QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 116 [QS. 7:116]

قَالَ اَلۡقُوۡا ۚ فَلَمَّاۤ اَلۡقَوۡا سَحَرُوۡۤا اَعۡیُنَ النَّاسِ وَ اسۡتَرۡہَبُوۡہُمۡ وَ جَآءُوۡ بِسِحۡرٍ عَظِیۡمٍ
Qaala alquu falammaa alqau saharuu a’yunannaasi waastarhabuuhum wajaa-uu bisihrin ‘azhiimin;

Musa menjawab:
“Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).
―QS. 7:116
Topik ▪ Penghinaan dan pengusiran bangsa Yahudi
7:116, 7 116, 7-116, Al A’raaf 116, AlAraaf 116, Al Araf 116, Al-A’raf 116

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 116

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 116. Oleh Kementrian Agama RI

Nabi Musa mempersilakan mereka untuk mendahului, tanpa merasa khawatir terhadap kekuatan dan keampuhan sihir mereka karena ia yakin akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan ia yakin bahwa mukjizat tidak akan terkalahkan oleh sihir manusia.

Ahli-ahli sihir itu lalu menjatuhkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ke tanah dan mereka menyihir penglihatan orang banyak yang menyaksikan peristiwa tersebut, termasuk Nabi Musa sendiri, orang banyak terpengaruh oleh sihir tersebut melihat semua tali dan tongkat tersebut telah berubah menjadi ular, sehingga mereka merasa takut.
Pada hal sebenarnya tidaklah demikian.

Mereka itu tampaknya berhasil melakukan sihir yang dahsyat dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap orang-orang yang menyaksikannya.
Bahkan Nabi Musa sendiripun pada mulanya merasa gentar juga.
Hal ini disebutkan Allah pada ayat-ayat lain dengan firman-Nya:

Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka
(Q.S. Thaa haa [20]: 66)

Dan firman-Nya dalam ayat berikut:

Maka Musa merasa takut dalam hatinya.
Kami berkata, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)”.

(Q.S. Thaa haa [20]: 67-68)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan penuh keyakinan dan tanpa rasa takut sedikit pun, Musa menjawab, “Lemparlah lebih dulu apa yang ada pada kalian.” Ketika mereka semua telah melempar apa yang dibawa berupa tali dan tongkat, mata orang-orang pun terkelabui, seolah-olah apa yang mereka lakukan itu benar-benar terjadi.
Padahal sebenarnya hal itu merupakan kamuflase belaka.
Orang-orang pun tercengang dan ketakutan.
Para ahli sihir itu memang telah melakukan suatu bentuk sihir yang hebat dan mengagumkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Musa menjawab, “Lemparkanlah olehmu lebih dahulu) ini adalah suatu perintah yang mempersilakan mereka untuk melemparkan apa yang ada pada mereka, sebagai suatu taktik dari Musa untuk menampakkan yang hak (Maka tatkala mereka melemparkan) tambang-tambang mereka dan tongkat-tongkat mereka (mereka menyulap mata orang) mereka membalik mata para hadirin supaya tidak bisa melihat hal yang sebenarnya (dan menjadikan orang banyak itu takut) artinya mereka membuatnya takut karena mereka menjadikan seolah-olah hal itu adalah ular-ular yang menjalar (serta mereka mendatangkan sihir yang besar, menakjubkan”).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Musa menjawab para penyihir itu :
Silakan kalian yang melempar dahulu, setelah mereka melemparkan tali dan tongkat-tongkat, orang-orang yang hadir saat itu tersihir dan apa yang mereka saksikan seakan-akan benar-benar terjadi, padahal itu hanyalah tipuan dan khayalan sehingga banyak orang yang sangat ketakutan.
Sungguh, para penyihir itu telah membawa sihir yang sangat kuat dan banyak.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Demikianlah tantangan para ahli sihir kepada Musa ‘alaihis salam dalam ucapan mereka, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

…Kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kamiyang akan melemparkan?

Maksudnya, apakah kamu terlebih dahulu yang melemparkan.
Pengertian ini sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?
(Q.S. Thaa haa [20]: 65)

MakaNabi Musa ‘alaihis salam menjawab:

Lemparkanlah (lebih dahulu) !

Yakni kalianlah yang melemparkan lebih dahulu.
Menurut suatu pendapat, hikmah yang terkandung di dalam hal ini —hanya Allah yang lebih mengetahui— ialah agar orang-orang melihat apa yang akan diperbuat oleh ahli-ahli sihir itu, lalu mereka merenungkannya.
Setelah orang-orang melihat permainan sulap tukang-tukang sihir itu, maka barulah ditampilkan perkara yang hak lagi jelas dan gamblang, setelah Nabi Musa ‘alaihis salam dituntut untuk mengemukakannya dan mereka menunggu-nunggunya.
Dengan demikian, pengaruh dari apa yang ditampakkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam berupa mukjizat akan lebih mendalam kesannya di dalam hati mereka, dan memang kenyataannya demikian, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman selanjutnya:

Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut.

Yaitu diilusikan (dikhayalkan) di mata orang-orang bahwa apa yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir Fir’aun itu seakan-akan merupakan kenyataan, padahal hakikatnya hanyalah sulap dan ilusi belaka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.
Maka Musa merasa takut dalam hatinya Kami berkata, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).
Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.
Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka).
Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (Q.S. Thaa haa [20]: 66-69)

Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa para ahli sihir itu melemparkan tambang-tambang yang kasar dan tongkat-tongkat yang panjang.
Kemudian terbayangkan di mata orang-orang bahwa semuanya itu seakan-akan berjalan karena pengaruh ilmu sihir mereka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Fir’aun membariskan lima belas ribu tukang sihir, setiap orang dari tukang sihir itu membawa tali dan tongkatnya masing-masing.
Kemudian Musa ‘alaihis salam muncul bersama saudaranya (Harun) seraya memegang tongkatnya hingga sampai di hadapan para ahli sihir dan Fir’aun di majelisnya yang dikelilingi oleh para hulubalang dan para pembantu terdekatnya.
Kemudian para ahli sihir itu berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa, “Silakan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka.
(Q.S. Thaa haa [20]: 65-66)

Disebutkan bahwa mula-mula yang disulap oleh sihir mereka adalah pandangan Musa ‘alaihis salam dan Fir’aun, kemudian menyusul mata semua orang yang hadir.
Setelah itu barulah setiap orang dari para ahli sihir itu melemparkan tali dan tongkat yang ada di tangannya masing-masing, Tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat itu semuanya menjadi ular yang banyaknya seperti bukit.
Lembah mereka berada seakan-akan penuh dengan ular-ular yang sebagian di antaranya bertumpang tindih dengan sebagian lainnya.

As-Saddi mengatakan bahwa para ahli sihir Fir’aun berjumlah tiga puluh ribu orang lebih, tiada seorang pun dari mereka melainkan di tangannya membawa tali dan tongkatnya masing-masing.
Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut.
Yakni para ahli sihir itu mencerai-beraikan mereka karena ketakutan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Hisyam Ad-Dustuwa-i, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim Ibnu Abu Burrah yang mengatakan bahwa Fir’aun mengumpulkan tujuh puluh ribu tukang sihir, lalu mereka melemparkan tujuh puluh ribu tali dan tujuh puluh ribu tongkatnya.
Kemudian terbayangkan bahwa seakan-akan tali-tali dan tongkat-tongkat itu di mata Musa seakan-akan berjalan karena pengaruh sihir mereka.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

…mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).


Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 116

A’YUN
أَعْيُن

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah ‘ain. Menurut Ibn Asy Sukayt, ‘ain bermakna “sesuatu yang dengannya seseorang dapat melihat dan memandang.”

Ibn Saydah berkata,
‘Ain adalah orang yang dikirim untuk mencari berita dan ia dinamakan dzii al ‘ainain

Sedangkan Ar Razi berkata,
makna ‘ain ialah indera penglihatan.

Ia juga bermakna “kekuatan penglihatan. Makna lafaz ini juga berbeda-beda dari sudut penggunaannya. Apabila ia disandarkan kepada al-maa’ atau ‘ainul maa’ artinya adalah “mata air.” Apabila disandarkan kepada rumah maa bid daari ‘ain artinya “tiada siapapun di rumah itu'” Apabila disandarkan pula kepada an nafis bermakna “yang amat berharga.” Ia juga bermakna mata-mata, ilmu, matahari, kemuliaan dan sebagainya.

Lafaz a’yun disebut 22 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
-Al Maa’idah (5), ayat 83;
-Al A’raaf (7), ayat 116, 179, 195;
-Al­ Anfaal (8), ayat 44;
-At Taubah (9), ayat 92,
-Hud (11), ayat 31, 37;
-Al Kahfi (18), ayat 101;
-Al­ Anbiyaa (21), ayat 61;
-Al Mu’minuun (23), ayat 27;
-Al Furqaan (25), ayat 74;
-As Sajadah (32), ayat 17;
-Al Ahzab (33), ayat 19, 51;
-Yaa Siin (36), ayat 66;
-Al Mu’min (40), ayat 19;
-Az Zukhruf (43), ayat 71;
-Ath Thuur (52), ayat 48;
-Al Qamar (54), ayat 14, 37.

Dalam surah Al Furqaan, lafaz a’yun dikaitkan dengan dzurriyyatinaa qurrah.

Ibn Katsir menafsirkannya dengan “anak-anak yang menyembah Engkau dan membaguskan ibadah mereka kepadamu serta tidak durhaka kepada kami” Beliau menukilkan pandangan ‘Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam, yang berpendapat maksudnya ialah “memohon kepada Allah bagi isteri­ isteri dan anak-anak mereka supaya diberi petunjuk Islam.”

Dalam surah As Sajadah, beliau menafsirkannya dengan “kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata” sebagaimana yang dinukilkan dari Al Hasan Al Basri.”

Imam Asy Syawkani menafsirkan kata a’yun yang terdapat pada kisah Nabi Nuh (dalam surah Hud, ayat 37) yang dikaitkan dengan lafaz tajri dan wasna’ al fulk dengan “mata-mata malaikat yang selalu melidungi mereka,” karena kata a’yun bermakna alat penglihatan yang mayoritasnya digunakan untuk menjaga dan memperhatikan serta mengawasi sesuatu. A’yun yang dikaitkan dengan wasna’ al jul itu bermakna “dengan pandangan kami dan kasih sayang kami kepadamu.”

Dalam surah Al Kahfi, ayat 101, lafaz a’yun dikaitkan dengan kata ghitaa’, maksudnya ialah mereka yang di dunia ini buta akan dalil-dalil kekuasaan Allah dan keesaan Nya bahkan mereka tidak melihat dan memikirkannya.

Lafaz ini juga dikaitkan dengan ad dam sebagaimana yang terdapat dalam surah At-Taubah, ayat 92 dan Al Maa’idah, ayat 83.

At Tabari menafsirkan maksudnya “mata yang darinya keluar air mata” dan ayat ini diturunkan kepada Raja Najasyi dan para pengikutnya yang menangis karena melihat kebenaran Al Qur’an yang dibacakan kepada mereka.

Sedangkan dalam surah At Taubah, yang dimaksudkan adalah Bani Muqarrin dari kabilah Muzaynah yang menangis karena sedih disebabkan tiada sesuatu yang mereka dapat nafkahkan dan sumbangkan untuk berjihad di jalan Allah.

Kesimpulannya, makna dan maksud lafaz a’yun yang terdapat di dalam Al Qur’an dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, sudut zahir di mana ia adalah alat penglihatan.

Kedua, sudut maknawi yang tersirat, ia bermakna penjagaan, kasih sayang, diri yang mendapat petunjuk atau kesesatan dan sebagainya. Semua itu berdasarkan kepada konteks sandaran lafaz a’yun itu dan hubungannya dengan kalimat lain dalam suatu ayat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:11

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 116 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 116 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 116 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:116
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.5
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta