Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ankabut

Al Ankabut (Laba-laba) surah 29 ayat 46


وَ لَا تُجَادِلُوۡۤا اَہۡلَ الۡکِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ ٭ۖ اِلَّا الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡہُمۡ وَ قُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا بِالَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ وَ اِلٰـہُنَا وَ اِلٰـہُکُمۡ وَاحِدٌ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ
Walaa tujaadiluu ahlal kitaabi ilaa biillatii hiya ahsanu ilaal-ladziina zhalamuu minhum waquuluu aamannaa biil-ladzii unzila ilainaa wa-unzila ilaikum wa-ilahunaa wa-ilahukum waahidun wanahnu lahu muslimuun(a);

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah:
“Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.
―QS. 29:46
Topik ▪ Perputaran matahari dan bulan
29:46, 29 46, 29-46, Al Ankabut 46, AlAnkabut 46, Al-Ankabut 46
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 46. Oleh Kementrian Agama RI

Sesungguhnya ajaran tentang keesaan Allah yang merupakan azas risalah yang dibawa para Nabi dan Rasul sejak dahulu kala sampai kepada risalah Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad ﷺ berasal dari sumber yang satu, yaitu dari Allah Maha Pencipta, dan tujuannya adalah satu pula, yaitu memberi petunjuk kepada manusia dan mengembalikan mereka dari jalan yang sesat ke jalan yang lurus, serta untuk mendidik mereka agar selalu mengikuti ajaran-ajaran Allah, sehingga mereka berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Allah subhanahu wa ta'ala juga menetapkan bahwa setiap orang yang telah mengikuti risalah Nabi dan Rasul yang diutus kepada mereka, masing-masing mereka adalah manusia yang lebih mulia dari yang lain, karena mereka adalah merupakan umat yang satu sama-sama menyembah Tuhan yang satu Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta.

Berdasarkan hal yang tersebut di atas maka manusia pada setiap kurun, masa dan generasi dapat dibagi kepada dua golongan, yaitu:

1.
Golongan mukmin yang merupakan pendukung agama Allah.

2.
Golongan kafir yang merupakan penentang agama Allah dan termasuk pengikut setan.

Setiap manusia yang mengikuti seruan Rasul yang diutus kepada mereka, adalah orang-orang mukmin dan termasuk hizbullah.
Mereka sejak dahulu sampai saat ini, masing-masing kelompok mereka merupakan mata-mata rantai yang sambung menyambung, sehingga merupakan suatu rantai yang amat panjang, tidak ada putus-putusnya.
Antara mata rantai yang satu dengan mata rantai yang lain dijalin dan diikat oleh ikatan kepercayaan yang kokoh, yaitu kepercayaan akan keesaan Allah, yang akhirnya dilanjutkan dan disempurnakan Allah subhanahu wa ta'ala dengan diutus-Nya Nabi Muhammad ﷺ, sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu.
dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.

(Q.S.
Al Maidah: 3)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu; tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi.
(Q.S.
Al Ahzab: 40)

Risalah yang berazaskan keesaan Allah yang telah dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul sejak berabad-abad yang lalu kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat ini, mempunyai suatu nilai yang sangat tinggi yang meningkatkan hubungan antara manusia, sejak manusia pertama kali diciptakan sampai kepada suatu saat manusia dan alam semesta ini mengalami kehancuran yang total.
Dengan azas ini manusia tidak hanya terikat oleh hubungan keturunan, hubungan suku bangsa hubungan senegara dan setanah air, hubungan perdagangan, hubungan se-ideologi dan sebagainya, yang kadang-kadang terlalu bersifat subyektif, mementingkan diri atau kelompok, tetapi terikat dengan hubungan yang maha tinggi dan agung, yaitu hubungan dengan Allah.
Hubungan dalam bentuk ini adalah hubungan antara Khalik dan makhluk dan hubungan antara sesama makhluk yang selalu menghambakan diri kepada Khaliknya, karena merasa diri tergantung kepada Nya.
Hubungan yang seperti ini adalah hubungan yang tidak lagi terikat kepada keadaan masa dan tempat serta merupakan hubungan yang sangat erat kekal dan abadi, sejak dari dunia fana ini sampai ke akhirat nanti.
Hubungan yang demikian berada di atas segala macam hubungan yang ada bahkan berada jauh di atas hubungan kemanusiaan.
Karena hubungan kemanusiaan hanyalah hubungan antara sesama makhluk saja.

Berdasarkan kepada azas inilah, maka Allah subhanahu wa ta'ala menunjukkan kepada Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin materi dakwah yang akan disampaikan kepada Ahli Kitab.
Dengan materi ini akan dirasakan hikmah kedatangan.
Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir beserta risalah yang dibawanya.
Nikmat itu ialah berupa keterangan dan pengungkapan hubungan antara risalah dengan risalah-risalah yang telah disampaikan para Rasul Allah yang telah diutus Nya sejak zaman dahulu.
Dengan petunjuk yang demikian itu, hendaklah kaum Muslimin merasa berbahagia dan hendaklah mereka melaksanakan dakwah sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah disampaikan Allah itu.
Dalam pada itu hendaklah kaum Muslimin mengkaji, mendalami dan mengembangkan petunjuk Allah itu, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh orang-orang yang akan menerimanya.

Allah subhanahu wa ta'ala memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muslimin tentang materi dakwah dan cara menghadapi Ahli Kitab itu adalah karena orang-orang Ahli Kitab tidak menerima seruan Nabi Muhammad yang disampaikan kepada mereka.
Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada mereka kalam Ilahi, kebanyakan dari mereka mendustakannya; hanya sedikit sekali di antara mereka yang menerimanya.
Padahal mereka telah mengetahui Muhammad dan ajaran yang dibawanya, sebagaimana mereka mengetahui dan mengenal anak-anak mereka sendiri.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil), mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.
Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, pada hal mereka mengetahui.

(Q.S.
Al Baqarah: 146)

Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan dan menjelaskan cara berdakwah yang baik itu, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhan mu Dialah yang mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

(Q.S.
An Nahl : 125)

Menyeru manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan kebijaksanaan dan mendebat mereka dengan yang baik, hanyalah dilakukan kepada orang-orang yang tidak melakukan kezaliman.
Adapun orang-orang yang melakukan kezaliman, yaitu orang-orang yang hatinya telah terkunci mati tidak mau menerima kebenaran lagi dan ia berusaha untuk melenyapkan Islam dan kaum Muslimin, maka orang-orang yang semacam ini tidak dapatlah kaum Muslimin melapangkan dada kepada mereka.

Sebagian orang-orang Ahli Kitab yang zalim itu ialah mereka yang di dalam hatinya ada penyakit, berupa iri hati, rasa benci dan dengki kepada kaum Muslimin, karena Rasul dan Nabi terakhir tidak diangkat dari kalangan mereka.
Mereka memerangi kaum Muslimin dengan mengadakan tipu daya dan fitnah, menimbulkan api peperangan dan perselisihan secara terang-terangan dan tersembunyi dengan Rasulullah dan kaum Muslimin.
Mereka selalu berusaha merintangi dakwah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, seperti mengadakan perjanjian persekutuan dengan orang-orang kafir yang lain untuk memerangi kaum Muslimin.
Amatlah banyak contoh-contoh yang terjadi dalam sejarah yang berhubungan dengan usaha orang-orang kafir itu.
Karena usaha-usaha mereka itulah, maka mereka dinamai orang-orang yang zalim, berusaha merugikan kaum Muslimin dan di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang merugi dengan menerima azab yang setimpal dengan perbuatan mereka itu.

Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muslimin diperingatkan Allah, bahwa jika orang-orang Ahli Kitab mengajak kaum Muslimin memperbincangkan kitab suci mereka, dan memberitahukan kepadanya apa yang patut dibenarkan dan apa yang patut ditolak, sedang kamu sekalian mengetahui keadaan mereka itu, maka katakanlah kepada mereka, "Kami percaya kepada Alquran yang telah diturunkan kepada kami dan kami juga percaya kepada Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepadamu Yang kami sembah dan yang kamu sembah, sebenarnya adalah sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, karena itu marilah kita bersama-sama tunduk dan patuh kepada Nya dan marilah kita sama-sama melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya.

Sehubungan dengan maksud ayat ini, Abu Hurairah berkata, "Para ahli Kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkan dengan bahasa Arab untuk orang-orang Islam.
Lalu Nabi ﷺ bersabda:

Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula kamu mendustakan mereka Katakanlah kepada mereka, "Kami beriman dengan apa yang telah diturunkan kepada kami dan yang telah diturunkan kepadamu.
Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kami berserah diri hanya kepada Nya saja

(H.R.
Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah)

Dalam hadis yang lain Nabi ﷺ bersabda:

Janganlah kamu bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu.
maka sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menunjuki kamu dan sungguh mereka telah sesat.
Adakalanya mereka mendustakan kebenaran dan adakalanya mereka membenarkan yang batil.

(H.R.
Ibnu Jarir dari Ibnu Mas'ud)

Demikianlah keadaan kaum Yahudi dan Nasrani pada umumnya yang di dalam Alquran mereka disebut Ahli Kitab.

Al Ankabut (29) ayat 46 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ankabut (29) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ankabut (29) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah mendebat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berselisih pendapat denganmu kecuali dengan cara yang paling tenang, paling lembut dan paling dapat diterima.
Kecuali dengan orang-orang yang melampaui batas normal dalam berdebat, maka tidak ada dosa bagimu untuk menghadapi mereka dengan keras.
Dan katakanlah kepada orang-orang yang kalian debat, "Kami percaya dengan apa yang diturunkan Allah kepada kami, yaitu Al Quran, juga dengan apa yang diturunkan kepada kalian, yaitu Tawrat dan Injil.
Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu.
Dan kami hanya tunduk kepada-Nya semata."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara) dengan perdebatan yang (paling baik) seperti menyeru mereka kepada Allah dengan mengemukakan ayat-ayat-Nya dan mengingatkan mereka pada bukti-bukti-Nya (kecuali dengan orang-orang yang lalim di antara mereka) misalnya mereka memerangi kalian dan membangkang tidak mau membayar jizyah, maka debatlah mereka dengan pedang hingga mereka masuk Islam atau tetap pada agamanya dengan membayar jizyah (dan katakanlah) kepada orang-orang ahli kitab yang berikrar untuk membayar jizyah, yaitu bilamana mereka menceritakan kepada kalian tentang sesuatu hal yang terdapat di dalam kitab-kitab mereka:
("Kami telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kalian) janganlah kalian mempercayai mereka dan jangan pula kalian mendustakannya dalam hal ini.
(Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.") Yakni, hanya kepada-Nya kami taat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Janganlah kalian wahai orang-orang Mukmin mendebat orang-orang Yahudi dan Nasrani kecuali dengan cara yang baik, perkataan yang lembut dan berdakwah kepada kebenaran dengan jalan paling mudah yang bisa menyampaikan kepada tujuan tersebut.
Kecuali orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran, menentang dan menyombongkan diri dan mereka mengumumkan perang terhadap kalian.
Maka lawanlah mereka dengan pedang sehingga mereka beriman, atau membayar jizyah dengan tangan mereka sedangkan mereka dalam keadaan hina.
Katakanlah :
Kami beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepada kami.
Kami juga beriman kepada Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepada kalian.
Sembahan kami dan sembahan kalian adalah satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam Uluhiyah, Rububiyah dan Asma dan sifat-Nya.
Hanya kepada-Nya kami tunduk dan merendahkan diri dengan ketaatan dalam apa yang Dia perintahkan kepada kami, dan apa yang Dia larang dari kami.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan, bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayatus saif {ayat pedang), maka tiada lagi perdebatan dengan mereka.
Sesungguhnya jalan keluarnya hanyalah masuk Islam, atau membayar jizyah atau pedang (perang).

Ulama yang lain mengatakan, ayat ini tetap muhkam bagi orang yang hendak menyadarkan mereka agar mau masuk Islam, maka seseorang dituntut agar menggunakan cara yang lebih baik agar beroleh keberhasilan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.
(An Nahl:125), hingga akhir ayat

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala ketika mengutus Musa dan Harun kepada Fir'aun:

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.
(Taha: 44)

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, dia meriwayatkannya dari Ibnu Zaid.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.
(Al-'Ankabut: 46)

Yaitu orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran.
Mereka buta, tidak dapat melihat bukti yang jelas dan ingkar serta sombong.
Maka bilamana sudah sampai pada tingkatan tersebut, cara berdebat tidak dapat dipakai lagi, melainkan melalui jalan keras, dan mereka harus diperangi agar jera dan menjadi sadar.

Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.
dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya.
Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.
(Al Hadiid:25)

Jabir telah mengatakah bahwa kita diperintahkan oleh Allah agar memukul orang yang menentang Kitabullah dengan pedang.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.
(Al-'Ankabut: 46) Yakni Ahlul Harb dan orang-orang dari kalangan Ahli Kitab yang tidak mau membayar jizyah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan katakanlah, "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu.” (Al-'Ankabut: 46)

Maksudnya jika mereka memberitakan tentang hal yang tidak kita ketahui kebenarannya dan tidak pula kedustaannya.
Dalam keadaan seperti ini kita tidak boleh tergesa-gesa mendustakannya, karena barangkali apa yang diberitakan oleh mereka itu benar.
Tidak boleh pula kita membenarkannya karena barangkali hal itu batil.
Akan tetapi kita diperintahkan untuk beriman kepadanya secara global, dengan syarat hendaknya berita tersebut berasal dari wahyu yang diturunkan, bukan yang telah diganti oleh mereka atau bukan pula yang berdasarkan takwil mereka.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa dahulu orang-orang Ahli Kitab sering membaca kitab Taurat dengan bahasa Ibrani, lalu menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, dan katakanlah oleh kalian, "Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian, Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah Esa, dan hanya kepada-Nyalah kami berserah diri.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Us'man ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Namilah Al-Ansari yang menceritakan bahwa ketika dia sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan pemeluk agama Yahudi.
Maka lelaki Yahudi itu bertanya, "Hai Muhammad, apakah jenazah ini berbicara?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Hanya Allah yang mengetahui." Orang Yahudi itu berkata, "Aku bersaksi bahwa jenazah ini berbicara." Maka Rasulullah ﷺ bersabda (kepada sahabatnya): Apabila Ahli Kitab berbicara kepadamu, janganlah kamu membenarkannya, jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya serta rasul-rasul-Nya.
Karena jika hal itu benar, berarti kalian tidak mendustakannya, dan jika hal itu batil, berarti kalian tidak membenarkannya.

Menurut hemat kami (penulis), Abu Namilah (perawi hadis di atas) adalah Imarah.
Pendapat yang lain menyebut Ammar, dan menurut pendapat yang lainnya lagi Amr ibnu Mu'az ibnu Zararah Al-Ansari r.a.

Kemudian perlu diketahui bahwa kebanyakan dari apa yang mereka ceritakan adalah dusta dan buat-buatan, karena sesungguhnya telah terjadi perubahan, penggantian, dan penyimpangan terhadapnya, juga takwil, sehingga sedikit sekali yang masih asli.
Kemudian kebanyakan dari yang asli pun sedikit mengandung faedah bagi kita, sekalipun benar sesuai dengan aslinya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sulaiman ibnu Amir, dari Imarah ibnu Umair, dari Hurayyis ibnu Zahir, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang telah mengatakan, "Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada Ahli Kitab, karena sesungguhnya mereka tidak akan dapat memberi petunjuk kepada kalian, sebab mereka telah sesat.
Hal itu berakibat kalian mendustakan perkara yang hak atau membenarkan perkara yang batil.
Karena sesungguhnya tiada seorang pun dari kalangan Ahli Kitab, melainkan di dalam hatinya terdapat dorongan yang menyerunya untuk berpegang teguh kepada agamanya, sebagaimana dorongan (mencintai) harta."

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Abdullah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Mengapa kalian menanyakan sesuatu kepada Ahli Kitab?
Padahal kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ adalah kitab yang terbaru, kalian membacanya masih dalam keadaan hangat dan belum lama.
Kitab kalian telah memberitahukan bahwa orang-orang Ahli Kitab itu telah mengubah, mengganti, dan menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan bahwa kitab itu dari sisi Allah.
Mereka lakukan demikian untuk menggantinya dengan imbalan keduniawian yang tiada artinya?
Bukankah ilmu yang telah disampaikan kepada kalian melarang kalian bertanya kepada mereka (Ahli Kitab)?
Demi Allah, kami belum pernah melihat seseorang dari mereka bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian (Al-Qur'an)."

Imam Bukhari mengatakan —juga Abul Yaman—, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Humaid ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah mendengar Muawiyah berbicara kepada segolongan orang Quraisy di Madinah, lalu ia ditanya mengenai Ka'bul Ahbar.
Maka Muawiyah menjawab, "Sekalipun Ka'bul Ahbar termasuk orang yang paling benar di antara mereka yang menceritakan berita dari Ahli Kitab, sekalipun kita percaya kepadanya, tetapi kita benar-benar masih menuduhnya dusta."

Maksud perkataan Muawiyah ialah bahwa Ka'bul Ahbar tetap terjerumus ke dalam kedustaan tanpa sengaja karena ia menceritakan tentang lembaran-lembaran kitab yang ia berbaik prasangka terhadap kitab itu, padahal di dalamnya terdapat banyak hal yang maudu' (buatan) dan kedustaan.
Dikatakan demikian karena tiada dari kalangan mereka orang-orang yang hafal secara meyakinkan tentang kitab mereka, tidak sebagaimana di kalangan umat ini (umat Nabi ﷺ).
Sekalipun demikian, di kalangan umat ini yang masih baru tetap saja banyak hadis buatan yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan orang-orang yang telah dikaruniai oleh-Nya tentang hadis-hadis itu, masing-masing diberi­Nya ilmu menurut kemampuannya.

Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al' Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al' Ankabuut" berhubung terdapatnya perkataan Al' Ankabuut yang berarti "laba­ laba" pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua'ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua'ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa'at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.


Gambar Kutipan Surah Al Ankabut Ayat 46 *beta

Surah Al Ankabut Ayat 46



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ankabut

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah29
Nama SurahAl Ankabut
Arabالعنكبوت
ArtiLaba-laba
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu85
JuzJuz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat69
Jumlah kata983
Jumlah huruf4321
Surah sebelumnyaSurah Al-Qasas
Surah selanjutnyaSurah Ar-Rum
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending