QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 193 [QS. 7:193]

وَ اِنۡ تَدۡعُوۡہُمۡ اِلَی الۡہُدٰی لَا یَتَّبِعُوۡکُمۡ ؕ سَوَآءٌ عَلَیۡکُمۡ اَدَعَوۡتُمُوۡہُمۡ اَمۡ اَنۡتُمۡ صَامِتُوۡنَ
Wa-in tad’uuhum ilal huda laa yattabi’uukum sawaa-un ‘alaikum ada’autumuuhum am antum shaamituun(a);

Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.
―QS. 7:193
Topik ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
7:193, 7 193, 7-193, Al A’raaf 193, AlAraaf 193, Al Araf 193, Al-A’raf 193

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 193

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 193. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan dalam ayat ini kepada kaum musyrikin bahwa jika mereka memohon kepada berhala-berhala itu supaya memberi petunjuk kepada mereka sebagaimana mereka memohon kepada Allah supaya memberi kebaikan tentulah berhala-berhala itu tidak dapat memberi petunjuk ke jalan yang menuju cita-cita mereka atau ke jalan yang menuju keselamatan mereka dari kesulitan dan kesukaran yang menimpa mereka.
Berhala-berhala itu tidak dapat mengikuti keinginan mereka, dan tidak pula memperkenankan permohonan mereka.
Keadaannya sama saja apakah penyembah-penyembah berhala itu memohon sesuatu kepada berhala itu ataukah mereka tidak minta apa-apa.
Berhala itu tiada paham permohonan mereka, tidak mendengar dan tidak pula memikirkan apa yang diucapkan kepada mereka.

Patutkah disembah sesuatu yang memiliki sifat-sifat di atas.
Seharusnya yang disembah itu ialah Allah Yang memberi manfaat kepada yang menyembah-Nya, Yang memberi hukuman kepada yang berbuat maksiat kepada-Nya, Yang memberikan pertolongan kepada penyembah-Nya, Yang menghancurkan musuh-musuh-Nya, Yang memberikan petunjuk kepada yang taat kepada-Nya, Yang memberi petunjuk kepada yang mengikuti perintah-Nya, dan mendengarkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Nya.

Berdasarkan uraian di atas dan uraian ayat yang sebelumnya, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa orang-orang yang berziarah ke kubur wali-wali serta mengeramatkannya, dan meminta kepada kuburan itu untuk memenuhi keinginannya adalah sama hukumnya dengan hukum menyembah berhala.
Banyak persamaan antara penyembah-penyembah berhala dengan pengunjung kuburan-kuburan para wali yang keramat itu.
Kuburan wali-wali yang dianggap keramat tidak dapat memberikan manfaat atau pun memberikan mudarat, seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini yang artinya: “Sama saja hasilnya buat kamu menyeru mereka atau pun berdiam diri”.

Maka segala macam pemujaan dan penyembahan patung-patung, berhala-berhala, kuburan-kuburan yang dikeramatkan dengan upacara-upacara keagamaan adalah perbuatan yang tidak dibenarkan syara’.
Doa yang ditujukan kepada benda-benda tersebut memberi kesan kepada mereka yang datang berdoa itu, bahwa benda-benda itu dapat mempengaruhi dan memberi bekas kepada iradat Allah, kepada kekuasaan Allah dalam mengurusi makhluk-Nya.
Sungguh perbuatan itu adalah perbuatan sia-sia dan merusak iman.

QS. Al A'raaf (Tempat yang tertinggi) - surah 7 ayat 193 [QS. 7:193] - RisalahMuslim
Dan jangan duga, wahai para penyembah berhala, sembahan-sembahan kamu hanya tidak dapat membela diri atau membantu kamu. Yang lebih ringan dari itu pun mereka tidak mampu, yaitu jika kamu, wahai orang-orang musyrik, selalu menyerunya dengan meminta berhala-berhala itu untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhalabe ...
Editor's Rating:
0

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika kalian, wahai penyembah berhala, meminta kepada berhala-berhala itu untuk memberi apa yang kalian sukai, mereka tidak akan dapat mengabulkan permintaan kalian! Maka, apakah kalian memohon kepada mereka atau pun tidak, sama saja akhirnya:
mereka tidak ada gunanya sama sekali!

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan jika kamu menyerunya) menyeru berhala-berhala itu (untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu) dengan memakai takhfif dan tasydid (sama saja hasilnya buat kamu menyeru mereka) untuk meminta petunjuk (atau pun kamu berdiam diri) tidak menyeru mereka, maka mereka pasti tidak dapat memenuhi permintaanmu karena mereka tidak dapat mendengar.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang musyrik, jika kalian menyeru berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah itu kepada petunjuk, niscaya dia tidak akan dapat mendengar seruan kalian dan tidak pula mau mengikuti kalian.
Kalian seru atau tidak adalah sama karena dia tidak mendengar dan tidak pula melihat, tidak dapat memberi petunjuk dan tidak dapat diberi petunjuk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan jika kalian menyerunya untuk memberi petunjuk kepada kalian, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruan kalian.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 193)

Artinya, berhala-berhala itu tidak dapat mendengar seruan orang yang menyerunya.
Keadaannya akan tetap sama, baik di depannya ada orang yang menyerunya ataupun orang yang menggulingkannya, seperti yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim yang disitir oleh firman-Nya:

Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?
(Q.S. Maryam [19]: 42)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa berhala-berhala itu adalah hamba-hamba Allah juga, sama dengan para penyembahnya.
Dengan kata lain, berhala-berhala itu makhluk juga, sama dengan para penyembahnya.
Bahkan manusia jauh lebih sempurna daripada berhala-berhala tersebut, karena manusia dapat mendengar, melihat, dan memukul, sedangkan berhala-berhala tersebut tidak dapat melakukan sesuatu pun dari hal itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Katakanlah, “Panggillah berhala-berhala kalian yang kalian jadikan sekutu-sekutu Allah.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 195), hingga akhir ayat.

Maksudnya, panggillah berhala-berhala itu untuk menolong kalian dari-Ku, janganlah kalian memberi masa tangguh barang sekejap pun untuk itu, dan berupayalah kalian dengan semampu kalian.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 193 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 193 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 193 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:193
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.4
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim