Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 60


وَ اَعِدُّوۡا لَہُمۡ مَّا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّۃٍ وَّ مِنۡ رِّبَاطِ الۡخَیۡلِ تُرۡہِبُوۡنَ بِہٖ عَدُوَّ اللّٰہِ وَ عَدُوَّکُمۡ وَ اٰخَرِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ ۚ لَا تَعۡلَمُوۡنَہُمۡ ۚ اَللّٰہُ یَعۡلَمُہُمۡ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ شَیۡءٍ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یُوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ
Wa-a’idduu lahum maaastatha’tum min quu-watin wamin ribaathil khaili turhibuuna bihi ‘aduu-wallahi wa’aduu-wakum waaakhariina min duunihim laa ta’lamuunahumullahu ya’lamuhum wamaa tunfiquu min syai-in fii sabiilillahi yuwaffa ilaikum wa-antum laa tuzhlamuun(a);

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.
Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
―QS. 8:60
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Ayat yang berhubungan dengan Abu Bakar As Siddiq
8:60, 8 60, 8-60, Al Anfaal 60, AlAnfaal 60, Al Anfal 60, AlAnfal 60, Al-Anfal 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Untuk menghadapi pengkhianatan kaum Yahudi dan persekongkolan mereka dengan kaum musyrikin karena ingin menghancurkan kaum Muslimin Allah memerintahkan pada ayat ini agar kaum Muslimin menyiapkan kekuatan guna menghadapi musuh-musuh Islam, baik musuh yang nyata yang telah mereka ketahui, maupun yang belum menyatakan permusuhannya secara terang-terangan.
Pertama-tama sekali yang harus dibina ialah kekuatan iman yang akan menjadikan mereka percaya dan berkeyakinan bahwa mereka adalah pembela kebenaran, penegak kalimat Allah di muka bumi dan mereka pasti menang dalam menghadapi dan membasmi kezaliman dan keangkaramurkaan.
Kekuatan iman yang sempurna inilah yang dapat membina kekuatan mental yang selalu ditanamkan pada hati segenap rakyat agar mereka benar-benar menjadi bangsa yang tangguh dan perkasa dalam menghadapi berbagai macam kesulitan dan cobaan.
Bangsa yang kuat mentalnya tidak akan dapat dikalahkan oleh bangsa lain bagaimana pun sempurnanya peralatan dan senjata mereka.
Hal ini telah dibuktikan dalam perang Badar di mana tentara kaum musyrikin jauh lebih besar jumlah dan persenjataannya.
Mereka dapat dipukul mundur oleh tentara Islam yang sedikit jumlahnya dan amat kurang persenjataannya tetapi kuat mental dan teguh imannya.

Di samping kekuatan mental harus pula dipersiapkan kekuatan fisik karena kedua kekuatan ini harus digabung menjadi satu, kekuatan fisik saja akan kurang keampuhannya bila tidak disertai dengan kekuatan mental.
Demikian pula sebaliknya kekuatan mental saja tidak akan berdaya bila tidak ditunjang oleh kekuatan fisik.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan supaya kaum muslimin mempersiapkan tentara berkuda yang ditempatkan pada tempat strategis, siap untuk menggempur dan menghancurkan setiap serangan musuh dari mana pun datangnya.
Pada masa Nabi pasukan berkuda inilah yang amat tinggi nilainya dan amat besar keampuhannya.
Suatu negeri yang mempunyai pasukan berkuda yang besar akan disegani oleh negeri-negeri lain, dan negeri lain itu akan berpikir-pikir lebih dulu bila akan menyerang negeri itu.
Pada masa sekarang pasukan berkuda itu (kavaleri) telah digantikan oleh pasukan tank baja, malah peperangan di masa kini sudah lain corak dan bentuknya dari peperangan masa dulu.
Alat senjata yang dipergunakan sudah bermacam pula, berupa armada udara, armada laut, bahkan sampai mempergunakan roket-roket berkepala nuklir.
Jika di masa Nabi Muhammad ﷺ.
Allah memerintahkan supaya mempersiapkan pasukan berkuda, maka pada masa sekarang haruslah kaum muslimin mempersiapkan berbagai senjata modern untuk mempertahankan negaranya dari serangan musuh.
Sebagaimana diketahui senjata-senjata modern sekarang ini adalah hasil dari kemajuan tekhnologi.
Maka wajiblah umat Islam berusaha mencapai ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan menguasai tekhnologi dan selalu mengikuti perkembangan dan kemajuannya.
Untuk mencapai ilmu tekhnologi yang tinggi kita memerlukan biaya yang tidak tanggung-tanggung besarnya.
Maka wajiblah pula kita mempercepat kemajuan ekonomi dan memperbesar penghasilan rakyat.
Dengan demikian akan mudahlah bagi rakyat menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan dan pertahanan negaranya.

Suatu negara yang kuat mentalnya, kuat pertahanannya dan kuat pula perekonomiannya pasti akan disegani oleh negara lain dan mereka tidak berani memusuhinya apalagi menyerangnya.
Inilah yang dituntut Allah dari kaum muslimin di masa sekarang sekalipun kita belum melihat siapa musuh kita yang akan menghancurkan kita, tetapi siapa tahu yang kita anggap bukan musuh karena tidak ada tanda-tanda permusuhan, dialah yang menjadi musuh utama kita.
Allahlah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Anjuran menafkahkan harta fi sabilillah karena sangat pentingnya terdapat dalam beberapa ayat dalam Alquran di antaranya firman Allah:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
(Q.S Al Baqarah, 195)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka seperti sebuah kebun yang terletak di daratan tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat.
Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis pun memadai.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

(Q.S Al Baqarah: 265)

Allah menjanjikan pahala yang besar kepada setiap orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan juga Dia akan menyempurnakan balasan bagi orang yang menafkahkan, dan dia tidak akan dirugikan sedikit pun disebabkan bernafkah itu.
Sebab dengan bernafkah ia akan mendapat pahala yang berlipat ganda.
Dan di samping itu negerinya akan terhindar dari kekejaman dan pemerasan musuh karena kuatnya pertahanan negara.
Dengan demikian dia akan hidup aman sentosa dalam suatu negara yang makmur, kuat dan tangguh, diridai dan dilindungi oleh Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.

Al Anfaal (8) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang Muslim, persiapkanlah segala kemampuan perang yang kalian miliki, yang meliputi segala perlengkapan perang, untuk menghadapi musuh-musuh kalian.
Lengkapilah penjaga-penjaga perbatasan dan kawasan-kawasan rawan negeri kalian dengan pasukan berkuda untuk membuat musuh- musuh Allah dan musuh-musuh kalian gentar, yaitu orang-orang kafir yang setiap waktu mengintai dan menunggu kelengahan kalian.
Juga untuk membuat takut musuh-musuh lain yang tidak kalian ketahui, tapi Allah mengetahui mereka.
Karena, dengan ilmu-Nya, Allah mengetahui segala sesuatu.
Dan sesungguhnya apa saja yang kalian belanjakan untuk persiapan perang demi mengharap Allah, maka Dia akan memberi balasan setimpal dari karunia-Nya, dan tidak akan sedikit pun balasan itu dikurangi, meski sekecil atom[1].

[1] Dalam ayat tersebut kita dapat menangkap perintah yang jelas sekali mengenai keharusan menyiapkan segala perlengkapan dalam menghadapi musuh, sebagai suatu hal yang teramat penting karena menyangkut hidup matinya suatu bangsa.
Persiapan itu meliputi segala aspek, baik kualitas dan kuantitas perlengkapan.
Berperang tanpa kesiapan berarti suatu kekalahan dan kehancuran.
Pada masa-masa damai seperti sekarang ini saja hampir semua negara seolah-olah bersiap-siap untuk perang, sehingga kebijakan-kebijakan politik strategis masing-masing negara diarahkan, meskipun secara tidak langsung, untuk memenangkan pertempuran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka) untuk memerangi mereka (kekuatan apa saja yang kalian sanggupi) Rasulullah ﷺ menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kekuatan adalah ar-ramyu atau pasukan pemanah.
Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (dan dari kuda-kuda yang ditambat) lafal ribath berbentuk mashdar, artinya kuda-kuda yang sengaja disediakan untuk berperang di jalan Allah (untuk membuat takut) kalian membuat gentar (dengan adanya persiapan itu musuh Allah dan musuh kalian) artinya orang-orang kafir Mekah (dan orang-orang yang selain mereka) terdiri dari orang-orang munafik atau orang-orang Yahudi (yang kalian tidak mengetahuinya sedangkan Allah mengetahuinya.
Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalaskan kepada kalian dengan balasan yang cukup) yakni pahalanya (dan kalian tidak akan dianiaya) tidak akan dikurangi sedikit pun dari pahala kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai segenap umat muslim, bersiaplah untuk menghadapi musuh-musuh kalian dengan segenap kemampuan berupa perbekalan maupun personil.
Agar dengan itu tersisip rasa gentar dalam hati musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian yang menanti kalian, serta menakuti orang-orang selain mereka yang tidak menampakkan permusuhannya saat ini kepada kalian.
Akan tetapi Allah mengetahui mereka dan mengetahui apa yang terbesit dalam hati mereka.
Dan harta atau apa saja yang kalian nafkahkan di jalan Allah, baik sedikit atau banyak, niscaya Allah akan menggantinya di dunia dan menabungkan pahalanya untuk kalian sampai Hari Kiamat.
Dan pahala bagi kalian tidak akan dikurangi sedikit pun.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memerintahkan untuk mempersiapkan peralatan senjata untuk berperang dengan orang-orang musyrik, sesuai dengan kemampuan yang ada.
Untuk itu, Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka apa saja yang kalian sanggupi.

Yakni dengan segenap kemampuan yang kalian miliki.

...berupa kekuatan dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma'ruf telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Abu Ali Sumamah ibnu Syafi (saudara lelaki Uqbah ibnu Amir).
Ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbarnya: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada pasukan pemanah.
Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada pasukan pemanah.

Imam Muslim meriwayatkannya dari Harun ibnu Ma'ruf, Imam Abu Daud dari Sa'id ibnu Mansur, sedangkan Ibnu Majah dari Yunus ibnu Abdul A'la.
Ketiga-tiganya (yakni Harun, Sa'id, dan Yunus) dari Abdullah ibnu Wahb dengan sanad yang sama.

Hadis ini mempunyai jalur-jalur lain dari Uqbah ibnu Amir, yang antara lain ialah yang diriwayatkan oleh hakim Tirmidzi melalui hadis Saleh ibnu Kaisan, dari seorang lelaki yang menerimanya dari Saleh Ibnu Kaisan.

Imam Ahmad dan para pemilik kitab Sunnah telah meri­wayatkan dari Saleh ibnu Kaisan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Lemparlah panah kalian dan naikilah kendaraan kalian, tetapi melempar (membidikkan) panah kalian adalah lebih baik daripada kalian menaiki kendaraan.

Imam Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam.
dari Abu Saleh As-Samman, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺpernah ­bersabda: Kuda itu mempunyai tiga fungsi, bagi seseorang berfungsi men­datangkan pahala, bagi yang lainnya berfungsi menjadi penutup bagi dirinya, dan bagi yang lainnya lagi berakibat mendatang­kan dosa baginya.
Adapun kuda yang dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya ialah bila pemiliknya menambatkannya untuk persiapan berjuang di jalan Allah.
Jika kuda itu berada lama di kandangnya atau di tempat penggembalaannya, maka segala sesuatu yang dimakannya dalam kandang dan tempat peng­gembalaannya itu selama ia berada di sana merupakan pahala-pahala kebaikan bagi pemiliknya.
Dan seandainya kuda itu terlepas dari kandangnya, lalu berlari-lari berputar-putar sekali putar atau dua kali putar, maka semua jejak kakinya dan kotoran yang dikeluarkannya merupakan pahala-pahala kebaikan bagi pemilik­nya.
Dan seandainya kuda itu melewati sebuah sungai, lalu minum airnya, sedangkan pemiliknya tidak mau memberinya minum, maka hal itu merupakan pahala-pahala kebaikan bagi pemiliknya.
Semuanya itu mendatangkan pahala bagi pemiliknya.
Dan seorang lelaki yang menambatkannya untuk keperluan mencari kecukupan (nafkah) dan memelihara harga diri (agar tidak meminta-minta), tanpa melupakan hak Allah yang ada pada leher dan punggungnya, maka hal itu merupakan penutup bagi (keperluannya).
Dan seorang lelaki yang menambatkannya untuk kebanggaan, pamer, dan kesombongan, maka kuda itu mendatangkan dosa bagi pemiliknya.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai keledai, maka beliau ﷺ bersabda: Tidak ada sesuatu pun yang diturunkan kepadaku mengenainya kecuali ayat yang bermakna menyeluruh lagi menyendiri ini, yaitu firman-Nya, "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(Az-Zalzalah: 7-8)

Hadis riwayat Imam Bukhari, dan teks hadis ini berdasarkan yang ada padanya, begitu pula Imam Muslim, ia telah meriwayatkannya, kedua-duanya melalui hadis Malik.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ar-Rakin ibnur Rabi', dari Al-Qasim ibnu Hissan, dari Abdullah ibnu Mas'ud, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Kuda itu ada tiga macam, yaitu kuda bagi Tuhan Yang Maha Pemurah, kuda bagi setan, dan kuda bagi manusia.
Adapun kuda yang bagi Tuhan Yang Maha Pemurah ialah kuda yang ditambat­kan untuk persiapan berjihad di jalan Allah, makanannya, kotoran­nya, dan air seninya-—dan disebutkan pula hal lainnya menurut apa yang dikehendaki Allah—.
Adapun kuda yang bagi setan adalah kuda yang dipakai oleh pemiliknya untuk berjudi dan taruhan Dan kuda yang bagi manusia ialah kuda yang oleh pemiliknya untuk mencari nafkah bagi pemiliknya maka kuda itu merupakan penutup bagi pemiliknya dari kefakiran.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa memanah lebih baik daripada berkuda.
Sedangkan menurut Imam Malik, berkuda lebih baik daripada memanah.
Tetapi pendapat jumhur ulama (pendapat pertama) lebih kuat karena ada hadis yang mendukungnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajaj dan Hisyam.
Mereka berdua mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Habib, dari Ibnu Syamamah.
bahwa Mu'awiyah ibnu Khadij bersua dengan Abu Zar yang sedang berdiri di dekat seekor kuda miliknya.
Lalu Mu’awiyah bertanya kepadanya “Apakah yang diderita oleh kudamu ini?"
Abu Zar menjawab.”Sesungguhnya aku menduga bahwa kuda ini telah diperkenankan doanya." Mu'awiyah bertanya, "Apakah binatang itu dapat berdoa?"
Abu Zar menjawab.”Demi Tuhan yang jiwaku ber­ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya.
tidak ada seekor kuda pun melainkan berdoa di setiap waktu sahur," yang bunyinya seperti berikut:

Ya Allah, Engkau telah menyerahkan diriku untuk melayani seseorang di antara hamba-hamba-Mu, dan Engkau menjadikan rezekiku ada di tangannya, maka jadikanlah aku sesuatu yang lebih disukai olehnya daripada keluarganya, harta bendanya, dan anaknya.

Imam Ahmad mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Said dari Abdul Hamid ibnu Abu Ja'far, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Habib, dari Suwaid ibnu Qais, dari Mu'awiyah ibnu khadij dari Abu Zar r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya tidak ada seekor kuda Arab pun melainkan diizinkan baginya di setiap fajar untuk mengucapkan doa-doa, yaitu: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau serahkan diriku untuk melayani seseorang dari kalangan Bani Adam yang Engkau kehendaki untuk aku layani, maka jadikanlah diriku sesuatu yang lebih disukainya daripada keluarganya dan harta bendanya —atau sebagai milik dan harta benda yang paling disukainya—.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Yahya Al-Qattar dengan lafaz yang sama.

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibni Ishaq At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Al-Muf im ibnul Miqdam As-San'ani, dari Al-Hasan ibnu Abul Hasan, bahwa ia pernah mengata­kan kepada Ibnul Hanzaliyah (yakni Sahlan) bahwa dia telah mencerita­kan kepada kami suatu hadis yang ia dengar dari Rasulullah ﷺ.
bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya sampai hari kiamat, pemiliknya sangat memperhatikannya.
Barang siapa yang menambatkan seekor kuda untuk berjihad di jalan Allah, maka nafkah yang diberikan kepada kudanya itu sama halnya dengan seseorang yang mengulurkan tangannya memberi sedekah tanpa henti-hentinya.

Hadis-hadis yang menceritakan keutamaan menambatkan kuda untuk berjihad di jalan Allah cukup banyak.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Urwah ibnu Abul Ja'd Al-Bariqi, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kuda itu terikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya sampai hari kiamat, yaitu pahala dan ganimah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

(yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.
(Al Anfaal:60) .

Yakni untuk membuat gentar orang-orang kafir yang menjadi musuh Allah dan musuh kalian.

dan orang-orang selain mereka.
(Al Anfaal:60)

Menurut Mujahid makna yang dimaksud ialah orang-orang Bani Quraizah, sedangkan menurut As-Saddi ialah orang-orang Persia.
Sufyan As-Sauri mengatakan, Ibnu Yaman mengatakan bahwa mereka adalah setan-setan yang berada di dalam rumah-rumah, dan telah disebutkan oleh sebuah hadis hal yang semakna dengan pendapat ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Atabah (yakni Ahmad ibnul Faraj Al-Himsi), telah menceritakan kepada kami Abu Haiwah (yakni Syuraih ibnu Yazin Al-Muqri), telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sinan, dari Ibnu Garib (yakni Yazid ibnu Abdullah ibnu Garib), dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya.
(Al An'am:60) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah makhluk jin.

Imam Tabrani meriwayatkannya dari Ibrahim ibnu Dahim, dari ayahnya (yaitu Muhammad ibnu Syu'aib), dari Sinan ibnu Sa'id ibnu Sinan, dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Garib dengan lafaz yang sama.

Ditambahkan pula bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

"Tidak akan diganggu setan suatu rumah yang di dalamnya terdapat seekor kuda yang dipelihara."

Hadis ini munkar, sanad dan matannya tidak sahih.

Muqatil ibnu Hayyyan dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik.
Pendapat ini lebih mendekati kebenaran dan diperkuat dengan adanya firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekeliling kalian itu ada orang-orang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah.
Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.
Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, Kami yang mengetahui mereka.
(At Taubah:101)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian, dan kalian tidak akan dianiaya.
(Al Anfaal:60)

Artinya, berapa pun pembelanjaan yang kalian keluarkan dalam jihad, maka pahalanya akan dibalas secara penuh dan sempurna kepada kalian.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud disebutkan bahwa dirham (mata uang) yang dibelanjakan di jalan Allah dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh ratus kali lipat .
Hal ini diterangkan di dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

'Perumpamaan (pembelanjaan yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Al Baqarah:261)

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 60 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.5
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending








[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku