Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 160


وَ قَطَّعۡنٰہُمُ اثۡنَتَیۡ عَشۡرَۃَ اَسۡبَاطًا اُمَمًا ؕ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اِذِ اسۡتَسۡقٰىہُ قَوۡمُہٗۤ اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡحَجَرَ ۚ فَانۡۢبَجَسَتۡ مِنۡہُ اثۡنَتَا عَشۡرَۃَ عَیۡنًا ؕ قَدۡ عَلِمَ کُلُّ اُنَاسٍ مَّشۡرَبَہُمۡ ؕ وَ ظَلَّلۡنَا عَلَیۡہِمُ الۡغَمَامَ وَ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الۡمَنَّ وَ السَّلۡوٰی ؕ کُلُوۡا مِنۡ طَیِّبٰتِ مَا رَزَقۡنٰکُمۡ ؕ وَ مَا ظَلَمُوۡنَا وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ
Waqath-tha’naahumuutsnatai ‘asyrata asbaathan umaman wa-auhainaa ila muusa idziistasqaahu qaumuhu aniidhrib bi’ashaakal hajara faanbajasat minhuutsnataa ‘asyrata ‘ainan qad ‘alima kullu unaasin masyrabahum wazhallalnaa ‘alaihimul ghamaama waanzalnaa ‘alaihimul manna wassalwa kuluu min thai-yibaati maa razaqnaakum wamaa zhalamuunaa walakin kaanuu anfusahum yazhlimuun(a);

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya:
“Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”.
Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air.
Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.
Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa.
(Kami berfirman):
“Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”.
Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.
―QS. 7:160
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Iradah (berkeinginan)
7:160, 7 160, 7-160, Al A’raaf 160, AlAraaf 160, Al Araf 160, Al-A’raf 160
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 160. Oleh Kementrian Agama RI

Allah membagi kaum Musa, baik yang beriman kepada Allah maupun yang ingkar kepada-Nya menjadi dua belas suku yang dinamakan Sibt.
Pada suatu perjalanan di tengah-tengah padang pasir, kaumnya menderita kehausan, maka Allah mewahyukan kepada Musa agar ia memukulkan tongkatnya ke sebuah batu.
Setelah Musa memukulkannya, maka terpancarlah dari batu itu dua belas mata air, sesuai dengan banyaknya suku-suku Bani Israil.
Untuk masing-masing suku disediakan satu mata air dan mereka telah mengetahui tempat minum mereka, untuk menjaga ketertiban dan menghindarkan berdesak-desakan.

Kejadian ini merupakan mukjizat bagi Nabi Musa a.s.
untuk membuktikan kerasulannya dan untuk memperlihatkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala Kalau dahulu ia memukulkan tongkatnya ke laut sehingga terbentanglah jalan akan dilalui Bani Israil dari pengejaran Firaun dan tentaranya, maka pada kejadian ini Musa memukulkan tongkatnya ke batu, sehingga keluarlah air dari batu itu untuk melepaskan haus kaumnya.
Kejadian ini di samping merupakan mukjizat bagi Nabi Musa juga menunjukkan besarnya karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada Bani Israil.

Di samping karunia itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan lagi karunia yang telah diberikan-Nya kepada Bani Israil, yaitu:

1. Allah subhanahu wa ta'ala melindungi mereka dengan awan di waktu mereka berjalan di tengah padang pasir dan di waktu panas terik matahari yang membakar itu.
Jika tidak ada awan yang melindungi, tentulah mereka terbakar oleh kepanasan matahari.
Hal ini terjadi ketika mereka meninggalkan negeri Mesir dan setelah menyeberangi Laut Merah.
Mereka sampai di gurun pasir di Semenanjung Sinai dan ditimpa panas yang terik.
Karena itu mereka minta agar Musa berdoa kepada Tuhan agar memberikan pertolongan-Nya.
Allah menolong mereka dengan mendatangkan awan yang dapat melindungi mereka dari panas terik matahari.

2. Di samping itu Allah mengaruniakan pula kepala mereka makanan yang disebut al-manna semacam makanan yang manis seperti madu yang turun terus-menerus dari langit sejak fajar menyingsing sampai matahari terbit.
Di samping itu dianugerahkan Allah pula kepada mereka bahan makanan semacam burung puyuh yang disebut /i>salwa.

3. Allah memerintahkan kepada mereka agar memakan makanan yang halal yang baik, berfaedah bagi jasmani dan rohani, akal dan pikiran.

Allah subhanahu wa ta'ala telah melimpahkan karunia-Nya yang amat besar bagi Bani Israil tetapi mereka tidak mau bersyukur, bahkan mereka mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, ingkar kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya yang berakibat mereka mendapat azab dan siksaan-Nya.
Mereka disiksa itu semata-mata karena perbuatan mereka sendiri, bukanlah karena Allah hendak menganiaya mereka.
Tersebut dalam sebuah hadis Qudsi:

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan (mengerjakan) kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan perbuatan zalim itu (sebagai suatu perbuatan) yang diharamkan di antaramu, maka janganlah kamu saling berbuat zalim (di antara sesamamu).
Wahai hamba-hamba-Ku, kamu sekali-kali tidak akan dapat menimbulkan kemudaratan kepada-Ku, sehingga Aku memperoleh kemudaratan karenanya, dan kamu sekalian tidak dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga Aku memperoleh manfaat karenanya.

Al A'raaf (7) ayat 160 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 160 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 160 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada kaum Musa.
Dibagilah mereka menjadi dua belas kelompok.
Kelompok-kelompok itu kemudian menjadi paguyuban-paguyuban yang memiliki aturan-aturan tersendiri, sehingga perselisihan dan saling dengki antarkelompok dapat dihindari.
Ketika Musa, di padang Tih, diminta untuk mendatangkan air, Allah mewahyukan kepadanya untuk memukul sebongkah batu dengan tongkatnya.
Setelah dipukul, tiba-tiba batu itu memancarkan dua belas mata air, sesuai dengan jumlah paguyuban yang ada.
Setiap paguyuban mendapatkan tempat mengambil air minum khusus yang satu sama lain tidak boleh bercampur.
Mereka juga dinaungi oleh gumpalan awan untuk menjaga mereka dari sengatan terik matahari.
Diturunkan pula kepada mereka al-mann (sejenis makanan yang, jika dipandang, menyejukkan dan terasa seperti madu) dan al-salwa (sebangsa burung puyuh).
Lalu, Allah pun berkata kepada mereka, "Nikmatilah makanan-makanan lezat yang telah kami karuniakan kepada kalian." Tetapi mereka malah menzalimi diri mereka sendiri dan tak mensyukuri nikmat-nikmat itu.
Bahkan mereka meminta utnuk mengganti makanan yang Kami karuniakan dengan jenis lain.
Kezaliman mereka itu tidaklah menyulitkan Kami, tetapi justru mempersulit diri mereka sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami bagi mereka) Kami pecahkan kaum Bani Israel (menjadi dua belas) sebagai hal (suku-suku) menjadi badal dari yang sebelumnya, yaitu kabilah-kabilah (yang masing-masingnya berjumlah besar) menjadi badal dari yang sebelumnya (dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya,) di tengah padang sahara ("Pukullah batu itu dengan tongkatmu!") kemudian Musa memukulkannya (maka memancarlah) maksudnya tersemburlah (daripadanya dua belas mata air) sesuai dengan bilangan kabilah (Sesungguhnya tiap-tiap suku telah mengetahui) setiap suku dari kalangan mereka (tempat minum masing-masing.
Dan Kami naungkan awan di atas mereka) di padang pasir tempat mereka berada guna melindungi mereka dari panasnya matahari (dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa) keduanya adalah taranjabin, makanan manis seperti madu, dan sebangsa burung puyuh dengan ditakhfifkan mimnya dan dibaca pendek.
Dan Kami berfirman kepada mereka, ("Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan Kami membagi-bagi kaum Nabi Musa, Bani Israil itu menjadi dua belas suku sesuai dengan jumlah al-Asbath (anak-anak Ya qub), setiap suku dikenal melalui pemimpinnya masing-masing.
Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya tatkala mereka merasakan haus dahaga yang amat sangat saat mereka terusir di padang pasir :
Pukullah batu itu dengan tongkatmu, maka memancarlah dari batu itu dua belas mata air, setiap suku dari kedua belas suku itu mengenal tempat minum mereka masing-masing, tidak ada suku yang masuk ke dalam tempat minum suku yang lain.
Kami naungkan awan diatas mereka, Kami turunkan kepada mereka Manna, yaitu minuman yang berwarna putih mirip dengan getah karet rasanya manis seperti madu.
Dan Kami turunkan Salwa, yaitu burung semacam burung sumaanaa (puyuh).
Kami berfirman kepada mereka :
Makanlah oleh kalian yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian.
Akan tetapi mereka malah tidak mau dan cepat merasa bosan dengan Manna dan Salwa yang sudah mereka makan sejak lama.
Lalu, mereka berkata :
Kami sudah tidak bisa sabar dengan hanya satu jenis makanan saja.
Kemudian mereka meminta makanan-makanan yang baik itu diganti dengan yang jauh lebih rendah.
Mereka tidak zhalim kepada Kami ketika mereka tidak mau bersyukur kepada Kami dan tidak menjalankan apa yang Allah wajibkan atas mereka akan tetapi mereka yang berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri dengan melewatkan semua kebaikan dan cenderung mencelakakan diri mereka sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dan Kami bagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" Maka memancarlah darinya dua belas mata air.
Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.
Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turun­kan kepada mereka manna dan salwa.
(Kami berfirman), "Makan­lah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian.” Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi mereka yang menganiaya dirinya sendiri.
Dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), "Diamlah di kota ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kalian kehendaki." Dan katakanlah, "Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian.” Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.
Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan atas mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.

Tafsir ayat-ayat ini telah dikemukakan di dalam tafsir surat Al-Baqarah yang Madaniyyah, sedangkan konteks ayat-ayat ini adalah Makkiyyah.
Kami pun telah mengingatkan tentang perbedaan di antara Makkiyyah dan Madaniyah hingga tidak perlu untuk diulangi lagi di sini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 160

ASBAATH
أَسْبَاط

Lafaz ini adalah jamak dari ash sibth, artinya anak dari anak yaitu cucu dan biasanya cucu dari anak perempuan, lawan bagi al-hafid atau cucu dari anak lelaki. Ia dipetik dari ash sabath atau asy syajarah (pohon) yang memiliki dahan yang banyak. Asbaath bagi Yahudi berarti seperti kabilah-kabilah Arab.

Lafaz asbaath disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2) ayat 136, 140;
-Ali Imran (3), ayat 84;
-An Nisaa (4), ayat 163;
-Al A'raaf (7), ayat 160.

Al Qurtubi berkata,
"Asbaath dalam surah Al Baqarah, ayat 136 dan 140 bermakna anak Ya'qub yaitu 12 orang. Setiap dari mereka melahirkan keturunan yang menjadi umat manusia. Al-sibth pada Bani Israil seperti kedudukan kabilah pada anak Ismail dan dinamakan asbaath dari al-sabath berarti at tatabbu' (berurutan), yaitu mereka sebuah kelompok yang bergenerasi, jemaah dan kabilah yang bersumberkan pada satu sumber.

Abu lshaq Az Zujjaj berkata,
"Hal ini dijelaskan dengan pandangan yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al Anbari dari Abu Nujayd, dari Al Aswad bin 'Amir, dari lsra'il bin Samak, dari 'Ikrimah, dari lbn 'Abbas, beliau berkata,
"Kesemua nabi-nabi dari keturunan Bani Israil kecuali sepuluh yaitu Nuh, Syu'aib, Hud, Salih, Lut, Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Ismail dan Muhammad, tidak ada pada setiap mereka dua nama kecuali 'Isa dan Ya'qub. Dalam surah Ali Imran Sa'id Hawwa berkata,
"Ia bermaksud anak-anak Ya'qub dan keturunan mereka dari para nabi."

Ibn Katsir berkata,
"Ia adalah bangsa, umat atau kaum Bani Israil dan siapa yang diturunkan wahyu oleh Allah kepada mereka dari nabi-nabi, sebagaimana yang terdapat dalam perkataan Nabi Musa kepada mereka (surah Al Maa'idah):

"wadzkuruu ni'matallaahi 'alaikum idz ja'ala fiikum....."

Kesimpulannya dipetik dari pendapat Muhammad Rasyid Rida dimana makna asbaath ialah anak-anak Ya'qub, kelompok-kelompok atau kaum yang 12 yang terpecah dan bercabang dari mereka.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:69-70

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 160 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 160



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Rating Pembaca: 4.3 (15 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku