QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 201 [QS. 7:201]

اِنَّ الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا اِذَا مَسَّہُمۡ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّیۡطٰنِ تَذَکَّرُوۡا فَاِذَا ہُمۡ مُّبۡصِرُوۡنَ
Innal-ladziina-attaqau idzaa massahum thaa-ifun minasy-syaithaani tadzakkaruu fa-idzaa hum mubshiruun(a);

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
―QS. 7:201
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Siksaan Allah sangat pedih
7:201, 7 201, 7-201, Al A’raaf 201, AlAraaf 201, Al Araf 201, Al-A’raf 201

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 201

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 201. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan reaksi orang-orang yang bertakwa bila kedatangan godaan setan.
Dan ayat ini memperkuat pula ayat sebelumnya tentang keharusan kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari godaan setan.

Sesungguhnya orang yang bertakwa ialah orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, menafkahkan sebagian dari rezekinya.
Bila mereka merasa ada was-was atau dorongan dalam dirinya untuk berbuat mungkar, sadarlah mereka bahwa yang demikian itu adalah godaan setan dan segeralah mereka mengucapkan doa isti’azah dan menyerahkan diri kepada Allah agar dipelihara-Nya dari tipu muslihat setan.
Maka berkat kesadaran itu melihat jurang kebinasaan dan jaring-jaring setan, lalu segeralah mereka menahan diri dan berhenti agar jangan jatuh ke dalam perangkap setan sedang yang masuk perangkap setan itu hanyalah orang yang alpa kepada Allah dan kurang mawas diri.
Senjata yang paling ampuh mengusir setan ialah ingat dan muraqabah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di dalam segala keadaan.
Ingat selalu kepada Allah itu menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk dalam jiwa.
Jiwa yang dipenuhi iman ialah jiwa yang sehat seperti badan yang sehat yang penuh daya kekebalan.
Badan yang punya daya kekebalan, badan yang kuat, tidak mudah diserang penyakit.
Bakteri-bakteri dan basil-basil penyakit tidak dapat berkembang biak dalam tubuh yang penuh dengan daya kekebalan itu.
Demikian pula jiwa orang yang takwa, tidak mudah ditimpa was-was setan.
Orang yang bertakwa segera bereaksi terhadap rangsangan setaniah, hayawaniyah yang timbul dalam dirinya.
Reaksi itu berupa kesadaran dan ingatan kepada Allah disertai dengan ketajaman penglihatan kepada tipu muslihat setan itu dengan segala akibatnya.

Memelihara jiwa yang sehat dari was-was sama halnya dengan memelihara badan yang sehat, yakni memerlukan perawatan yang terus-menerus agar tetap bersih dan sehat, memerlukan muraqabah yang tetap, ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala keadaan.
Dengan demikian setan tidak mendapat kesempatan mengganggu diri.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah yang memberi batas antara diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat berupa dinding yang menghalang-halangi masuknya rayuan dan godaan setan yang dapat memalingkan mereka dari perintah-perintah wajib, seketika mereka akan ingat permusuhan dan kelicikan setan.
Dan di saat menyadari kebenaran, mereka akan kembali kepada-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa) terkena (was-was) menurut suatu qiraat dibaca thaifun bukan thaaifun, artinya sesuatu yang menimpa mereka (dari setan mereka ingat) akan siksa Allah dan pahala-Nya (maka ketika itu mereka melihat) perbedaan antara perkara yang hak dan yang batil lalu mereka kembali kepada jalan yang hak.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa dari hamba-hamba Allah dan takut akan siksa-Nya dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan-Nya, apabila ditimpa bisikan setan, mereka segera ingat akan kewajiban taat kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Dan apabila mereka berhenti dari mendurhakai Allah atas kesadaran mereka, mereka segera menjalankan perintah-perintah Allah dan melawan tipu daya setan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu orang-orang yang taat dalam menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua hal yang dilarang-Nya, bahwa keadaan mereka itu:

Apabila mereka ditimpa

yakni bilamana mereka terkena godaan.
Sebagian ulama membaca­nya ta-ifun (bukan taifun), sehubungan dengan qiraat ini ada hadis yang menerangkannya, kedua qiraat ini merupakan qiraat yang terkenal.
Menurut pendapat lain, kedua qiraat tersebut mempunyai makna yang sama, dan menurut pendapat yang lainnya lagi ada bedanya.
Ada ulama yang menafsirkannya dengan pengertian al-gadab (amarah), ada yang menafsirkannya dengan pengertian sentuhan dari setan, yakni pingsan dan lain sebagainya, ada yang menafsirkannya dengan pengertian dosa, ada pula yang menafsirkannya dengan pengertian melakukan perbuatan dosa.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…mereka ingat kepada Allah

Maksudnya, mereka teringat akan azab Allah, pahala-Nya yang berlimpah, janji, dan ancaman-Nya.
Karena itu, lalu mereka bertobat dan memohon perlindungan kepada Allah serta segera kembali kepada-Nya.

…maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Yakni mereka bangkit dan sadar dari keadaan sebelumnya.

Dalam hal ini Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah menceritakan sebuah hadis yang ia riwayatkan melalui Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sakit Lalu wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia menyembuhkan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda:

Jika engkau suka (aku mendoakanmu), maka aku akan berdoa kepada Allah, dan Dia akan menyembuhkanmu.
Tetapi jika engkau suka bersabar, maka bersabarlah, dan kelak tidak ada hisab atas dirimu.
Wanita itu berkata, “Tidak, bahkan saya akan bersabar dan kelak saya tidak akan dihisab.”

Hadis ini diriwayatkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama pemilik kitab Sunnah.
Menurut mereka wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering tak sadarkan diri, lalu pakaianku terbuka.
Doakanlah kepada Allah semoga Dia menyembuhkanku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Jika engkau menginginkan aku berdoa, maka aku akan berdoa dan Allah akan menyembuhkanmu.
Dan jika engkau lebih suka bersabar, maka bersabarlah, dan engkau akan mendapat surga.
Maka wanita itu berkata, “Tidak, bahkan aku lebih suka bersabar dan aku akan mendapat surga, tetapi doakanlah kepada Allah agar Dia jangan menjadikan aku membuka hijabku.” Lalu Nabi ﷺ berdoa untuk wanita itu, maka wanita itu tidak lagi membuka hijabnya (bila tak sadarkan dirinya).

Imam Hakim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Mus­lim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Al-Hafiz ibnu Asakir dalam Bab “Riwayat Hidup Amr ibnu Jami”,
bagian dari kitab Tarikh-nya, menyebutkan bahwa ada seorang pemuda yang sedang menekuni ibadah di dalam masjid.
Lalu ada seorang wanita yang menyukainya, maka wanita itu merayunya agar ia mau menggauli dirinya.
Wanita itu terus-menerus merayunya hingga hampir saja mereka berdua memasuki sebuah rumah.
Tetapi pemuda itu teringat akan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 201) Maka pemuda itu jatuh terjungkal dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Kemudian ia sadar kembali, dan wanita tersebut datang menjenguknya, maka pemuda itu mendadak mati.
Khalifah Umar datang kepada ayah si pemuda, berbelasungkawa atas kematiannya, dan jenazah si pemuda itu telah dikebumikan sejak malam harinya.
Lalu Khalifah Umar pergi dan melakukan salat jenazah bersama orang-orang yang mengikutinya di atas kuburan pemuda itu.
Kemudian Umar menyeru nama pemuda itu seraya membacakan firman-Nya: Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
(Ar-Rahmah: 46) Maka pemuda itu menjawabnya dari dalam kuburan, “Wahai Umar, Tuhanku telah memberikannya kepadaku dua kali di dalam surga.”


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 201 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 201 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 201 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:201
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.6
Ratingmu: 4.4 (14 orang)
Sending







Pembahasan ▪ tafsir 7:202

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim