Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 127


وَ قَالَ الۡمَلَاُ مِنۡ قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ اَتَذَرُ مُوۡسٰی وَ قَوۡمَہٗ لِیُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ یَذَرَکَ وَ اٰلِہَتَکَ ؕ قَالَ سَنُقَتِّلُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ نَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ۚ وَ اِنَّا فَوۡقَہُمۡ قٰہِرُوۡنَ
Waqaalal malaa min qaumi fir’auna atadzaru muusa waqaumahu liyufsiduu fiil ardhi wayadzaraka waaalihataka qaala sanuqattilu abnaa-ahum wanastahyii nisaa-ahum wa-innaa fauqahum qaahiruun(a);

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun):
“Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”.
Fir’aun menjawab:
“Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”.
―QS. 7:127
Topik ▪ Allah menggerakkan hati manusia
7:127, 7 127, 7-127, Al A’raaf 127, AlAraaf 127, Al Araf 127, Al-A’raf 127
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 127. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diceritakan bahwa orang-orang terkemuka dari kaum Firaun berkata kepadanya, "Hai Firaun apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini?
Serta meninggalkan kamu dan Tuhan-tuhanmu?"

Fitnahan ini untuk kesekian kalinya memperlihatkan kecemasan mereka akan kehilangan kekuasaan, pengaruh dan harta benda, karena mereka telah melihat gejala-gejala bahwa rakyat telah mulai memalingkan muka dari Firaun kepada Nabi Musa a.s, setelah menyaksikan kemenangan mukjizatnya.
Apalagi setelah melihat para pesihir sudah bersujud menyatakan iman, dan tidak memperdulikan lagi ancaman Firaun terhadap mereka.
Dalam melancarkan fitnahan ini, para pembesar ini menggunakan unsur politik dan unsur agama.
Mereka menuduh bahwa Musa akan meruntuhkan kedudukan Firaun sebagai penguasa tunggal di Mesir.
Di samping itu, kedudukan Firaun sebagai orang yang dipertuhan selama ini dengan sendirinya akan lenyap pula.
Lebih dari itu, tuhan-tuhan yang menjadi sesembahan bangsa Mesir pada masa itupun akan ditinggalkan pula, misalnya Tuhan "Osiris" yang menurut anggapan mereka rohnya menjelma pada seekor sapi yang mereka sebut "Apis",
selain itu, mereka juga menyembah "segala macam hewan".
Demikian pula mereka menyembah kegelapan, serta patung Akron yang mereka anggap sebagai pengusir lalat.

Pendek kata rakyat Firaun pada masa itu telah berada di puncak kesesatan, karena mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, serta manusia dan hewan, baik hewan yang besar maupun serangga yang paling kecil.
Firaun sendiri adalah penganut kepercayaan penyembah binatang, kemudian ditinggalkannya kepercayaan tersebut, lalu ia mengaku menjadi tuhan dan menyuruh rakyatnya untuk menyembah kepadanya.
Ini setelah ia melihat dirinya mempunyai kekuasaan yang begitu besar di kalangan rakyatnya.
(Keterangan ini terdapat dalam buku Al-Milal wan-Nihal oleh asy-Syahrastany)

Fitnah para pembesar Firaun telah berhasil mengenai sasarannya, yaitu mempengaruhi Firaun yang telah kehilangan keseimbangannya, sehingga membangkitkan emosi dan amarahnya.
Oleh sebab itu, ia menjawab: "Baiklah, akan kita bunuh anak-anak laki-laki mereka, dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka, dan kita berkuasa penuh di atas mereka.
Maksudnya, bahwa dalam rangka untuk mencegah berkuasanya Nabi Musa as di Mesir, maka Firaun akan melakukan berbagai tindakan, antara lain ialah membunuh setiap anak laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan-perempuan Bani Israil, yaitu kaum yang sebangsa dengan Nabi Musa yang berdiam di Mesir waktu itu.
Sedang anak-anak perempuan yang mereka lahirkan akan dibiarkan hidup untuk kemudian dapat dimanfaatkan oleh Firaun dan para pembesarnya sebagai budak.
Dengan tindakan ini Firaun mengharapkan dapat membendung tumbuhnya kekuasaan Nabi Musa di Mesir, karena ia akan tetap mempunyai tenaga laki-laki yang lebih banyak dan kekuasaan yang lebih besar, sedang sebaliknya, Nabi Musa dan Bani Israil umumnya semakin kekurangan tenaga laki-laki, sehingga mereka tidak akan menentang kekuasaan Firaun, dan membebaskan diri dari rantai perbudakannya.
Rencana jahat ini benar-benar dilaksanakan oleh Firaun dan para pembesarnya, sehingga Bani Israil yang berdiam di Mesir pada masa itu sangat menderita, lahir dan batin.

Al A'raaf (7) ayat 127 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 127 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 127 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah Fir'aun dan kaumnya menyaksikan kemenangan dan kehebatan Musa serta keimanan para ahli sihir kepadanya, para pembesar Fir'aun pun berkata, "Apakah Musa dan kaumnya kita biarkan bebas begitu saja?
Di suatu saat nanti--dengan masuknya kaummu ke dalam agama mereka--mereka akan membuat kekacauan di tanah Mesir ini.
Tuhan-tuhanmu akan mereka tinggalkan tanpa perasaan bersalah, hingga orang-orang Mesir akan mengetahui kelemahanmu." Fir'aun menjawab, "Akan kita bunuh anak-anak lelaki yang mereka lahirkan dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Dengan begitu, mereka tidak dapat menggalang kekuatan, seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Sesungguhnya kita akan selalu dapat menguasai dan menekan mereka."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun,) kepada Firaun sendiri ("Apakah kamu membiarkan) meninggalkan (Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini) yaitu dengan menyeru ajakan agar menentangmu (dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?") tersebutlah bahwa Firaun itu telah membuat berhala-berhala kecil untuk disembah oleh kaumnya, kemudian Firaun berkata, "Aku adalah tuhanmu dan tuhan mereka," oleh karena itu ia pernah mengatakan, "Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi." (Firaun menjawab, "Akan kita bunuh) dengan mentasydidkan huruf ta-nya (anak-anak lelaki mereka) yang baru dilahirkan (dan kita biarkan hidup) kita biarkan (perempuan-perempuan mereka) sebagaimana yang pernah kita lakukan terhadap mereka sebelumnya (dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.") yakni orang-orang yang berkuasa, akhirnya mereka melakukan hal itu terhadap kaum Musa, sehingga membuat kaum Bani Israel mengadu kepada Musa.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para pemuka dan pembesar kaum Fir aun yang sombong itu berkata kepada Fir aun :
Apakah kamu (Fir aun) akan membiarkan Musa dan kaumnya dari Bani Israil melakukan kerusakan di negeri Mesir ini dengan mengubah agama manusia dengan penyembahan hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, lalu mereka meninggalkanmu dan sembahan-sembahanmu?
Fir aun menjawab :
Kita akan membunuh anak-anak laki-laki dari Bani Israil dan membiarkan anak-anak perempuan mereka tetap hidup agar mereka menjadi pelayan-pelayan.
Sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menceritakan tentang persekongkolan Fir'aun dan para pemuka kaumnya terhadap Musa, serta kedengkian dan kemarahan yang mereka pendam terhadap Musa 'alaihis salam dan kaumnya.

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun.

Yakni mereka berkata kepada Fir'aun.

Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya.

Artinya, apakah engkau biarkan mereka menimbulkan kerusakan di bumi, yakni merusak rakyatmu dan menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka, bukan menyembah kepadamu?
Alangkah meng­herankannya, mengapa mereka merasa khawatir Musa dan kaumnya akan menimbulkan kerusakan.
Bukankah sebenarnya Fir'aun dan kaumnyalah orang-orang yang membuat kerusakan itu, tetapi Fir'aun dan kaumnya tidak merasa, bahwa diri mereka sebenarnya adalah para perusak?
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan bahwa mereka mengatakan:

...dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa huruf wawu dalam ayat ini adalah wawu haliyah (kata keterangan keadaan), yakni apakah engkau biarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan, sedangkan penyembah­an kepadamu ditinggalkan?' Orang yang membaca dengan pengertian ini adalah Ubay ibnu Ka'b, yakni sedangkan mereka meninggalkan penyembahan mereka kepadamu dan tuhan-tuhanmu?
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ulama lain mengatakan bahwa huruf wawu ini adalah huruf 'ataf, yakni 'apakah engkau biarkan mereka melakukan kerusakan seperti yang engkau lihat sendiri?
Mereka juga tidak mau menyembah tuhan-tuhanmu.

Sebagian ulama ada yang membacanya ilahataka yang artinya 'menyembah kepadamu'.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya.

Berdasarkan pengertian bacaan yang pertama dapat disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa Fir'aun memang mempunyai tuhan-tuhan yang selalu disembahnya.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, bahwa Fir'aun mempunyai tuhan yang selalu ia sembah secara rahasia.
Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa Fir'aun mempunyai sebuah patung kecil yang dikalungkan pada lehernya dan selalu ia sembah.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan meninggalkan kamu dan tuhan-tuhanmu?
Yakni tuhan-tuhan Fir'aun.

Menurut dugaan Ibnu Abbas, apabila mereka melihat seekor sapi betina yang bagus, maka Fir'aun menyuruh mereka untuk menyembah sapi betina itu.
Karena itulah Samiri membuatkan patung anak sapi yang dapat bersuara bagi mereka.

Lalu Fir'aun memperkenankan permintaan pembesar-pembesar kaumnya itu melalui perkataannya, seperti yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka.

Hal ini merupakan perbuatan kedua kalinya yang diperintahkan oleh Fir'aun terhadap kaumnya.
Hal yang serupa pernah ia lakukan terhadap kaum Bani Israil, yaitu ketika menjelang kelahiran Musa 'alaihis salam, karena merasa khawatir akan keberadaannya.
Tetapi ternyata kejadiannya bertentangan dengan apa yang dituju dan yang dimaksud oleh Fir'aun (yakni Musa tetap lahir dengan selamat).
Ia pun mendapat perlakuan yang sama di saat dia hendak menghinakan kaum Bani Israil dan menindas mereka.
Maka kenyataannya menjadi kebalikan dari apa yang diinginkannya, yaitu Allah memenangkan kaum Bani Israil dan menghinakan Fir'aun beserta bala tentaranya- serta menenggelamkan mereka semua di dalam lautan.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 127

AALIHAH
ءَالِهَة

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya adalah al-ilah. Asalnya seperti wazan (bentuk kata) fi'al dan menjadi ism maf'ul atau bermakna ma'luh artinya yang dipertuhankan atau disembah.

Al ilah mengandung makna Allah dan setiap sesuatu yang dijadikan sembahan selainnya, maka ia adalah ilah (tuhan) bagi penyembahnya. Al aalihah juga bermakna al ashnaam (berhala-berhala) karena menurut keyakinan mereka ia patut disembah.

Lafaz aalihah disebut 34 kali di dalam Al Qur'an yaitu pada surah:
-Al An'aam (6), ayat 19, 74;
-Al A'raaf (7), ayat 127; 138,
-Hud (11), ayat 53, 54, 101;
-Al Israa (17), ayat 42;
-Al Kahfi (18), ayat 15;
-Maryam (19), ayat 46, 81;
-Al Anbiyaa (21), ayat 21, 22, 23, 24, 36, 59, 62, 68, 99;
-Al Furqaan (25), ayat 3, 42;
-Yaa Siin (36), ayat 23, 74;
-Ash Shaffat (37), ayat 36, 86, 91;
-Shad (38), ayat 5, 6;
-Az Zukhruf (43), ayat 45, 58;
-Al Ahqasf (46), ayat 22, 28;
-Nuh (71), ayat 23.

Dalam Tafsir Al Khazin, dalam surah Al An'aam dijelaskan makna aalihah ialah al ashnaam (berhala-berhala) yang mereka sembah. Dan dalam surah Al Anbiyaa ayat 21, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau berhala-berhala yang dibuat dari batu dan anak sapi serta selain dari keduanya yang dibuat dari tembaga yang diambil dari bumi.

Begitu juga yang diriwayatkan dari Ibn Abbas bermakna ash ashnaam (berhala­ berhala atau tuhan-tuhan) yang mereka (orang musyrik) mengatakan ia anak-anak perempuan Allah. Sedangkan dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau sembahan-sembahan yang ada di bumi dan di langit.

An Nasafi menafsirkan, aalihah yang terdapat dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, menghidupkan yang mati dan dari bumi adalah sifat bagi alihah karena alihah dijadikan dari perut bumi seperti emas, perak dan tembaga atau batu serta disembah di bumi.

Kesimpulannya, kata aalihah di dalam Al Qur'an ditujukan kepada berhala-berhala yang disembah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:44-45

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 127 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 127



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (10 votes)
Sending







✔ Hubungan qs al araf 127 dengan konseling

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku