Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 155


وَ اخۡتَارَ مُوۡسٰی قَوۡمَہٗ سَبۡعِیۡنَ رَجُلًا لِّمِیۡقَاتِنَا ۚ فَلَمَّاۤ اَخَذَتۡہُمُ الرَّجۡفَۃُ قَالَ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ اَہۡلَکۡتَہُمۡ مِّنۡ قَبۡلُ وَ اِیَّایَ ؕ اَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَہَآءُ مِنَّا ۚ اِنۡ ہِیَ اِلَّا فِتۡنَتُکَ ؕ تُضِلُّ بِہَا مَنۡ تَشَآءُ وَ تَہۡدِیۡ مَنۡ تَشَآءُ ؕ اَنۡتَ وَلِیُّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا وَ ارۡحَمۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الۡغٰفِرِیۡنَ
Waakhtaara muusa qaumahu sab’iina rajulaa limiiqaatinaa falammaa akhadzathumur-rajfatu qaala rabbi lau syi-ata ahlaktahum min qablu waii-yaaya atuhlikunaa bimaa fa’alassufahaa-u minnaa in hiya ilaa fitnatuka tudhillu bihaa man tasyaa-u watahdii man tasyaa-u anta walii-yunaa faaghfir lanaa waarhamnaa waanta khairul ghaafiriin(a);

Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.
Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata:
“Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?
Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.
Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya”.
―QS. 7:155
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah
7:155, 7 155, 7-155, Al A’raaf 155, AlAraaf 155, Al Araf 155, Al-A’raf 155
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 155. Oleh Kementrian Agama RI

Musa a.s.
memilih tujuh puluh orang pilihan dari kaumnya untuk pergi bersama-sama dengannya ke suatu tempat di bukit Sinai untuk bermunajat dengan Tuhannya.
Menurut ahli tafsir, siapa orang yang dipilih dan di mana tempatnya yang ditentukan itu telah diwahyukan Allah sebelumnya kepada Musa a.s.
Dalam pada itu para ahli tafsir berbeda pendapat: kepada Musa a.s.
diperintahkan oleh Allah pergi ke bukit Sinai bersama tujuh puluh orang pilihan dari Bani Israil itu apakah setelah mereka menyembah patung anak sapi dengan maksud menyatakan taubat kepada Allah atau sama waktunya dengan waktu memohon kepada Allah agar Dia memperlihatkan diri-Nya dengan jelas.
Jika dilihat susunan ayat dan urutan kisah Musa a.s.
dalam surah Al-A`raf ini dapat diambil kesimpulan bahwa kepergian Musa bersama tujuh puluh orang pilihan ini adalah setelah Bani Israil menyembah patung anak sapi, yakni sesudah kepergian Musa menemui Tuhannya ke bukit Sinai selama empat puluh hari dan empat puluh malam.
Maka berangkatlah Musa a.s.
bersama tujuh puluh orang pilihan menuju tempat yang telah ditentukan.
Maka tatkala mereka digoncang gempa bumi yang disebabkan petir (halilintar) yang amat dahsyat, Musa pun berdoa kepada Tuhannya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kalau memang telah ada maksud Engkau hendak membinasakan mereka, maka aku mengharap agar Engkau membinasakan mereka sebelum mereka pergi bersamaku ke tempat ini, dan supaya Engkau membinasakan aku pula sehingga aku tidak menghadapi kesulitan yang seperti ini yang memberi kesempatan bagi mereka untuk mencela dan menuduhku bahwa aku telah membawa orang-orang pilihan ke tempat ini untuk dibinasakan.
Maka oleh karena Engkau tidak membinasakan mereka sebelum mereka aku bawa bersamaku ke sini, maka janganlah mereka Engkau binasakan sekarang sesudah aku bawa ke mari."

Dalam ayat ini diterangkan mengapa pemuka Bani Israil pilihan itu diazab Allah subhanahu wa ta'ala dengan petir yang dahsyat.
Pada firman Allah yang lain dijelaskan sebab-sebabnya mereka disambar petir dan akibat yang mereka alami sebagaimana firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Karena itu kamu disambar halilintar sedang kamu menyaksikannya.
Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati supaya kamu bersyukur.

(Q.S Al Baqarah: 55-56)

Tetapi dalam Perjanjian Lama diterangkan bahwa Bani Israil yang menyembah berhala itu ialah Bani Israil tujuh puluh orang pilihan bersama-sama dengan Harun.
Perbuatan menyembah berhala itu mereka lakukan sewaktu berada di bukit Tursina di waktu Nabi Musa menghadap Tuhannya sendiri.

Dalam kitab bilangan 16:20-25, disebutkan tentang keingkaran dan kedurhakaan Bani Israil terhadap Musa, lalu mereka diazab Allah dengan membelah bumi, mereka masuk ke dalam belahan bumi itu dan terkubur.
Sedangkan Bani Israil yang sempat lari mereka dibakar oleh sambaran api.

Selanjutnya Musa memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala: "Janganlah Engkau ya Tuhan membinasakan kami disebabkan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang akal yang meminta agar dapat melihat Engkau."

Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa semuanya itu merupakan cobaan dari Allah terhadap mereka.
Tetapi mereka tidak tahan dan kuat menghadapi cobaan itu sehingga mereka tetap mendesak Musa agar Tuhan memperlihatkan zat-Nya kepada mereka.
Karena tindakan mereka itulah mereka diazab dengan petir (halilintar) sehingga mereka mati semua.
Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali agar mereka bertaubat dan bersyukur terhadap nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka.
Cobaan itu merupakan ujian Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, dengan cobaan itu akan sesat orang-orang yang tidak kuat imannya, dan dengan cobaan itu pula Dia memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang kuat imannya.

Selanjutnya Musa berdoa: "Wahai Tuhan kami, Engkaulah yang mengurus segala urusan kami, mengawasi segala apa yang kami kerjakan, maka ampunilah kami terhadap segala perbuatan dan tindakan kami yang mengakibatkan azab bagi kami.
Beri rahmatlah kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi rahmat dan Pemberi ampun.
Hanya Engkaulah yang mengampuni segala dosa dan memaafkan segala kesalahan kami.
Mengampuni dan memaafkan itu bukanlah karena sesuatu maksud tertentu, tetapi semata-mata karena sifat-Mu Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf."

Al A'raaf (7) ayat 155 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 155 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 155 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Allah menyuruh Musa untuk mengumpulkan sejumlah orang di antara kaumnya untuk memintakan ampunan atas penyembahan mereka kepada patung anak lembu.
Lalu ditentukanlah waktu pelaksanaannya.
Maka Musa pun memilih--sebagai perwakilan kaumnya--tujuh puluh orang yang tak ikut menyembah patung anak lembu.
Setelah itu berangkatlah Musa bersama mereka ke bukit Thur.
Di sana mereka memohon kepada Allah agar menghilangkan bencana yang menimpa mereka dan memberikan ampunan kepada mereka yang telah menyembah patung anak lembu.
Tetapi tiba-tiba tempat itu bergoncang oleh gempa yang sangat kuat, hingga membuat mereka terkapar tak sadarkan diri.
Hal ini terjadi karena mereka--pada saat penyembahan patung anak lembu-tidak memisahkan diri dari kelompok yang menyembah patung.
Dengan kata lain, mereka tak melakukan amar makruf nahi munkar.
Akan halnya Musa, yang menyaksikan peristiwa itu, berkata, "Wahai Tuhanku, kalau Engkau memang hendak membinasakan mereka, mengapa Engkau tidak melakukannya sebelum kami berangkat ke pertemuan ini?
Mengapa Engkau tidak membinasakan aku bersama mereka?
Dengan begitu, orang-orang Bani Israil dapat melihat langsung peristiwa itu sehingga mereka tidak menuduh aku sebagai pembunuh mereka.
Janganlah Engkau binasakan kami hanya karena perbuatan orang-orang yang bodoh di antara kami.
Terjadinya penyembahan anak lembu ini tidak lain merupakan cobaan dari-Mu untuk menyesatkan orang yang Engkau kehendaki dengan memilih jalan yang buruk, dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Engkau kehendaki.
Bukankah Engkau yang berkata, "Aku memutuskan untuk menghapus keburukan siapa saja dari kaummu yang tidak melakukan kekufuran, kemaksiatan dan menunaikan kewajiban zakat?"[1].

[1] Dalam edisi bahasa Arab, pada ayat ini terdapat kesalahan cetak.
Kalimat "Engkau yang berkata, 'Aku memutuskan untuk menghapus keburukan siapa saja dari kaummu yang tidak melakukan kekufuran, kemaksiatan dan menunaikan kewajiban zakat?'" semestinya tidak ada.
Kalimat itu semestinya merupakan tafsiran bagian akhir ayat berikutnya, karena dalam ayat ini tidak terdapat bagian ayat yang dapat ditafsirkan dengan pengertian kalimat tadi.
Wa Allah a'lam bi al-shawab.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Musa memilih dari kaumnya) dimaksud sebagian dari kaumnya (sebanyak tujuh puluh orang lelaki) dari kalangan orang-orang yang tidak ikut menyembah anak sapi, ia lakukan hal itu berdasarkan perintah dari Allah subhanahu wa ta'ala (untuk memenuhi waktu yang telah Kami tentukan) waktu yang telah Kami janjikan, agar mereka datang tepat pada waktunya, untuk memohon ampunan dari penyembahan terhadap anak sapi yang telah dilakukan oleh teman-teman mereka.
Kemudian Musa keluar bersama mereka.
(Maka ketika mereka diguncang gempa bumi) yaitu gempa yang dahsyat.
Ibnu Abbas mengatakan, "Sebab mereka tidak melarang kaumnya tatkala menyembah anak sapi itu," selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan lagi, "Mereka adalah selain dari orang-orang yang meminta agar dapat melihat Tuhan yang kemudian ditimpa azab berupa sha`iqah" (Ia berkata,) yakni Musa ("Ya Tuhanku! Kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau membinasakan sebelum ini) sebelum aku keluar bersama mereka, maksud Musa untuk menentukan nasib kaum Bani Israel sehubungan dengan peristiwa penyembahan anak sapi itu, agar jika mereka terkena azab tidak menuduhku sebagai penyebabnya (dan aku.
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?) Istifham bermakna isti`thaf, memohon belas kasihan, yakni janganlah Engkau menyiksa kami oleh sebab dosa yang dilakukan oleh selain kami.
(Tidak lain) (itu) fitnah yang dilakukan oleh orang-orang yang akalnya kurang (kecuali hanyalah fitnah dari Engkau) dimaksud cobaan dari Engkau (Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki) kesesatannya (dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki) kehidayahannya.
(Engkaulah yang memimpin kami) yang menguasai perkara-perkara kami (maka ampunilah kami, dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.")

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Musa memilih tujuh puluh orang terbaik dari kaumnya, lalu membawa mereka ke bukit Thursina pada waktu yang telah Allah janjikan kepada Musa untuk menemui-Nya di tempat itu bersama mereka, untuk bertaubat dari dosa penyembahan patung anak lembu yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dari Bani Israil.
Ketika telah sampai pada tempat yang dituju, mereka malah berkata :
Kami tidak akan beriman kepadamu (hai Musa) sebelum kami bisa melihat Allah dengan mata telanjang.
Sungguh kamu telah berbicara kepada-Nya secara langsung, maka perlihatkanlah Dia kepada kami.
Kemudian mereka pun ditimpa gempa yang kuat, lalu semuanya mati.
Kemudian Musa berkata dengan merendahkan diri di hadapan Allah :
Wahai Rabbku, apa yang dapat aku katakan kepada Bani Israil apabila aku datang kembali kepada mereka.
Sedangkan Engkau telah membinasakan orang-orang pilihan dari mereka?
Jika Engkau menghendaki tentu Engkau telah membinasakan aku bersama mereka sebelum ini terjadi, sesunggguhnya yang demikian itu lebih ringan bagiku.
Mengapa Engkau membinasakan kami hanya karena perbuatan sebagian orang-orang bodoh di antara kami?
Penyembahan kaumku terhadap patung anak lembu itu adalah cobaan dan ujian.
Dengan peristiwa itu, Engaku menyesatkan siapa saja yang Engkau kehendaki dari makhluk-makhluk-Mu dan Engkau memberi petunjuk bagi siapa saja yang Engkau kehendaki.
Engkaulah pelindung dan penolong kami, maka ampunilah dosa-dosa kami dan kasihanilah Kami dengan rahmat-Mu.
Engkaulah sebaik-baik pengampun dan penghapus semua dosa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa Allah memerintahkan Musa untuk memilih tujuh puluh orang lelaki.
Maka Musa memilih tujuh puluh orang lelaki dari kaumnya, lalu membawa mereka ke tanah lapang untuk berdoa kepada Tuhan mereka.
Tersebutlah bahwa di antara doa yang diucapkan oleh mereka kepada Allah ialah, "Ya Allah, berikanlah kepada kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seseorang pun sebelum kami dan tidak akan Engkau berikan kepada seorang pun sesudah kami." Maka Allah tidak suka kepada permintaan yang mereka panjatkan itu, lalu mereka ditimpa oleh gempa.

Musa berkata, "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.", hingga akhir ayat.

As-Saddi mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Musa untuk datang kepada-Nya bersama tiga puluh orang lelaki dari kalangan Bani Israil untuk meminta ampun kepada-Nya tentang perbuatan mereka yang telah menyembah patung anak lembu itu, dan Allah menjanjikan waktunya kepada mereka." Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya.
(Al A'raf:155) yang berada di hadapannya, kemudian Musa membawa mereka pergi untuk bertobat.
Ketika mereka telah sampat di tempat yang dituju, mereka mengatakan, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat lain melalui Firman-Nya: Kami tidak akan beriman kepadamu.
(Al Baqarah:55) Hai Musa.
sebelum kami melihat Allah dengan terang.
(Al Baqarah:55) Karena engkau telah berbicara langsung kepada-Nya, maka perlihatkanlah Allah kepada kami.
karena itu kalian disambar halilintar.
(Al Baqarah:55) Maka mereka pun mati semua, dan Musa berdiri menangis seraya berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, apakah yang akan aku katakan kepada Bani Israil, jika aku datang kembali kepada mereka tanpa orang-orang ini, sedangkan orang-orang yang terpilih mereka telah Engkau binasa­kan?"
Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasa­kan mereka dan aku sebelum ini.

Muhammad ibnu Ishaq menceritakan bahwa Musa memilih tujuh puluh orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil, semuanya adalah orang-orang yang terpilih (terkemuka) dari kalangan mereka.
Musa berkata, "Berangkatlah kalian kepada Allah, dan bertobatlah kepada-Nya dari apa yang telah kalian perbuat, dan mintakanlah kepada-Nya tobat buat orang-orang yang kalian tinggalkan di belakang kalian dari kalangan kaum kalian.
Berpuasalah, bersucilah, dan bersihkanlah pakaian-pakaian kalian terlebih dahulu." Kemudian Musa membawa mereka pergi menuju Bukit Tursina untuk memenuhi janji yang telah ditetapkan untuknya oleh Tuhan-Nya Tersebutlah bahwa Musa tidak berani datang ke tempat itu kecuali dengan seizin dan pemberitahuan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Lalu ketujuh puluh orang itu —menurut kisah yang sampai kepada­ku— setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Musa kepada mereka dan Musa membawa mereka untuk bersua dengan Tuhannya, berkatalah mereka kepada Musa, "Mintakanlah bagi kami agar kami dapat mendengar suara Tuhan kami." Musa menjawab, "Akan aku lakukan." Ketika Musa berada di dekat bukit itu, tiba-tiba gunung itu diliputi oleh awan yang berbentuk tiang raksasa sehingga menutupi seluruh kawasan bukit tersebut.
Musa mendekat dan masuk ke dalamnya, lalu ia berkata kepada kaumnya, "Mendekatlah kalian." Disebutkan bahwa apabila Musa sedang diajak bicara oleh Tuhan­nya, maka dari keningnya memancarlah nur yang sangat cemerlang, tiada seorang manusia pun yang mampu memandangnya.
Maka dibuatkanlah hijab (oleh Allah) untuk menutupinya.
Kaum itu mendekat, dan manakala mereka masuk ke dalam awan itu, maka mereka terjatuh bersujud, dan mereka mendengar Allah sedang berbicara kepada Musa seraya mengeluarkan titah dan larangan-Nya kepada Musa, yakni lakukanlah anu dan tinggalkanlah anu.
Setelah Allah selesai dari pembicaraan-Nya kepada Musa dan awan telah lenyap dari Musa, maka Musa datang menemui mereka, tetapi mereka berkata kepadanya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kalian disambar halilintar.
(Al Baqarah:55) Yang dimaksud dengan sa'iqah sama dengan rajfah.
Maka nyawa mereka semuanya melayang, dan matilah mereka.
Lalu Musa bangkit memohon kepada Tuhannya dan berdoa serta memohon dengan penuh harap kepada-Nya.
Untuk itu Musa mengatakan:

Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasa­kan mereka dan aku sebelum ini
Sedangkan mereka benar-benar orang-orang yang bodoh, maka apakah Engkau membinasakan orang-orang Bani Israil yang ada di belakangku?

Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa mereka ditimpa oleh halilintar (gempa dahsyat) karena mereka tidak mau melenyapkan penyembahan patung anak lembu dari kalangan kaumnya, tidak mau pula melarang kaumnya melakukan hal tersebut.
Pendapat ini berdasarkan perkataan Musa 'alaihis salam yang disitir oleh firman-Nya: Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?
(Al A'raf:155)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Itu hanyalah cobaan dari Engkau.

Maksudnya cobaan dan ujian yang Engkau berikan kepada mereka.

Demikianlah menurut tafsir yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, Abul Aliyah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.

Tiada makna atau takwil selain ini.
Dengan kata lain, sesungguhnya perkara ini hanyalah urusanmu, dan sesungguhnya keputusan ini hanyalah Engkau yang melakukannya.
Maka apa saja yang Engkau kehendaki, pasti terjadi, Engkau sesatkan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau beri petunjuk siapa pun yang Engkau kehendaki.
Tidak ada pemberi petunjuk bagi orang yang telah Engkau sesatkan, dan tiada yang dapat menyesatkan orang yang telah Engkau beri petunjuk.
Tidak ada yang memberi orang yang Engkau cegah, dan tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan.
Kerajaan adalah milik Engkau belaka, dan keputusan hukum hanyalah milik Engkau, milik Engkaulah makhluk dan semua urusan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Engkaulah yang memimpin kami.
maka ampunilah kami dan berilah kamirahmat, dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.
(Al A'raf:155)

Al-gafru artinya menutupi dan tidak menghukum karena dosa, sedangkan pengertian rahmat apabila dibarengi dengan ampunan.
Maka makna yang dimaksud ialah 'janganlah dijerumuskan ke dalam hal yang serupa (yakni dosa yang serupa) di masa mendatang nanti.

Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.
(Al A'raf:155)

Yakni tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau sendiri.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 155

FITNAH
فِتْنَة

Arti asal kata fitnah adalah memasukkan emas ke dalam api untuk menguji kualitasnya. Kata ini biasa diartikan dengan ujian dan cobaan. Kadang-kadang fitnah ini datangnya dari Allah dan kadang-kadang pula dari manusia, seperti sakit, musibah, kematian, azab dan kejadian-kejadian yang tidak disukai lainnya.

Kata fitnah dalam Al Qur'an diulang tiga puluh empat kali, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 191, 217, 102, 193;
-Ali Imran (3), ayat 7;
-An Nisaa (4), ayat 91;
-Al Maa'idah (5), ayat 41, 71;
-Al An'aam (6), ayat 23;
-Al A'raaf (7), ayat 155;
-Al Anfaal (8), ayat 25, 28, 38, 73;
-At Taubah (9), ayat 47, 48, 49;
-Yunus (10), ayat 85;
-Al Israa' (17), ayat 60;
-Al Anbiyaa' (21), ayat 35, 111;
-Al Hajj (22), ayat 11, 53;
-An Nuur (24), ayat 63;
-Al Furqaan (25), ayat 20;
-Al Ankabut (29), ayat 10;
-Al Ahzab (33), ayat 14;
-Ash Shaffaat (37), ayat 63;
-Az Zumar (39), ayat 49;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 14;
-Al Qamar (54), ayat 27;
-Al Mumtahanah (60), ayat 5;
-At Taghaabuun (64), ayat 15;
-Al Muddatstsir (74), ayat 31.

Sedangkan kata futunyang merupakan jamak dari fitnah diulang sekali surah Tha Ha (20), ayat 40. Begitu juga dengan kata faatiniin diulang sekali surah Ash Shaffaat (37), ayat 162. Dan kata maftuun juga diulang sekali surah Al Qalam (68), ayat 6.

Menurut Al Husayn bin Muhammad Ad Daamaghani, kata fitnah dan juga kata-kata yang seakar dengannya dalam Al Qur'an digunakan untuk sebelas pemakaian, yaitu:
(1). Kemusyrikan;
(2). Kekafiran;
(3). Azab; (4);
(4).Ujian dan cobaan;
(5). Dibakar dengan api;
(6). Pembunuhan;
(7). Dihalang-halangi dari jalan yang benar;
(8). Kesesatan dan kebingungan;
(9). Uzur;
(10). Kesukaran;
(11). Gila.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:439-440

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 155 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 155



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (10 votes)
Sending