Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 103


ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی بِاٰیٰتِنَاۤ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ فَظَلَمُوۡا بِہَا ۚ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُفۡسِدِیۡنَ
Tsumma ba’atsnaa min ba’dihim muusa biaayaatinaa ila fir’auna wamala-ihi fazhalamuu bihaa faanzhur kaifa kaana ‘aaqibatul mufsidiin(a);

Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu.
Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.
―QS. 7:103
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Penghinaan dan pengusiran bangsa Yahudi
7:103, 7 103, 7-103, Al A’raaf 103, AlAraaf 103, Al Araf 103, Al-A’raf 103
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 103. Oleh Kementrian Agama RI

Kisah Nabi Musa a.s.
terdapat dalam surah Makiah dalam Alquran, baik surah-surah yang panjang maupun yang pendek, dimulai dari surah Al A'raf yang merupakan surah Makiah pertama menurut susunan surah-surah Alquran, di mana terdapat kisah Nabi Musa a.s.
Kemudian terdapat pula surah Taha, Asy Syu'ara, An Naml, Al Qasas, Yunus, Hud dan Al Mu'minun.

Nama Nabi Musa a.s.
seringkali disebut dalam Alquran lebih dari 130 kali.
Tidak ada seorangpun Nabi lainnya, ataupun raja-raja yang namanya disebut sebanyak itu dalam Alquran.
Hal ini disebabkan antara lain karena kisah Nabi Musa sangat mirip dengan kisah Nabi Muhammad ﷺ.
Selain itu, kedua Nabi ini mempunyai umat yang besar jumlahnya, yang memiliki kekuasaan dan kemajuan peradaban yang tinggi.

Nabi Musa adalah putra Imran.
Ia berkebangsaan Bani Israil, dilahirkan di Mesir, ketika Bani Israil menetap di negeri Mesir, di masa kekuasaan raja-raja Firaun.
Menurut suatu riwayat nama Musa berasal dari dua buah perkataan bahasa Qibty, yaitu, MU, yang berarti air dan SA yang berarti pohon.
Ia diberi nama demikian, ketika ibunya menghanyutkannya di sungai Nil, karena takut kepada perbuatan kejam Firaun yang telah memerintahkan untuk membunuh setiap anak lelaki yang dilahirkan dari Bani Israil.
Ibunya meletakkan bayinya ke dalam sebuah peti kayu yang dikunci rapat, kemudian dihanyutkan ke sungai Nil, sehingga peti tersebut terapung di air.
Ibunya meminta kepada saudara Musa (yang perempuan) untuk memperhatikan sampai di mana hanyutnya peti yang berisi Musa tersebut dan siapa yang memungut bayi tersebut.
Anak perempuan itu akhirnya melihat bahwa bayi itu dipungut oleh keluarga Firaun, selanjutnya Musa tinggal dan dibesarkan di istana raja tersebut, sebagaimana nanti dikisahkan dalam surah Al Qasas.

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan bahwa setelah mengutus Rasul rasul-Nya yang tersebut dalam ayat-ayat terdahulu maka Dia mengutus Nabi Musa a.s.
dengan membawa ayat-ayat-Nya kepada Firaun dan pemuka-pemukanya.
Firaun adalah gelar yang dipakai oleh raja-raja di Mesir, pada masa dahulu kala, sebagaimana gelar Kisra bagi raja-raja Persia dan gelar Kaisar bagi raja raja Romawi.
Firaun yang memerintah di Mesir pada masa Nabi Musa, bernama Minepthah putra Ramses II.
Mumia (mayat) Minepthah masih ada sampai sekarang dan disimpan di Museum Mesir, Kairo.

Disebut dalam ayat ini, bahwa Firaun tersebut bersama pemuka-pemukanya telah kafir terhadap ayat-ayat Allah yang dibawa oleh Nabi Musa a.s.
kepada mereka.

Ayat-ayat atau mukjizat yang dibawa Musa a.s.
kepada mereka, tetap mereka tolak dengan sikap angkuh dan sombong.
Firaun dan para pemukanya telah memperhamba rakyatnya, lebih-lebih terhadap Bani Israil yang merupakan orang asing yang tinggal di Mesir ketika itu, di bawah cengkeraman kekuasaan yang zalim dari Firaun dan para pemukanya.

Andai kata Firaun dan para pemukanya itu beriman kepada Nabi Musa dan agama yang dibawanya, niscaya seluruh penduduk negeri Mesir ketika itu tentulah beriman pula, sebab mereka itu semuanya berada dalam genggaman kekuasaan Firaun dan para pembesarnya.

Karena keingkaran Firaun dan para pemhesarnya, maka pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad beserta umatnya untuk memperhatikan bagaimana akibat orang-orang yang ingkar kepada rasul-rasul-Nya serta berbuat kerusakan di bumi, yaitu dengan berbuat kelaliman serta memperbudak sesama manusia.
Allah akan menceritakan dalam ayat selanjutnya bagaimana Nabi Musa sebagai salah seorang dari Bani Israil yang tertindas dan akhirnya dapat mengalahkan ahli-ahli sihirnya serta meyakinkan para ulamanya tentang kebenaran risalah yang dibawanya.

