Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 65


یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَرِّضِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلَی الۡقِتَالِ ؕ اِنۡ یَّکُنۡ مِّنۡکُمۡ عِشۡرُوۡنَ صٰبِرُوۡنَ یَغۡلِبُوۡا مِائَتَیۡنِ ۚ وَ اِنۡ یَّکُنۡ مِّنۡکُمۡ مِّائَۃٌ یَّغۡلِبُوۡۤا اَلۡفًا مِّنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ
Yaa ai-yuhaannabii-yu harridhil mu’miniina ‘alal qitaali in yakun minkum ‘isyruuna shaabiruuna yaghlibuu mii-ataini wa-in yakun minkum mii-atun yaghlibuu alfan minal-ladziina kafaruu biannahum qaumun laa yafqahuun(a);

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang.
Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.
―QS. 8:65
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Ayat yang dinaskh ▪ Sifat orang munafik
8:65, 8 65, 8-65, Al Anfaal 65, AlAnfaal 65, Al Anfal 65, AlAnfal 65, Al-Anfal 65
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 65. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berperang menghadapi musuh dan menegaskan bahwa kekuatan pasukan Islam yang benar-benar beriman dan penuh tawakal kepada Allah itu akan dapat mengalahkan kekuatan musuh meskipun sepuluh kali lipat banyaknya.
Andaikata suatu pasukan dari mereka hanya terdiri dari dua puluh orang prajurit, mereka dapat mengalahkan pasukan musuh yang terdiri dari dua ratus orang.
Dan jika sebuah pasukan mereka terdiri dari seratus orang mereka apat mengalahkan pasukan yang terdiri dari seribu orang dan demikinalah seterusnya.
Setiap prajurit Islam dapat mengalahkan sepuluh musuh.
Ini adalah satu perbandingan kekuatan yang tidak ada taranya dalam sejarah karena cara peperangan di masa itu bukan seperti peperangan di masa kini.
Peperangan di masa sekarang sangat tergantung kepada kekuatan persenjataan dan kesempurnaannya.
Sepasukan yang kecil jumlah orangnya yang diperlengkapi dengan senjata modern yang ampuh dapat aja dengan mudah mengalahkan pasukan besar tetapi hanya mempunyai senjata biasa saja.

Peperangan di masa itu benar-benar mengadu kekuatan dan kecakapan karena alat-alat perang yang dipergunakan boleh dikatakan sama macam dan mutunya.
Tidaklah mungkin rasanya suatu pasukan kecil akan dapat menang atas pasukan besar yang jumlahnya sepuluh kali lipat.
Tetapi inilah yang ditegaskan Allah atau diperintahkan-Nya kepada kaum Muslimin.
Mereka tidak boleh merasa gentar dan takut menghadapi lawan yang berlipat ganda karena mereka adalah orang-orang beriman yang berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri atau untuk mencari harta benda dan kemegahan duniawi tetapi mereka adalah tentara Allah yang berjuang untuk membela kebenaran untuk meninggikan kalimat Allah dan untuk kejayaan agama yang telah diridai-Nya.
Bila mereka gugur dalam pertempuran, mereka akan mati syahid yang balasannya di sisi Allah tidak ternilai besarnya.
Lawan-lawan mereka adalah orang-orang kafir yang hanya ingin mempertahankan kedudukan, pangkat dan harta benda.
Mereka tidak mempunyai tujuan hidup yang tinggi dan mulia karena mereka tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak percaya kepada hari berbangkit.
Hidup mereka adalah untuk berbangga-bangga dan mengutamakan harta benda belaka.
Adapun orang Yahudi di Madinah meskipun percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi mereka tidak dapat lagi melihat kebenaran karena mata mereka telah disilaukan oleh kesenangan dunia.
Mereka ingin hidup kalau dapat seribu tahun, mereka telah karam dalam dunia kebendaan, tak dapat luput dari sifat loba dan serakah.
Kedua golongan ini benar-benar telah sesat dari jalan yang hak tidak dapat lagi membedakan mana yang hak, mana yang batil, mereka tidak tahu lagi jalan yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Orang-orang yang demikian sifatnya bila dihadapkan kepada pertempuran yang dahsyat mereka akan lari tunggang-langgang karena lebih mengutamakan hidup daripada mati.
Hal ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya:

Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah.
Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti.

(Q.S Al Hasyr: 13)

Jadi kalau Allah memerintahkan supaya kaum muslimin harus berani menghadapi musuh Islam yang berjumlah sepuluh kali jumlah mereka dan menyatakan bahwa mereka akan menang, maka kemenangan itu adalah suatu yang pasti meskipun tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Karena itu mereka tidak boleh melarikan diri atau mundur dalam pertempuran dan harus bertempur mati-matian sampai tercapai kemenangan.
Inilah suatu derajat yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh kaum muslimin.

Al Anfaal (8) ayat 65 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 65 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 65 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, perintahkanlah orang-orang yang beriman untuk berperang demi menjunjung tinggi kalimat Allah.
Gembirakanlah hati mereka dengan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat di balik peperangan itu.
Jika demikian, Kami akan menguatkan jiwa mereka.
Apabila ada dua puluh orang prajurit dari kalian yang teguh iman mereka, memiliki jiwa kesabaran dan ketaatan, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus pasukan musuh dari orang-orang kafir.
Yang demikian itu karena mereka tidak memahami hakikat-hakikat persoalan.
Mereka tidak memiliki keimanan, kesabaran jiwa dan keinginan untuk mendapatkan pahala.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Nabi, kobarkanlah semangat) berilah semangat (para mukmin itu untuk berperang) melawan orang-orang kafir.
(Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh) di antara orang-orang kafir.
(Dan jika ada) boleh dibaca yakun dan boleh pula takun (seratus orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu) mereka yang kafir itu (kaum yang tidak mengerti).
Ayat ini merupakan ungkapan kalimat berita akan tetapi maknanya adalah sama seperti kalimat perintah, yakni hendaknya dua puluh orang di antara kalian mampu memerangi dua ratus orang kafir dan seratus orang mukmin mampu memerangi seribu orang kafir dan hendaknya mereka (kaum mukmin) bersabar di dalam menghadapi orang-orang kafir.
Kemudian ayat ini dinasakh manakala bilangan pasukan kaum mukminin telah banyak jumlahnya, yaitu oleh firman-Nya berikut ini:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Nabi!! Kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang!! Apabila ada dua puluh orang yang bersabar di antara kalian bertemu musuh, niscaya akan mampu mengalahkan dua ratus orang dari mereka (musuh).
Apabila ada seratus mujahid yang bersabar, akan mampu mengalahkan seribu orang kafir, karena mereka (orang kafir) tidak mengetahui dan tidak memahami apa yang telah Allah persiapkan bagi para mujahid di jalan-Nya.
Mereka berperang hanya untuk kejayaan di dunia dan membuat kerusakan didalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang.

Yakni kobarkanlah semangat mereka dan perintahkanlah mereka untuk berperang.
Karena itulah Rasulullah ﷺ selalu mengobarkan semangat pasukan kaum mukmin untuk berperang di kala mereka telah berbaris dan menghadapi musuh-musuhnya.
Seperti yang pernah disabdakannya kepada para sahabatnya dalam Perang Badar, yaitu ketika pasukan kaum musrik datang dengan semua kekuatannya, yaitu:

Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya sama dengan langit dan bumi.

Maka Umair ibnul Hammam bertanya, "Luas surga itu sama dengan langit dan bumi?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya." Umair berseru, "Wah.
wah!" Rasulullah ﷺ bertanya, "Mengapa kamu katakan wah, wah?"
Umair menjawab, "Saya berharap semoga saya termasuk peng­huninya." Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau termasuk salah seorang penghuninya." Maka Umair maju dan mematahkan sarung pedangnya, lalu mengeluarkan beberapa biji kurma dan memakan sebagiannya, kemudian sisanya yang masih dipegangnya ia buang, lalu berkata, "Seandainya saya masih hidup hingga dapat memakan semuanya, sesungguhnya hal itu merupakan hidup yang panjang." Kemudian ia maju dan bertempur hingga gugur sebagai syuhada.

Telah diriwayatkan dari Sa'id ibnul Musayyab dan Sa'id ibnu Jubair, bahwa ayat ini diturunkan ketika Umar ibnul Khattab masuk islam, sehingga pemeluk islam genap berjumlah empat puluh orang Tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan masuk Islamnya Umar terjadi di Mekah (periode Makkiyah) sesudah peristiwa hijrah ke negeri Habsyah dan sebelum hijrah ke Medinah.

Kemudian Allah menyampaikan berita gembira kepada orang-orang mukmin yang di dalamnya terkandung makna perintah:

Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir.

Yakni setiap orang dapat mengalahkan sepuluh orang.
Kemudian perintah ini di-mansukh, tetapi berita gembiranya masih tetap ber­langsung.

Abdullah ibnul Mubarak mengatakan bahwa telah men­ceritakan kepada kami Jarir ibnu Hazim, telah menceritakan kepadaku Az-Zubair ibnul Khirrit, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:

Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
Maka hal tersebut terasa berat oleh kaum muslim, karena Allah memfardukan atas mereka bahwa hendaklah seseorang dari mereka jangan lari dalam menghadapi sepuluh orang musuh, kemudian datanglah keringanan yang hal ini diungkapkan oleh ayat selanjutnya, yaitu firman-Nya:

Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian. Sampai dengan firman-Nya: niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang.
Allah memberikan keringanan kepada mereka dalam hal bilangan, mengingat keteguhan mereka berkurang, yakni keringanan ini ditetapkan-Nya berdasarkan kemampuan mereka.

Imam Bukhari meriwayatkan melalui hadis Ibnu Mubarak hal yang semisal.

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amir ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa pada awal mulanya Allah mengharuskan mereka (kaum muslim) tidak boleh lari dalam menghadapi musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat, dua puluh orang dari mereka tidak boleh lari karena menghadapi dua ratus orang musuh.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
memberikan keringanan kepada mereka melalui firman-Nya:

Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Dia mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan.
Karena itu tidaklah layak bagi seratus orang dari kalian lari karena menghadapi dua ratus orang musuh.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hal yang semisal melalui Ali ibnu Abdullah.
dari Sufyan dengan sanad yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Nujaih.
dari Ata.
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, maka bagi kaum muslim terasa berat bila dua puluh orang dari mereka diharuskan menghadapi dua ratus orang musuh dan seratus orang dari mereka diharuskan menghadapi dua ratus orang musuh dan seratus orang dari mereka harus menghadapi seribu orang musuh.
Kemudian Allah memberikan keringanan-Nya kepada mereka, maka ayat ini di-mansukh oleh ayat lainnya yang mengatakan:

Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Dia telah mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan., hingga akhir ayat.

Maka sejak saat itu bila jumlah mereka separo dari jumlah musuh, mereka tidak diperbolehkan lari meninggalkan medan perang.
Apabila jumlah mereka kurang dari itu, maka mereka tidak diwajibkan memerangi musuhnya, dan diperbolehkan mundur menghindari musuhnya.
Hal yang semisal telah diriwayatkan pula oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi dari Ibnu Abbas.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari Mujahid, Ata, Ikrimah, Al-Hasan, Zaid ibnu Aslam, Ata Al-Khurrasani, Ad-Dahhak.
dan lain-lainnya.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Al-Musayyab ibnu Syarik, dari Ibnu Aun, dari Nafi', dari Ibnu Umar r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya:

Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka, sahabat Nabi ­Muhammad ﷺ

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Abu Amr ibnul Ala, dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:

Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian, dan Dia mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan.
Ayat ini menghapuskan hukum ayat yang sebelumnya.
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Anfaal (8) ayat 65
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Ibnu Abbas ra. tatkala turun ayat: Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir… (Al Anfal: 65). Maka diwajibkan kepada mereka tidak ada seorang pun yang lari dari sepuluh orang. Abu Sufyan berkali-kali mengatakan: "Jangan sampai ada yang lari dua puluh orang dari dua ratus orang." Kemudian turunlah ayat: Sekarang Allah telah meringankan kepadamu. (Al Anfal: 66). Maka diwajibkan jangan sampai ada yang lari sebanyak seratus orang dari dua ratus orang. Sufyan menambahkan juga, telah turun ayat, Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu... (Al Anfal: 65). Sufyan berkata,
dan Ibnu Syubrumah berkata,
"Aku melihat seperti inilah menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran."

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur'an - Nomor Hadits: 4285

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 65 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 65



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (14 votes)
Sending