Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 37


فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ
Faman azhlamu mimmaniiftara ‘alallahi kadziban au kadz-dzaba biaayaatihi uula-ika yanaaluhum nashiibuhum minal kitaabi hatta idzaa jaa-athum rusulunaa yatawaffaunahum qaaluuu aina maa kuntum tad’uuna min duunillahi qaaluuu dhalluu ‘annaa wasyahiduu ‘ala anfusihim annahum kaanuu kaafiriin(a);

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?
Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya:
“Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?”
Orang-orang musyrik itu menjawab:
“Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.
―QS. 7:37
Topik ▪ Malaikat ▪ Tugas-tugas malaikat ▪ Kewajiban beriman pada para rasul
7:37, 7 37, 7-37, Al A’raaf 37, AlAraaf 37, Al Araf 37, Al-A’raf 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa mengadakan dusta terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya adalah pekerjaan yang paling zalim.
Mengada-adakan dusta terhadap Allah ialah mewajibkan yang tidak diwajibkan Allah, memutar-balikkan hukum-hukum Allah yang halal dikatakan haram, yang haram dikatakan halal, yang hak dikatakan batil, yang batil dikatakan hak, atau berani mengatakan bahwa Allah beranak dan bersekutu.
Mendustakan ayat-ayat Allah ialah tidak mau menerimanya, sengaja menolaknya, mempermainkan dan mengejeknya, atau lidahnya mengaku menerima pembagiannya seperti yang ditulis di dalamnya tentang nasib seseorang, baik-buruknya.
Walaupun perbuatan mereka termasuk yang paling zalim, namun mereka akan menerima nasibnya di dunia, nasib baik dan nasib buruk, nasib bahagia dan nasib sengsara.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.
(Q.S Luqman: 24)

Ketika orang yang paling zalim itu menerima nasib yang sudah ditentukan Allah semasa hidupnya di dunia, maka tiba-tiba berakhirlah nasibnya itu karena ajalnya sudah datang di saat malaikat maut telah datang mencabut nyawanya.
Barulah timbul penyesalannya, ketika malaikat mengajukan pertanyaan kepadanya, manakah orang-orang yang kamu seru selama ini, kamu menyembah dan minta tolong kepadanya dan tidak mau menyembah dan minta tolong kepada Allah?
Panggillah mereka itu untuk menolong kamu supaya terhindar dari bahaya api neraka yang kamu hadapi ini.
Tapi apa daya, dengan sangat menyesal mereka menjawab: "Orang-orang yang kami sembah dan kami minta tolong kepadanya sudah hilang lenyap dari kami, tidak tahu kami ke mana perginya dan di mana tempatnya.
Putuslah harapan kami akan mendapat pertolongan daripadanya." Maka dengan terus-terang mereka mengakui bahwa mereka telah jadi kafir tersebab menyembah dan minta tolong kepada berhala-berhala dan pemimpin-pemimpin yang mereka persekutukan dengan Allah.

Kejadian ini adalah suatu peringatan dan ancaman Allah bagi orang-orang yang masih kafir agar berhati-hati jangan bertaklid buta saja mengikuti propaganda seseorang yang akibatnya akan membawa kepada kekafiran dan kesesatan.

Al A'raaf (7) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak ada yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat dusta terhadap Allah dengan cara menyatakan Dia memiliki sekutu dan anak, mengaku-aku memiliki kewenangan dalam masalah halal-haram dan lainnya tanpa bukti, atau mendustakan pesan-pesan Allah yang diwahyukan dalam kitab-kitab suci-Nya dan alam semesta.
Di dunia mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan oleh Allah berupa rezeki, kehidupan atau siksa.
Sampai akhirnya malaikat maut yang mencabut nyawa datang dengan mencela, "Mana tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah yang dapat menghindari kalian dari mati?"
Mereka menjawab, "Mereka telah melepaskan tanggung jawab." Dalam diri, mereka mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka siapakah) maksudnya tidak ada seorang pun (yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah) dengan mengatakan bahwa Allah itu mempunyai sekutu atau Ia beranak (atau mendustakan ayat-ayat-Nya?) yakni Alquran.
(Orang-orang itu akan memperoleh) mereka tetap akan mendapat (bagian mereka) yakni bagian yang telah ditentukan untuknya (dalam Alkitab) yaitu apa-apa yang telah dipastikan dan tertulis untuk mereka di Lohmahfuz berupa rezeki, ajal dan lain-lainnya (sehingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami) para malaikat (untuk mengambil nyawa mereka seraya mengatakan,) kepada mereka dengan nada mengejek ("Di mana berhala-berhala yang biasa kamu sembah) sesembahan-sesembahan yang selalu kamu puja-puja (selain Allah." Mereka menjawab, "Berhala-berhala itu telah lenyap) telah hilang (dari kami) sehingga kami tidak dapat melihatnya (dan mereka mengakui terhadap diri mereka) di kala menjelang ajalnya (bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir").

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak ada seorang yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan atas Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan.
Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat kebaikan dan keburukan di dunia sesuai dengan ketetapan yang tercatat bagi mereka di Lauh al-Mahfuzh.
Apabila datang kepada mereka, malaikat maut dan kawan-kawannya untuk mencabut ruh mereka, para malaikat itu berkata :
Manakah sekutu-sekutu, setan-setan, dan berhala-berhala yang dulu kalian sembah selain Allah, (suruhlah mereka datang) untuk menyelamatkan dari keadaan kalian ini?
Mereka menjawab :
Mereka telah meninggalkan kami, lalu mereka pun mengaku telah ingkar dan mendustakan keesaan Allah ketika hidup di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?

Artinya, tidak ada yang lebih aniaya daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat yang diturunkan-Nya.

Orang-orang itu akan memperoleh sebagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab.

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat ialah mereka akan memperoleh hukuman yang telah ditetapkan atas diri mereka dan atas diri orang-orang yang membuat dusta terhadap Allah, yaitu wajah mereka akan menjadi hitam legam.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa mereka akan memperoleh bagian dari amal per­buatannya masing-masing.
Barang siapa yang beramal saleh, maka balasannya adalah baik, dan barang siapa yang beramal jahat, maka balasannya adalah buruk, masing-masing mendapat balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Mujahid mengatakan bahwa mereka akan memperoleh apa yang telah dijanjikan bagi mereka berupa balasan kebaikan dan balasan kejahatan.

Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab.
Yang dimaksud ialah amalnya, rezekinya, dan umurnya (semuanya tercatat di dalam Lauh Mahfuz).

Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Kalau ditin­jau dari segi makna, pendapat ini kuat dan konteks ayat menunjukkan kepada pengertian ini, yaitu firman-Nya:

...hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya.

Ayat lain yang semakna dengan ayat ini ialah firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebab­kan kekafiran mereka.
(Yunus:69-70)

Dan barang siapa kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu.
Hanya kepada Kamilah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar.
(Luqman:23-24)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya.

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan bahwa para malaikat apabila mencabut nyawa orang-orang musyrik membuat mereka takut di saat kematiannya, lalu nyawa mereka dibawa dan dicampakkan ke dalam neraka.
Para malaikat berkata kepada mereka, "Manakah sesembahan yang kalian persekutukan dengan Allah ketika kalian hidup di dunia?
Serulah mereka agar membebaskan kalian dari siksaan yang kalian alami sekarang!" Maka mereka berkata:

Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami.

Yakni pergi dari kami, maka kami tidak mempunyai harapan lagi untuk beroleh manfaat dan kebaikannya.

...dan mereka mengakui terhadap diri mereka.
Yaitu mereka menyatakan pengakuannya terhadap diri sendiri.

...bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 37 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (28 votes)
Sending