Bani Israil keturunan Nabi Yakub yang bernama Israil.
Nabi Yakub berasal dari Kan'an (Palestina).
Dia berpindah ke Mesir bersama keluarga dan putra-putranya setelah diajak oleh putranya, yaitu Nabi Yusuf untuk pindah ke Mesir itu.
Nabi Yusuf di waktu itu diangkat oleh Firaun menjadi penguasa yang mengurus perbekalan negara.
Keturunan Nabi Yakub ini berkembang biak di Mesir, hingga akhirnya menjadi satu bangsa yang besar yang disebut Bani Israil.

Tatkala Firaun di zaman Nabi Yakub telah meninggal dunia dan Mesir diperintah oleh Firaun-Firaun yang lain, mereka tidak mengenal Nabi Yusuf lagi dan begitupun jasanya tidak pernah disebut-sebut lagi, karena Bani Israil bukanlah penduduk asli hanyalah sebagai bangsa pendatang, maka Firaun dan para pemuka-pemuka kaumnya mencurigai mereka.
Firaun berusaha agar Bani Israil tidak terus berkembang-biak, dengan membunuh setiap anak lelaki mereka yang lahir dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya.
Mereka diwajibkan mengabdi kepada kepentingan Firaun dan kaumnya memperbudak mereka dengan memungut pajak yang sangat tinggi dan menjadikan mereka sebagai pekerja-pekerja paksa dan berat dan berbagai bentuk penindasan dan perbudakan yang lain.

Oleh karena au, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengutus Nabi Musa untuk membebaskan mereka dari perbudakan Firaun dan membawa mereka keluar dari negeri Mesir.
Pertolongan Allah pada Nabi Musa a.s.
selanjutnya, ialah menimpakan azab kepada Firaun dan menyelamatkan kaum Nabi Musa, serta tenggelamnya Firaun dan para pengikutnya dan bala tentaranya di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan kaumnya.
Kisah ini mengandung pelajaran yang amat berharga, bahwa kekuatan material (kebendaan) semata-mata tidak menjamin kemenangan bagi seorang atau sesuatu bangsa.
Sebaliknya, suatu umat yang mempunyai keimanan yang teguh kepada Allah, niscaya akan memperoleh penolongan dari pada-Nya, sehingga umat tersebut akan dapat mengalahkan (orang-orang yang hanya bersandar kepada kekuatan material semata-mata.

Al A'raaf (7) ayat 103 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 103 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 103 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah rasul-rasul itu, Kami mengutus Musa a.
s.
kepada Fir'aun dan kaumnya, dengan membawa bukti-bukti yang menunjukkan kebenarannya dalam menyampaikan wahyu Kami.
Kepada mereka, Musa pun menyampaikan seruan Tuhannya.
Diperlihatkannyalah kepada mereka ayat-ayat Allah.
Tetapi, dengan sikap takabur, mereka menganiaya diri dengan mengingkari hal itu.
Karena itulah mereka, akhirnya, berhak mendapat azab Allah.
Maka cermatilah, wahai Nabi, akhir perjalanan orang-orang yang membuat kerusakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Kami utus sesudah rasul-rasul itu) sesudah diutusnya rasul-rasul tersebut (Musa dengan membawa ayat-ayat Kami) yang banyaknya sembilan (kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya) golongannya (lalu mereka mengingkari) mengkafiri (ayat-ayat itu.
Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan) artinya mereka binasa akibat kekafirannya itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian sesudah rasul-rasul yang terdahulu berlalu, Kami utus Musa bin Imran dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata kepada Fir aun dan kaumnya.
Akan tetapi mereka ingkar dan kufur terhadapnya sebagai bentuk kezhaliman dan perlawanan dari mereka.
Perhatikanlah (wahai Rasul), bagaimana Kami perlakukan mereka, akhirnya Kami tenggelamkan mereka semua dengan disaksikan oleh Musa dan kaumnya?
Itulah akhir dari orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Kemudian Kami utus sesudah rasul-rasul itu.

Artinya, sesudah rasul-rasul yang telah disebutkan di atas, seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Lut, dan Nabi Syu'aib, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, juga kepada seluruh para nabi.

Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun.

Yakni dengan membawa bukti-bukti dan dalil-dalil Kami yang jelas kepada Raja Fir’aun, Raja negeri Mesir di zamannya.

...dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu.

Yang dimaksud dengan al-mala' ialah kaumnya, yakni pembesar-pembesar negerinya.
Tetapi mereka mengingkari ayat-ayat itu dan mengafirinya secara aniaya dan sombong yang timbul dari diri mereka.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenarannya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
(An Naml:14)

Yakni orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah dan men­dustakan rasul-rasul-Nya.
Dengan kata lain, lihatlah, hai Muhammad, bagaimana Kami berbuat terhadap mereka, Kami tenggelamkan mereka ke akar-akarnya di hadapan pandangan mata Musa dan para pengikutnya.
Hal ini merupakan suatu pembalasan yang lebih menyakitkan terhadap Firaun dan kaumnya, serta melegakan kalbu kekasih-kekasih Allah, yaitu Musa dan orang-orang mukmin yang bersamanya.

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 103 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 103



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (14 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku