Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 143 [QS. 7:143]

وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
Walammaa jaa-a muusa limiiqaatinaa wakallamahu rabbuhu qaala rabbi arinii anzhur ilaika qaala lan taraanii walakiniinzhur ilal jabali fa-iniistaqarra makaanahu fasaufa taraanii falammaa tajalla rabbuhu liljabali ja’alahu dakkan wakharra muusa sha’iqan falammaa afaaqa qaala subhaanaka tubtu ilaika waanaa au-walul mu’miniin(a);
Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata,
“Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”
(Allah) berfirman,
“Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.”
Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.
Setelah Musa sadar, dia berkata,
“Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
―QS. Al A’raaf [7]: 143

Daftar isi

And when Moses arrived at Our appointed time and his Lord spoke to him, he said,
"My Lord, show me (Yourself) that I may look at You."
(Allah) said,
"You will not see Me, but look at the mountain;
if it should remain in place, then you will see Me."
But when his Lord appeared to the mountain, He rendered it level, and Moses fell unconscious.
And when he awoke, he said,
"Exalted are You! I have repented to You, and I am the first of the believers."
― Chapter 7. Surah Al A’raaf [verse 143]

وَلَمَّا dan tatkala

And when
جَآءَ datang

came
مُوسَىٰ Musa

Musa
لِمِيقَٰتِنَا pada waktu yang Kami tentukan

to Our appointed place
وَكَلَّمَهُۥ dan berfirman kepadanya

and spoke to him
رَبُّهُۥ Tuhannya

his Lord,
قَالَ (Musa) berkata

he said,
رَبِّ ya Tuhanku

"O my Lord!
أَرِنِىٓ kepadaku

Show me
أَنظُرْ lihatlah

(that) I may look
إِلَيْكَ Engkau

at You."
قَالَ berfirman

He said,
لَن tidak akan

"Never
تَرَىٰنِى kamu melihat Aku

you (can) see Me,
وَلَٰكِنِ tetapi

but
ٱنظُرْ lihatlah

look
إِلَى ke

at
ٱلْجَبَلِ bukit

the mountain
فَإِنِ maka jika

[then] if
ٱسْتَقَرَّ ia tetap

it remains
مَكَانَهُۥ pada tempatnya

in its place
فَسَوْفَ maka akan

then
تَرَىٰنِى kamu melihat Aku

you (will) see Me."
فَلَمَّا maka ketika

But when
تَجَلَّىٰ menampakkan

revealed (His) Glory
رَبُّهُۥ Tuhannya

his Lord
لِلْجَبَلِ pada bukit

to the mountain,
جَعَلَهُۥ menjadikannya

He made it
دَكًّا hancur luluh

crumbled to dust
وَخَرَّ dan jatuh

and fell down

Tafsir

Alquran

Surah Al A’raaf
7:143

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 143. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan, manakala Musa as sampai ke tempat dan waktu yang dijanjikan Allah untuk menerima wahyu, Allah telah menyampaikan wahyu-Nya secara langsung tanpa perantara, maka timbul pada diri Musa keinginan untuk memperoleh kemuliaan lain di samping kemuliaan berkata-kata langsung dengan Allah yang baru saja diterimannya.
Keinginan itu ialah mendapat kemuliaan melihat Allah dengan jelas, lalu Musa berkata,
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah zat Engkau yang suci dan berilah aku kekuatan untuk dapat melihat Engkau dengan jelas, karena aku tidak sanggup melihat dan mengetahui Engkau dengan sempurna.

Allah menjawab,
"Hai Musa kamu tidak akan dapat melihat-Ku."
Dalam hadis Nabi ﷺ, disebutkan:


"Dari Abu Musa, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hijab (pembatas) Allah ialah nur (cahaya).

Sekiranya nur itu disingkapkan niscaya keagungan sinar wajahnya akan membakar seluruh makhluk yang sampai pandangan Tuhan kepadanya."
(Riwayat Muslim)


Selanjutnya Allah berkata kepada Musa,
"Melihatlah ke bukit, jika bukit itu tetap kokoh dan kuat seperti sediakala setelah melihat-Ku, tentulah kamu dapat pula melihat-Ku, karena kamu dan gunung itu adalah sama-sama makhluk ciptaan-Ku.

Tetapi jika bukit yang kokoh dan kuat itu tidak tahan dan hancur setelah melihat-Ku bagaimana pula kamu dapat melihat-Ku.
Karena seluruh makhluk yang aku ciptakan tidak mampu dan tidak sanggup untuk melihat-Ku.
"


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,
"Ketika Musa as memohon kepada Tuhannya,
"Perlihatkanlah zat Engkau kepadaku"
Allah menjawab:
"Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku."
Kemudian Allah menegaskan lagi,
"Kamu tidak akan dapat melihat-Ku untuk selama-lamanya hai Musa.
"
Tidak seorang pun yang sanggup melihat-Ku, lalu sesudah itu ia tetap hidup."
Akhirnya Allah berkata,
"Melihatlah ke bukit yang tinggi lagi besar itu, jika bukit itu tetap di tempatnya, tidak bergoncang dan hancur, tentulah ia melihat kebesaran-Ku, mudah-mudahan kamu dapat melihatnya pula, sedangkan kamu benar-benar lemah dan rendah.

Sesungguhnya gunung itu berguncang dan hancur bagaimana pun juga kuat dan dahsyatnya, sedang kamu lebih lemah dan rendah."


Ada beberapa pendapat mufassir tentang yang dimaksud dengan ayat:
"Ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung-gunung itu"
sebagian mufassir mengatakan bahwa yang nampak bagai gunung itu ialah zat Allah.
Bagaimana pun juga pendapat para mufassir, namun nampaknya Allah itu bukanlah seperti nampaknya makhluk.
Namun penampakan Tuhan tidak sama dengan penampakan manusia sesuai dengan sifat-sifat Allah yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.



Setelah Musa as, sadar dari pingsannya, dan sadar pula bahwa ia telah meminta kepada Allah sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, ia merasa telah berbuat dosa, karena itu ia memohon dan berdoa kepada Allah, Maha Suci Engkau,
"Ya Tuhanku, aku berdosa karena meminta sesuatu kepada Engkau yang di luar batas kemampuanku menerimanya, karena itu aku bertaubat kepada Engkau dan tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang telah lalu itu, dan aku termasuk orang-orang yang pertama beriman kepada-Mu."


Mujahid berkata,
"Tubtu ilaika"
(Aku bertaubat kepada Engkau), maksudnya ialah:
Aku bertaubat kepada Engkau, karena aku telah memohon kepada Engkau agar dapat melihat zat Engkau,
"wa ana awwalul muminin",
(Aku orang yang pertama beriman kepada Engkau) maksudnya aku adalah orang Bani Israil yang pertama beriman kepada Engkau.
Sedang dalam suatu riwayat yang lain dari Ibnu Abbas, ialah orang yang pertama-tama beriman dan tidak seorang pun yang dapat melihat Engkau (di dunia).

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 143. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tatkala ia datang untuk bermunajat, Tuhan berbicara langsung kepadanya dalam suatu dialog yang tidak sama dengan pembicaraan yang dilakukan manusia.
Musa berkata,
"Tuhanku, perlihatkanlah zat-Mu kepadaku.


Tampakkanlah diri-Mu agar aku dapat melihat-Mu, sehingga kehormatanku semakin bertambah."
Allah berfirman,
"Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku. "
Kemudian Allah ingin Musa dapat menerima ketidaksanggupannya itu, dan berkata,
"Tapi lihatlah bukit yang lebih kokoh bila dibandingkan dengan kondisimu.
Jika–saat kemunculan-Ku–bukit itu tetap tegar, maka kamu pun bakal mampu melihat-Ku saat Aku muncul di hadapanmu. "
Tatkala Tuhan menampakkan diri-Nya ke bukit, tiba-tiba bukit itu hancur lebur hingga sama rata dengan tanah.
Musa sendiri jatuh pingsan tak sadarkan diri menyaksikan peristiwa dahsyat itu.


Setelah siuman, Musa pun berkata,
"Ya Allah, Mahasuci Engkau dari keterlihatan di dunia ini.
Sungguh aku bertobat kepada-Mu karena telah lancang meminta sesuatu yang tak Engkau izinkan.


Dan aku adalah orang pertama di zamanku yang mengimani keagungan dan kebesaran-Mu."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan ketika Musa datang pada waktu yang ditentukan, yaitu empat puluh malam, Allah berfirman langsung kepadanya dengan menyampaikan wahyu, perintah, dan larangan.
(Pada saat itu) Musa ingin melihat Allah dengan mata kepala, lalu diapun meminta itu kepada-Nya.


Allah berfirman kepadanya:
"Kamu tidak akan dapat melihat-Ku (maksudnya, kamu tidak akan mampu melihat-Ku di dunia), tetapi lihatlah kearah gunung itu.
Apabila ia tetap di tempatnya pada saat aku menunjukkan diri-Ku padanya, maka kamu akan dapat melihat-Ku."
Tatkala Rabb-nya menampakkan diri-Nya pada gunung itu, hancurlah gunung itu rata dengan tanah, lalu Musa jatuh pingsan.
Ketika tersadar ia berkata:
"Wahai Rabb-ku, aku menyucikan Engkau dari apa yang tidak sesuai dengan keagungan-Mu, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dari permintaanku untuk dapat melihat-Mu dalam kehidupan dunia ini, dan aku adalah orang pertama dari kaumku yang beriman kepada-Mu."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami pada waktu yang telah Kami tentukan) waktu yang telah Kami janjikan kepadanya akan berbicara dengannya pada waktu itu


(dan Tuhan telah berfirman kepadanya) tanpa perantara dengan pembicaraan yang dapat Musa dengar dari segala penjuru


(berkatalah Musa,
"Ya Tuhanku! Tampakkanlah kepadaku) diri Engkau


(agar aku dapat melihat-Mu."
Tuhan berfirman,
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku) artinya kamu tidak akan mampu melihat-Ku, bila hal itu diungkapkan bukan dengan memakai huruf lan, maka pengertiannya berarti melihat Tuhan itu mungkin dapat dilakukan


(tetapi lihatlah kepada bukit itu) yang bangunannya lebih kuat daripada dirimu


(maka jika ia tetap) tegak seperti sediakala


(pada tempatnya, niscaya kamu dapat melihat-Ku") engkau dapat melihat-Ku dan jika tidak, maka niscaya kamu tidak akan kuat


(Tatkala Tuhannya tampak) yakni sebagian dari nur-Nya yang hanya sebesar setengah jari manis, demikianlah menurut penjelasan dari hadis yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakim


(bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh) dengan dibaca qashr atau pendek dan panjang, yakni gunung itu menjadi lebur rata dengan tanah


(dan Musa jatuh pingsan) tak sadarkan diri karena sangat terkejut melihat apa yang ia saksikan


(Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata,
"Maha Suci Engkau) dengan memahasucikan Engkau


(aku bertobat kepada Engkau) dari permintaan yang aku tidak diperintahkan mengemukakannya


(dan aku orang yang pertama-tama beriman") pada zamanku ini.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menceritakan perihal Musa ‘alaihis salam, bahwa ketika masa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadanya telah tiba, dan pembicaraan langsung kepada Allah sedang berlangsung, maka Musa memohon kepada Allah untuk dapat melihat-Nya.
Musa berkata seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau."
Tuhan berfirman."Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku"


Makna huruf lan dalam ayat ini menyulitkan analisis kebanyakan ulama tafsir, mengingat pada asalnya huruf lan diletakkan untuk menunjukkan makna ta-bid (selamanya).
Karena itulah orang-orang Mu’tazilah berpendapat bahwa melihat Zat Allah merupakan suatu hal yang mustahil di dunia ini dan di akhirat nanti.
Tetapi pendapat ini sangat lemah, mengingat banyak hadis mutawatir dari Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat nanti, pembahasannya akan kami ketengahkan dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 22-23)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menceritakan perihal orang-orang kafir:

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (melihat) Tuhan mereka.
(83:
15)

Menurut suatu pendapat, huruf lan dalam ayat ini menunjukkan makna pe-nafi-an terhadap pengertian ta-bid di dunia, karena menggabungkan antara pengertian ayat ini dengan dalil qat’i yang membenarkan adanya penglihatan kelak di hari akhirat.

Menurut pendapat lain, makna kalimat ayat ini sama dengan makna kalimat yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-An’am [6]: 103)

Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam surat Al-An’ am.


Menurut yang tertera di dalam kitab-kitab terdahulu, Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman kepada Musa ‘alaihis salam,
"Hai Musa, sesungguhnya tidak ada makhluk hidup pun yang melihat-Ku melainkan pasti mati, dan tiada suatu benda mati pun melainkan ia pasti hancur luluh."
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh Firman-Nya:

Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Abu Ja’far ibnu Jarir At-Tabari di dalam kitabnya mengatakan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sahl Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Qurah ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari seorang lelaki, dari Anas, dari Nabi ﷺ,
"Ketika Tuhannya menampakkan diri­Nya pada gunung itu dan menunjukkan isyarat-Nya ke gunung itu, maka dengan serta merta gunung, itu menjadi hancur karenaNya."
Abu Ismail (perawi) menceritakan hadis ini seraya memperlihatkan kepada kami isyarat dengan jari telunjuknya.


Di dalam sanad hadis ini terdapat seorang lelaki yang tidak disebutkan namanya."

Kemudian Abu Ja’far ibnu Jarir At-Tabari mengatakan:


telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Lais, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ membaca ayat berikut:
Tatkala Tuhannya tampak bagi gunitng itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh.
(QS. Al-A’raf [7]: 143)
Lalu Nabi ﷺ mengisyaratkan dengan salah satu jarinya, beliau meletakkan jari jempolnya pada ujung jari kelingkingnya dan bersabda,
"Maka hancur luluhlah gunung itu."


Demikianlah sanad yang disebutkan di dalam riwayat ini, yaitu Hammad ibnu Salamah, dari Lais, dari Anas, Tetapi menurut riwayat yang masyhur adalah Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas.


Seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir:


telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hudbah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :
Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh.
(QS. Al-A’raf [7]: 143)
Lalu beliau ﷺ meletakkan jari jempolnya pada ujung jari kelingking­nya seraya bersabda,
"Maka seketika itu juga gunung itu hancur luluh."
Humaid berkata kepada Sabit,
"Apakah beliau ﷺ mengisyaratkan seperti itu?"
Maka Sabit menarik tangannya dan memukulkannya ke dada Humaid seraya berkata,
"Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ, diisyaratkan pula oleh Anas, lalu apakah saya menyembunyikannya?"

Abul Qasim At-Tabrani dan Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui dua jalur, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Anas secara marfu dengan lafaz yang semisal.
Ibnu Murdawaih menyandarkannya melalui jalur Ibnul Bailamani, dari ayahnya, dari Ibnu Umar secara marfu’, hal ini pun tidak sahih.
Imam Turmuzi meriwayatkannya, dan Imam Hakim menilainya sahih, tetapi dengan syarat Imam Muslim.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu.
Bahwa tiada yang ditampakkan oleh Allah melainkan hanya sebesar jari kelingking.
kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh.
Dakkan artinya ‘menjadi abu’.
dan Musa pun jatuh pingsan.
Yakni jatuh tak sadarkan dirinya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan Musa pun jatuh pingsan.
Maksudnya, jatuh dalam keadaan mati.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa bukit itu jebol dan jatuh menggelinding ke laut.
Sedangkan Nabi Musa ikut bersama gunung itu.

Sunaid telah meriwayatkan dari Hajjaj ibnu Muhammad Al-A’war, dari Abu Bakar Al-Huzali sehubungan dengan makna firman-Nya:

Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh,
Disebutkan bahwa gunung itu amblas ke dalam bumi dan tidak akan muncul lagi sampai hari kiamat.
Di dalam sebagian kisah disebutkan bahwa gunung itu amblas ke dalam tanah dan terns amblas ke dalamnya sampai hari kiamat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Murdawaih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abul Balah, bahwa telah menceritakan kepada kami Ai-Ha isain ibnu Kharijah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Husain ibnul Allaf, dari Urwah ibnu Ruwayyim yang mengatakan bahwa sebelum Allah menampakkan Diri-Nya kepada Musa di Tursina, gunung-gunung itu dalam keadaan rata lagi licin.
Tetapi setelah Allah menampak­kan diri-Nya kepada Musa di Tursina, maka hancur leburlah gunungnya, sedangkan gunung-gunung lainnya terbelah dan retak-retak serta terbentuklah gua-gua.

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan.
Bahwa ketika hijab Allah dibuka-Nya kepada gunung itu dan gunung itu melihat cahaya-Nya, maka jadilah bukit itu seperti tepung.

Sebagian ulama ada yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh.
Bahwa makna yang dimaksud dengan dakka ialah fitnah.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…tetapi melihatiah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.
Menurutnya, dikatakan demikian karena gunung itu lebih besar dan lebih kuat daripada Musa sendiri.
Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu.
kejadian itu menjadikan gunung itu.
(QS. Al-A’raf [7]: 143)
Allah memandang gunung itu, maka gunung itu tidak kuat, lalu hancur luluh sampai ke akarnya.
Melihat pemandangan itu, yakni yang terjadi pada gunung itu, maka Musa pun jatuh pingsan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh.
Bahwa Allah memandang ke gunung itu, maka gunung itu berubah menjadi padang pasir.


Sebagian ulama qiraat membacanya dengan bacaan demikian, kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir.
Dan bacaan ini diperkuat dengan adanya sebuah hadis marfu’ mengenainya yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.


Pengertian as-sa’qu dalam ayat ini ialah pingsan, menurut tafsiran Ibnu Abbas dan lain-lainnya, tidak seperti penafsiran yang dikemukakan oleh Qatadah yang mengatakan bahwa makna as-sa’qu dalam ayat ini ialah mati, sekalipun tafsir yang dikemukakan oleh Qatadah dibenarkan menurut peristilahan bahasa.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).
(Az Zumar:68)

Karena sesungguhnya dalam ayat ini terdapat qarinah (bukti) yang menunjukkan makna mati, sebagaimana dalam ayat yang sedang kita bahas terdapat qarinah yang menunjukkan makna pingsan, yaitu firman-Nya:

Maka setelah Musa sadar kembali.

Al-Ifaqah atau sadar tiada lain dari orang yang tadinya pingsan.

Musa berkata,
"Mahasuci Engkau."


Sebagai ungkapan memahasucikan.
mengagungkan, dan memuliakan Allah, bahwa bila ada seseorang yang melihat-Nya di dunia ini niscaya dia akan mati.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…aku bertobat kepada Engkau.

Mujahid mengatakan makna yang dimaksud ialah ‘saya kapok, tidak akan meminta untuk melihat-Mu lagi’.

…dan aku orang yang pertama-tama beriman.

Demikianlah menurut takwil Ibnu Abbas dan Mujahid, dari Bani Israil, pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan aku orang yang pertama-tama beriman.
Disebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat-Mu.


Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, bahwa sebelum itu memang telah ada orang-orang yang beriman, tetapi makna yang dimaksud di sini ialah
"saya orang yang mula-mula beriman kepada Engkau, bahwa tidak ada seorang makhluk-Mu yang dapat melihat-Mu sampai hari kiamat".
Pendapat ini cukup baik dan mempunyai alasan.

Muhammad ibnu Jarir di dalam kitab Tafsir-nya.
sehubungan dengan ayat ini telah mengetengahkan sebuah asar yang cukup panjang mengenainya di dalamnya terdapat banyak hal yang garib dan ajaib, bersumber dari Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar.
Tetapi seakan-akan Muhammad ibnu Ishaq menerimanya dari berita-berita Israiliyat.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan Musa pun jatuh pingsan.

Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat hadis Abu Sa’id dan Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, yang menerangkan tentangnya.


Hadis Abu Sa’id di-sanad-kan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya, dalam bab tafsir ayat ini.
Untuk itu ia mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Yahya Al-Mazini, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. yang menceritakan bahwa seorang lelaki Yahudi datang kepada Nabi ﷺ, sedangkan mukanya baru saja ditampar, lalu ia mengadu,
"Hai Muhammad, sesungguhnya seseorang dari sahabatmu dari kalangan Ansar telah menampar wajahku."
Nabi ﷺ bersabda,
"Panggillah dia!"
Lalu mereka memanggil lelaki itu dan bersabda kepadanya,
"Mengapa engkau tampar mukanya?"
Lelaki Ansar menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika saya sedang lewat bersua dengan orang Yahudi, lalu orang Yahudi itu kudengar mengatakan, ‘Demi Tuhan yang telah memilih Musa atas manusia semuanya.’ Lalu saya mengatakan kepadanya, ‘Dan juga di atas Muhammad?’ Lelaki itu menjawab, ‘Ya juga di atas Muhammad.’ Maka saya menjadi emosi, lalu kutampar mukanya,"
Rasulullah ﷺ bersabda:
Janganlah kalian melebihkan aku di atas para nabi semuanya, karena sesungguhnya manusia pasti pingsan di hari kiamat, dan aku adalah orang yang mula-mula sadar.
Tiba-tiba aku menjumpai Musa sedang memegang kaki A’rasy.
Aku Tidak mengetahui apakah dia sadar sebelumku ataukah dia telah beroleh balasannya ketika mengalami pingsan di Bukit Tur.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya di berbagai tempat (bab) dari kitab Sahih-nya, dan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya dalam pembahasan
"Kisah-kisah para Nabi".


Imam Abu Daud telah meriwayatkannya di dalam kitab Sunnah-nya melalui berbagai jalur dari Amr ibnu Yahya ibnu Imarah ibnu Abul Hasan Al-Mazini Al-Ansari Al-Madani, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Sa’d ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri dengan lafaz yang sama.

Adapun mengenai hadis Abu Hurairah, Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya menyebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman dan Abdur Rahman Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa ada dua orang lelaki bertengkar, salah seorangnya adalah orang muslim, sedangkan yang lain orang Yahudi.
Orang Mus­lim mengatakan,
"Demi Tuhan yang telah memilih Muhammad atas semua manusia."
Maka si Yahudi berkata,
"Demi Tuhan yang telah memilih Musa atas semua manusia."
Maka orang muslim itu marah kepada si Yahudi, lalu ia menamparnya.
Kemudian orang Yahudi itu datang kepada Rasulullah ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ menanyakan kedatangannya, maka lelaki Yahudi itu mengadukan perkaranya.
Lalu Rasulullah ﷺ memanggil si lelaki muslim itu, dan si lelaki muslim mengakui hal tersebut.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Janganlah kalian melebihkan aku atas Musa, karena sesungguhnya semua orang mengalami pingsan di hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yang mula-mula sadar.
Tiba-tiba aku melihat Musa sedang memegang bagian sisi ‘Arasy.
Aku tidak mengetahui apakah dia termasuk orang-orang yang pingsan, lalu ia sadar sebelumku, ataukah dia termasuk orang yang dikecualikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, (tidak mengalami pingsan)

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Abud Dunya telah meriwayatkan bahwa orang yang menampar si Yahudi itu dalam kasus tersebut adalah sahabat Abu Bakar As- Siddiq r.a. Akan tetapi, menurut keterangan hadis yang terdahulu dari kitab Sahihain disebutkan bahwa lelaki yang menampar si Yahudi itu adalah seorang Ansar, hal ini lebih sahih dan lebih jelas.

Pengertian yang tersirat dari sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Janganlah kalian mengutamakan aku atas Musa.

Sama halnya dengan pengertian yang terkandung di dalam sabdanya yang lain, yaitu:

Janganlah kalian mengutamakan diriku atas para nabi, jangan pula atas Yunus ibnu Mata

Menurut suatu pendapat, hal ini termasuk ke dalam Bab
"Tawadu’ (rendah diri) Nabi ﷺ".


Tetapi menurut pendapat lain, hal tersebut diungkapkan oleh Nabi ﷺ sebelum Nabi ﷺ mengetahui keutamaan dirinya di atas semua makhluk.
Menurut pendapat lainnya,-Nabi ﷺ melarang bila dirinya paling diutamakan di antara para nabi lainnya dengan cara emosi dan fanatisme.
Dan menurut pendapat lainnya lagi, hal tersebut dilarang bila dikatakan hanya sekadar pendapat sendiri dan seenaknya.

Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Sesungguhnya semua manusia akan mengalami pingsan pada hari kiamat nanti.

Menurut makna lahiriahnya ‘pingsan’ ini terjadi menjelang hari kiamat, karena pada hari itu terjadilah suatu perkara yang membuat mereka semuanya tidak sadarkan dirinya.

Barangkali pula hal tersebut terjadi di saat Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi datang untuk memutuskan peradilan, lalu Dia menampakkan diri-Nya pada semua makhluk untuk melakukan pembalasan terhadap mereka.
Perihalnya sama dengan pingsan yang dialami oleh Musa ‘alaihis salam karena Tuhan menampakkan diri-Nya.
Untuk itulah, maka dalam hadis ini disebutkan melalui sabdanya:

Aku tidak mengetahui apakah Musa sadar sebelumku.
ataukah dia sudah cukup mendapat balasannya ketika mengalami pingsan di Bukit Tur.

Al-Qadi Iyad di dalam permulaan kitab Asy-Syifa telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Muhammad ibnu Muhammad ibnu Marzuq:


bahwa telah menceritakan kepada kami Qatadah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, dari Qatadah, dari Yahya ibnu Wassab, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa as., maka Musa dapat melihat semut yang berada di Bukit Safa (Mekah) dalam kegelapan malam sejauh perjalanan sepuluh farsakh (pos).

Kemudian Al-Qadi Iyad mengatakan,
"Tidaklah jauh pengertian hal ini dengan apa yang dialami oleh Nabi kita.
sebagai keistimewaan buatnya, sesudah beliau mengalami Isra dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang terbesar."


Demikianlah menurut Al-Qadi Iyad, seakan-akan dia menilai sahih hadis ini.
Tetapi kesahihan hadis ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat para perawi yang disebutkan di dalam sanadnya terdapat orang-orang yang tidak dikenal.
Sedangkan hal semisal ini hanya dapat diterima bila diketengahkan melalui periwayatan orang-orang yang adil lagi dabit sampai ke penghujung sumbernya.

Unsur Pokok Surah Al A’raaf (الأعراف)

Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al-An’am dan termasuk golongan surat "Assab ‘uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al-A’raaf" karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

▪ Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat.
▪ Hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam.
▪ Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
▪ Allah bersemayam di ‘Arasy.
▪ Bantahan terhadap kepalsuan syirik.
▪ Ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia.
▪ Nabi Musa berbicara dengan Allah.
▪ Tentang melihat Allah.
▪ Perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah.
▪ Allah mempunyai al asma’ul husna.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk.
▪ Kewajiban mengikuti Allah dan rasul.
▪ Perintah berhias waktu akan shalat.
▪ Bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah.
▪ Perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Adam `alaihis salam dengan iblis.
▪ Kisah Nabi Nuh `alaihis salam dan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Shaleh `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Syu’aib `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Fir’aun.

Lain-lain:

▪ Alquran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya.
▪ Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia.
▪ Adab orang mukmin.
▪ Adab mendengar pembacaan Alquran dan berzikir.
▪ Rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah.
▪ Balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul.
▪ Dakwah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah.

Audio

QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 206 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 206

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al A'raaf ayat 143 - Gambar 1 Surah Al A'raaf ayat 143 - Gambar 2
Statistik QS. 7:143
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al A’raaf.

Surah Al-A’raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A’rāf, “Tempat Tertinggi”) adalah surah ke-7 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An’am dan termasuk golongan surah Assab ‘uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A’raf karena perkataan Al-A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A’raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An’am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
Sending
User Review
5 (1 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

7:143, 7 143, 7-143, Surah Al A'raaf 143, Tafsir surat AlAraaf 143, Quran Al Araf 143, Al-A'raf 143, Surah Al Araf ayat 143

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al A’raaf

۞ QS. 7:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:3 Ar Rabb (Tuhan) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 7:4 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir

۞ QS. 7:5 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman

۞ QS. 7:6 • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:7 • Menafikan sifat kantuk dan tidur • Keluasan ilmu Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 7:8 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 7:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 7:13 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:14 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:16 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 7:17 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 7:18 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:20 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 7:21 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 7:22 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 7:23 Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun

۞ QS. 7:25 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 7:27 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 7:28 • Mendustai Allah • Dosa-dosa besar

۞ QS. 7:29 Ar Rabb (Tuhan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Shalat rukun Islam • Ikhlas dalam berbuat •

۞ QS. 7:30 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:33 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa-dosa besar • Dosa batin

۞ QS. 7:34 • Kebenaran dan hakikat takdir • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 7:35 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratHikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:36 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:37 • Mendustai Allah • Tugas-tugas malaikat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Syirik adalah dosa terbesar • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:38 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka • Pahala jin dan balasannya

۞ QS. 7:39 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 7:40 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Dosa-dosa besar • Dosa terbesar

۞ QS. 7:41 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 7:42 • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Toleransi Islam • Keutamaan iman • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 7:43 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat • Sifat surga dan kenikmatannya

۞ QS. 7:44 • Pahala iman • Allah menepati janji • Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:45 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 7:46 • Batas antara surga dan neraka • Golongan Al A’raf

۞ QS. 7:47 Ar Rabb (Tuhan) • Golongan Al A’raf • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:48 • Golongan Al A’raf • Azab orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:49 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Memasuki surga • Golongan Al A’raf

۞ QS. 7:50 Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Sifat ahli surga • Percakapan para ahli surga • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 7:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 7:52 • Keluasan ilmu Allah • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:53 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Beriman ketika datang hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 7:54 Dalil-dalil adanya Allah Ta’alaTauhid RububiyyahArsy • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah

۞ QS. 7:55 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 7:57 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 7:58 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:59 Tauhid Uluhiyyah • Kedahsyatan hari kiamat • Islam agama para nabi

۞ QS. 7:60 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:61 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan)

۞ QS. 7:62 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:63 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:65 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi

۞ QS. 7:66 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:67 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:70 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:71 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah •

۞ QS. 7:72 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kasih sayang Allah yang luas • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:73 Tauhid UluhiyyahDalil Allah atas hambaNya • Ar Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:74 Dalil Allah atas hambaNya

۞ QS. 7:75 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada para rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:76 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:77 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:78 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:79 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:82 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:83 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 7:84 • Azab orang kafir

۞ QS. 7:85 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi

۞ QS. 7:86 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:87 Al Hakam (Maha memberi keputusan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:88 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:89 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al Fattah (Maha Pembuka) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 7:90 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:91 • Azab orang kafir

۞ QS. 7:92 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:93 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:94 Hukum alam

۞ QS. 7:95 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Istidraj (memperdaya) • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:96 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 7:97 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:98 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:99 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:100 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Allah menggerakkan hati manusia • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 7:101 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir

۞ QS. 7:102 • Orang mukmin kelompok minoritas • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:103 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:104 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:105 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:109 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:110 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:111 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:113 • Meminta upah dari sihir

۞ QS. 7:116 Hakikat sihir

۞ QS. 7:117 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 7:118 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 7:121 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:122 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:123 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:125 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:126 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:128 • Pahala iman • Minta tolong kepada Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Kekuatan umat Islam di dunia •

۞ QS. 7:129 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:130 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:131 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Meramal nasib

۞ QS. 7:134 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:136 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:137 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Kekuatan umat Islam di dunia • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:139 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 7:140 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 7:141 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:142 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:143 • Gunung akan hancur bila Allah menampakkan diri di atasnya • Sifat Kalam (berfirman) • Allah tidak dapat dilihat di dunia • Ar Rabb (Tuhan) •

۞ QS. 7:144 • Sifat Kalam (berfirman) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 7:145 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:146 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:147 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Mengingkari hari kebangkitan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia

۞ QS. 7:148 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:149 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:150 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:151 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 7:152 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:153 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 7:154 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:155 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 7:156 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 7:157 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Islamnya ahli kitabIslam agama fitrah • Toleransi Islam

۞ QS. 7:158 Tauhid Uluhiyyah • Segala sesuatu milik Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan •

۞ QS. 7:159 • Islamnya ahli kitab

۞ QS. 7:161 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 7:162 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:163 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:164 Ar Rabb (Tuhan) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:165 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Siksaan Allah sangat pedih • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:166 • Siksaan Allah sangat pedih • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:167 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 7:169 • Mendustai Allah • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 7:170 • Pahala iman • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keadilan Allah dalam menghakimi • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah •

۞ QS. 7:171 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 7:172 Tauhid RububiyyahDalil Allah atas hambaNya • Ar Rabb (Tuhan) • Islam agama fitrah

۞ QS. 7:174 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:175 • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:176 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 7:177 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:178 • Allah menggerakkan hati manusia • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 7:179 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Pahala jin dan balasannya • Azab orang kafir

۞ QS. 7:180 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Berdoa dengan Asma’ul Husna • Mengingkari nama-nama Allah • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:182 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Istidraj (memperdaya) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:183 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Istidraj (memperdaya) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:185 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kiamat telah dekat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian •

۞ QS. 7:186 • Allah menggerakkan hati manusia • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafir • Siksa orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 7:187 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Ar Rabb (Tuhan) • Waktu kiamat tidak diketahui • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 7:188 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib

۞ QS. 7:189 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:190 • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Muta’ali (Maha Luhur)

۞ QS. 7:191 Al Khaliq (Maha Pencipta) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:192 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:193 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:194 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:195 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:196 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Wali Allah dan wali syetan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan •

۞ QS. 7:197 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:198 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:200 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 7:201 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Lemah iman • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 7:202 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 7:203 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 7:205 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:206 Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

Ayat Pilihan

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat & bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rezeki kepadamu,
Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.
Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
QS. Ta Ha [20]: 132

Berlombalah kamu (dapatkan) ampunan Tuhanmu & surga yang seluas langit & bumi, yang disediakan bagi yang beriman kepada Allah & Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan pada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah mempunyai karunia yang besar.
QS. Al-Hadid [57]: 21

Ya Tuhanku
lapangkanlah untukku dadaku,
dan mudahkanlah untukku urusanku,
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
supaya mereka mengerti perkataanku
QS. Ta Ha [20]: 25-28

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Benar! Kurang tepat!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Benar! Kurang tepat!

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Pendidikan Agama Islam #13

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam? … Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.”

Kamus

Al-Balad

Apa itu Al-Balad? Surah Al-Balad (bahasa Arab: البلد) adalah surah ke-90 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 20 ayat. Dinamakan “Al-Balad” yang berarti...

surau

Apa itu surau? su.rau tempat (rumah) umat Islam melakukan ibadatnya (mengerjakan salat, mengaji, dan sebagainya); langgar … •

Al-Bayyinah

Apa itu Al-Bayyinah? Surah Al-Bayyinah (bahasa Arab:البينة, “Pembuktian”) adalah surah ke-98 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyah, di...