Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ankabut

Al Ankabut (Laba-laba) surah 29 ayat 10


وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ فَاِذَاۤ اُوۡذِیَ فِی اللّٰہِ جَعَلَ فِتۡنَۃَ النَّاسِ کَعَذَابِ اللّٰہِ ؕ وَ لَئِنۡ جَآءَ نَصۡرٌ مِّنۡ رَّبِّکَ لَیَقُوۡلُنَّ اِنَّا کُنَّا مَعَکُمۡ ؕ اَوَ لَیۡسَ اللّٰہُ بِاَعۡلَمَ بِمَا فِیۡ صُدُوۡرِ الۡعٰلَمِیۡنَ
Waminannaasi man yaquulu aamannaa billahi fa-idzaa uudziya fiillahi ja’ala fitnatannaasi ka’adzaabillahi wala-in jaa-a nashrun min rabbika layaquulunna innaa kunnaa ma’akum awalaisallahu bia’lama bimaa fii shuduuril ‘aalamiin(a);

Dan di antara manusia ada orang yang berkata:
“Kami beriman kepada Allah”,
maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.
Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata:
“Sesungguhnya kami adalah besertamu”.
Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?
―QS. 29:10
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
29:10, 29 10, 29-10, Al Ankabut 10, AlAnkabut 10, Al-Ankabut 10
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat, ayat-ayat ini diturunkan berdasarkan seseorang yang bernama lyasy Ibnu Abi Raabi'ah di mana pada mulanya ia telah masuk Islam kemudian berhijrah ke Madinah.
Tapi karena keislamannya itu ia mengalami berbagai macam siksaan karena tidak tahan lagi, ia murtad kembali dan kembali menjadi musyrik.

Yang menyiksanya adalah tokoh kafir Quraisy bernama Abu Jahal dan Al Haris.
Keduanya masih pamannya sendiri (adik kandung ibunya).
Akhirnya lyasy tidak berapa lama ia masuk Islam lagi dan menjadi seorang Islam yang baik.

Ayat ini menerangkan tentang adanya yang mengaku beriman dengan Allah dan mengikrarkan dengan lidah tentang ke Esaan Nya.
Akan tetapi bila ia difitnah yakni disiksa oleh orang musyrik yang tidak merasa senang dengannya, ia menganggap bahwa fitnah berupa cobaan dan siksaan dari orang lain itu dianggapnya sama saja dengan azab dari Tuhan di aknirat kelak.
Karena itu dari pada mengalami siksaan terus menerus lebih baik kembali saja kepada agama berhala (murtad).
Sebenarnya kalau ia sungguh-sungguh beriman, tentulah ia sabar atas cobaan tersebut, dan menenteramkan hatinya dengan keimanan yang bersarang dalam dadanya itu.
Namun cobaan tersebut justru memalingkan hatinya dari beriman kepada Allah, sebagaimana azab Allah memalingkan seorang mukmin dari kekafirannya.
Ia menyangka siksaan dari manusia tidak dapat dihindarkan, sedang azab Allah di akhirat bisa saja dihindari.
Dalam ayat lain disebutkan lagi:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana.
berbaliklah ia kebelakang.
Rugilah ia di dunia dan di akhirat.
Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Q.S.
Al Hajj: 11)

Andaikata pertolongan Allah didatangkannya kepada orang-orang mukmin yang sedang berjuang itu, golongan yang masih ragu-ragu dengan kebenaran Islam itu pura-pura menjadi sahabat yang baik dan mengatakan: "Kami selalu bersamamu sebagai saudara-saudara seagama, dan kami akan menolongmu dalam menghadapi musuh".
Cuma apa yang mereka ucapkan itu tidak lain hanyalah sekadar ucapan mulut mereka saja.
Sebab mereka telah berdusta dengan apa yang telah mereka dakwakan.
Keterangan ayat lain menegaskan:

(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).
Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?".
Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?"
Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di Hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.

(Q.S.
An Nisa: 141)

Al Ankabut (29) ayat 10 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ankabut (29) ayat 10 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ankabut (29) ayat 10 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan di antara manusia ada yang berkata dengan lisannya, "Kami telah beriman." Lalu apabila dia ditimpa cobaan di jalan Allah, mereka takut dan menjelekkan agamanya serta tidak memikirkan azab Allah pada hari kiamat, seakan-akan mereka menjadikan siksaan manusia itu bagaikan azab Allah di akhirat.
Apabila Allah memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin atas musuh-musuh mereka, dan mereka mendapatkan harta rampasan, maka datanglah orang-orang yang berpura-pura beriman itu kepada orang-orang muslim seraya berkata, "Sesungguhnya kami bersama kalian dalam keimanan, maka berilah kami bagian dari harta rampasan itu." Tidak sepantasnya mereka menyangka bahwa keadaan mereka ini tidak diketahui Allah.
Allah lebih mengetahui kemunafikan dan keimanan yang ada di dalam kalbu manusia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di antara manusia ada orang yang berkata, "Kami beriman kepada Allah",
maka apabila ia disakiti, -karena beriman- kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu) yakni perlakuan mereka yang menyakitkan kepada dirinya (sebagai azab Allah) yaitu ketakutannya terhadap siksaan mereka disamakan seperti takut kepada azab Allah.
Sehingga akhirnya dia mau menuruti kemauan mereka, lalu ia menjadi orang yang munafik.
(Dan sungguh jika) huruf Lam pada lafal la in menunjukkan makna sumpah (datang pertolongan) kepada orang-orang Mukmin (dari Rabbmu) lalu orang-orang Mukmin memperoleh banyak ganimah (mereka pasti akan berkata) Lafal Layaqulunna dibuang daripadanya Nun alamat Rafa', karena jika dibiarkan, maka akan berturut-turutlah huruf Nun, sehingga jadilah Layaqulunna yang pada asalnya adalah Layaqulunanna, dan dibuang daripadanya Wawu Dhamir jamak bukan karena sebab bertemunya dua huruf yang disukunkan.
("Sesungguhnya kami adalah beserta kalian") dalam hal iman, karena itu maka ajaklah kami bersama-sama mendapat bagian ganimah itu.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (Bukankah Allah lebih mengetahui) yakni mengetahui (apa yang ada dalam dada semua manusia?) yakni apa yang ada di dalam hati mereka, apakah keimanan ataukah kemunafikan?
Memang benar Allah lebih mengetahui.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara manusia ada yang berkata :
Kami telah beriman kepada Allah.
Tetapi bila orang-orang musyrikin menyakitinya, maka dia bersedih karena siksaan dan gangguan mereka.
Sebagaimana dia bersedih karena adzab Allah dan ia tidak sabar memikul gangguan darinya, lantas dia pun meninggalkan imannya.
Dan bila kemenangan datang dari Rabbmu (wahai Rasul) untuk ahli iman, maka orang-orang murtad tersebut akan berkata :
Sesungguhnya kami bersama kalian (wahai oranng-orang Mukmin) kami menolong kalian atas musuh-musuh kalian.
Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada makhluk-Nya daripada siapa pun??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan tentang sifat-sifat kaum yang mendustakan (Allah dan Rasul-Nya), yaitu mereka yang lisannya mengakui beriman, padahal iman tidak berakar dalam dada mereka.
Bahwa apabila cobaan dan ujian di dunia menimpa mereka, maka mereka berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan azab Allah kepada mereka, karenanya mereka murtad dari Islam.
Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata, "Kami beriman kepada Allah, " maka apabila ia disakiti (karena beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.
(Al-'Ankabut: 10)

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan fitnah manusia ialah bila orang yang bersangkutan murtad dari agamanya karena disakiti sebab keimanannya kepada Allah.
Hal yang sama dikatakan oleh ulama Salaf lainnya.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.
(Al Hajj:11)

sampai dengan firman-Nya:

Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.
(Al Hajj:12)

Kemudian disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, "Sesungguhnya kami adalah besertamu.” (Al-'Ankabut: 10)

Yaitu jika datang pertolongan dalam waktu yang dekat dari Tuhanmu dan kemenangan serta ganimah yang banyak, hai Muhammad, tentulah mereka mengatakan kepadamu, "Sesungguhnya kami adalah besertamu," yakni saudara-saudara seagamamu.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).
Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata, "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan), mereka berkata, "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin.
(An Nisaa:141)

Maka Allah menjawab mereka melalui firman-Nya:

Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.
Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
(Al Maidah:52)

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan perihal mereka melalui surat Al-'Ankabut ini, yaitu melalui firman-Nya: Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, "Sesungguhnya kamu adalah besertamu.” (Al-'Ankabut: 10)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia.
(Al-'Ankabut: 10)

Maksudnya, bukankah Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka dan semua yang disembunyikan di dalam perasaan mereka, sekalipun mereka menampakkan kepada kalian sikap setuju?

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ankabut (29) Ayat 10

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya), yang turut berperang menentang Rasulullah ﷺ.
Diantara mereka ada yang terbunuh dengan panah atau pedang pasukan Rasulullah.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97) sebagai penjelasan hukum bagi kaum Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih, bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah pasukan musyrikin itu antara lain: Qais bin al-Walid bin al-Mughirah, Abu Qais bin al-Faqih bin al-Mughirah, al-Walid bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayyah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayyah bin Khalaf.
Selanjutnnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada Perang Badr, di saatg mereka melihat jumlah kaum Muslimin sangat sedikit.
Timbul rasa ragu-ragu pada mereka dan berkata: “Mereka tertipu oleh agamanya.” Orang-orang tersebut akhirnya mati terbunuh dalam Perang Badr itu.

Keterangan: menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang yang disebut dalam hadits di atas, termasuk juga al-Harits bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajj.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada segolongan orang Mekah masuk Islam.
Namun ketika Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut hijrah.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 97-98) sebagai ancaman hukuman bagi orang-orang yang enggan memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali kalau mereka itu tidak berdaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, bahwa ada segolongan orang Mekah yang telah masuk Islam, tetapi menyembunyikan keislamannya.
Pada waktu perang Badr, mereka dipaksa menyertai kaum Quraisy untuk berperang melawan Rasulullah sehingga banyak yang mati terbunuh.
Berkatalah kaum kaum Muslimin Madinah: “Mereka itu adalah orang-orang Islam yang dipaksa untuk berperang (melawan Rasulullah).
Hendaklah kalian memintakan ampun bagi mereka.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97).
Kemudian mereka menulis surat kepada kaum Muslimin yang masih ada di Mekah dengan ayat tadi, dan (dikatakan kepada mereka bahwa) tidak ada lagi alasan untuk tidak hijrah.
Kemudian mereka hijrah ke Madinah, tetapi masih dikejar dan dianiaya oleh kaum musyrikin.
Akhirnya mereka terpaksa kembali ke Mekah.
Maka turunlah surah al-‘Ankabut ayat 10 berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai teguran terhadap keluhan mereka, yang menganggap siksaan yang dialaminya sebagai azab dari Allah.

Ayat inipun (al-Ankabut: 10) dikirim lagi kepada kaum Muslimin Mekah.
Mereka merasa sedih.
Maka turunlah surah an-Nahl ayat 110, sebagai janji Allah untuk melindungi orang yang hijrah dan bersabar.
Ayat ini (an-Nahl: 110) dikirim pula pada kaum Muslimin Mekah.
Maka merekapun berhijrah ke Madinah dan tidak luput dari kejaran kaum musyrikin, di antaranya ada yang selamat, tapi ada juga yang gugur.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al' Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al' Ankabuut" berhubung terdapatnya perkataan Al' Ankabuut yang berarti "laba­ laba" pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua'ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua'ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa'at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.


Gambar Kutipan Surah Al Ankabut Ayat 10 *beta

Surah Al Ankabut Ayat 10



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ankabut

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah29
Nama SurahAl Ankabut
Arabالعنكبوت
ArtiLaba-laba
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu85
JuzJuz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat69
Jumlah kata983
Jumlah huruf4321
Surah sebelumnyaSurah Al-Qasas
Surah selanjutnyaSurah Ar-Rum
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (11 votes)
Sending







✔ qs 29:10, kandungan surat al ankabut ayat 10, Q S : 29 : 10, Quran jus ke 10 surat ke 29 ayat 610, surah yg ke 29 ayat 10 dalam alquran, surat ke 29 ayat 10 dan artinya, surat ke 29 ayat ke 10 dan artinya