Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 22


فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ
Fadalaahumaa bighuruurin falammaa dzaaqaasy-syajarata badat lahumaa sawaatuhumaa wathafiqaa yakhshifaani ‘alaihimaa min waraqil jannati wanaadaahumaa rabbuhumaa alam anhakumaa ‘an tilkumaasy-syajarati waaqul lakumaa innasy-syaithaana lakumaa ‘aduu-wun mubiinun;

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya.
Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.
Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka:
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”
―QS. 7:22
Topik ▪ Penciptaan ▪ Pohon yang buahnya dimakan oleh Adam as. ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
7:22, 7 22, 7-22, Al A’raaf 22, AlAraaf 22, Al Araf 22, Al-A’raf 22
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Dengan cara ini tampak oleh Adam kesungguhan iblis yang tidak sedikit pun membayang di mukanya sesuatu yang mencurigakan, dan apa yang dikemukakannya dan diadviskannya itu adalah bohong atau tipu daya belaka, maka terpengaruhlah keduanya kepada bujukan iblis penipu itu, lalu memakan buah pohon yang Allah melarang mendekatinya, lalu keduanya lupa sama sekali akan kedudukan mereka dan larangan Allah kepada mereka sebagaimana firman Allah:

/i>Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
(Q.S Taha: 115)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang terpengaruh lebih dahulu dari bujukan iblis itu ialah Hawa yang kemudian menyuruh suaminya memakan buah yang dilarang Allah memakannya sebagaimana pengakuan Adam a.s.
di dalam riwayat berikut: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Adam memakan buah kayu itu dikatakan kepadanya, kenapa kamu memakan buah kayu yang Aku larang memakannya itu?
Adam menjawab: “Hawa yang menyuruh saya.” Kenyataan menunjukkan bahwa wanita itu mudah dan gampang terpengaruh kepada sesuatu apalagi yang berupa bujukan dan rayuan tanpa memikirkan dan memperhitungkan akibatnya, kecuali yang kuat imannya.
Tatkala keduanya telah merasakan buah yang dimakannya itu, maka mulai tampak oleh mereka aurat masing-masing.
Adam a.s.
ketika melihat auratnya memetik daun pohon di dalam surga untuk menutupi auratnya, demikian pula Hawa.

Setelah kejadian tersebut Allah subhanahu wa ta’ala mencercanya karena tidak mengindahkan larangan-Nya dan tidak mematuhi-Nya namun ia terpedaya dan menuruti bujukan iblis penipu itu lalu memperingatkannya: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu dan memakan buahnya.
Dan telah menandaskan kepadamu, bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata apabila kamu turutkan kemauan dan kehendaknya Aku mengeluarkan kamu dari kehidupan yang lapang, senang dan bahagia kepada kehidupan yang penuh kesulitan, penderitaan dan kesusahan.” Sejalan dengan hal tersebut Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

/i>Maka Kami berkata: “Hai Adam sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu jadi celaka.
(Q.S Taha: 117)

Al A'raaf (7) ayat 22 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan tipu dayanya, setan berhasil menggiring mereka memakan buah dari pohon tersebut.
Ketika mereka mencicipi dan aurat mereka terbuka, mereka kumpulkan dedaunan untuk menutupinya.
Tuhan mencerca keduanya, dan mengingatkan kesalahannya dengan berfirman, “Bukankah Aku telah melarang kalian dari pohon itu?
Dan bukankah Aku telah memberitahukan bahwa setan adalah musuh yang tidak pernah ingin melihat kalian dalam kebaikan?”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka setan membujuk keduanya) untuk menurunkan kedudukan keduanya (dengan tipu daya) darinya.
(Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu) mereka berdua telah memakannya (nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya) yakni kedua kemaluan masing-masing tampak oleh lainnya, kedua anggota tubuh itu dinamakan sau`ah, sebab jika terbuka akan membuat malu orang yang bersangkutan (dan mulailah keduanya menutupi) maksud keduanya mengambil penutup untuk menutupi (kedua auratnya dengan daun-daun surga) untuk menutupinya.
(Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.’)” yang jelas permusuhannya, kata tanya menunjukkan makna penegasan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dia (Iblis) mendorong dan menipu keduanya sehingga mereka berdua memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk mendekatinya.
Maka ketika mereka berdua memakan buah itu, terbukalah aurat mereka berdua, hilanglah pakaian yang mereka kenakan sebelum melakukan pelanggaran itu.
Lalu mereka berdua menggunakan sebagian dedaunan surga untuk menutupi aurat.
Dan Allah menyeru kepada keduanya :
Bukankah Aku telah melarang kalian berdua untuk tidak memakan buah dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian berdua bahwa setan adalah musuh yang nyata permusuhannya kepada kalian?! Di dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa terbukanya aurat termasuk perkara yang besar.
Pada masa itu sampai sekarang terbukanya aurat adalah sebuah aib dan sangat buruk, tidak dapat diterima oleh akal.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka’b r.a.
yang mengatakan bahwa Adam adalah seorang lelaki yang sangat tinggi —seakan-akan tingginya itu seperti pohon kurma yang tertinggi— dan rambutnya lebat.
Ketika ia melakukan kesalahan tersebut, pada saat itu juga auratnya kelihatan (menjadi telanjang), padahal sebelum itu Adam belum pernah melihat auratnya sendiri.
Maka ia lari ke dalam kebun surga dan salah satu pohon surga bergantung pada kepalanya.
Maka Adam berkata kepada pohon itu, “Lepaskanlah saya.” Tetapi pohon itu berkata, “Sesungguhnya saya tidak akan melepaskanmu.” Kemudian Tuhan menyerunya, “Hai Adam, apakah engkau lari dari-Ku?”
Adam menjawab, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku merasa malu kepada Engkau.”

Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka’b, dari Nabi ﷺ secara marfu’, tetapi secara mauquf lebih sahih sanadnya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah dan Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Imarah, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pohon yang Allah melarang Adam dan istrinya memakannya ialah pohon gandum.
Setelah keduanya memakan buah pohon itu, maka dengan serta-merta kelihatanlah aurat keduanya.
Tersebutlah bahwa yang digunakan oleh keduanya untuk menutupi aurat adalah kukunya masing-masing.
Lalu keduanya segera memetik dedaunan surga (yaitu daun pohon tin) dan menambalsulamkan satu sama lainnya untuk dijadikan penutup aurat keduanya.
Kemudian Adam ‘alaihis salam berlari ke dalam kebun surga, dan bergantunglah pada kepalanya suatu jenis pohon surga.
Maka Allah memanggilnya, “Hai Adam, apakah engkau lari dari-Ku?”
Adam menjawab, “Tidak, tetapi saya malu kepada Engkau, wahai Tuhanku.” Allah berfirman, “Bukankah segala sesuatu yang Aku anugerahkan dan Aku perbolehkan untukmu dari buah-buahan surga tidak cukup sehingga engkau berani memakan apa yang Aku haramkan kepadamu?”
Adam menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.
Tetapi demi keagungan-Mu, saya tidak menduga bahwa ada seseorang yang berani bersumpah dengan menyebut nama Engkau secara dusta.” Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal tersebut adalah apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan setan bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” (Al-A’raf:21), Allah berfirman, “Demi Keagungan-Ku, Aku benar-benar akan me­nurunkan kamu ke bumi, kemudian kamu tidak dapat memperoleh penghidupan kecuali dengan cara demikian.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Adam lalu diturunkan dari surga, padahal sebelum itu keduanya memakan buah surga dengan berlimpah ruah dan tanpa susah payah.
Kemudian ia diturunkan ke tempat (dunia) yang makanan dan minumannya tidak berlimpah, tetapi harus dengan susah payah.
Maka mulailah Adam belajar membuat alat besi, dan diperintahkan untuk membajak, lalu Adam membajak dan menanam tanaman serta mengairinya.
Ketika telah tiba masa panen, maka ia menuainya dan memilih biji-bijiannya serta menggilingnya menjadi tepung, lalu mem­buat adonan roti darinya, setelah itu baru ia memakannya.
Tetapi Adam tidak dapat melakukan itu kecuali setelah Allah mengizinkannya.

As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan mulailah keduanya menutupi (aurat)nya dengan daun-daun surga.

Bahwa daun-daunan surga itu adalah daun pohon tin.

Mujahid mengatakan bahwa keduanya mulai memetik daun-daunan surga, lalu menambalsulamnya sehingga menjadi pakaian.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan sehubungan dengan kalimat yang mengatakan bahwa pakaian Adam dan Hawa dilucuti.
Pakaian Adam dan Hawa yang menutupi aurat keduanya adalah nur, sehingga Adam tidak dapat melihat aurat Hawa.
Begitu pula sebaliknya, Hawa tidak dapat melihat aurat Adam.
Tetapi ketika keduanya memakan buah terlarang itu, maka kelihatanlah aurat masing-masing oleh keduanya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dengan sanad yang sahih sampai kepada Ibnu Abbas.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah yang menceritakan bahwa Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika saya bertobat dan memohon ampun kepada Engkau?”
Allah berfirman, “Kalau demikian, niscaya Aku masukkan kamu ke dalam surga.” Tetapi iblis tidak meminta tobat, hanya meminta masa tangguh.
Maka masing-masing pihak diberi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
apa yang diminta masing-masing.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Ya’la ibnu Muslim, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah Adam memakan buah pohon terlarang itu, maka dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau memakan buah pohon yang telah Aku larang engkau memakannya?”
Adam menjawab, “Hawalah yang menganjurkannya kepadaku.” Allah berfirman, “Maka sekarang Aku akan menghukumnya, bahwa tidak sekali-kali ia hamil melainkan dengan susah payah, dan tidak sekali-kali ia melahirkan anak melainkan dengan susah payah.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa pada saat itu juga Hawa merintih.
Maka dikatakan kepadanya, “Engkau dan anakmu akan merintih.

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 22 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 22



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku