QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 154 [QS. 7:154]

وَ لَمَّا سَکَتَ عَنۡ مُّوۡسَی الۡغَضَبُ اَخَذَ الۡاَلۡوَاحَ ۚۖ وَ فِیۡ نُسۡخَتِہَا ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلَّذِیۡنَ ہُمۡ لِرَبِّہِمۡ یَرۡہَبُوۡنَ
Walammaa sakata ‘an muusal ghadhabu akhadzal alwaaha wafii nuskhatihaa hudan warahmatul(n)-lil-ladziina hum lirabbihim yarhabuun(a);

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu, dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
―QS. 7:154
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
7:154, 7 154, 7-154, Al A’raaf 154, AlAraaf 154, Al Araf 154, Al-A’raf 154

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 154

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 154. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah Musa tenang kembali dan hilang amarahnya lantaran salah sangka kepada saudaranya Harun dan setelah memohon rahmat dan keampunan dari Tuhannya, maka ia mengumpulkan kembali lauh-lauh yang berserakan karena dilemparkannya itu.
Musa mengumpulkan lauh-lauh yang berserakan tersebut dan daripadanyalah disalin Taurat yang mengandung petunjuk, rahmat bagi kaumnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah amarah Musa reda, yang ditandai dengan pemaafannya atas Harun, ia pun mengambil kembali kepingan-kepingan Tawrat yang dilemparkannya tadi.
Dan bagi orang yang takut akan murka Tuhan, apa yang tertera dalam Tawrat itu menjadi petunjuk, pedoman hidup, dan mengandung aturan-aturan untuk memperoleh rahmat Tuhan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesudah mereda) telah tenang (amarah Musa, lalu diambilnya kembali lempengan-lempengan itu) yang telah ia banting itu (dan dalam tulisannya) apa yang tertulis di dalam lempengan kitab Taurat itu (terdapat petunjuk) dari kesesatan (dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya) mereka takut kepada-Nya, huruf lam dimasukkan ke dalam maf’ul mengingat tempatnya yang didahulukan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Setelah kemurkaan Musa reda, dia mengambil lauh-lauh (lembaran-lembaran) Taurat yang sebelumnya di lemparkan ke tanah.
Di dalamnya terdapat bukti-bukti kebenaran dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan kepada siksa-Nya (pada Hari Kiamat).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sesudah amarah Musa menjadi reda.
lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu, dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…Sesudah terdiam

artinya reda dan tenang.

…kemarahan Musa.

yakni kemarahannya terhadap kaumnya telah reda dan menjadi tenang kembali.

…lalu Musa mengambil (kembali) luh-luh itu.

Maksudnya, dipungutnya kembali luh-luh yang tadi ia lemparkan pada saat ia sedang marah sekali karena mereka menyembah patung anak lembu.
Kemarahannya itu ditimbulkan oleh rasa cemburunya karena Allah dan kebenciannya terhadap perbuatan tersebut karena Allah.

…dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Kebanyakan ulama tafsir mengatakan, “Sesungguhnya ketika Musa melempar luh-luh itu, maka luh-luh itu pecah berantakan, kemudian Musa mengumpulkannya kembali.” Karena itulah menurut sebagian ulama Salaf, di dalamnya Musa menjumpai tertulis petunjuk dan rahmat, sedangkan perincian isi luh-luh itu telah lenyap.
Mereka menduga bahwa pecahannya masih tetap ada tersimpan di dalam perbendaharaan raja-raja dari kalangan Bani Israil, lalu berpindah tangan sampai kepada negara Islam.
Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran kisah ini.

Adapun menurut dalil yang jelas menyatakan bahwa luh-luh itu pecah ketika dilemparkan oleh Musa, luh-luh itu terbuat dari permata surga.
Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa ketika Musa mengambilnya kembali sesudah melemparkannya, di dalamnya ia menjumpai: petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
(Al A’raf:154)

Ar-rahbah atau takut mengandung makna tunduk patuh, karena itulah maka ia di-muta’addi-kan (dihubungkan) dengan memakai huruf lam.

Qatadah telah mengajakan sehubungan dengan makna firman-Nya: lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu.
(Al A’raf:154) Musa berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam tulisan luh-luh itu tertera nama suatu umat yang merupakan sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia: mereka memerintahkan (manusia) berbuat kebajikan dan melarang (manusia) berbuat mungkar, maka jadikanlah mereka itu sebagai umatku.
Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab, “Itu adalah umat Ahmad (Nabi ﷺ).” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam luh-luh itu tertera perihal suatu umat, mereka adalah orang-orang yang terakhir, tetapi mereka adalah orang-orang yang terdahuIu.””Yakni paling akhir penciptaannya, tetapi paling dahulu masuk surga.
Nabi Musa berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Mereka adalah umat Ahmad (yakni Nabi Muhammad ﷺ).” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, dalam tulisan luh-luh itu aku menjumpai suatu umat yang kitab-kitab mereka adalah dada mereka, mereka membacanya secara hafalan.
Padahal orang-orang sebelum mereka membaca kitabnya dengan melihatnya, hingga apabila kitab mereka diangkat, maka mereka tidak hafal sesuatu pun darinya dan tidak mengingatnya lagi.
Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umat itu suatu hafalan (kekuatan daya hafal) yang belum pernah diberikan oleh Allah kepada suatu umat pun.” Musa melanjutkan perkataannya, “Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab, “Mereka adalah umat Ahmad.” Musa berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melihat dalam luh-luh itu tertuliskan tentang suatu umat yang beriman kepada kitab-kitab terdahulu dan kitab yang terakhir, dan mereka memerangi berbagai macam kesesatan, hingga mereka memerangi si buta sebelah yang pendusta (Dajjal), maka jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Mereka adalah umat Ahmad.” Musa berkata, “Ya Tuhanku, aku menjumpai di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang sedekah mereka dimakan oleh mereka sendiri, dimasukkan ke dalam perut mereka, tetapi mereka beroleh pahala dari sedekahnya.
Sedangkan di kalangan umat-umat sebelum mereka, apabila ada suatu sedekah, Lalu sedekah itu diterima, maka Allah mengirimkan kepadanya api, kemudian api itu melahapnya.
Jika sedekah itu ditolak, maka dimakan oleh hewan-hewan buas dan burung-burung pemangsa.
Dan sesungguhnya Allah mengambil sedekah (zakat) dari kalangan hartawan mereka untuk kaum fakir miskin mereka.” Musa melanjutkan perkataannya, “Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab, “Mereka adalah umat Ahmad.” Musa berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku temui di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang apabila seseorang dari mereka berniat akan melakukan suatu kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan.
Jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan yang semisal dengan kebaikannya sampai tujuh ratus kali lipat.
Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.
Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab, “Mereka adalah umat Ahmad.” Musa berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku lihat di dalam luh-luh itu tertuliskan perihal suatu umat, mereka adalah orang-orang memberi syafaat dan diberi izin untuk memberikan syafaat.
Maka jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Mereka adalah umat Ahmad.” Qatadah mengatakan, diceritakan kepada kami bahwa setelah itu Nabi Musa ‘alaihis salam mengesampingkan luh-luh itu dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah diriku termasuk umat Ahmad (yakni Nabi Muhammad ﷺ).”


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 154 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 154 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 154 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/7-154







Pembahasan ▪ cara berkesan amalkan surah al-araf ayat 154

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta