QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 86 [QS. 7:86]

وَ لَا تَقۡعُدُوۡا بِکُلِّ صِرَاطٍ تُوۡعِدُوۡنَ وَ تَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِہٖ وَ تَبۡغُوۡنَہَا عِوَجًا ۚ وَ اذۡکُرُوۡۤا اِذۡ کُنۡتُمۡ قَلِیۡلًا فَکَثَّرَکُمۡ ۪ وَ انۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُفۡسِدِیۡنَ
Walaa taq’uduu bikulli shiraathin tuu’iduuna watashudduuna ‘an sabiilillahi man aamana bihi watabghuunahaa ‘iwajan waadzkuruu idz kuntum qaliilaa fakats-tsarakum waanzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mufsidiin(a);

Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya.
Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.
Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
―QS. 7:86
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi
7:86, 7 86, 7-86, Al A’raaf 86, AlAraaf 86, Al Araf 86, Al-A’raf 86
English Translation - Sahih International
And do not sit on every path, threatening and averting from the way of Allah those who believe in Him, seeking to make it (seem) deviant.
And remember when you were few and He increased you.
And see how was the end of the corrupters.
―QS. 7:86

 

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 86

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 86. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah Nabi Syu’aib melarang kaumnya membuat kerusakan di bumi, maka ayat ini menerangkan bahwa Nabi Syu’aib juga melarang mereka duduk di jalan untuk mengganggu orang yang lewat.
Terhadap orang yang beriman mereka ancam nyawanya dan terhadap orang yang belum beriman jika ia bermaksud mengunjungi Nabi Syu’aib mereka mengatakan bahwa Syu’aib itu seorang pendusta yang hendak menggoda orang agar meninggalkan agama nenek moyangnya.

Pada akhir ayat Nabi Syu’aib mengajak mereka mengenang masa-masa yang lalu ketika mereka masih sedikit jumlahnya, kemudian Allah mengembangbiakkan keturunan mereka dan memberi rezeki yang banyak.
Karenanya hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan meninggalkan kemusyrikan dan perbuatan kezaliman dan hendaklah mereka mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian pada kaum-kaum yang berbuat kezaliman, antara lain meninggalkan agama yang benar dari umat-umat sebelum mereka, seperti kaum Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum tsamud.
Hendaklah mereka mengambil pelajaran dari apa yang menjadi sebab Allah membinasakan umat-umat sebelum mereka itu.
Dengan demikian Nabi Syu’aib secara tidak langsung telah memperingatkan kaumnya agar mereka tidak mengalami nasib seperti mereka yang telah dibinasakan oleh Allah itu.













Iklan



Ikuti RisalahMuslim