QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 105 [QS. 7:105]

حَقِیۡقٌ عَلٰۤی اَنۡ لَّاۤ اَقُوۡلَ عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِبَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ فَاَرۡسِلۡ مَعِیَ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
Haqiiqun ‘ala an laa aquula ‘alallahi ilaal haqqa qad ji-atukum bibai-yinatin min rabbikum faarsil ma’iya banii israa-iil(a);

wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku”.
―QS. 7:105
Topik ▪ Hikmah penurunan kitab-kitab samawi
7:105, 7 105, 7-105, Al A’raaf 105, AlAraaf 105, Al Araf 105, Al-A’raf 105

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 105

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 105. Oleh Kementrian Agama RI

Selanjutnya Nabi Musa menamhahkan keterangannya, bahwa dia hanyalah mengatakan yang hak mengenai Allah subhanahu wa ta’ala Artinya: apa yang dikatakannya bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam dan bahwa Dia telah mengutusnya sebagai Rasul adalah hal yang sebenarnya.
Ia tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar, karena mustahil Allah mengutus seorang yang suka berdusta.

Kemudian ditegaskannya lagi, bahwa ia sedang membawa bukti-bukti yang dikaruniakan Allah kepadanya untuk membuktikan kebenarannya dalam dakwahnya.
Dalam ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam memakai ungkapan, “Sesungguhnya aku datang kepadamu membawa bukti dari Tuhanmu”.
Ini adalah untuk menunjukkan bahwa Firaun bukanlah Tuhan, melainkan adalah hamba Tuhan.
Sedang Tuhan yang sebenarnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala

Keterangan ini sangat penting artinya, karena Firaun yang angkuh itu telah mengaku sebagai Tuhan dan ia menyuruh rakyatnya menyembah kepadanya.
Maka penegasan Nabi Musa ini telah menyingkapkan kebohongan dan kesombongan Firaun, yang telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan.
Selain itu, ungkapan Nabi Musa, juga mengandung arti, bahwa bukti-bukti yang dibawanya adalah karunia Allah, bukan dari dia sendiri.
Pada akhir ayat ini disebutkan, bahwa setelah mengemukakan keterangan keterangan tersebut di atas, maka Musa ‘alaihis salam menuntut kepada Firaun agar ia membebaskan Bani Israil dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakannya dan membiarkan mereka itu pergi bersama Nabi Musa meninggalkan negeri Mesir, kembali ke tanah air mereka di Palestina, supaya mereka bebas dan merdeka untuk menyembah Tuhan mereka sebenarnya.

Tuntutan Nabi Musa ini mengandung arti bahwa perbudakan oleh manusia terhadap sesama manusia harus dilenyapkan dan seorang penguasa hendaklah memberikan kebebasan kepada orang-orang yang dalam kekuasaannya untuk memeluk agama serta melakukan ibadah menurut kepercayaan masing-masing Oleh sebab itu, kalau Firaun tidak mau beriman kepada Allah, namun setidak tidaknya janganlah menghalangi orang lain untuk beriman dan beribadah menurut keyakinan mereka.

Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa ucapan pertama kali dari Nabi Musa ‘alaihis salam dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai Rasul adalah berbeda dengan ucapan Nabi dan rasul-rasul sebelumnya, ketika mereka mulai brdakwah, misalnya:
a.
Ucapan pertama dari Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya adalah sebagai berikut:

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Nya”.
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

(Q.S. Al-A’raf [7]: 59)

b.
Ucapan Nabi Hud kepada kaum ‘Ad adalah:

“Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Nya.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada Nya?”.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 65)

Dan ucapan Nabi Saleh kepada kaum Tsamud adalah.

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu.
Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.

(Q.S. Al-A’raf [7]: 73)

c.
Ucapan Nabi Syuaib kepada kaumnya, penduduk Madyan, adalah:

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu”.

(Q.S. Al-A’raf [7]: 85)

Sedang ucapan pertama dan Nabi Musa yang ditujukan kepada Firaun adalah:

Hai Firaun! Sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta Alam.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 104)

Bila kita bandingkan antara ayat-ayat tersebut teranglah perbedaannya, yaitu bahwa, ucapan pertama dari Rasul-rasul sebelum Nabi Musa ‘alaihis salam yang ditujukan kepada kaum mereka masing-masing adalah berisi seruan kepada agama tauhid, yaitu menyembah Allah semata-mata, dengan alasan bahwa Allah sajalah yang sebenarnya Tuhan, tidak ada Tuhan bagi manusia selain Allah.
Sedang ucapan pertama dari Nabi Musa dan ditujukan kepada Firaun adalah berisi pemberi tahuan kepadanya bahwa ia (Musa) adalah utusan Tuhan.
Dengan demikian, dalam ucapan itu tidak ada seruan yang nyata kepada Firaun agar ia menyemhah Allah.

Dari sini, dapat diambil kesimpulan atau pengertian sebagai berikut:

a.
Obyek (sasaran) yang terutama dari dakwah Musa bukanlah Firaun melainkan kaumnya sendiri, yaitu Bani Israil.
Ia bertugas untuk melepaskan Bani Israil dari perbudakan Firaun dan membimbing kaumnya kepada agama yang benar.

b.
Nabi Musa sudah mengenal watak dan kelakuan Firaun.
Firaun tidak saja ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahkan juga ia menganggap dirinya sebagai Tuhan dan menyuruh orang lain untuk menyembah kepadanya.
Oleh sebab itu cukuplah bila ia diberi peringatan bahwa Tuhan yang sebenarnya bukanlah dia, melainkan Allah Pencipta alam semesta.
Tidak ada faedahnya untuk mengajak Firaun menyembah Allah, karena ajakan ini tidak akan dihiraukan dan tidak akan diindahkannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sungguh aku telah menyampaikan apa yang kudapatkan dari Allah secara benar.
Untuk memperkuat kebenaran yang kubawa ini, aku datangkan kepadamu bukti-bukti yang jelas dan kuat.
Maka lepaskanlah Bani Israil pergi bersamaku.
Bebaskanlah mereka dari perbudakanmu dan biarkanlah mereka keluar ke wilayah yang bukan wilayahmu, agar mereka dapat menyembah Tuhan mereka dan Tuhanmu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(“Aku lebih berhak) lebih pantas (untuk) agar (tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak) menurut suatu qiraat dibaca tasydid ya-nya, haqiiqun adalah mubtada sedangkan khabarnya adalah an dan kalimat sesudahnya (Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah pergi bersamaku) menuju ke negeri Syam (Bani Israel.”) kaum Bani Israel itu selalu ditindas oleh Firaun.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Lebih baik aku tidak mengatakan atas Allah, kecuali yang benar, dan aku wajib menjaga kebenaran itu.
Aku telah datang kepada kalian dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata dari Rabb kalian atas kebenaran apa yang aku sampaikan kepada kalian.
Bebaskanlah (wahai Fir aun) Bani Israil bersamaku dari penawanan dan penindasanmu, biarkanlah mereka pergi bebas untuk menyembah Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Menurut sebagian ulama tafsir, makna ayat ini ialah ‘suatu keharusan bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar’.
Dengan kata lain, hal itu merupakan suatu keharusan dan suatu hal yang pantas dikatakan terhadap-‘Nya.
Mereka mengatakan bahwa huruf ba dan ‘ala mempunyai makna-makna yang satu sama lainnya dapat dipertukarkan bila dikatakan ramaitu bil qausi dan ramaitu ‘alal qausi,

maknanya sama, yaitu ‘saya melepaskan anak panah dari busurnya’.
Dikatakan pula ja-a ‘ala halin hasanah atau bihalin hasanah, artinya sama, yaitu ‘saya datang dengan keadaan yang baik’.

Sebagian ulama tafsir ada yang mengatakan bahwa makna ayat ini ialah sudah selayaknya bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali perkataan yang benar.

Ulama tafsir lainnya dari kalangan penduduk Madinah membaca ayat ini dengan pengertian ‘sudah seharusnya dan sudah sewajibnya bagiku hal tersebut’.
Dengan kata lain, sudah seharusnya bagiku untuk tidak menyampaikan dari-Nya kecuali menurut apa yang dibenarkan dan yang hak sesuai dengan apa yang aku terima dari-Nya.

Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhan kalian

Maksudnya, hujjah yang pasti dari Allah yang telah diberikan-Nya kepadaku sebagai bukti akan kebenaran perkara hak yang kusampaikan kepada kalian.

…maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.

Maksudnya, lepaskanlah mereka dari tahanan dan penindasanmu, dan biarkanlah mereka menyembah Tuhanmu dan Tuhan mereka (yakni Allah), karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan seorang nabi yang mulia —yaitu Israil— atau Nabi Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim, kekasih Allah Yang Maha Pemurah.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 105 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 105 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 105 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:105
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.6
Ratingmu: 4.4 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta