Al Ankabut (Laba-laba) – surah 29 ayat 47 [QS. 29:47]

وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ۚ وَ مِنۡ ہٰۤؤُلَآءِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِہٖ ؕ وَ مَا یَجۡحَدُ بِاٰیٰتِنَاۤ اِلَّا الۡکٰفِرُوۡنَ
Wakadzalika anzalnaa ilaikal kitaaba faal-ladziina aatainaahumul kitaaba yu’minuuna bihi wamin ha’ulaa-i man yu’minu bihi wamaa yajhadu biaayaatinaa ilaal kaafiruun(a);

Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).
Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran), dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya.
Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.
―QS. 29:47
Topik ▪ Keseimbangan benda-benda langit
29:47, 29 47, 29-47, Al Ankabut 47, AlAnkabut 47, Al-Ankabut 47

Tafsir surah Al Ankabut (29) ayat 47

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 47. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan kepada Muhammad ﷺ, “Hai Muhammad, sebagaimana Kami telah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul yang telah Kami utus sebelum engkau.
Kepada para Rasul yang Kami utus sebelum engkau telah Kami turunkan Kitab-kitab.
Dalam kitab-kitab itu diisyaratkan kedatangan Rasul di kemudian hari sesudah masing-masing Rasul itu.
Dan akhirnya engkau diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
Kepada Rasul itu Kami perintahkan agar mereka menyampaikan kepada umatnya termasuk umatnya yang datang kemudian setelah ia meninggal dunia, agar beriman dan mengikut para Rasul yang datang kemudian, karena jika seseorang beriman kepada salah seorang Rasul-rasul yang diutus Allah, maka ia wajib pula beriman kepada Rasul-rasul Allah yang lain, baik para Rasul yang datang dahulu, maupun para rasul yang datang kemudian.

Karena itulah sebagian orang-orang Ahli Kitab yang ada pada masa engkau beriman kepada engkau dan kepada Alquran, sesuai dengan yang diperintahkan Nabi-nabi mereka kepada mereka.
Mereka itu lebih mementingkan akhirat dari dunia yang fana ini, tidak memperturutkan hawa nafsu mereka.
Mereka itu ialah seperti Abdullah bin Salam, Tamim Al Ansari dan sebagainya.

Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, seperti iri hati, karena Rasul yang mereka tunggu kedatangannya itu bukan dari golongan mereka, atau tertipu oleh kesenangan dunia, karena mereka memperturutkan hawa nafsunya dan sebagainya, mereka mengingkari Alquran, terutama ayat-ayat yang menyatakan kerasulan engkau.
Karena itu hendaklah orang-orang Ahli Kitab memperhatikan seruan dan petunjuk Rasul-rasul mereka itu, yaitu dengan menyembah kepada Allah saja, serta mempercayai bahwa Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir, tidak ada seorang Nabi atau Rasulpun yang diutus Allah sesudahnya, dan beriman kepada Alquran, karena mereka yakin orang-orang Ahli Kitab itu adalah orang-orang yang mengesakan Allah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagaimana Kami telah menurunkan kitab-kitab suci kepada rasul-rasul sebelummu, Kami pun menurunkan Al Quran kepadamu.
Orang-orang yang Kami berikan kitab suci sebelum Al Quran, kemudian mereka merenungi dan mendapatkan petunjuk, mereka pasti beriman juga kepada Al Quran.
Sebagian orang Arab itu ada yang beriman kepadanya dan tidak mengingkari bukti-bukti Kami–setelah menjadi jelas dan hilangnya keraguan di dalamnya–kecuali orang-orang yang bersikeras dalam kekufuran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikian pulalah Kami turunkan kepadamu Alkitab) Alquran sebagaimana telah diturunkan kepada mereka kitab Taurat dan kitab-kitab lainnya.
(Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Alkitab) yakni kitab Taurat, seperti Abdullah bin Salam dan lain-lainnya (mereka beriman kepadanya) kepada Alquran (dan di antara mereka) penduduk Mekah (ada yang beriman kepadanya.
Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami) sesudah ayat-ayat itu jelas (selain orang-orang kafir) maksudnya adalah orang-orang Yahudi, telah jelas di mata mereka bahwa Alquran itu adalah hak, dan orang yang mendatangkannya pun adalah benar, akan tetapi mereka tetap mengingkarinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagaimana Kami telah menurunkan (wahai Rasul) kitab-kitab kepada para Rasul sebelummu, Kami juga menurunkan Kitab ini yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya.
Dan orang-orang yang Kami beri Kitab dari Bani Israil, lalu mereka mengetahuinya dengan benar, mereka beriman kepada al-Qur’an.
Dan di antara orang-orang Arab, baik dari Quraisy atau lainnya ada yang beriman kepadanya.
Tiada yang mengingkari al-Qur’an atau meragukan petunjuk-petunjuk dan bukti-buktinya yang jelas melainkan orang-orang kafir di mana adat mereka adalah pengingkaran dan penentangan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sebagaimana Kami turunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul sebelum kamu, hai Muhammad, begitu pula Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an)” Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini baik dan munasabah serta kaitannya pun cukup baik.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al-Qur’an).
(Al-‘Ankabut: 47)

Yakni orang-orang yang mengambilnya, lalu membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.
Mereka terdiri dari para cendekiawan dan ulama Ahli Kitab, seperti Abdullah ibnu Salam dan Salman Al-Farisi serta lain-lainnya yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya.
(Al-‘Ankabut: 47)

Yaitu orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab lainnya.

Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.
(Al-‘Ankabut: 47)

Maksudnya, tidak ada yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mengingkari haknya selain dari orang yang menutupi perkara yang hak dengan perkara yang batil, dan menutupi sinar mentari dengan berbagai penutup yang menghalanginya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman berikutnya:

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu.
(Al-‘Ankabut: 48)

Sesungguhnya kamu telah tinggal di kalangan kaummu, hai Muhammad, sebelum kamu kedatangan Al-Qur’an ini selama usiamu, sedangkan kamu tidak dapat membaca tulisan dan tidak pula dapat menulis.
Bahkan semua orang dari kalangan kaummu dan lain-lainnya mengetahui bahwa kamu adalah seorang lelaki ummi yang tidak dapat membaca dan menulis.
Hal yang sama telah disebutkan sifatnya di dalam kitab-kitab terdahulu, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar.
(Al A’raf:157), hingga akhir ayat.

Memang demikianlah keadaan Rasulullah ﷺ, selamanya beliau tidak dapat membaca dan menulis barang sedikit pun, bahkan beliau hanya mempunyai juru tulis-juru tulis yang mencatatkan untuknya wahyu yang diturunkan, juga surat-surat yang ditujukan ke berbagai kawasan negeri.

Adapun mengenai pendapat salah seorang dari kalangan ulama fiqih mutaakhkhirin —seperti Al-Qadi Abul Walid Al-Baji dan para pengikutnya— menduga bahwa Rasulullah ﷺ pernah menulis di hari perjanjian Hudaibiyyah kalimat berikut, “Ini adalah ketetapan yang diputuskan oleh Muhammad ibnu Abdullah,” sesungguhnya hal yang mendorong timbulnya pendapat tersebut adalah sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam kitab Sahih Bukhari.
Disebutkan bahwa lalu Nabi ﷺ mengambil surat perjanjian Hudaibiyyah itu dan menulisnya.

Hadis ini mengandung takwil memerintahkan untuk menulis, lalu dituliskan untuknya kata-kata seperti itu, sebagaimana yang disebutkan di dalam riwayat lain.
Karena itulah orang yang sependapat dengan Al-Baji mendapat reaksi keras dari kalangan ulama ahli fiqih, baik yang ada di belahan timur maupun barat.
Mereka berlepas diri dari orang-orang yang mengatakan pendapat tersebut, juga mereka mengecamnya melalui untaian kata-kata yang selalu mereka ucapkan dalam perayaan-perayaan mereka.

Sesungguhnya yang dimaksud oleh Al-Baji menurut yang tersirat dari pendapatnya menyatakan bahwa Nabi ﷺ menulis kalimat itu sebagai suatu mukjizat, bukan berarti bahwa beliau dapat menulis.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam hadis yang menceritakan tentang Dajjal, yaitu:

Tercatat di antara kedua matanya lafaz kafir —yang menurut riwayat lain disebutkan kaf fa ra— lafaz tersebut terbaca oleh setiap orang mukmin.

Sedangkan mengenai hadis yang diriwayatkan oleh sebagian perawi yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sebelum meninggal dunia mengetahui baca tulis.
Maka riwayat ini daif tidak ada asalnya.


Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al’ Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al’ Ankabuut” berhubung terdapatnya perkataan Al’ Ankabuut yang berarti “laba­ laba” pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua’ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua’ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa’at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ankabut (69 ayat)

Audio

Qari Internasional

Al Ankabut (29) ayat 47 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Ankabut (29) ayat 47 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Ankabut (29) ayat 47 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Ankabut - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 69 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah29
Nama SurahAl Ankabut
Arabالعنكبوت
ArtiLaba-laba
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu85
JuzJuz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat69
Jumlah kata983
Jumlah huruf4321
Surah sebelumnyaSurah Al-Qasas
Surah selanjutnyaSurah Ar-Rum
4.6
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/29-47









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta