Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 105 [QS. 7:105]

حَقِیۡقٌ عَلٰۤی اَنۡ لَّاۤ اَقُوۡلَ عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِبَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ فَاَرۡسِلۡ مَعِیَ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
Haqiiqun ‘ala an laa aquula ‘alallahi ilaal haqqa qad ji-atukum bibai-yinatin min rabbikum faarsil ma’iya banii israa-iil(a);
aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah.
Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.”
―QS. Al A’raaf [7]: 105

(Who is) obligated not to say about Allah except the truth.
I have come to you with clear evidence from your Lord, so send with me the Children of Israel."
― Chapter 7. Surah Al A’raaf [verse 105]

حَقِيقٌ sebenarnya

Obligated
عَلَىٰٓ atas

on
أَن bahwa

that
لَّآ tidak

not
أَقُولَ mengatakan

I say
عَلَى atas/terhadap

about
ٱللَّهِ Allah

Allah
إِلَّا kecuali

except
ٱلْحَقَّ benar

the truth.
قَدْ sesungguhnya

Verily,
جِئْتُكُم aku datang kepadamu

I (have) come to you
بِبَيِّنَةٍ dengan bukti-bukti nyata

with a clear Sign
مِّن dari

from
رَّبِّكُمْ Tuhan kalian

your Lord,
فَأَرْسِلْ maka lepaskanlah

so send
مَعِىَ bersama aku

with me
بَنِىٓ orang-orang

(the) Children
إِسْرَٰٓءِيلَ Israil

(of) Israel."

Tafsir

Alquran

Surah Al A’raaf
7:105

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 105. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini dikisahkan ucapan Musa yang pertama kali disampaikan kepada Firaun setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul.
Nabi Musa memberitahukan kepada Firaun, bahwa dia adalah utusan Allah, Tuhan semesta alam.

Pemberitahuan ini berarti bahwa:
Musa telah menjalankan tugasnya sebagai nabi Allah, Pencipta dan Penguasa seluruh alam.
Karena itu hendaknya Firaun menerima keterangan Nabi Musa tersebut dan tidak akan menghalang-halangi tugasnya sebagai Rasul.


Selanjutnya Nabi Musa menambahkan keterangannya, bahwa dia mengatakan yang hak mengenai Allah.
Artinya:
apa yang dikatakannya bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam, dan bahwa Dia telah mengutusnya sebagai Rasul adalah hal yang sebenarnya.

Ia tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar, karena mustahil Allah mengutus orang yang suka berdusta.


Kemudian ditegaskan lagi, bahwa Musa membawa bukti-bukti yang dikaruniakan Allah kepadanya, untuk membuktikan kebenarannya dalam dakwahnya.

Dalam ucapan itu, Nabi Musa memakai ungkapan:
"Sesungguhnya aku datang kepadamu membawa bukti dari Tuhanmu".
Ini adalah untuk menunjukkan bahwa Firaun bukanlah Tuhan, melainkan hanya sekedar hamba Tuhan.

Sedang Tuhan yang sebenarnya adalah Allah ﷻ


Keterangan ini sangat penting artinya, karena Firaun yang angkuh itu telah mengaku sebagai Tuhan dan menyuruh rakyatnya menyembah kepadanya.
Maka penegasan Nabi Musa ini telah menyangkal kebohongan dan kesombongan Firaun, yang telah memposisikan dirinya sebagai Tuhan.

selain itu, ungkapan Nabi Musa, juga mengandung arti, bahwa bukti-bukti yang dibawanya adalah karunia Allah bukan dari dirinya sendiri.


Pada akhir ayat ini disebutkan, bahwa setelah mengemukakan keterangan-keterangan tersebut di atas, dan setelah melalui perjuangan yang melelahkan Musa as menuntut kepada Firaun agar ia membebaskan Bani Israil dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakannya, dan membiarkan mereka pergi bersama Nabi Musa meninggalkan negeri Mesir, kembali ke tanah air mereka di Palestina, agar mereka bebas dan merdeka untuk menyembah Tuhan mereka dan melaksanakan ajarannya.


Tuntutan Nabi Musa tersebut mengandung arti bahwa perbudakan oleh manusia terhadap sesama manusia harus dilenyapkan dan seorang penguasa hendaklah memberikan kebebasan kepada orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya, untuk memeluk agama serta melakukan ibadah menurut kepercayaan masing-masing.
Oleh sebab itu, kalau Firaun tidak mau beriman kepada Allah janganlah ia menghalangi orang lain untuk beriman dan beribadah menurut keyakinan mereka.


Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa ucapan pertama kali dari Nabi Musa as dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai Rasul adalah berbeda dengan ucapan Nabi dan Rasulrasul sebelumnya, ketika mereka mulai berdakwah, misalnya:


a.
Ucapan pertama dari Nabi Nuh as kepada kaumnya adalah sebagai berikut:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata,
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia".
Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang dahsyat (kiamat).
(al-Araf [7]: 59)


b.
Ucapan Nabi Hud kepada kaum ad adalah :

وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًا قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

Dan kepada kaum Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka.
Dia berkata,
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa?"
(al-Araf [7]: 65)


Dan ucapan Nabi Saleh kepada kaum Tsamud adalah:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh.
Dia berkata,
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.
Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu.
Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu.
Biarkan ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih".
( al-Araf [7]: 73)


c.
ucapan Nabi Syuaib kepada kaumnya, penduduk Madyan, adalah:

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

Dan kepada penduduk Madyan, (Kami utus) Syuaib, saudara mereka sendiri.
Dia berkata,"
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.
Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu.
Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan sedikit pun.
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.
Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman".
(al-Araf [7]: 85)


Sedang ucapan pertama dari Nabi Musa yang ditujukan kepada Firaun adalah:

وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Dan Musa berkata,
"Wahai Fir’aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam (al-Araf [7]: 104)


Bila kita bandingkan antara ayat-ayat tersebut nampak perbedaan diantaranya yaitu bahwa:
ucapan pertama dari Rasulrasul sebelum Nabi Musa as yang ditujukan kepada kaum mereka masing-masing adalah berisi seruan kepada agama tauhid, yaitu menyembah Allah semata, dengan alasan bahwa tidak ada tuhan bagi manusia selain Allah.
Sedang ucapan pertama dari Nabi Musa yang ditujukan kepada Firaun adalah berisi pemberitahuan kepadanya bahwa Musa adalah utusan Allah.
Dengan demikian, dalam ucapan itu tidak ada seruan yang nyata kepada Firaun agar ia menyembah Allah.


Dari sini, dapat diambil kesimpulan atau pengertian sebagai berikut:


a.
Obyek (sasaran) yang utama dari dakwah Musa bukan hanya Firaun tetapi termasuk kaumnya sendiri, yaitu Bani Israil.
Musa bertugas untuk melepaskan Bani Israil dari perbudakan Firaun dan membimbing kaumnya kepada agama yang benar.


b.
Nabi Musa mengenal watak dan kelakuan Firaun, Firaun tidak saja ingkar kepada Allah, bahkan juga ia menganggap dirinya sebagai tuhan dan menyuruh orang lain untuk menyembahnya.
Oleh sebab itu Firaun hanya diberi peringatan bahwa tuhan yang sebenarnya bukanlah dia, melainkan Allah Pencipta alam semesta.
Karena tidak ada faedahnya untuk mengajak Firaun menyembah Allah, ajakan ini pasti tidak akan dihiraukan dan tidak akan diindahkannya.

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 105. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sungguh aku telah menyampaikan apa yang kudapatkan dari Allah secara benar.
Untuk memperkuat kebenaran yang kubawa ini, aku datangkan kepadamu bukti-bukti yang jelas dan kuat.


Maka lepaskanlah Bani Israil pergi bersamaku.
Bebaskanlah mereka dari perbudakanmu dan biarkanlah mereka keluar ke wilayah yang bukan wilayahmu, agar mereka dapat menyembah Tuhan mereka dan Tuhanmu. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Lebih baik aku tidak mengatakan atas Allah, kecuali yang benar, dan aku wajib menjaga kebenaran itu.
Aku telah datang kepada kalian dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata dari Rabb kalian atas kebenaran apa yang aku sampaikan kepada kalian.


Bebaskanlah (wahai Fir’aun) Bani Israil bersamaku dari penawanan dan penindasanmu, biarkanlah mereka pergi bebas untuk menyembah Allah.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



("Aku lebih berhak) lebih pantas


(untuk) agar


(tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak) menurut suatu qiraat dibaca tasydid ya-nya, haqiiqun adalah mubtada sedangkan khabarnya adalah an dan kalimat sesudahnya


(Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah pergi bersamaku) menuju ke Bani Israel.") kaum Bani Israel itu selalu ditindas oleh Firaun.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Menurut sebagian ulama tafsir, makna ayat ini ialah ‘suatu keharusan bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar’.
Dengan kata lain, hal itu merupakan suatu keharusan dan suatu hal yang pantas dikatakan terhadap-‘Nya.
Mereka mengatakan bahwa huruf ba dan ‘ala mempunyai makna-makna yang satu sama lainnya dapat dipertukarkan bila dikatakan ramaitu bil qausi dan ramaitu ‘alal qausi,

maknanya sama, yaitu ‘saya melepaskan anak panah dari busurnya’.
Dikatakan pula ja-a ‘ala halin hasanah atau bihalin hasanah, artinya sama, yaitu ‘saya datang dengan keadaan yang baik’.

Sebagian ulama tafsir ada yang mengatakan bahwa makna ayat ini ialah sudah selayaknya bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali perkataan yang benar.

Ulama tafsir lainnya dari kalangan penduduk Madinah membaca ayat ini dengan pengertian ‘sudah seharusnya dan sudah sewajibnya bagiku hal tersebut’.
Dengan kata lain, sudah seharusnya bagiku untuk tidak menyampaikan dari-Nya kecuali menurut apa yang dibenarkan dan yang hak sesuai dengan apa yang aku terima dari-Nya.

Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhan kalian

Maksudnya, hujjah yang pasti dari Allah yang telah diberikan-Nya kepadaku sebagai bukti akan kebenaran perkara hak yang kusampaikan kepada kalian.

…maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.

Maksudnya, lepaskanlah mereka dari tahanan dan penindasanmu, dan biarkanlah mereka menyembah Tuhanmu dan Tuhan mereka (yakni Allah), karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan seorang nabi yang mulia —yaitu Israil— atau Nabi Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim, kekasih Allah Yang Maha Pemurah.

Unsur Pokok Surah Al A’raaf (الأعراف)

Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al-An’am dan termasuk golongan surat "Assab ‘uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al-A’raaf" karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

▪ Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat.
▪ Hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam.
▪ Allah menciptakan undang-undang dan hukumhukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
▪ Allah bersemayam di ‘Arasy.
▪ Bantahan terhadap kepalsuan syirik.
▪ Ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia.
▪ Nabi Musa berbicara dengan Allah.
▪ Tentang melihat Allah.
▪ Perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah.
▪ Allah mempunyai al asma’ul husna.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk.
▪ Kewajiban mengikuti Allah dan rasul.
▪ Perintah berhias waktu akan shalat.
▪ Bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah.
▪ Perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Adam `alaihis salam dengan iblis.
▪ Kisah Nabi Nuh `alaihis salam dan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Shaleh `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Syu’aib `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Alquran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya.
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia.
Adab orang mukmin.
Adab mendengar pembacaan Alquran dan berzikir.
Rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah.
▪ Balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul.
Dakwah rasulrasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah.

Audio

QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 206 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 206

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al A'raaf ayat 105 - Gambar 1 Surah Al A'raaf ayat 105 - Gambar 2
Statistik QS. 7:105
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al A’raaf.

Surah Al-A’raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A’rāf, “Tempat Tertinggi”) adalah surah ke-7 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An’am dan termasuk golongan surah Assab ‘uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A’raf karena perkataan Al-A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A’raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An’am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
Sending
User Review
4.4 (16 votes)
Tags:

7:105, 7 105, 7-105, Surah Al A'raaf 105, Tafsir surat AlAraaf 105, Quran Al Araf 105, Al-A'raf 105, Surah Al Araf ayat 105

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 152 [QS. 6:152]

Keenam, dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim”seperti melakukan hal-hal yang mengarah kepada pengambilan hartanya dengan alasan yang dibuat-buat”kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat dan l … 6:152, 6 152, 6-152, Surah Al An ‘aam 152, Tafsir surat AlAnaam 152, Quran Al Anaam 152, Al Anam 152, AlAnam 152, Al An’am 152, Surah Al Anam ayat 152

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 220 [QS. 2:220]

Yakni memikirkan tentang dunia dan akhirat. Dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat memanen hasil dari amalan itu. Dunia adalah negeri yang fana dan akhirat kekal abadi. Karena itu, berb … 2:220, 2 220, 2-220, Surah Al Baqarah 220, Tafsir surat AlBaqarah 220, Quran Al-Baqarah 220, Surah Al Baqarah ayat 220

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

قُمْ فَأَنْذِرْ

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #9

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … undang-undang kesepakatan perundingan voting rapat Benar! Kurang tepat! Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Pendidikan Agama Islam #8

Orang yang menceritakan hadits disebut … tabi’in haditsain sanad perawi tabi’ut tabi’in Benar! Kurang tepat! Sumber kedua hukum dalam menetapkan

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Ka’bah Gua Hira Masjid Al Haram Madinah Padang Arafat Benar!

Instagram