QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 129 [QS. 7:129]

قَالُوۡۤا اُوۡذِیۡنَا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَاۡتِیَنَا وَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَا ؕ قَالَ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّہۡلِکَ عَدُوَّکُمۡ وَ یَسۡتَخۡلِفَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرَ کَیۡفَ تَعۡمَلُوۡنَ
Qaaluuu uudziinaa min qabli an ta’tiyanaa wamin ba’di maa ji-atanaa qaala ‘asa rabbukum an yuhlika ‘aduu-wakum wayastakhlifakum fiil ardhi fayanzhura kaifa ta’maluun(a);

Mereka (kaum Musa) berkata, ”Kami telah ditindas (oleh Fir‘aun) sebelum engkau datang kepada kami dan setelah engkau datang.”
(Musa) menjawab,
“Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi;
maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.”
―QS. 7:129
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Meminta dengan menyebut nama Allah
7:129, 7 129, 7-129, Al A’raaf 129, AlAraaf 129, Al Araf 129, Al-A’raf 129
English Translation - Sahih International
They said,
“We have been harmed before you came to us and after you have come to us.”
He said,
“Perhaps your Lord will destroy your enemy and grant you succession in the land and see how you will do.”
―QS. 7:129

 

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 129

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 129. Oleh Kementrian Agama RI

Bani Israil mengeluh kepada Musa `alaihis salam, bahwa nasib mereka sama saja, baik sebelum kedatangan Musa `alaihis salam, untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Firaun maupun sesudahnya.
Mereka merasa tidak mendapat faedah dari kedatangan Nabi Musa as itu.
Dahulu mereka diazab dan diperbudak oleh Firaun, anak-anak mereka dibunuh, mereka disuruh kerja paksa, sekarang pun demikian.
Keluhan ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang dan tidak adanya kesabaran pada mereka.

Mendengar keluhan ini, maka Nabi Musa berkata,
“Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu,”
maksudnya:
meskipun yang terjadi demikian akan tetapi harapan bahwa Allah akan membinasakan musuh-musuhmu, dan menjadikan kamu berkuasa di bagian bumi yang telah dijanjikan Tuhanmu harus tetap ada.

Di dalam ucapan kepada kaumnya, Nabi Musa as memakai ungkapan
“mudah-mudahan.”
Ia memakai ungkapan tersebut untuk tidak memastikan datangnya pertolongan dan rahmat Allah kepada mereka.
Sebab andaikata ia menggunakan ungkapan yang memastikan, boleh jadi umatnya akan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang perlu mereka lakukan untuk memperoleh pertolongan Allah, karena pertolongan Allah kepada hamba-Nya tidaklah diberikan begitu saja, melainkan tergantung kepada usaha-usaha yang dilakukan umat yang bersangkutan, misalnya kesungguhan, disiplin, persatuan, dan sebagainya.