QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 88 [QS. 21:88]

فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
Faastajabnaa lahu wanajjainaahu minal ghammi wakadzalika nunjiil mu’miniin(a);

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan.
Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.
―QS. 21:88
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Perumpamaan amal orang kafir
21:88, 21 88, 21-88, Al Anbiyaa 88, AlAnbiyaa 88, Al-Anbya 88, Al Anbiya 88, Alanbiya 88, Al-Anbiya’ 88

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 88

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 88. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengabulkan doa Nabi Yunus, lalu diselamatkannya dari rasa duka yang amat sangat.
Duka karena rasa bersalah, duka karena keingkaran umatnya, dan duka karena malapetaka yang menimpa dirinya.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa demikianlah Dia menyelamatkan mereka dari azab duniawi dan mengaruniakan mereka kebahagiaan ukhrawi.
Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya pada ayat yang lain:

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya.
selain kaum Yunus ?
Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.

(Q.S. Yunus [10]: 98)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu Kami pun mengabulkan permohonannya dan menyelamatkannya dari kesusahan yang sedang ia alami.
Dengan cara penyelamatan seperti itu, Kami juga akan menyelamatkan orang-orang Mukmin yang mengakui kesalahan dan ikhlas berdoa kepada Kami.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan) disebabkan kalimat-kalimat tersebut.

(Dan demikianlah) sebagaimana Kami menyelamatkan dia (Kami selamatkan orang-orang yang beriman) daripada malapetaka yang menimpa mereka, jika mereka meminta tolong kepada Kami seraya berdoa.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami membebaskannya daripada duka kesusahan ini.
Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang membenarkan lagi mengamalkan syariat Kami.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kisah mengenai Nabi Yunus ini disebutkan di dalam surat ini, juga di dalam surat Ash-Shaffat dan surat Nun.
Yunus ibnu Mata ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada penduduk kota Nainawi, yaitu suatu kota besar yang terletak di negeri Mausul.
Yunus menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam di dalam kekafirannya.
Maka Yunus pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari lagi akan datang azab dari Allah.

Setelah mereka melihat tanda-tanda datangnya azab itu dan mereka mengetahui bahwa nabi mereka tidak dusta dalam ancamannya, maka mereka keluar menuju ke padang sahara bersama anak-anak mereka dengan membawa ternak unta dan ternak lainnya milik mereka yang mereka pisahkan antara induk dan anaknya.

Kemudian mereka memohon kepada Allah dengan merendahkan diri, dan menyeru-Nya untuk meminta pertolongan, semua ternak unta dan anak-anaknya mengeluarkan suara lenguhan, begitu pula sapi dan anak-anaknya, dan juga kambing dan anak-anaknya.
Akhirnya Allah tidak jadi menurunkan azab kepada mereka.
Kisah ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus?
Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.
(Q.S. Yunus [10]: 98)

Sesudah itu Yunus ‘alaihis salam pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki perahu bersama suatu kaum.
Di tengah laut, perahu oleng, mereka merasa takut akan tenggelam (karena keberatan penumpang).
Maka mereka mengadakan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang bakal dilemparkan ke dalam laut untuk meringankan beban muatan perahu.
Akhirnya undian jatuh ke tangan Yunus, tetapi mereka menolak, tidak mau melemparkannya.
Lalu dilakukan undian lagi, ternyata kali itu undian jatuh ke tangan Yunus lagi.
Mereka menolak, lalu mengadakan undian lagi.
Ternyata undian jatuh ke tangan Yunus juga.
Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
(Q.S. As-Saffat [37]: 141)

Yakni undian jatuh ke tangannya.
Maka Yunus ‘alaihis salam melucuti pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam laut.
Saat itu Allah telah memerintahkan kepada ikan paus dari laut hijau —menurut apa yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud— membelah lautan dan sampai di tempat Yunus, lalu menelannya saat Yunus menceburkan diri ke laut.
Allah telah memerintah­kan kepada ikan paus itu, “Janganlah kamu memakan secuil pun dari dagingnya, jangan pula mematahkan tulangnya, karena sesungguhnya Yunus itu bukanlah rezeki makananmu, melainkan perutmu Aku jadikan sebagai penjara buatnya.”

Zun Nun adalah nama ikan paus itu menurut riwayat yang sahih, lalu dikaitkan dengan nama Nabi Yunus karena ia ditelan olehnya.
Makna harfiyahnya ialah orang yang mempunyai ikan besar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…ketika ia pergi dalam keadaan marah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.

Yaitu Kami keluarkan dia dari dalam perut ikan dan dari kegelapannya.

Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Yakni apabila mereka berada dalam kesengsaraan, lalu berdoa kepada Kami seraya bertobat, terlebih lagi jika mereka mengucapkan doa yang disebutkan dalam ayat ini saat mendapat musibah.
Di dalam hadis Nabi ﷺ telah disebutkan anjuran untuk* membaca doa ini di saat tertimpa musibah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Umair, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abu Ishaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Sa’d, telah menceritakan kepadaku ayahku, (yaitu Muhammad), dari ayahnya (yaitu Sa’d ibnu Abu Waqqas r.a.) yang mengatakan, bahwa ia berdua dengan Usman ibnu Affan di dalam masjid, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, tetapi Usman hanya memelototkan mata ke arahnya tanpa menjawab salamnya.
Sa’d ibnu Abu Waqqas melanjutkan kisahnya, “Lalu saya pergi menghadap kepada Umar ibnul Khattab dan berkata kepadanya sebanyak dua kali, ‘Hai Amirul Mu’minin, apakah telah terjadi sesuatu dalam Islam?’ Umar menjawab, ‘Tidak.
Lalu mengapa?’ Saya berkata, ‘Tidak, hanya saya ketika melewati Usman tadi di masjid, saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi ia hanya memelototi diriku dan tidak menjawab salamku.
Maka Khalifah Umar mengundang sahabat Usman, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah yang menyebabkan kamu tidak mau menjawab salam saudaramu?’ Usman berkata, saya tidak merasa.’ Sa’d berkata, ‘Tidak, kamu benar melakukannya.’ Akhirnya Usman bersumpah dan saya pun bersumpah pula”.
Sa’d ibnu Abu Waqqas melanjutkan kisahnya, “Setelah itu Usman teringat akan keadaan dirinya, lalu ia mengatakan bahwa memang benar, seraya beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.
Ia mengatakan, ‘Memang kamu tadi lewat di hadapanku, saat itu aku sedang mengingat-ingat suatu kalimat yang pernah saya dengar dari Rasulullah ﷺ, tetapi demi Allah, tidak sekali-kali saya mengingatnya, melainkan mata dan hatiku seakan-akan tertutup oleh tabir penutup.” Sa’d berkata, “Aku akan menceritakan kepadamu tentang kalimat itu.
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika sedang menceritakan kepada kami tentang permulaan doa (yang diucapkan oleh Yunus), tiba-tiba datanglah seorang Badui yang membuatnya sibuk melayaninya.
Setelah itu Rasulullah ﷺ bangkit berdiri dan pergi, maka saya mengikutinya.
Ketika saya merasa khawatir beliau ﷺ terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya, maka saya pukulkan kakiku ke tanah.
Rasulullah ﷺ menoleh ke arahku dan bertanya, “Siapakah orang ini?
Bukankah kamu Abu Ishaq?’ Saya menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Rasululllah ﷺ bersabda, ‘Ada apa perlumu?’ Saya menjawab, ‘Tidak demi Allah, saya hanya mengingatkan, bahwa engkau tadi menceritakan kepada kami tentang permulaan doa (yang diucapkan oleh Yunus), kemudian datanglah seorang Badui yang membuat engkau sibuk.’ Rasulullah ﷺ menjawab,

‘Benar, doa itu adalah doa yang diucapkan oleh Zun Nun ketika ia berada di dalam perut ikan paus, yaitu firman-Nya: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’ (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 87) Sesungguhnya tiada seorang muslim pun berdoa kepada Tuhannya dengan menyebut kalimat ini untuk memohon sesuatu, melainkan Allah akan memperkenankannya.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar dari Kasir ibnu Zaid dari Al-Mutallib ibnu Hantab, menurut Abu Khalid, dia menerimanya dari Mus’ab ibnu Sa’d, dari Sa’d yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ Pernah bersabda: Barang siapa yang berdoa dengan doanya Nabi Yunus, pasti diperkenankan baginya.
Abu Sa’id mengatakan bahwa demikianlah yang dimaksud oleh firman-Nya:

Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya, dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya.
Bukankah kamu telah mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan, ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap.
Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.
Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 87-88).
Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Daud ibnul Muhabbar ibnu Muhazzam Al-Maqdisi, dari Kasir ibnu Ma’bad, bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan, “Hai Abu Sa’id, apakah asma Allah yang paling agung, yang bila disebut di dalam doa, Dia pasti memperkenankannya, dan bila diminta, pasti memberi?”
Al-Hasan menjawab,”Hai anak saudaraku, bukankah kamu telah membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah’ (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 87) sampai dengan firman-Nya:

‘Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’

Hai anak saudaraku, itulah asma Allah yang teragung, yang apabila disebutkan di dalam doa pasti Dia memperkenankannya, dan apabila diminta, pasti memberi.”


Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 88 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 88 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 88 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:88
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.6
Ratingmu: 4.4 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta