QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 166 [QS. 7:166]

فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ قُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً خٰسِئِیۡنَ
Falammaa ‘atau ‘an maa nuhuu ‘anhu qulnaa lahum kuunuu qiradatan khaasi-iin(a);

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya:
“Jadilah kamu kera yang hina.
―QS. 7:166
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Siksaan Allah sangat pedih
7:166, 7 166, 7-166, Al A’raaf 166, AlAraaf 166, Al Araf 166, Al-A’raf 166

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 166

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 166. Oleh Kementrian Agama RI

Tatkala Bani Israil bertambah-tambah kezalimannya tidak mengindahkan nasihat-nasihat saudaranya lagi, maka Allah mengazab mereka dengan menjadikan mereka sebagai kera yang hina.
Menurut para mufassirin merupakan tafsiran dari perkataan “azab yang sangat pedih” yang terdapat pada ayat di atas.
Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa hal ini merupakan azab yang lain yang ditimpakan Allah di samping azab yang pedih itu.

Para mufassir berbeda pendapatnya tentang: Apakah Bani Israil itu dijadikan kera yang sebenarnya atau hanya sifat dan watak mereka saja yang seperti kera, sedang badan mereka seperti badan manusia biasa.
Jumhur ulama berpendapat: bahwa mereka benar-benar menjadi kera, seperti kera yang sebenar-benarnya.
Akan tetapi tidak makan, tidak minum, dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari.
Menurut Mujahid dan Ibnu Jarir: Rupa mereka tidak ditukar menjadi kera tetapi hati, jiwa dan sifat merekalah yang diubah menjadi kera.
Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami sesuatu dengan benar.
Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan mereka seperti kera, sedang pada ayat yang lain mereka diserupakan dengan keledai sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
(Q.S Al Jumuah: 5)

Menurut Ibnu Kasir dalam tafsirnya waktu menafsirkan ayat ini: Pendapat yang benar dalam ayat ini ialah perubahan maknawi, sebagai pendapat Mujahid.
Jadi bukan perubahan bentuk (wujud) rupa, seperti yang dikemukakan oleh Jumhur.

Demikian pula menurut penafsiran Al-Manar: Pendapat Jumhur menafsirkan bahwa mereka melanggar ketentuan dari Sabtu itu benar-benar menjadi kera dan babi sukarlah diterima, walaupun Allah kuasa berbuat demikian.
Mengubah manusia menjadi hewan, sebagaimana hukuman bagi orang-orang yang berbuat maksiat tidaklah sesuai dengan sunnatullah terhadap makhluk-Nya, terutama manusia makhluk yang dimuliakan Allah.
Pendapat Mujahid adalah lebih tepat, bahwa yang berubah itu adalah mental mereka menjadi mental hewan karena nafsu duniawi yang besar pada mereka menjadikan mereka lupa dan jauh dari nilai-nilai moral kemanusiaan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika hati mereka semakin keras membatu, mereka terus melakukan berbagai pelanggaran, sementara azab yang pedih tidak membuat mereka jera, maka Kami jadikan mereka seperti layaknya kera.
Hati mereka berubah seperti kera yang tak dapat memahami kebenaran, dan–seperti halnya kera–mereka pun dijauhkan dari berbagai bentuk kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala mereka bersikap sombong) yakni bersikap takabur (terhadap) tidak mau meninggalkan (apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.”) yang terhina, maka jadilah mereka itu kera yang hina, keterangan ini adalah penjelasan dari apa yang telah lalu.

Ibnu Abbas mengatakan, “Saya tidak mengetahui tentang apa yang terjadi dengan golongan yang bersikap abstain.” Ikrimah mengatakan, “Mereka tidak dibinasakan, sebab mereka membenci apa yang telah dilakukan rekan-rekannya dan mereka mengatakan, ‘Mengapa kamu menasihati….’.” Hakim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa golongan tersebut ikut pula melakukannya dan bahkan takjub dengan sikap mereka yang melakukannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka ketika golongan itu bersikap sombong dan melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah, agar tidak berburu ikan pada hari Sabtu, lalu Allah berfirman kepada mereka :
Jadilah kalian kera-kera yang hina yang jauh dari segala kebaikan.
Maka jadilah mereka seperti itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Yang hina.
(Al-A’raf: 166)

Yakni hina dina lagi tercela.


Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 166

KHAASI IIN
خَٰسِـِٔين

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya khaasi’, Berasal dari kata khasa’a-yakhsa’u atau dari al khas yang bermakna jauh dan hina.

Khasa’al bashar bermakna mata menjadi lemah atau buta.

Khasa’al kalb berarti mengusir dan menghalau anjing.

Kata al khasi’ mencakup makna yang dihalau, yang diusir, yang hina dan terkutuk.

Lafaz khaasi’ disebut satu kali yaitu pada surah Al Mulk (67), ayat 4 dan lafaz khaasi ‘iin diulang dua kali yaitu pada surah Al Baqarah (2), ayat 65 dan surah Al A’raaf (7), ayat 166. Allah berfirman:

كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ

Mujahid, Qatadah, Ar Rabi’ dan Ad Dahhak berpendapat makna khaasi’iin adalah shaaghirain atau dalam keadaan rendah dan terhina.

Al Yazidi menjelaskan, khaasi’iin bermakna mub’adiin yaitu yang terjauh dan terusir, dan menurut ulama mufassirin makna mub’adiin adalah sinonim dengan shaaghiriin yyaitu rendah dan terhina.

Ibn Jarir At Tabari mengatakan, makna­nya yang terjauh dari segala kebaikan dalam keadaan rendah dan terhina, karena asal makna khaasi’ adalah yang terjauh dan terusir sebagaimana anjing yang dihalau dan diusir.

Kesimpulannya, lafaz khaasi ‘iin dalam ayat Al Qur’an bermakna orang terkutuk, terhina dan terjauh dari segala kebaikan.

Sedangkan dalam bentuk mufrad atau khaasi’ sebagaimana yang terdapat dalam surah Al­ Mulk dikaitkan dengan lafaz al bahsar yang bermakna penglihatan menjadi lemah dan letih untuk melihat kecacatan dalam penciptaan langit dan bumi seperti yang diungkap oleh Ibn Katsir.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:209

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 166 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 166 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 166 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:166
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta