Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 157


اَلَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Al-ladziina yattabi’uunarrasuulannabii-yal ammii-yal-ladzii yajiduunahu maktuuban ‘indahum fiittauraati wal-injiili ya’muruhum bil ma’ruufi wayanhaahum ‘anil munkari wayuhillu lahumuth-thai-yibaati wayuharrimu ‘alaihimul khabaa-itsa wayadha’u ‘anhum ishrahum wal aghlaalallatii kaanat ‘alaihim faal-ladziina aamanuu bihi wa’azzaruuhu wanasharuuhu waattaba’uunnuural-ladzii unzila ma’ahu uula-ika humul muflihuun(a);

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.
Maka orang-orang yang beriman kepadanya.
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
―QS. 7:157
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Perintah bersedekah
7:157, 7 157, 7-157, Al A’raaf 157, AlAraaf 157, Al Araf 157, Al-A’raf 157
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 157. Oleh Kementrian Agama RI

Sifat-sifat Muhammad rasul dan nabi Allah yang wajib diikuti itu ialah:

1.
Nabi yang ummi (buta huruf) Dalam ayat ini diterangkan bahwa salah satu sifat Muhammad ﷺ.
ialah tidak pandai menulis dan membaca.
Sifat ini memberi pengertian bahwa seorang yang ummi tidak mungkin membaca Taurat dan Injil yang ada pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, demikian pula cerita-cerita kuno yang berhubungan dengan umat-umat dahulu.
Hal ini membuktikan bahwa risalah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.
itu benar-benar berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Mustahil seseorang yang tidak tahu tulis baca dapat membuat dan membaca Alquran dan hadis yang memuat hukum-hukum, ketentuan-ketentuan ilmu pengetahuan yang demikian tinggi nilainya.
Seandainya Alquran itu buatan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan semesta alam tentulah manusia dapat membuat atau menirunya tetapi sampai saat ini belum ada seorang manusia pun yang sanggup menandinginya.

2.
Kedatangannya jelas diisyaratkan di dalam kitab Taurat dan Injil.
Kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul penutup telah diisyaratkan di dalam kitab Taurat dan Injil, bahkan Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan dalam firman-Nya:

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.
Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.

(Q.S Al Baqarah: 146)

Menurut ayat ini, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menyembunyikan pemberitaan tentang akan diutusnya Muhammad ﷺ.
dengan menghapus pemberitaan ini dan menggantinya dengan yang lain di dalam Kitab Taurat dan Injil.
Banyak ayat Alquran yang menerangkan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu.

Sekalipun demikian masih terdapat ayat-ayat Taurat (Wasiat Yang Lama) dan Perjanjian Yang Baru mengisyaratkan akan kedatangan Muhammad itu.
Dalam kitab Kejadian 21:13 diterangkan bahwa akan datang seorang nabi akhir zaman nanti dari keturunan Ismail.

Dari ayat Taurat ada beberapa isyarat yang dapat dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
itu adalah seorang nabi di antara segala saudaranya.
Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dinobatkan oleh Tuhan itu akan timbul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil itu sendiri.
Adapun saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail (bangsa Arab) sebab Ismail adalah saudaranya yang tua dari Ishak bapak Nabi Yakub.
Dan Nabi Muhammad ﷺ.
sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

Kemudian kalimat: Yang seperti engkau memberikan arti bahwa nabi yang akan datang haruslah seperti Nabi Musa a.s., yaitu nabi yang membawa syariat baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk bangsa Israil.
Kemudian diterangkan lagi bahwa nabi itu tidak sombong, baik sebelum menjadi nabi.
Sebelum menjadi nabi beliau sudah disenangi orang, terbukti dengan pemberian gelar oleh orang Arab kepadanya yaitu Al-Amin yang artinya orang yang dipercaya. Jika beliau seorang yang sombong, tentu beliau tidak akan diberi gelar yang amat terpuji itu.
Setelah menjadi nabi beliau lebih ramah dan rendah hati.

Umat Nasrani menyesuaikan nubuat itu kepada Nabi Isa a.s.
di samping mereka mengakui bahwa Isa a.s.
mati terbunuh (disalib).
Hal ini jelas bertentangan dengan ayat nubuat itu sendiri.
Sebab nabi itu haruslah tidak mati terbunuh.
Disebutkan pula bahwa Tuhan telah datang dari Tursina, maksudnya memberikan wahyu kepada Musa a.s.
dan telah terbit bagi mereka itu di Seir, maksudnya menurunkan kepada Nabi Isa wahyu, serta gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, maksudnya menurunkan wahyu kepada Muhammad ﷺ.
Paran (Faron) adalah nama salah satu bukit di negeri Mekah.

Dalam Bab XV Injil Yohanna disebutkan Nnbuat Nabi Muhammad ﷺ.
sebagai berikut: "Maka adapun apabila telah datang Faraklit yang Aku telah mengutusnya kepadamu dari bapak, roh yang benar yang berasal dari bapak, maka dia menjadi saksi bagiku, sedangkan kamu menjadi saksi sejak semula." Perkataan "Faraklit" adalah bahasa Ibrani yang artinya sama dengan "Ahmad" dalam bahasa Arab.
Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad).
(Q.S As Saff: 6)

Demikianlah sekali pun ada bagian Taurat dan Injil yang diubah, ditambah, dan dihilangkan juga masih terdapat isyarat-isyarat tentang kenabian dan kerasulan Muhammad ﷺ.
Itu pulalah sebabnya sebagian ulama Yahudi dan Ibrani yang mengakui kebenaran berita itu segera beriman kepada Muhammad dan risalah yang dibawanya, seperti Abdullah Ibnu Salam, Tamim Ad-Dari dan lain-lain sebagainya.

3.
Nabi itu menyuruh berbuat makruf dan melarang berbuat mungkar.
Perbuatan yang makruf ialah perbuatan yang baik yang sesuai dengan akal sehat, dan membersihkan jiwa, bermanfaat bagi diri sendiri, manusia dan kemanusiaan.
Sedangkan perbuatan yang mungkar ialah perbuatan yang buruk yang tidak sesuai dengan akal yang sehat dan dapat menimbulkan mudarat bagi diri sendiri, bagi manusia dan kemanusiaan.
Perbuatan makruf yang paling tinggi nilainya ialah mengakui keesaan Allah, dan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, sedang perbuatan mungkar yang tinggi sekali tingkatannya ialah memperserikatkan Allah subhanahu wa ta'ala

4.
Menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk.
Yang dimaksud dengan yang baik ialah yang halal lagi baik, tidak merusak akal, pikiran, jasmani dan rohani.
Sedangkan yang dimaksud dengan yang jelek ialah yang haram yang merusak akal, pikiran, jasmani dan rohani.

5.
Menghilangkan beban-beban dan belenggu-belenggu yang memberatkan.
Maksudnya ialah dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
tidak ada lagi beban yang berat seperti yang dipikulkan kepada Bani Israil.
Umpamanya mensyariatkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan, baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja, tanpa membolehkan membayar diyat, memotong bagian badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang terkena najis, dan sebagainya.
Sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur.
(Q.S Al Ma'idah: 6)

Demikian juga Rasulullah ﷺ bersabda:

Berilah kabar gembira dan janganlah memberikan kabar yang menakut-nakuti, mudahkanlah dan jangan mempersukar, bersatulah dan jangan berselisih.
(H.R Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya kepada Bani Israil telah disyariatkan hukum-hukum yang berat, baik hukum ibadat maupun hukum muamalat.
Kemudian kepada Nabi Isa a.s.
disyariatkan hukum ibadat yang berat.
Sedang syariat Nabi Muhammad ﷺ.
sifatnya tidak memberatkan, tetapi melapangkan dan memperingan tanggungan, baik yang berhubungan dengan hukum-hukum ibadat maupun yang berhubungan dengan hukum-hukum muamalat.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan cara-cara mengikuti rasul yang disebutkan ciri-cirinya di atas agar berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti ialah beriman kepadanya dan kepada risalah yang dibawanya, menolongnya dengan rasa penuh hormat, menegakkan dan meninggikan agama yang dibawanya, mengikuti Alquran yang dibawanya yang merupakan sinar terang-benderang, menyinari jalan-jalan untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Al A'raaf (7) ayat 157 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 157 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 157 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Rahmat-Ku akan Aku utamakan bagi mereka yang mengikuti Muhammad ﷺ., seorang rasul yang tak dapat membaca dan menulis, yang ciri-cirinya telah kalian temukan dalam Tawrat dan Injil.
Dia (Muhammad) selalu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ia pun telah menghalalkan untuk mereka setiap sesuatu yang dapat diterima oleh naluri manusia, dan mengharamkan setiap yang ditolak oleh naluri manusia, seperti darah dan bangkai.
Dia juga akan menghilangkan segala beban dan kesulitan yang mereka tanggung sebelumnya.
Maka barangsiapa yang membenarkan pesan-pesan suci Tuhan yang dibawanya, mendukung dan membelanya, dan menjadikan Al Quran sebagai cahaya petunjuk, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Sebaliknya, mereka yang ingkar, adalah orang-orang yang merugi."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yaitu orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi) yaitu Nabi Muhammad ﷺ (yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka) lengkap dengan nama dan ciri-cirinya (yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik) dari apa yang sebelumnya diharamkan oleh syariat mereka (dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk) yaitu bangkai dan lain-lainnya (dan membuang dari mereka beban-beban) maksud tanggungan mereka (dan belenggu-belenggu) hal-hal yang berat (yang ada pada mereka) seperti bertobat dengan jalan membunuh diri dan memotong apa yang terkena oleh najis.
(Maka orang-orang yang beriman kepadanya) dari kalangan mereka (memuliakannya) yaitu menghormatinya (menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya) yakni Alquran (mereka itulah orang-orang yang beruntung).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kasih sayang ini Aku tetapkan bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan menjauhi perbuatan maksiat, dan mengikuti Rasul, yaitu nabi yang ummi, yang tidak membaca dan tidak pula menulis.
Dialah Muhammad yang sifat dan cirri-cirinya tertulis di dalam Taurat dan Injil.
Dia mengajak manusia kepada Tauhid, ketaatan dan kepada semua kebaikan, dan melarang mereka dari perbuatan syirik, durhaka, dan dari semua keburukan.
Dia (Muhammad) menghalalkan bagi mereka makanan, minuman dan sembelihan yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka semua yang buruk, seperti daging babi, dan semua makanan atau minuman haram yang mereka halalkan.
Dia menghilangkan kewajiban-kewajiban yang berat, seperti kewajiban memotong kulit atau pakaian yang terkena najis, membakar harta rampasan dan qishash sebagai hukuman bagi orang yang membunuh dengan sengaja atau tidak.
Maka orang-orang yang percaya kepada Nabi yang ummi, Muhammad , mengakui kenabiannya, memuliakannya, menghormatinya, menolongnya, dan mengikuti al-Qur an yang telah diturunkan kepadanya, dan mengerjakan sunah-sunahnya.
Mereka itulah orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan apa yang Allah janjikan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.

Demikianlah sifat dan ciri khas Nabi Muhammad ﷺ yang tertera di dalam kitab-kitab para nabi terdahulu.
Para nabi terdahulu menyampai­kan berita gembira kepada umatnya masing-masing akan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan memerintahkan kepada umatnya untuk mengikutinya (apabila mereka mengalami masanya).
Dan sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ masih tetap ada dalam kitab-kitab mereka serta diketahui oleh ulama dan rahib mereka.
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Al-Jariri, dari Abu Sakhr Al-Uqaili, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki Badui yang menceritakan bahwa di masa Rasulullah ﷺ ia pernah datang ke Madinah membawa sapi perahan.
Setelah selesai dari jual belinya, lelaki Badui itu berkata, "Aku sungguh akan menemui lelaki ini (maksudnyaNabi ﷺ), dan sungguh aku akan mendengar darinya." Lelaki Badui itu melanjutkan kisahnya, lalu aku menjumpainya sedang berjalan di antara Abu Bakar dan Umar, maka aku mengikuti mereka berjalan hingga sampailah mereka kepada seorang lelaki Yahudi.
Lelaki Yahudi itu sedang membuka kitab Taurat seraya membacanya, sebagai ungkapan rasa duka dan belasungkawanya atas anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian, anak lakt-Iakinya itu adalah seorang pemuda yang paling tampan dan paling gagah.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya: Aku memohon kepadamu dengan nama Tuhan yang telah menurun­kan kitab Taurat, apakah engkau menjumpai dalam kitabmu ini sifat dan tempat hijrahku?
Lelaki Yahudi itu menjawab pertanyaan Nabi ﷺ hanya dengan isyarat gelengan kepala yang berarti 'tidak'.
Tetapi anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian itu berkata, "Ya, demi Tuhan yang telah menurun­kan kitab Taurat, sesungguhnya kami menjumpai di dalam kitab kami sifatmu dan tempat hijrahmu.
Dan sesungguhnya aku sekarang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi (pula) bahwa engkau adalah utusan Allah." (Kemudian anak orang Yahudi itu meninggal dunia).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Singkirkanlah orang Yahudi ini dari saudara kalian! Kemudian Nabi ﷺ mengurus pengafanan dan menyalati mayat anak lelaki Yahudi itu.

Hadis ini baik lagi kuat dan mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya di dalam kitab Sahih melalui hadis Anas.

Imam Hakim —penulis kitab Al-Mustadrak— mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ishaq Al-Bagawi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Aisam Al-Baladi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muslim ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, dari Syurahbil ibnu Muslim, dari Abu Umamah Al-Bahili, dari Hisyam ibnul As Al-Umawi yang menceritakan bahwa dia dan seorang lelaki lain diutus untuk menemui Heraklius—Raja Romawi— untuk menyerunya (mengajaknya) masuk Islam.
"Kami berangkat, dan ketika kami sampai di Al-Gautah —bagian dari kota Dimasyq (Damaskus)— kami turun istirahat di perkampungan Al-Jabalah ibnul Aiham Al-Gassani.
Lalu kami masuk menemuinya, tiba-tiba kami jumpai dia berada di atas singgasananya.
Ia mengirimkan utusannya kepada kami agar kami berbicara dengannya, tetapi kami mengatakan, 'Demi Allah, kami tidak akan berbicara kepada utusan.
Sesungguhnya kami diutus hanya untuk menemui raja (kalian).
Jika kami diberi izin untuk masuk, maka kami akan berbicara langsung dengannya, dan jika tidak, kami tidak akan berbicara kepada utusan.' Kemudian utusan Jabalah ibnul Aiham kembali kepadanya dan menceritakan segala sesuatunya kepadanya.
Akhirnya kami diberi izin untuk menemuinya, lalu Jabalah berkata, "Berbicaralah kalian.' Maka Hisyam ibnul As berbicara dengannya dan menyerunya untuk memeluk agama Islam.
Ternyata Jabalah memakai pakaian hitam, maka Hisyam bertanya kepadanya, 'Pakaian apakah yang engkau kenakan itu?' Jabalah menjawab, 'Saya memakainya dan saya telah bersumpah bahwa saya tidak akan menanggalkannya sebelum mengusir kalian dari negeri Syam.' Kami berkata, 'Majelismu ini, demi Allah, akan benar-benar kami rebut dari tangan kekuasaanmu, dan sesungguhnya kami akan merebut kerajaan rajamu yang paling besar, Insya Allah.
Hal ini telah diberitakan kepada kami oleh Nabi kami, yaitu Nabi Muhammad ﷺ' Jabalah mengatakan, 'Kalian bukanlah mereka, bahkan mereka adalah suatu kaum yang puasa siang harinya dan salat pada malam harinya, maka bagaimanakah cara puasa kalian?' Maka kami menceritakan cara puasa kami.
Wajah Jabalah menjadi hitam (marah) dan berkata, 'Berangkatlah kalian,' dan ia menyertakan seorang utusan bersama kami untuk menghadap kepada Kaisar Romawi.
Kami berangkat, dan ketika kami sudah dekat dengan ibu kota, berkatalah orang yang bersama kami, 'Sesungguhnya hewan kendaraan kalian ini dilarang memasuki ibu kota kerajaan.
Jika kalian suka, maka kami akan membawa kalian dengan kendaraan kuda dan Bagal.
Kami menjawab, 'Demi Allah, kami tidak akan masuk melainkan dengan memakai kendaraan ini.' Kemudian orang yang bersama kami itu mengirimkan utusan (kurir)nya kepada kaisar untuk menyampaikan bahwa para utusan kaum muslim menolak peraturan tersebut.
Akhirnya Raja Romawi memerin­tahkan kepada utusan itu untuk membawa kami masuk dengan kendaraan yang kami bawa.
Kami masuk ke dalam ibu kota dengan menyandang pedang-pedang kami, hingga sampailah kami pada salah satu gedung milik Kaisar.
Lalu kami istirahatkan unta kendaraan kami pada bagian bawahnya, sedangkan Raja Romawi memandang kami.
Lalu kami ucapkan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.' Allah-lah yang mengetahui, karena sesungguhnya gedung itu mendadak menjadi awut-awutan seperti pohon kurma yang tertiup angin besar.
Lalu raja mengirimkan kurirnya kepada kami untuk menyampaikan, 'Kalian tidak usah menggembar-gemborkan agama kalian kepada kami.' Dan raja mengirimkan lagi kurirnya untuk menyampaikan, 'Silakan kalian masuk.' Maka kami masuk menghadapnya, sedangkan dia berada di atas pelaminannya, di hadapan para pastur Romawi.
Segala sesuatu yang ada di majelisnya berwarna merah, raja sendiri memakai baju merah, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya semuanya berwarna merah.
Lalu kami mendekat kepadanya.
Dia tertawa, lalu berkata, 'Bagaimanakah menurut kalian jika kalian datang menghadap kepadaku dengan mengucapkan kalimat salam penghormatan yang berlaku di antara sesama kalian?
Tiba-tiba di sisinya terdapat seorang lelaki yang fasih berbicara Arab lagi banyak bicara.
Maka kami menjawab, 'Sesungguhnya salam penghormatan kami di antara sesama kami tidak halal bagimu, dan salam penghormatan kamu yang biasa kamu pakai tidak halal pula bagi kami memakainya.' Raja menjawab, 'Bagaimanakah ucapan salam penghormatan kalian di antara sesama kalian?
Kami menjawab, 'Assalamu 'alaika.
Raja ber­tanya, 'Bagaimanakah caranya kalian mengucapkan salam penghormat­an kepada raja kalian?' Kami menjawab, 'Sama dengan kalimat itu.! Raja bertanya, 'Bagaimanakah kalian mendapat jawabannya?' Kami menjawab, Kalimat yang sama.
Raja bertanya, 'Kalimat apakah yang paling besar dalam ucapan kalian?
Kami menjawab, 'Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.' Ketika kami mengucapkan kalimah itu, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui, tiba-tiba gedung istana itu bergetar sehingga si raja mengangkat kepalanya memandang ke atas gedung itu.
Raja berkata, 'Kalimat yang baru saja kalian ucapkan dan membuat gedung ini bergetar.
Apakah setiap kalian mengucapkannya di dalam rumah kalian, lalu kamar-kamar kalian bergetar karenanya?
Kami menjawab, 'Tidak, kami belum pernah melihat peristiwa ini kecuali hanya di tempatmu sekarang ini?
Raja berkata, 'Sesungguhnya aku mengharapkan seandainya saja setiap kali kalian mengucapkan segala sesuatu bergetar atas kalian.
Dan sesungguhnya aku rela mengeluarkan separo dari kerajaanku?
Kami bertanya, 'Mengapa?' Ia menjawab, 'Karena sesungguhnya hal itu lebih mudah dan lebih layak untuk dikatakan bukan merupakan perkara kenabian, dan bahwa hal tersebut hanyalah terjadi semata-mata karena perbuatan manusia.' Kemudian raja menanyai kami tentang tujuan kami, lalu kami menceritakan hal itu kepadanya.
Setelah itu raja bertanya, 'Bagaimana­kah salat dan puasa kalian?' Kami menceritakan hal itu kepadanya, lalu raja berkata.
'Bangkitlah kalian.' Kemudian ia memerintahkan agar menyediakan rumah yang baik dan tempat peristirahatan yang cukup buat kami, dan kami tinggal di sana selama tiga hari.
Pada suatu malam raja mengirimkan kurirnya kepada kami, lalu kami masuk menemui raja, dan ia meminta agar kami mengulangi ucapan kami, maka kami mengulanginya.
Sesudah itu ia memerintahkan agar dibawakan sesuatu yang berbentuk seperti kota yang cukup besar, terbuat dari emas.
Di dalamnya terdapat rumah-rumah kecil yang masing-masingnya berpintu.
Raja membuka sebuah rumah dan membuka kuncinya, lalu menge­luarkan (dari dalamnya) selembar kain sutera hitam.
Ketika kami membeberkan kain sutera itu, tiba-tiba padanya terdapat gambar merah, dan pada gambar yang merah itu terdapat gambar seorang lelaki yang bermata besar lagi berpantai besar, saya belum pernah melihat leher sepanjang yang dimilikinya.
Ternyata lelaki itu tidak berjanggut, dan ternyata pada rambutnya terdapat dua kepangan rambut yang paling indah di antara semua makhluk Allah.
Lalu raja berkata, 'Tahukah kalian gambar siapakah ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Ini adalah gambar Adam 'alaihis salam' Ternyata Nabi Adam 'alaihis salam adalah orang yang sangat lebat rambutnya.
Kemudian raja membuka rumah yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera berwarna hitam darinya.
Tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar orang yang berkulit putih, memiliki rambut yang keriting, kedua matanya merah, berkepala besar, dan sangat bagus janggutnya.
Lalu raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Dia adalah Nuh 'alaihis salam' Kemudian ia membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam lainnya, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang kelaki yang sangat putih, kedua matanya sangat indah, keningnya lebar, dan pipinya panjang (lonjong), sedangkan janggutnya berwarna pulih, seakan-akan gambar lelaki itu tersenyum.
Lalu raja bertanya, 'Tahu­kan kalian, siapakah orang ini?7 Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Orang ini adalah Ibrahim 'alaihis salam' Lalu raja membuka pintu yang lain (dan mengeluarkan kain sutera hitam) tiba-tiba padanya terdapat gambar orang yang putih, dan tiba-tiba—demi Allah—dia adalah Rasulullah ﷺ sendiri." Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab.
‘Ya.
orang ini adalah Muhammad, utusan Allah subhanahu wa ta'ala.’ Kami menangis, dan raja bangkit berdiri sejenak, kemudian duduk lagi, lalu bertanya, 'Demi Allah, benarkah gambar ini adalah dia (Nabi ﷺ)?' Kami menjawab, 'Ya, sesungguhnya gambar ini adalah gambar dia, seakan-akan engkau sedang memandang kepadanya.' Raja memegang kain sutera itu sesaat seraya memandangnya, lalu berkata, 'Ingatlah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah yang terakhir, tetapi sengaja saya segerakan buat kalian untuk melihat apa yang ada pada kalian.' Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam darinya, tiba-tiba padanya terdapat gambar seseorang yang hitam manis, dia adalah seorang lelaki yang berambut keriting dengan mata yang agak cekung, tetapi pandangannya tajam, wajahnya murung, giginya bertumpang tindih, bibirnya dicibirkan seakan-akan sedang dalam keadaan marah.
Raja bertanya “Tahukah kalian siapakah orang ini?'Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata 'Dia adalah Musa 'alaihis salam' Sedangkan di sebelahnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengannya, hanya rambutnya berminyak, dahinya lebar, dan kedua matanya kelihatan agak juling.
Raja itu bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Harun ibnu Imran 'alaihis salam' Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih dari dalamnya.
Ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki hitam manis, tingginya pertengahan, dadanya bidang, dan seakan-akan sedang marah.
Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?* Kami menjawab, 'Tidak.' Dia menjawab bahwa orang tersebut adalah Lut 'alaihis salam Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera berwarna putih, tiba-tiba padanya terdapat gambar seorang lelaki yang kulitnya putih kemerah-merahan dengan pinggang yang kecil dan memiliki wajah yang tampan.
Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kaitan siapakah orang ini?* Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Dia adalah Ishaq 'alaihis salam Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih darinya, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengan Ishaq, hanya saja pada bibirnya terdapat tahi lalat.
Raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Ya'qub 'alaihis salam' Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera yang berwarna hitam, di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki berkulit putih, berwajah tampan, berhidung mancung dengan tinggi yang cukup baik, pada wajahnya terpancarkan nur (cahaya), dan terbaca dari wajahnya pertanda khusyuk dengan kulit yang putih kemerah-merahan.
Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata.”Orang ini adalah kakek nabi kalian, yaitu Nabi Ismail 'alaihis salam" Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang mirip dengan Nabi Adam, hanya wajahnya bercahaya seperti mentari.
Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, Tidak tahu.
Raja berkata ‘Orang ini adalah Yusuf AS.
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berkulit merah, kedua betisnya kecil, dan matanya rabun, sedang-kan perutnya besar dan tingginya sedang, seraya menyandang pedang.
Raja bertanya, 'Tahukan kalian siapakah orang ini?* Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Daud 'alaihis salam' lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berpantat besar, kedua kakinya agak panjang seraya mengendarai kuda.
Lalu raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Sulaiman ibnu Daud 'alaihis salam' Kemudian raja membuka pintu yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera hitam darinya, pada kain sutera itu terdapat gambar orang yang berpakatan putih, dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang janggutnya berwarna hitam pekat, berambut lebat, kedua matanya indah, dan wajahnya tampan.
Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab.
'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Isa ibnu Maryam 'alaihis salam' Kami bertanya, 'Dari manakah kamu mendapatkan gambar-gambar ini?
Karena kami mengetahui bahwa gambar-gambar tersebut sesuai dengan gambar nabi-nabi yang dimaksud, mengingat kami melihat gambar nabi kami persis seperti yang tertera padanya.' Raja menjawab, 'Sesungguhnya Adam 'alaihis salam pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia memperlihatkan kepadanya para nabi dari keturunannya, maka Allah menurunkan kepadanya gambar-gambar mereka.
Gambar-gambar tersebut berada di dalam perbendaharaan Nabi Adam 'alaihis salam yang terletak di tempat tenggelamnya matahari.
Kemudian dikeluarkan oleh Zul Qarnain dari tempat penyimpanannya di tempat tenggelamnya matahari, lalu Zul Qarnain menyerahkannya kepada Nabi Danial.' Kemudian raja berkata, 'Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya pribadiku suka bila keluar dari kerajaanku, dan sesungguhnya aku nanti akan menjadi orang yang memiliki kerajaan yang paling kecil di antara kalian hingga aku mati.' Lalu raja memberikan hadiah, Dan ternyata hadiah yang diberikannya sangat baik, lalu dia melepas kami pulang.
Ketika kami sampai pada Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a..
kami ceritakan kepadanya semua yang telah kami lihat, demikian pula perkataan raja serta hadiah yang diberikannya kepada kami.
Maka Abu Bakar menangis dan berkata, 'Kasihan dia.
Seandainya Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia melakukannya (masuk Islam).' Kemudian Abu Bakar As-Siddiq berkata, 'Telah menceritakan kepada kami Rasulullah ﷺ, bahwa mereka (orang-orang Nasrani) dan orang-orang Yahudi menjumpai sifat Nabi Muhammad ﷺ pada kitab yang ada pada mereka'."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Ata ibnu Yasar yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan Abdullah ibnu Amr, lalu ia bertanya kepadanya, "Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah ﷺ di dalam kitab Taurat." Abdullah ibnu Amr menjawab, "Memang benar, demi Allah, sesungguhnya sifat beliau tertera di dalam kitab Taurat," sebagaimana yang didapat di dalam Al-Qur’an: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, serta menjadi benteng bagi orang-orang yang ummi.
Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku, namamu muiawakkil (orang yang berserah diri), tidak bersikap keras, dan tidak berhati kasar.
Allah tidak akan mewafatkannya sebelum meluruskan agama yang bengkok dengan melaluinya.
sehingga mereka mengucapkan kalimat, "Tidak ada Tuhan selain Allah",
dan membuka hati-hati yang tertutup, telinga-telinga yang tuli serta mata-mata yang buta dengan melaluinya.
Selanjutnya Ata mengatakan bahwa kemudian ia menjumpai Ka'b dan menanyakan hal itu kepadanya, ternyata ia pun mengatakan hal yang sama tanpa ada perbedaan satu huruf pun, hanya Ka'b mengungkapkan­nya menurut dialeknya, yakni dia mengatakan gulufiyan, sumumiyan, dan 'umumiyan.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya, dari Muhammad ibnu Sinan, dari Falih, dari Hilal ibnu Ali, lalu ia menyebutkan hadis berikut dengan sanadnya dengan lafaz yang semisal, tetapi dalam riwayatnya ditambahkan sesudah 'tidak bersikap keras dan tidak berhati kasar",
yaitu kalimat berikut: 'tidak membuat keributan di pasar-pasar dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, tetapi penyantun dan pemaaf.

Imam Bukhari pun menuturkan hadis Abdullah ibnu Amr, lalu mengatakan, "Menurut peristilahan kebanyakan ulama Salaf, pengertian kitab Taurat ditujukan kepada semua kitab orang-orang Ahli Kitab."

Hal-hal yang serupa dengan ini telah disebutkan pada sebagian hadis.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan: telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Idris ibnu Warraq ibnul Humaidi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Ibrahim (salah seorang putra Jubair ibnu Mut'im) yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Ummu Usman, putri Sa:id (yaitu nenekku), dari ayahnya (Sa'id ibnu Muhammad ibnu Jubair), dari ayahnya (Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut'im) yang menceritakan, "Pada suatu hari ia berangkat menuju negeri Syam untuk berniaga.
Ketika sampai di dataran rendah negeri Syam, saya ditemui oleh seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab.
Lelaki Ahli Kitab itu berkata, 'Apakah di kalangan kalian terdapat seorang lelaki yang menjadi nabi?' Saya menjawab,'Ya.’ Ia bertanya, 'Apakah engkau mengenalnya jika aku perlihatkan gambarnya kepadamu?' Saya menjawab, 'Ya’, Lalu ia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya banyak terdapat gambar, tetapi saya tidak melihat gambar Nabi ﷺ Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba masuklah seorang lelaki, lalu bertanya, 'Sedang apakah kalian?' Maka kami ceritakan kepadanya perihal urusan kami.
Lalu lelaki yang baru datang ini mengajak kami ke rumahnya.
Ketika saya memasuki rumahnya, saya melihat gambar Nabi ﷺ, dan ternyata dalam gambar itu terdapat gambar seorang lelaki yang sedang memegang tumit Nabi ﷺ Saya bertanya, 'Siapakah lelaki yang sedang memegang tumitnya?' Ia menjawab, 'Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun melainkan sesudahnya ada nabi yang lain.
Kecuali nabi ini, karena sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahnya, dan lelaki yang memegang tumitnya ini adalah khalifah sesudahnya.' Dan ternyata gambar lelaki itu sama dengan Abu Bakar r.a."

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs Abu Amr Ad-Darir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, bahwa Sa'id ibnu Iyas Al-Jariri telah menceritakan kepada mereka, dari Abdullah ibnu Syaqiq Al-Uqaili, dari Al-Aqra' —muazzin Umar ibnul Khattab r.a.— yang menceritakan, "Khalifah Umar menyu­ruhku untuk memanggil seorang uskup.
Lalu Umar bertanya kepadanya, 'Apakah kamu menjumpai diriku dalam kitabmu?' Uskup itu menjawab, 'Ya’, Umar bertanya, 'Bagaimanakah engkau menjumpai diriku?' Uskup menjawab, 'Saya menjumpai dirimu bagaikan tanduk.' Maka Umar mengangkat cambuknya seraya bertanya, 'Tanduk apakah yang kamu maksudkan?' Uskup menjawab, 'Tanduk besi, amir yang keras.' Umar bertanya, 'Bagaimanakah kamu jumpai orang yang sesudahku?'Uskup menjawab, 'Saya menjumpainya sebagai khalifah yang saleh, hanya dia lebih mementingkan kaum kerabatnya (untuk menduduki jabatan pembantu-pembantu khalifah).' Umar berkata, 'Semoga Allah merahmati Usman,* sebanyak tiga kali.
Umar bertanya,'Bagaimanakah engkau jumpai orang yang sesudah­nya?' Uskup menjawab.
'Saya jumpai dia besi karatan’, Maka Umar meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata, 'Aduhai celakanya, aduhai celakanya' Uskup berkata, 'Hai Amirul Mu’minm, sesungguhnya dia adalah khalifah yang saleh, hanya saja dia diangkat menjadi khalifah dalam situasi yang kacau di mana pedang terhunus dan darah teralirkan'."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar.

Demikianlah sifat Rasulullah ﷺ yang termaktub di dalam kitab-kitab terdahulu.
Demikian pula keadaan Nabi ﷺ pada kenyataannya, beliau tidak memerintahkan kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang kecuali terhadap perbuatan jahat, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Mas'ud, "Apabila engkau mendengar firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Hai orang-orang yang beriman.

Maka bukalah lebar-lebar telingamu, karena sesungguhnya hal itu merupakan kebaikan yang diperintahkan atau kejahatan yang dilarang.
Dan hal yang paling penting dan paling besar daripada itu ialah apa yang disampaikan oleh Nabi ﷺ dari Allah, berupa perintah menyem­bah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan larangan menyembah selain-Nya.
Perihalnya sama dengan risalah yang disampaikan oleh nabi-nabi lain sebelumnya." seperti apa yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut." (An-Nahl:36)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir (yaitu Al-Aqdi alias Abdul Malik ibnu Amr), telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, dari Rabi'ah ibnu Abu Abdur Rahman, dari Abdul Malik ibnu Sa'id, dari Abu Humaid dan Abu Usaid r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pemah bersabda: Apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ketahui melalui hati kalian dan membuat perasaan serta kulit kalian menjadi lembut karenanya, serta kalian memandang bahwa hal itu dekat dengan kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang lebih utama daripada kalian terhadapnya.
Dan apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ingkari oleh hati kalian dan perasaan serta kulit kalian merasa jijik terhadapnya, dan kalian memandang bahwa hal itu jauh dari kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang paling jauh terhadapnya daripada kalian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Ali r.a.
yang mengatakan, "Apabila kalian mendengar dari Rasulullah ﷺ suatu hadis, maka yakinilah oleh kalian bahwa diri Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling mendapat petunjuk tentangnya, beliaulah yang paling dahulu mengamalkannya dan yang paling bertakwa."

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Yahya, dari Ibnu Sa'id, dari Mis'ar, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Abdur Rahman, dari Ali r.a.
yang mengatakan, "Apabila kalian mendengar suatu hadis dari Rasulullah ﷺ, maka yakinilah bahwa beliaulah orang yang paling mendapat petunjuk, paling dahulu mengamalkannya dan paling bertakwa."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharam­kan bagi mereka segala yang buruk.

Maksudnya, Nabi ﷺ menghalalkan bagi mereka apa yang dahulunya mereka haramkan atas diri mereka sendiri —seperti bahirah, saibah, wasilah, ham, dan lain-lainnya yang sejenis— yang dahulu mereka ada-adakan untuk mempersempit diri mereka sendiri.
dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.
(Al A'raf:157)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan 'segala yang buruk' ialah seperti daging babi, riba, dan semua barang haram yang dahulunya mereka halalkan, yaitu makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Sebagian ulama mengatakan bahwa semua jenis makanan yang dihalalkan oleh Allah adalah baik lagi bermanfaat bagi tubuh dan agama, dan semua yang diharamkan oleh-Nya adalah buruk lagi membahayakan tubuh dan agama.
Ayat ini dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa nilai baik dan buruk itu berdasarkan rasio.
Tetapi pendapat ini dibantah, pembahasannya tidak termuatkan dalam kitab ini.
Ayat ini pun dijadikan hujah oleh ulama yang berpendapat bahwa hal yang dijadikan rujukan dalam menghalalkan makanan-makanan yang penghalalan dan pengharamannya tidak disebutkan oleh suatu nas pun ialah apa yang dianggap baik oleh orang-orang Arab dalam menghalalkannya, dan dalam mengharamkannya pun merujuk kepada penilaian mereka.
Pembahasan mengenainya cukup panjang.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.

Artinya, Nabi ﷺ datang dengan membawa kemudahan dan toleransi, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Saya diutus dengan membawa agama yang hanif lagi penuh toleransi.

Nabi ﷺ pernah bersabda pula dalam pesannya kepada dua orang amirnya —yaitu Mu'az dan Abu Musa Al-Asy'ari— ketika beliau ﷺ mengutus mereka ke negeri Yaman, yaitu:

Sampaikanlah berita gembira oleh kalian berdua, janganlah kalian membuat hati (mereka) antipati, dan bersikap mudahlah kalian berdua, janganlah mempersulit, dan saling bantulah kalian, janganlah berselisih.

Abu Barzah Al-Aslami —salah seorang sahabat— pernah mengatakan bahwa ia telah menemani Rasulullah ﷺ dan menyaksikan kemudahannya.
Di masa lalu pada umat-umat terdahulu syariat-syariat yang ditetapkan atas mereka mempersempit diri mereka, kemudian Allah memberikan keluasan kepada umat ini dalam semua urusannya dan mempermudahnya bagi mereka.
Karena itulah Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku hal-hal yang dibisikkan oleh hatinya, selagi ia tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.

Dalam hadis lain disebutkan:

Telah dimaafkan dari umatku kekeliruan, kelupaan, dan hal-hal yang dipaksakan kepada mereka.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala.
memberikan petunjuk kepada umat ini agar dalam doanya mereka senantiasa mengucapkan seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
(Al Baqarah:286}

Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan pula bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman setelah permohonan tersebut dipanjatkan kepada-Nya, "Aku lakukan, Aku lakukan."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya.

Yaitu beriman kepadanya, mengagungkannya, dan menghormatinya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya

Artinya Al-Qur'an dan wahyu yang disampaikan kepadanya untuk ia sampaikan kepada umat manusia.

...mereka itulah orang-orang yang beruntung

Yakni beruntung di dunia dan akhiratnya.

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 157 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 157



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending







✔ tafsir ibnu katsir al araf ayat 157

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku