Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 166


فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ قُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً خٰسِئِیۡنَ
Falammaa ‘atau ‘an maa nuhuu ‘anhu qulnaa lahum kuunuu qiradatan khaasi-iin(a);

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya:
“Jadilah kamu kera yang hina.
―QS. 7:166
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Siksaan Allah sangat pedih
7:166, 7 166, 7-166, Al A’raaf 166, AlAraaf 166, Al Araf 166, Al-A’raf 166
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 166. Oleh Kementrian Agama RI

Tatkala Bani Israil bertambah-tambah kezalimannya tidak mengindahkan nasihat-nasihat saudaranya lagi, maka Allah mengazab mereka dengan menjadikan mereka sebagai kera yang hina.
Menurut para mufassirin merupakan tafsiran dari perkataan "azab yang sangat pedih" yang terdapat pada ayat di atas.
Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa hal ini merupakan azab yang lain yang ditimpakan Allah di samping azab yang pedih itu.

Para mufassir berbeda pendapatnya tentang: Apakah Bani Israil itu dijadikan kera yang sebenarnya atau hanya sifat dan watak mereka saja yang seperti kera, sedang badan mereka seperti badan manusia biasa.
Jumhur ulama berpendapat: bahwa mereka benar-benar menjadi kera, seperti kera yang sebenar-benarnya.
Akan tetapi tidak makan, tidak minum, dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari.
Menurut Mujahid dan Ibnu Jarir: Rupa mereka tidak ditukar menjadi kera tetapi hati, jiwa dan sifat merekalah yang diubah menjadi kera.
Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami sesuatu dengan benar.
Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menggambarkan mereka seperti kera, sedang pada ayat yang lain mereka diserupakan dengan keledai sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
(Q.S Al Jumuah: 5)

Menurut Ibnu Kasir dalam tafsirnya waktu menafsirkan ayat ini: Pendapat yang benar dalam ayat ini ialah perubahan maknawi, sebagai pendapat Mujahid.
Jadi bukan perubahan bentuk (wujud) rupa, seperti yang dikemukakan oleh Jumhur.

Demikian pula menurut penafsiran Al-Manar: Pendapat Jumhur menafsirkan bahwa mereka melanggar ketentuan dari Sabtu itu benar-benar menjadi kera dan babi sukarlah diterima, walaupun Allah kuasa berbuat demikian.
Mengubah manusia menjadi hewan, sebagaimana hukuman bagi orang-orang yang berbuat maksiat tidaklah sesuai dengan sunnatullah terhadap makhluk-Nya, terutama manusia makhluk yang dimuliakan Allah.
Pendapat Mujahid adalah lebih tepat, bahwa yang berubah itu adalah mental mereka menjadi mental hewan karena nafsu duniawi yang besar pada mereka menjadikan mereka lupa dan jauh dari nilai-nilai moral kemanusiaan.

Al A'raaf (7) ayat 166 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 166 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 166 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika hati mereka semakin keras membatu, mereka terus melakukan berbagai pelanggaran, sementara azab yang pedih tidak membuat mereka jera, maka Kami jadikan mereka seperti layaknya kera.
Hati mereka berubah seperti kera yang tak dapat memahami kebenaran, dan--seperti halnya kera--mereka pun dijauhkan dari berbagai bentuk kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala mereka bersikap sombong) yakni bersikap takabur (terhadap) tidak mau meninggalkan (apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina.") yang terhina, maka jadilah mereka itu kera yang hina, keterangan ini adalah penjelasan dari apa yang telah lalu.
Ibnu Abbas mengatakan, "Saya tidak mengetahui tentang apa yang terjadi dengan golongan yang bersikap abstain." Ikrimah mengatakan, "Mereka tidak dibinasakan, sebab mereka membenci apa yang telah dilakukan rekan-rekannya dan mereka mengatakan, 'Mengapa kamu menasihati....'." Hakim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa golongan tersebut ikut pula melakukannya dan bahkan takjub dengan sikap mereka yang melakukannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka ketika golongan itu bersikap sombong dan melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah, agar tidak berburu ikan pada hari Sabtu, lalu Allah berfirman kepada mereka :
Jadilah kalian kera-kera yang hina yang jauh dari segala kebaikan.
Maka jadilah mereka seperti itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Yang hina.
(Al-A'raf: 166)

Yakni hina dina lagi tercela.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 166

KHAASI IIN
خَٰسِـِٔين

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya khaasi', Berasal dari kata khasa'a-yakhsa'u atau dari al khas yang bermakna jauh dan hina.

Khasa'al bashar bermakna mata menjadi lemah atau buta.

Khasa'al kalb berarti mengusir dan menghalau anjing.

Kata al khasi' mencakup makna yang dihalau, yang diusir, yang hina dan terkutuk.

Lafaz khaasi' disebut satu kali yaitu pada surah Al Mulk (67), ayat 4 dan lafaz khaasi 'iin diulang dua kali yaitu pada surah Al Baqarah (2), ayat 65 dan surah Al A'raaf (7), ayat 166. Allah berfirman:

كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ

Mujahid, Qatadah, Ar Rabi' dan Ad Dahhak berpendapat makna khaasi'iin adalah shaaghirain atau dalam keadaan rendah dan terhina.

Al Yazidi menjelaskan, khaasi'iin bermakna mub'adiin yaitu yang terjauh dan terusir, dan menurut ulama mufassirin makna mub'adiin adalah sinonim dengan shaaghiriin yyaitu rendah dan terhina.

Ibn Jarir At Tabari mengatakan, makna­nya yang terjauh dari segala kebaikan dalam keadaan rendah dan terhina, karena asal makna khaasi' adalah yang terjauh dan terusir sebagaimana anjing yang dihalau dan diusir.

Kesimpulannya, lafaz khaasi 'iin dalam ayat Al Qur'an bermakna orang terkutuk, terhina dan terjauh dari segala kebaikan.

Sedangkan dalam bentuk mufrad atau khaasi' sebagaimana yang terdapat dalam surah Al­ Mulk dikaitkan dengan lafaz al bahsar yang bermakna penglihatan menjadi lemah dan letih untuk melihat kecacatan dalam penciptaan langit dan bumi seperti yang diungkap oleh Ibn Katsir.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:209

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 166 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 166



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku