Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 107


فَاَلۡقٰی عَصَاہُ فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ مُّبِیۡنٌ
Faalqa ‘ashaahu fa-idzaa hiya tsu’baanun mubiinun;

Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.
―QS. 7:107
Topik ▪ Kasih sayang Allah yang luas
7:107, 7 107, 7-107, Al A’raaf 107, AlAraaf 107, Al Araf 107, Al-A’raf 107
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 107. Oleh Kementrian Agama RI

Tantangan Firaun itu segera dibalas oleh Nabi Musa dengan memperlihatkan dua macam di antara mukjizat Pertama Ia menjatuhkan tongkat ke tanah, tiba-tiba tongkat tersebut menjadi seekor ular besar yang nyata, yaitu jelas mempunyai sifat-sifat ular yang sebenarnya secara biologis, dapat bergerak dan berjalan dengan sesungguhnya, berbeda dengan ular yang diciptakan para ahli sihir di masa itu, yang hanya nampak seolah-olah seperti yang bergerak, padahal bukanlah demikian.

Orang-orang melihat benda itu seperti bergerak, karena pikiran mereka telah dipengaruhi terlebih dahulu oleh ahli-ahli sihir tersebut.
Tidak demikian halnya ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa itu.

Al A'raaf (7) ayat 107 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 107 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 107 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka Musa pun segera melemparkan tongkat yang ada di tangan kanannya ke hadapan Fir'aun dan kaumnya.
Tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang merayap dengan cepat ke sana ke mari, yang menunjukkan bahwa ular itu memang benar-benar hidup.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya) yakni ular yang sangat besar bentuknya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Musa melemparkan tongkat-Nya, lalu tongkat itu berubah menjadi ular yang besar tampak dilihat oleh mata telanjang.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

ular yang sebenarnya.
Yakni ular jantan.

Di dalam hadis yang menerangkan perihal fitnah-fitnah disebutkan melalui riwayat Yazid ibnu Harun ibnu Al-Asbag ibnu Zaid, dari Al-Qasim ibnu Abu Ayyub, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Maka Musa menjatuhkan tongkatnya.
Kemudian berubahlah tongkat itu menjadi ular yang besar seraya mengangakan mulutnya, merayap dengan cepat ke arah Fir'aun.
Ketika Fir'aun melihat ular itu berjalan menuju dirinya, ia segera melompat dari singgasananya dan lari meminta tolong kepada Musa untuk mencegahnya maka Nabi Musa melakukannya.

Qatadah mengatakan bahwa tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar.
Saking besarnya, hingga dapat dikatakan memenuhi suatu kota.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.
Su'ban adalah ular jantan.
Ular itu membuka mulutnya, bagian bawah mulutnya berada di tanah, sedangkan bagian atasnya sampai ke tembok yang paling tinggi dari gedung yang terdekat.
Kemudian ular itu berjalan ke arah Raja Fir'aun untuk menelannya.
Ketika Fir'aun melihat ular itu berjalan ke arahnya, ia merasa takut tak terhingga, lalu ia melompat seraya terkencing-kencing, padahal keadaan seperti itu belum pernah ia alami sebelumnya.
Fir'aun menjerit meminta tolong kepada Musa seraya berkata, "Hai Musa, hentikanlah ular itu, saya mau beriman kepadamu dan saya akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Maka Musa 'alaihis salam memegang ular itu, dan kembalilah ular itu ke ujud semulanya, yaitu tongkat.
Hal yang semisal telah diriwayat­kan pula dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa ketika Musa masuk menemui Fir'aun, berkatalah Fir'aun kepadanya, "Engkau tentu telah mengenalku?"
Musa menjawab, "Ya." Maka Fir'aun berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, sewaktu kamu masih kanak-kanak?” (Asy Syu'ara:18) Musa menjawab Fir'aun dengan jawaban yang mengtakan.
Lalu Fir'aun berkata, "Hentikanlah ular ini!" Maka Musa segera menghentikannya.
Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.
Kemudian ular itu menyerang orang-orang yang ada (dari kaum Fir'aun), maka mereka lari tunggang langgang, dan dua puluh lima ribu orang dari mereka mati, sebagian dari mereka terbunuh oleh sebagian yang lainnya (karena kepanikannya), dan Fir'aun sendiri lari, lalu masuk ke dalam istananya.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Imam Ahmad —di dalam kitab Az-Zuhd-nya— serta Ibnu Abu Hatim, tetapi di dalam teksnya terkandung garabah (keganjilan).

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 107

TSU'BAAN
ثُعْبَان

Lafaz tsu'baan adalah dalam bentuk mufrad. jamaknya tsaabin. Berasal dari ats tsa'b al maa' yats'abu yang berarti pecah atau terpancar dan mengalir.

Tsu'baan mengandung makna tempat aliran air di dalam wadi. Ia juga bermakna sejenis ular secara umumnya, ular yang besar dan panjang.

Tsu'baan as samak artinya sejenis ikan yang hidup di dalam sungai atau laut yang bentuknya menyerupai ular.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 107;
-Asy Syu'araa (26), ayat 32.

Allah berfirman,

فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِىَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, tsu'baan adalah ular jantan.

Di dalam Al Qur'an, yang dimaksudkan tsu'baan adalah ular.

Ibn Katsir menceritakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh salah seorang dari ulama salaf ular itu besar dan tegap, lehernya besar dan bentuknya mengagumkan serta me­nakutkan, sehingga manusia yang ada pada masa itu segera menghindarkan diri daripada­nya dan mundur kebelakang. Lalu, ular itu mendatangi apa yang dilemparkan dari tali dan tongkat (yang berubah menjadi ular) oleh ahli sihir Fir'aun. Kemudian, ia memakan satu-persatu secepat kilat dengan gerakan yang pantas, sedangkan orang yang melihatnya merasa terkejut dan takjub.

Kesimpulannya, lafaz tsu'baan memiliki makna tongkat Nabi Musa yang dengan izin Allah menjadi ular.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:121

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 107 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 107



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







✔ arti dari surah al araf 107