Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ankabut

Al Ankabut (Laba-laba) surah 29 ayat 26


فَاٰمَنَ لَہٗ لُوۡطٌ ۘ وَ قَالَ اِنِّیۡ مُہَاجِرٌ اِلٰی رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
Faaamana lahu luuthun waqaala innii muhaajirun ila rabbii innahu huwal ‘aziizul hakiim(u);

Maka Luth membenarkan (kenabian)nya.
Dan berkatalah Ibrahim:
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku), sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 29:26
Topik ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
29:26, 29 26, 29-26, Al Ankabut 26, AlAnkabut 26, Al-Ankabut 26
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 26. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini disebutkan seorang hamba Allah yang bernama Lut menurut ahli silsilah, nama keturunannya ialah Lut Ibnu Haran.
Beliau anak saudara Nabi Ibrahim.
Setelah ia menyaksikan kehebatan mukjizat Allah atas Nabi Ibrahim (tidak hangus dimakan api), ia segera menyatakan keimanannya.
Ibrahim menyambut gembira pengikut pertamanya itu dengan ucapan: "Aku akan menjadikan negeri Syam sebagai kampung tempat aku berhijrah".
Menurut keterangan ahli sejarah, kampung yang dijadikan Ibrahim tempat berhijrah tersebut adalah dalam wilayah Kufah yaitu Kusa sampai ke negeri Syam.
Lut semakin kuat keimanannya dengan memperoleh hidayah dari Allah, meskipun hidup dalam suasana masyarakat yang porak poranda, membuang waktu dan pekerjaan yang tiada bermanfaat, dan jika ia diam tanpa menjalankan tugas dakwah, maka diamnya (Ibrahim) itu adalah tanda tidak setuju atas perbuatan mungkar yang dilakukan kaumnya.
Ibrahim berkata dalam hatinya jika ia tinggal tetap dinegerinya maka berarti ia membuang waktu percuma begitu saja.
Atas pertimbangan inilah Ibrahim hijrah ke negeri Syam.
Imam Al Baihaqy meriwayatkan dari Qatadah, bahwa di antara kaum Muslimin (pada masa Rasulullah ﷺ) yang pertama hijrah dengan keluarganya adalah sahabat Usman bin Affan.
Anas bin Malik menceritakan bahwa Usman bersama istrinya Ruqayah binti Rasulullah melakukan hijrah ke negeri Habsyah.
Rasulullah terlambat mendapat berita tentang keadaan mereka di Habsyah.
Akhirnya seorang wanita Quraisy datang menceritakan kepada Nabi bahwa ia melihat putri beliau bersama suaminya.
Rasulullah bertanya, "bagaimana keadaan mereka yang engkau lihat".
Aku lihat, kata perempuan itu, istrinya (Ruqayah) sedang menunggangi himar yang sedang merangkak sedang suaminya menuntun himar istrinya".
Ya, mudah-mudahan keduanya selalu ditemani Allah.
Sesungguhnya Usman adalah orang yang pertama hijrah dengan keluarganya "Karena agamanya",
sesudah Lut, ujar beliau pula.
Berdasarkan hadis di atas, jelaslah bahwa Lut ialah orang pertama yang terpaksa melakukan hijrah (bersama Ibrahim) demi menyelamatkan agamanya.
Alasan Ibrahim melakukan hijrah itu ialah, karena Allah sajalah yang berkuasa untuk memberikan pertolongan kepadanya.
Allah-lah yang mencegah niat seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya.
Dia Maha Bijaksana dalam mengatur urusan makhluk-Nya, dan segala apa yang mereka usahakan.

Al Ankabut (29) ayat 26 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ankabut (29) ayat 26 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ankabut (29) ayat 26 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang pertama yang menjawab dan membenarkan seruan Ibrahim kepada kebenaran adalah Luth.
Sebelumnya, ia adalah seorang yang menganut ajaran tauhid.
Untuk menjalankan perintah Tuhannya, Ibrahim pun berkata, "Sesungguhnya aku berhijrah ke arah yang diperintahkan Tuhanku dan berdakwah di sana.
Dialah Yang Mahaperkasa, yang dapat membela diriku dari musuh-musuhku, dan Mahabijaksana yang tidak memerintahkanku kecuali kepada kebaikan."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka berimanlah kepadanya) percayalah kepada Nabi Ibrahim (Luth) ia adalah anak saudara lelaki Nabi Ibrahim bernama Haran.
(Dan berkatalah dia) Nabi Ibrahim:
("Sesungguhnya aku akan berpindah") dari kaumku (kepada Rabbku) yaitu akan berpindah ke tempat yang diperintahkan oleh Rabbku, kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan kaumnya dari pedalaman negeri Irak menuju ke negeri Syam.
(Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam perbuatan-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Luth membenarkan Ibrahim dan mengikuti agamanya.
Ibrahim berkata :
Sesungguhnya aku meninggalkan negeri kaumku menuju bumi yang diberkahi, yaitu Syam.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa yang tidak terkalahkan, Maha Bijaksana dalam tatanan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan tentang Ibrahim, bahwa Lut beriman kepadanya.
Menurut suatu pendapat, Lut adalah anak saudara lelaki Nabi Ibrahim.
Mereka mengatakan bahwa Lut ibnu Haran ibnu Azar, yakni tiada seorang pun dari kalangan kaumnya yang beriman kepadanya selain Lut dan Sarah (istri Nabi Ibrahim sendiri).

Akan tetapi, timbul suatu pertanyaan tentang bagaimanakah menggabungkan pengertian ayat ini dengan hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih yang menceritakan, bahwa ketika Ibrahim 'alaihis salam bersua dengan raja yang angkara murka (sewenang-wenang) itu dan si raja menanyakan tentang Sarah kepada Ibrahim,"Apa hubungan kamu dengan wanita ini?"
Nabi Ibrahim menjawab, "Dia adalah saudara perempuanku."

Kemudian Ibrahim menemui istrinya dan mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya aku telah mengatakan kepada si raja lalim itu bahwa engkau adalah saudara perempuanku, janganlah kamu mendustakan diriku (di hadapannya nanti) karena sesungguhnya di muka bumi ini tiada seorang pun yang beriman selain dari aku dan kamu, karenanya engkau adalah saudara perempuan seagamaku."

Seakan-akan makna yang dimaksud —hanya Allah Yang lebih mengetahui— bahwa tiada sepasang suami istri di muka bumi pada masa itu yang beragama Islam selain Nabi Ibrahim dan istrinya, karena sesungguhnya Lut 'alaihis salam telah beriman kepadanya, dia berasal dari kaumnya.
Lut ikut berhijrah bersama Nabi Ibrahim ke negeri Syam, kemudian ia diangkat menjadi rasul untuk penduduk Sodom dan daerah-daerah sekitarnya, hal itu terjadi di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam Kemudian perihal mereka telah disebutkan dalam pembahasan yang telah lalu, dan akan disebutkan lagi pada pembahasan berikutnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintah­kan) Tuhanku (kepadaku).
(Al-'Ankabut: 26)

Damir yang terdapat di dalam firman-Nya, "Qala, " dapat ditakwilkan merujuk kepada Lut, karena lafaz Lut merupakan lafaz yang terdekat dengannya.
Dapat pula ditakwilkan merujuk kepada Ibrahim, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak.
Pengertian kedua ini berdasarkan apa yang tersimpan di dalam firman-Nya: Maka Lut membenarkan (kenabian)nya.
(Al-'Ankabut: 26) Yakni dari kalangan kaumnya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan bahwa Ibrahim memilih untuk pindah dari kalangan kaumnya demi membela agamanya dan meneguhkannya.
Karena itulah disebutkan oleh firman selanjutnya:

sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(Al-'Ankabut: 26)

Yaitu kemuliaan hanyalah milik Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman kepada-Nya.
Allah Mahabijaksana dalam semua perkataan, perbuatan, dan semua ketetapan-Nya.

Qatadah mengatakan bahwa Ibrahim dan Lut berpindah dari Kausa (daerah pedalaman Kufah) menuju ke negeri Syam.

Qatadah mengatakan pula bahwa pernah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ telah bersabda:

Sesungguhnya kelak akan ada hijrah sesudah hijrah, penduduk bumi (yang beriman) beralih ke tempat-tempat bekas Nabi Ibrahim, sedangkan yang ada di tempat lain dari bumi hanyalah orang-orang yang jahat saja, sehingga bumi tempat mereka memuntahkan mereka dan Allah subhanahu wa ta'ala merasa jijik terhadap mereka, serta api menggiring mereka bersama-sama kera dan babi.
Api itu ikut menginap bersama mereka di tempat mereka menginap jika mereka menginap, dan ikut istirahat di siang hari jika mereka istirahat di siang hari, dan api itu membakar apa saja yang terjatuh dari mereka.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini berikut sanadnya secara panjang lebar, melalui hadis Abdullah ibnu Amr ibnul As.
Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa ketika tiba masa pembaiatan Yazid ibnu Mu'awiyah, ia datang ke negeri Syam, dan ia mendapat berita tentang majelis tempat Nauf Al-Bakkali biasa mengajar.
Maka ia mendatangi tempat itu.
Tiba-tiba datanglah seorang lelaki, dan orang-orang menguakkan jalan untuknya, lelaki itu memakai baju khamisah.
Ternyata dia adalah Abdullah ibnu Amr ibnul As.
Ketika Nauf Al-Bakkali melihatnya, maka ia menghentikan pembicaraannya, dan Abdullah ibnu Amr berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya kelak akan ada hijrah sesudah hijrah, maka orang-orang (mukmin) beralih ke tempat hijrahnya Nabi Ibrahim, tiada yang tertinggal di bumi selain dari para penduduknya yang jahat-jahat, maka bumi memuntahkan mereka dan Tuhan Yang Maha Pemurah merasa jijik terhadap mereka.
Mereka digiring oleh api bersama-sama kera dan babi, api itu ikut menginap bersama mereka bila mereka menginap, dan ikut beristirahat di siang hari bersama mereka bila mereka istirahat di siang hari, api itu melahap siapa pim yang tertinggal dari kalangan mereka.

Abdullah ibnu Amr ibnul As mengatakan pula bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Kelak akan muncul segolongan orang dari kalangan umatku dari arah terbitnya matahari (timur) yang pandai membaca Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an tidak meresap ke dalam dada mereka.
Setiap kali muncul suatu generasi dari mereka pasti dimusnahkan, setiap kali muncul suatu generasi dari kalangan mereka pasti dibinasakan -kalimat ini dihitung oleh Abdullah ibnu Amr lebih dari dua puluh kali- setiap kali muncul suatu generasi dari kalangan mereka pasti dibinasakan, sehingga muncullah Dajjal dari kalangan sisa-sisa mereka.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya dari Abu Daud dan Abdus Samad yang keduanya dari Hisyam Ad-Dustuwa'i, dari Qatadah dengan sanad yang sama.

Abu Daud telah meriwayatkannya pula di dalam kitab sunannya.
Di dalam Kitabul Jihad (pembahasan tentang Jihad), Bab "Berita tentang Terhuninya Negeri Syam," bahwa telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, dari Qatadah, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Kelak akan terjadi perpindahan sesudah hijrah, penduduk bumi (yang beriman) beralih ke tempat-tempat bekas hijrahnya Nabi Ibrahim, dan yang tertinggal di belahan bumi lainnya hanyalah para penduduknya yang jahat-jahat, mereka dimuntahkan oleh bumi dan Tuhan Yang Maha Pemurah jijik terhadap mereka, mereka digiring oleh api bersama-sama kera dan babi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Janab Yahya ibnu Abu Hayyah, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan, ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa dahulu di masanya tiada seorang pun yang memiliki dinar dan dirham (harta) lebih berhak daripada saudara muslimnya (hidup mereka penuh dengan kebersamaan).
Kemudian sesudah itu (yakni di masa Syahr ibnu Hausyab) keadaannya berbeda, dinar dan dirham lebih disukai oleh seseorang daripada saudara semuslimnya (yakni hidup mereka individualistis).
Dan ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya jika kalian mengikuti ekor sapi dan melakukan transaksi secara 'ainah, serta meninggalkan jihad di jalan Allah, maka benar-benar Allah akan menimpakan ke hinaan ke atas pundak kalian yang tidak dapat dilenyapkan dari kalian sebelum kalian kembali ke jalan semula dan bertobat kepada Allah subhanahu wa ta'ala Dan ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya kelak akan ada hijrah sesudah hijrah, yaitu ke tempat-tempat hijrahnya bapak moyang kalian Nabi Ibrahim, sehingga tiada yang tertinggal di belahan bumi lainnya selain dari para penghuninya yang jahat-jahat.
Bumi memuntahkan mereka dan Tuhan Yang Maha Pemurah jijik terhadap mereka.
Mereka digiring oleh api bersama-sama kera dan babi.
Api itu ikut istirahat siang hari di tempat mereka istirahat siang hari, dan ikut menginap bersama mereka di tempat mereka menginap, apa saja dari mereka yang terjatuh dilahap oleh api itu.
Sesungguhnya ia pernah pula ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Kelak akan muncul suatu kaum dari kalangan umatku yang amal perbuatan mereka buruk, mereka pandai membaca Al-Qur'an, tetapi Al-Qur’an tidak melampaui tenggorokan mereka (yakni tidak meresap ke dalam dada mereka).
Yazid (salah seorang perawi hadis ini) mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya Abu Janab mengatakan hal berikut: Seseorang dari kalian merasa amat kecil ilmunya dibandingkan dengan ilmu mereka, tetapi mereka gemar memerangi ahli Islam.
Maka apabila mereka muncul, perangilah mereka.
Kemudian bila mereka muncul lagi, perangilah mereka.
Kemudian bila mereka muncul juga, perangilah mereka.
Maka amatlah beruntung bagi orang yang berhasil membunuh mereka, beruntunglah orang yang dapat membunuh mereka.
Setiap kali muncul suatu generasi dari mereka, Allah membinasakannya.
Rasulullah ﷺ mengulang-ulang sabdanya yang terakhir ini sebanyak dua puluh kali atau lebih, sedangkan ia mendengarnya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Yazid dan Hisyam ibnu Ammar yang kedua-duanya dari Dimasyq, bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Nafi'.
Dan Abun Nadr telah meriwayatkan dari orang yang pernah mendengar hadis berikut dari Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kelak penduduk bumi (yang beriman) akan berpindah ke tempat-tempat hijrahnya Nabi Ibrahim sehingga tiada yang tertinggal di belahan bumi yang lain kecuali hanya para penduduknya yang jahat-jahat.
Bumi memuntahkan mereka dan Tuhan Yang Maha Pemurah jijik terhadap mereka.
Mereka digiring oleh api bersama-sama kera dan babi.
Api itu ikut menginap bersama mereka di tempat mereka menginap, dan ikut istirahat di siang hari di tempat mereka istirahat siang hari, api itu membakar apa saja yang terjatuh dari mereka.

Hadis Nafi' ini berpredikat garib, jelasnya Al-Auza'i telah meriwayatkan­nya dari salah seorang gurunya yang berpredikat lemah.
Hanya Allah Yang lebih mengetahui.
Tetapi riwayatnya yang melalui hadis Abdullah ibnu Amr ibnul As lebih mudah untuk dihafalkan.

Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al' Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al' Ankabuut" berhubung terdapatnya perkataan Al' Ankabuut yang berarti "laba­ laba" pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua'ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua'ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa'at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.


Gambar Kutipan Surah Al Ankabut Ayat 26 *beta

Surah Al Ankabut Ayat 26



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ankabut

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah29
Nama SurahAl Ankabut
Arabالعنكبوت
ArtiLaba-laba
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu85
JuzJuz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat69
Jumlah kata983
Jumlah huruf4321
Surah sebelumnyaSurah Al-Qasas
Surah selanjutnyaSurah Ar-Rum
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (13 votes)
Sending