QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 175 [QS. 7:175]

وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ
Waatlu ‘alaihim nabaal-ladzii aatainaahu aayaatinaa faansalakha minhaa faatba’ahusy-syaithaanu fakaana minal ghaawiin(a);

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
―QS. 7:175
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Perumpamaan kemunafikan
7:175, 7 175, 7-175, Al A’raaf 175, AlAraaf 175, Al Araf 175, Al-A’raf 175

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 175

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 175. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini menyuruh Rasul-Nya agar membacakan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin sebuah riwayat kehidupan seorang laki-laki yang telah diberi Allah ilmu pengetahuan tentang isi Al-Kitab dan ketuhanan dan dia memahami dalil-dalil keesaan Allah sehingga dia menjadi seorang yang alim.

Tetapi kemudian laki-laki yang zalim itu mendurhakai dirinya sendiri dengan meninggalkan ilmunya, bahkan telah mengingkari isinya Al-Kitab dan dalil-dalil keesaan Tuhan.
Maka datanglah setan menggodanya.
Karena dia tiada lagi mempunyai ilmu dan iman dalam jiwanya yang dapat menahan godaan setan itu, akhirnya dia sesat dan menjadi teman setan.
Demikianlah gambaran seorang ulama yang sesat yakni ulama yang meninggalkan ilmu pengetahuan dan imannya mengingkari kebenaran dan kafir terhadap Allah.
Menurut sebagian riwayat, laki-laki yang alim itu bernama Umayah bin As-Salt penyair bangsa Arab menjelang kelahiran Islam.
Dia mempelajari Kitab-kitab suci dan mengetahui bahwa Allah akan mengutus seorang rasul pada waktu itu.
Dia mengharap-harap dialah yang menjadi rasul.
Tetapi tatkala Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan Muhammad ﷺ.
menjadi rasul, dia merasa iri hati.
Kemudian dia mati dalam keadaan kafir tidak beriman kepada Muhammad ﷺ.
Dialah yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya syairnya beriman kepada Tuhan tetapi hatinya kafir.” Maksudnya syair ciptaannya seperti syair orang-orang beriman, karena dalam syairnya dia menegaskan adanya Tuhan dan menerangkan bukti-bukti keesaan-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah telah mengumpamakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat yang diturunkan kepada rasul- Nya, dan berkata, “Wahai Nabi, bacakanlah kepada kaummu kisah tentang seorang lelaki dari Bani Israil yang mengetahui ayat-ayat yang Kami turunkan kepada rasul-rasul, tetapi kemudian ia tidak mempedulikannya.
Setan pun lalu mengikuti jalannya hingga mampu menggodanya.
Maka ia pun termasuk kelompok orang-orang yang sesat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bacakanlah) hai Muhammad (kepada mereka) yakni orang-orang Yahudi (berita) kabar (orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, pengetahuan tentang isi Alkitab, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu) maksudnya ia keluar darinya dengan membawa kekafirannya, sebagaimana seekor ular keluar dari kulitnya, orang yang dimaksud ialah Bal`am bin Ba`ura salah seorang ulama terkemuka Bani Israel.

Ia diminta agar mendoakan Musa celaka dan untuk itu diberi hadiah, dia mendoakan hal itu tetapi doanya itu menyebabkan senjata makan tuan akhirnya lidahnya menjulur sampai ke dadanya (lalu dia diikuti oleh setan) setan dapat menggodanya sehingga jadilah ia temannya (maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan kisahkanlah (wahai Rasul) kepada umatmu, berita tentang seseorang dari Bani Israil yang telah Kami berikan kepadanya bukti-bukti dan ayat-ayat Kami, lalu mempelajarinya, tapi kemudian ia mengingkarinya dan meninggalkannya begitu saja.
Kemudian ia digoda oleh setan sehingga ia termasuk orang-orang yang tersesat dan binasa karena ia melanggar perintah Allah dan menuruti kehendak setan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Al-A’masy dan Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud r .a.
sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu., hingga akhir ayat.
Dia adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama panggilan Bal’am ibnu Ba’ura.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syu’bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Mansur, dengan sanad yang sama.

Sa’id ibnu Abu Arubah mengatakan dari Qatadah, dari Ibnu Abbas, bahwa telaki tersebut bernama Saifi ibnur Rahib.

Qatadah mengatakan, Ka’b pernah menceritakan bahwa dia adalah seorang telaki dari kalangan penduduk Al-Balqa, mengetahui tentang Ismul Akbar, dan tinggal di Baitul Maqdis dengan orang-orang yang angkara murka.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa dia adalah seorang lelaki dari kalangan penduduk negeri Yaman, dikenal dengan nama Bal’am, ia dianugerahi pengetahuan tentang isi Al-Kitab, tetapi ia meninggalkannya.

Malik ibnu Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya, mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan.
Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar menyembah Allah.
Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasa­annya dan memberinya banyak hadiah.
Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa ‘alaihis salam

Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Husain, dari Imran ibnul Haris, dari Ibnu Abbas, bahwa orang tersebut adalah Bal’am ibnu Ba’ura.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Mugirah, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang tersebut bernama Bal’am.
Sedangkan menurut Saqif, dia adalah Umayyah ibnu Abu Silt.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Ya’la ibnu Ata, dari Nafi’ ibnu Asim, dari Abdullah ibnu Amr sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami beri­kan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab).), hingga akhir ayat.
Bahwa dia adalah teman kalian sendiri, yaitu Umayyah ibnu Abu Silt.

Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abdullah ibnu Amr, dan predikat sanadnya sahih sampai kepadanya.
Seakan-akan ia hanya bermaksud bahwa Umayyah ibnu Abus Silt mirip dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini, karena sesungguhnya ia telah banyak menerima ilmu syariat-syariat terdahulu, tetapi tidak dimanfaatkannya.
Dia sempat menjumpai masa Nabi ﷺ dan telah sampai kepadanya tanda-tanda, alamat-alamat, dan mukjizat-mukjizatnya, sehingga tampak jelas bagi semua orang yang mempunyai pandangan mata hati.
Tetapi sekalipun menjumpainya, ia tidak juga mau mengikuti agamanya, bahkan dia berpihak dengan orang-orang musyrik dan membantu serta memuji mereka.
Bahkan dia mengungkapkan rasa (bela sungkawa dalam bentuk syair)nya atas kematian kaum musyrik yang gugur dalam Perang Badar, hal ini ia ungkapkan dengan bahasa yang berparamasastra, semoga Allah melaknatnya.

Di dalam sebagian hadis disebutkan bahwa dia termasuk orang yang lisannya beriman, tetapi hatinya tidak beriman alias munafik, karena sesungguhnya dia mempunyai banyak syair yang mengandung makna ketuhanan, kata-kata bijak, dan fasih, tetapi Allah, tidak melapangkan dadanya untuk masuk Islam.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Namir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sa’id Al-A’war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Q.S. Al-A’raf [7]: 175) Bahwa dia adalah seorang lelaki yang dianugerahi tiga doa mustajab, dan ia mempunyai seorang istri yang memberinya seorang anak laki-laki.
Lalu istrinya berkata, “Berikanlah sebuah doa darinya untukku.” Ia menjawab, “Saya berikan satu doa kepadamu, apakah yang kamu kehendaki?”
Si istri menjawab, “Berdoalah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku wanita yang tercantik di kalangan Bani Israil.” Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu Allah menjadikan istrinya seorang wanita yang tercantik di kalangan kaum Bani Israil.
Setelah si istri mengetahui bahwa dirinyalah yang paling cantik di kalangan mereka tanpa tandingan, maka ia membenci suaminya dan menghendaki hal yang lain.
Akhirnya si lelaki berdoa kepada Allah agar menjadikan istrinya seekor anjing betina, akhirnya jadilah istrinya seekor anjing betina.
Dua doanya telah hilang.
Kemudian datanglah anak-anaknya, lalu mereka mengatakan, “Kami tidak dapat hidup tenang lagi, karena ibu kami telah menjadi anjing betina sehingga menjadi cercaan orang-orang.
Maka doakanlah kepada Allah semoga Dia mengembalikan ibu kami seperti sediakala.” Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu kembalilah ujud istrinya seperti keadaan semula.
Dengan demikian, ketiga doa yang mustajab itu telah lenyap darinya, kemudian wanita itu diberi nama Al Basus.
Asar ini gharib

Adapun asar yang termasyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat yang mulia ini hanyalah menceritakan perihal seorang lelaki di masa dahulu, yaitu di zaman kaum Bani Israil, seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas’ud dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia adalah seorang lelaki dari kota orang-orang yang gagah perkasa, dikenal dengan nama Bal’am.
Dia mengetahui Asma Allah Yang Mahabesar.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa doa lelaki tersebut mustajab, tidak sekali-kali ia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mem­berikan kepadanya apa yang dimintanya itu.

Tetapi pendapat yang sangat jauh dari kebenaran —bahkan sangat keliru— ialah yang mengatakan bahwa lelaki itu telah diberi kenabian, lalu ia melepaskan kenabian itu.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari sebagian di antara mereka (ulama), tetapi tidak sahih.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal’am (yang bertempat tinggal di negeri itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya.
Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan mempunyai bala tentara yang banyak.
Sesungguhnya dia jika menang atas kita, niscaya dia akan membinasakan kita.
Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia mengusir Musa dan bala tentaranya dari kita.
Bal’am menjawab, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan orang-orang yang bersamanya dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan akhiratku.” Mereka terus mendesaknya hingga akhirnya Bal’am mau berdoa.
Maka Allah melucuti apa yang ada pada dirinya.
Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya

…kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda)., hingga akhir ayat.

As-Saddi mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang disebutkan di dalam firman Nya : maka sesungguhnya negeri ini diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 26) Maka Allah mengutus Yusya’ ibnu Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya’ menyeru kaum Bani Israil (untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang yang gagah perkasa.
Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal’am berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa.
Dia adalah orang yang mengetahui tentang Ismul A’zam yang rahasia (apabila dibaca, maka semua permintaannya dikabulkan seketika).
Tetapi ia kafir dan berkata kepada orang-orang yang gagah perkasa, “Janganlah kalian takut kepada Bani Israil.
Karena sesungguh­nya jika kalian berangkat untuk memerangi mereka, maka saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan akhirnya mereka pasti hancur.” Bal’am hidup di kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara duniawi yang dikehendakinya, hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan wanita karena wanita orang-orang yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya.
Maka Bal’am hanya dapat menggauli keledainya.
Kisah inilah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Q.S. Al-A’raf [7]:I75)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda).

Artinya, setan telah menguasai dirinya dan urusannya, sehingga apabila setan menganjurkan sesuatu kepadanya, ia langsung mengerjakan dan menaatinya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan :

…maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Ia termasuk orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.

Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakar, dari As-Silt ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Jundub Al-Jabali di masjid ini, Huzaifah ibnul Yaman r.a.
pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan terhadap kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an, hingga manakala keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah sikap dan perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, maka ia melepaskan diri dari Al-Qur’an.
Dan Al-Qur’an ia lemparkan di belakang punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan senjata dan menuduhnya telah musyrik.
Huzaifah ibnul Yaman bertanya, “Wahai Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang yang dituduhnya ataukah si penuduhnya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik).”

Sanad hadis ini berpredikat jayyid.
As-Silt ibnu Bahram termasuk ulama siqah dari kalangan penduduk Kufah, dia tidak pernah dituduh melakukan sesuatu hal yang membuatnya cela selain dari Irja (salah satu aliran dalam mazhab tauhid).
Imam Ahmad ibnu Hambal menilainya siqah, demikian pula Yahya ibnu Mu’in dan lain-lainnya


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 175 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 175 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 175 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:175
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.4
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al araf 175

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta