QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 199 [QS. 7:199]

خُذِ الۡعَفۡوَ وَ اۡمُرۡ بِالۡعُرۡفِ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡجٰہِلِیۡنَ
Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi waa’ridh ‘anil jaahiliin(a);

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.
―QS. 7:199
Topik ▪ Berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah
7:199, 7 199, 7-199, Al A’raaf 199, AlAraaf 199, Al Araf 199, Al-A’raf 199
English Translation - Sahih International
Take what is given freely, enjoin what is good, and turn away from the ignorant.
―QS. 7:199

 

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 199

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 199. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya, agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum.

1. Sikap Pemaaf dan berlapang dada
Allah ﷻ menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan dan berlapang terhadap perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga mereka lari dari agama.
Sabda Rasullah ﷺ:

“Mudahkanlah, jangan kamu persulit dan berilah kegembiraan, jangan kamu susahkan”.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muadz)

Termasuk prinsip agama, memudahkan, menjauhkan kesukaran dan segala hal yang menyusahkan manusia.
Demikian pula halnya dalam bidang budi pekerti manusia banyak dipengaruhi lingkungannya.
Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti (Tafsir Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut) Rasulullah ﷺ berkata sehubungan dengan ayat ini:

“Apakah ini ya Jibril?
Jawab Jibril,
“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menyambung hubungan kepada orang yang memutuskannya.”
(Riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibn Ubay dari bapaknya)

2. Menyuruh manusia berbuat maruf (baik)
Pengertian urf pada ayat ini adalah maruf.
Adapun Maruf adalah adat kebiasaan masyarakat yang baik, yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Dalam Al-Quran kata”maruf”
dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan.
Dalam pengertian kemasyarakatan kata
“maruf”
dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalah dalam suatu masyarakat.
Karena itu ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara, dan waktu.
Di antara para ulama ada yang memberikan definisi
“maruf”
dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut tabiat manusia yang murni tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat.
Bagi kaum Muslimin yang pokok ialah berpegang teguh pada nash-nash yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah.
Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nash agama secara jelas.

3. Tidak mempedulikan gangguan orang jahil
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap para Nabi, dan tidak dapat disadarkan.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil, tidak melayani mereka, dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.