QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 180 [QS. 7:180]

وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
Walillahil asmaa-ul husna faad’uuhu bihaa wadzaruul-ladziina yulhiduuna fii asmaa-ihi sayujzauna maa kaanuu ya’maluun(a);

Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya.
Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
―QS. 7:180
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Ayat yang berhubungan dengan Abu Lubabah bin al Munzir
7:180, 7 180, 7-180, Al A’raaf 180, AlAraaf 180, Al Araf 180, Al-A’raf 180
English Translation - Sahih International
And to Allah belong the best names, so invoke Him by them.
And leave (the company of) those who practice deviation concerning His names.
They will be recompensed for what they have been doing.
―QS. 7:180

 

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 180

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 180. Oleh Kementrian Agama RI

Al-Asmaul Husna artinya nama-nama Allah yang paling baik, paling luas, dan paling dalam pengertiannya, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barangsiapa menghafalnya masuklah dia ke surga.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Jumlah sembilan puluh sembilan itu tidaklah berarti batas jumlah, sesungguhnya nama Allah itu tidaklah terbatas.
Dalam Al-Quran nama Allah lebih dari jumlah angka tersebut.
Nama-nama itu merupakan sifat dari zat Allah Yang Maha Esa, bukan zat Tuhan yang dikira orang musyrikin.

Mengenai Asmaul Husna yang sembilan puluh sembilan itu diriwayatkan oleh at-Tirmizi dan al-Hakim dari jalan (sanad) al-Walid bin Muslim sebagai berikut:

Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia.
(1) Yang Maha Pengasih,
(2) Yang Maha Penyayang,
(3) Maharaja,
(4) Yang Mahasuci,
(5) Maha Sejahtera,
(6) Yang Maha Menenteramkan,
(7) Yang Maha Memelihara,
(8) Yang Mahaperkasa,
(9) Yang Mahakuasa,
(10) Yang Maha Memiliki Kebesaran,
(11) Yang Maha Menciptakan,
(12) Yang Mengadakan,
(13) Yang Membentuk Rupa,
(14) Yang Maha Pengampun,
(15) Yang Maha Mengalahkan,
(16) Yang Maha Pemberi,
(17) Yang Maha Memberi Rezeki,
(18) Yang Maha Memberi Keputusan,
(19) Yang Maha Mengetahui,
(20) Yang Maha Membatasi Rezeki,
(21) Yang Maha Melapangkan Rezeki,
(22) Yang Maha Merendahkan,
(23) Yang Maha Meninggikan,
(24) Yang Maha Menjadikan Mulia,
(25) Yang Menjadikan Hina,
(26) Yang Maha Mendengar,
(27) Yang Maha Melihat,
(28) Yang Jadi Hakim,
(29) Yang Mahaadil,
(30) Yang Mahahalus,
(31) Yang Mahateliti,
(32) Yang Mahasantun,
(33) Yang Mahaagung,
(34) Yang Maha Mengampuni,
(35) Yang Maha Mensyukuri,
(36) Yang Mahatinggi,
(37) Yang Mahabesar,
(38) Yang Maha Memelihara,
(39) Yang Maha Penentu Waktu,
(40) Yang Maha Membuat Perhitungan,
(41) Yang Penuh Kebesaran,
(42) Yang Maha Pemurah,
(43) Yang Jadi Pengawas,
(44) Yang Maha Mengabulkan,
(45) Yang Mahaluas,
(46) Yang Maha Bijaksana,
(47) Yang Maha Mencintai,
(48)Yang Mahamulia,
(49) Yang Maha Membangkitkan,
(50) Yang Maha Menjadi Saksi,
(51) Yang Penuh Kebenaran,
(52) Yang Maha Menjadi Tempat Bertawakkal,
(53) Yang Mahakuat,
(54) Yang Mahakokoh,
(55) Yang Maha Melindungi,
(56) Yang Maha Terpuji,
(57) Yang Maha Menghitung,
(58) Yang Maha Menciptakan,
(59) Yang Maha Mengembalikan,
(60) Yang Menghidupkan,
(61) Yang Mematikan,
(62) Yang Maha Hidup,
(63) Yang Berdiri Sendiri,
(64) Yang Maha Menemukan,
(65) Yang Mahamulia,
(66) Yang Mahamandiri,
(67) Yang Maha Esa,
(68) Yang Maha Tumpuan,
(69) Yang Maha Kuasa,
(70) Yang Maha Menentukan,
(71) Yang Maha Mendahulukan,
(72) Yang Maha Mengakhirkan,
(73) Yang Mahaawal,
(74) Yang Mahaakhir,
(75) Yang Mahanyata,
(76) Yang Maha Tersembunyi,
(77) Yang Maha Melindungi,
(78) Yang Maha Meninggikan,
(79) Yang Maha Pelimpah Kebajikan,
(80) Yang Maha Penerima Tobat,
(81) Yang Maha Pembalas,
(82) Yang Maha Pemaaf,
(83) Yang Maha Penyantun,
(84) Yang Memiliki Kekuasaan,
(85) Yang Maha Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan,
(86) Yang Mahaadil,
(87) Yang Menghimpun,
(88) Yang Mahakaya,
(89) Yang Maha Memberi Kekayaan,
(90) Yang Maha Mencegah,
(91) Yang Maha Pemberi Mudarat,
(92) Yang Maha Pemberi Manfaat,
(93) Yang Maha Bercahaya,
(94) Yang Maha Pemberi Petunjuk,
(95) Yang Maha Pencipta Keindahan,
(96) Yang Mahakekal,
(97) Yang Maha Mewarisi,
(98) Yang Maha Pemberi Bimbingan,
(99) Yang Mahasabar.

(Riwayat at-Tirmizi dan al-Hakim)

Terjemahan nama-nama Allah sesungguhnya tidak dapat diterjemahkan secara tepat.
Terjemahan ini sekedar untuk menjelaskan maknanya sesuai dengan keterbatasan bahasa Indonesia.

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyebutkan nama-nama yang paling baik ini dalam berdoa dan berzikir.
Karena dengan berdoa dan berzikir itu mereka selalu ingat kepada Allah, dan iman mereka bertambah hidup dan subur dalam jiwa mereka.
Dalam pada itu Allah memerintahkan pula kepada orang-orang yang beriman agar mereka meninggalkan perilaku orang-orang yang menyimpangkan pengertian nama-nama Allah dari pengertian yang benar, misalnya dengan memberikan tawil atau memutar-balikkan pengertian sehingga mengaburkan kesempurnaan yang mutlak dari sifat-sifat Allah.
Mereka yang berbuat demikian kelak akan ditimpa azab Allah.
Penyimpangan atau penyelewengan dari nama-nama Allah Yang Maha Sempurna itu bermacam-macam bentuknya, antara lain:

1. Memberikan nama kepada Allah dengan nama yang tidak terdapat dalam Al-Quran ataupun dalam hadis Rasul yang sahih.
Semua ulama sepakat bahwa nama dan sifat Allah itu harus didasarkan atas penjelasan Al-Quran dan hadis Rasul (tauqifi).

2. Menolak nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk zat-Nya, atau menolak untuk menisbahkan suatu perbuatan kepada Allah karena memandang yang demikian itu tidak patut bagi kesucian-Nya atau mengurangi kesucian-Nya.
Mereka yang menolak ini memandang diri mereka seolah-olah lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya, mana yang layak dan mana yang tidak layak bagi Allah.

3. Menamakan sesuatu selain Allah dengan nama yang hanya layak bagi Allah.

4. Memutar-balikkan nama dan sifat-sifat Allah dengan penafsiran sendiri sehingga keluar dari pengertian dan maksud yang sebenarnya, seperti paham yang mengatakan bahwa sifat-sifat Allah sama dengan sifat manusia, seperti mendengar, melihat, berkata-kata, punya muka, tangan, kaki, tertawa, marah, senang dan sebagainya.
Kendati Allah memiliki sifat mendengar, melihat dan sebagainya, namun mendengarnya Allah tidak sama dengan mendengarnya makhluk, melihatnya Allah tidak sama dengan melihatnya makhluk.
Atau paham yang memberikan takwil terhadap sifat-sifat Allah sedemikian rupa sehingga sifat Allah itu tidak memilikik arti sama sekali.

5. Mempersekutukan Allah dengan sembahan selain Allah dalam segi nama yang khusus untuk Allah.
Seperti memakai lafal Allah untuk sebuah berhala atau kata Rabbul alamin.