan buah pintu, Allah akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu mana pun yang disukainya.

Semua sanad hadis-hadis di atas berpredikat jayyid lagi kuat; segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala

Hadis lain.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ais ibnu Muhammad Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Damrah, dari Ibnu Abu Ablah, dari Al-Arrif ibnu Iyasy Ad-Dailami yang mengatakan bahwa kami datang kepada Wasilah ibnul Asqa’, dan kami berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tidak ada penambahan dan tidak pula pengurangan.” Maka Wasilah marah dan berkata, “Sesungguhnya seseorang dari kamu benar-benar membaca Al-Qur’an dan mushaf yang dibacanya tergantung di rumahnya (tersimpan di dalamnya), maka apakah dia berani menambah-nambahi atau menguranginya?”
Kami berkata, “Bukan itu kami maksudkan, sesungguhnya yang kami maksudkan hanyalah sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ yang pernah engkau dengar secara harfiah.” Wasilah ibnu Asqa’ mengatakan, “Kami datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ untuk menanyakan kepada beliau tentang seorang teman kami yang sudah dapat dipastikan akan masuk neraka karena bunuh diri, maka Rasulullah ﷺ menjawab:

«أَعْتِقُوا عَنْهُ يُعْتِقُ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ»

‘Merdekakanlah olehmu untuknya seorang budak, maka Allah akan memerdekakan setiap anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh budak itu dari neraka’.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui hadis Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Al-Arrif ibnu Iyasy Ad-Dailami, dari Wasilah dengan lafaz yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Qais Al-Juzami, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«من أعتق رقبة مُسْلِمَةٍ فَهُوَ فِدَاؤُهُ مِنَ النَّارِ»

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang muslim, maka budak itu menjadi penebus dirinya dari neraka.

Telah menceritakan pula kepada kami Abdul Wahhab Al-Khaffaf, dari Sa’d, dari Qatadah yang mengatakan bahwa pernah diceritakan kepada kami bahwa Qais Al-Juzami menceritakan hadis dari Uqbah ibnu Amir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَهِيَ فِكَاكُهُ مِنَ النَّارِ»

Barang siapa memerdekakan seorang budak yang mukmin, maka budak itu menjadi pembebasnya dari neraka.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid melalui jalur ini.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam dan Abu Ahmad, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abdur Rahman Al-Bajali, dari Bani Bajilah, dari Ibnu Sulaim, dari Talhah ibnu Muarrif, dari Abdur Rahman ibnu Ausajah, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki Badui datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku suatu amal yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

«لَئِنْ كُنْتَ أَقْصَرْتَ الْخُطْبَةَ لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ وَفُكَّ الرَّقَبَةَ»

Sesungguhnya aku telah berniat akan meringkas khotbah ini, tetapi ternyata engkau menjadikannya panjang.
Merdekakanlah budak dan bantulah untuk memerdekakannya.

Lelaki Badui itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah keduanya itu sama?”
Rasulullah ﷺ menjawab:

«لَا إِنَّ عِتْقَ النَّسَمَةِ أَنْ تَنْفَرِدَ بِعِتْقِهَا، وَفَكَّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِينَ فِي عِتْقِهَا، وَالْمِنْحَةُ الْوَكُوفُ ، وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الظَّالِمِ فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ فَأَطْعِمِ الْجَائِعَ، وَاسْقِ الظَّمْآنَ، وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلَّا من الخير»

Tidak, sesungguhnya yang pertama berarti engkau memerdekakan budak seutuhnya, sedangkan yang kedua berarti engkau hanya membantu memerdekakannya.
Dan gemarlah berderma, berilah saudara yang zalim.
Maka jika kamu tidak mampu mengerjakannya, berilah makan orang yang kelaparan, berilah minum orang yang kehausan, beramar ma’ruf dan bernahi munkarlah.
Dan jika kamu tidak mampu mengerjakannya, maka cegahlah lisanmu kecuali terhadap kebaikan.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Balad (90) Ayat 13

FAKK
فَكّ

Arti asal kata kerja fakk adalah melepaslkan atau memisahkan. Apabila dikatakan ;

fakka rajulur rahna ; artinya seorang lelaki melepaskan tali

fakka rajulul asiira artinya seorang lelaki membebaskan tawanan.

fakka rajulul qadiira artinya seorang lelaki menebus gadai,

fakka rajulur raqabah artinya seorang lelaki memerdekakan budak.

Dengan itu maka arti kata fakk adalah pelepasan, pemisahan atau pembebasan. Kata ini hanya diulang sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Balad (90) ayat 13. Pada bahagian akhir surah Al Balad Allah menerangkan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk menghindarkan diri dari susahnya hidup di akhirat (hidup dalam neraka), baik dengan cara menginfakkan harta kekayaan maupun mengucapkan perkataan untuk kebajikan di dunia.

Dan pada ayat 13 surah Al Balad Allah secara khusus menerangkan salah satu cara tersebut, yaitu dengan menafkahkan harta untuk membebaskan hamba hamba dari belenggu perbudakan atau membantu mereka membayar harga tebusan, terlebih lagi untuk membebaskan tentara perang Muslim yang sedang ditawan oleh orang kafir. Amal kebajikan seperti dinamakan dengan fakku raqabah

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Uqbah bin Amir Al Juhani bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memerdekakan hamba sahaya mu’minah maka amalannya tersebut akan menjadi penebus dari neraka”

Selain daripada itu dalam Al Qur’an juga terdapat satu kata lain yang mempunyai akar kata yang sama dengan kata fakku yaitu munfakkiin. Kata ini hanya diulang sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Bayyinah (98) ayat 1. Pada ayat ini diterangkan bahwa orang kafir dari kaum Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik tidak akan mau melepaskan diri (munfakkiin) dari agama yang dianutinya, meskipun bukti yang nyata telah datang dan hadir di hadap­an mereka, yaitu datangnya Nabi Muhammad sebagai Rasul yang sifat-sifatnya telah mereka ketahui dalam kitab-kitab suci mereka. Oleh itu mereka akan mendapat ganjaran siksa neraka di akhirat nanti.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:409

Informasi Surah Al Balad (البلد)
Surat Al Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf.

Dinamai “Al Balad, diambil dari perkataan “Al Balad” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah kota Mekah (Tanah Haram).

Keimanan:

Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan
janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya
beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa ni’mat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.

Lain-lain:

Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan
janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya
beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa ni’mat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Balad (20 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Balad (90) ayat 13 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Balad (90) ayat 13 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Balad (90) ayat 13 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Balad (90) ayat 1-20 - Adrian Maulana (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Balad (90) ayat 1-20 - Adrian Maulana (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Balad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 20 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 90:13
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Balad.

Surah Al-Balad (bahasa Arab: البلد) adalah surah ke-90 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 20 ayat.
Dinamakan "Al-Balad" yang berarti Negeri diambil dari perkataan "Al-Balad" yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan kota dalam ayat ini ialah kota Mekkah.

Nomor Surah 90
Nama Surah Al Balad
Arab البلد
Arti Negeri
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 35
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 20
Jumlah kata 82
Jumlah huruf 343
Surah sebelumnya Surah Al-Fajr
Surah selanjutnya Surah Asy-Syams
4.9
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta