QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 5 [QS. 7:5]

فَمَا کَانَ دَعۡوٰىہُمۡ اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَاۤ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡۤا اِنَّا کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ
Famaa kaana da’waahum idz jaa-ahum ba’sunaa ilaa an qaaluuu innaa kunnaa zhaalimiin(a);

Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan:
“Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.
―QS. 7:5
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
7:5, 7 5, 7-5, Al A’raaf 5, AlAraaf 5, Al Araf 5, Al-A’raf 5

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 5

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa umat yang telah ditimpa bala siksa itu, tiada lain keluhannya kecuali mereka mengakui kezalimannya, kesalahan dan kedurhakaan yang telah mereka perbuat.
Pada ketika itulah baru mereka sadar dan menyesal serta mengharapkan sesuatu jalan yang dapat mengeluarkan mereka dari bencana yang telah menimpa itu.
Kesadaran dan penyesalan mereka itu tentunya tidak akan bermanfaat dan tidak ada gunanya lagi sebagaimana firman Allah:

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).
Maka tatkala mereka merasai azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya.
Jangan kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik) supaya kamu ditanya.
Mereka berkata, “Aduhai, celaka kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Maka tetaplah demikian keluhan mereka sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai yang tidak dapat hidup lagi.

(Q.S. Al Anbiya’: 11-15)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka mengakui dosa-dosa yang menjadi penyebab bencana.
Tidak ada yang dapat mereka lakukan ketika menyaksikan siksaan Kami selain berkata, “Sesungguhnya kamilah yang menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat.
Tuhan tidak menzalimi kami dengan siksaan-Nya.” Padahal ungkapan itu sudah tidak berguna lagi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tidak adalah keluhan mereka) yaitu perkataan mereka (di waktu datang kepada mereka siksaan Kami kecuali mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka tidak mengucapkan kata apa pun pada saat siksa itu datang, kecuali pengakuan dosa-dosa dan kejahatan, dan mereka pantas menerima siksa yang turun pada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Yakni tiada lain ucapan mereka ketika azab datang menimpa mereka, melainkan pengakuan mereka terhadap dosa-dosa mereka dan bahwa mereka pantas menerimanya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya:

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri-negeri yang zalim yang telah Kami binasakan.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 11)

sampai dengan firman-Nya:

yang tidak dapat hidup lagi.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 15)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa di dalam ayat ini terkandung keterangan yang jelas yang menunjukkan keabsahan riwayat yang diketengahkan dari Rasulullah ﷺ, yaitu tentang sabdanya yang mengatakan:

Tidaklah suatu kaum dibinasakan sebelum mereka mengakui kesalahan diri mereka sendiri.

Hal tersebut telah diceritakan oleh Ibnu Humaid kepada kami, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Abu Sinan, dari Abdul Malik ibnu Maisarah Az-Zarrad yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Tidaklah suatu kaum dibinasakan sebelum mereka mengakui kesalahan diri mereka sendiri.
Abdul Malik melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya kepada Ibnu Mas’ud, “Mengapa terjadi demikian?”
Ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:

Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 5 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 5 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 5 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:5
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.8
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta