Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Anbiyaa

Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) surah 21 ayat 87


وَ ذَاالنُّوۡنِ اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ کُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ
Wadzaannuuni idz dzahaba mughaadhiban fazhanna an lan naqdira ‘alaihi fanaada fiizh-zhulumaati an laa ilaha ilaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin(a);

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:
“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.
―QS. 21:87
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
21:87, 21 87, 21-87, Al Anbiyaa 87, AlAnbiyaa 87, Al-Anbya 87, Al Anbiya 87, Alanbiya 87, Al-Anbiya’ 87
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 87. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya, kepada kisah Nabi Yunus, yang pada permulaan ayat ini disebutkan dengan nama "Zun Nun".

Zu berarti "yang mempunyai",
sedang An Nun berarti "ikan paus".
Maka Zun An Nun berarti "Yang empunya ikan paus".
Ia dinamakan demikian, karena pada suatu ketika ia pernah dijatuhkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan paus.
Kemudian, karena pertolongan Allah, maka ia dapat keluar dari perut ikan tersebut dengan selamat dan dalam keadaan utuh.

Dalam ayat ini, mula-mula Allah berfirman, "Dan ingatlah kisah Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah.
Yang dimaksudkan ialah bahwa pada suatu ketika Nabi Yunus sangat marah kepada kaumnya, karena mereka tidak juga beriman kepada Allah.
Ia telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya untuk menyampaikan seruan kepada umatnya, untuk mengajak mereka kepada agama Allah.
Tetapi sedemikian jauh, hanya sedikit saja di antara mereka itu yang beriman, sedang sebagian besar lainnya tetap saja ingkar dan durhaka.
Keadaan yang demikian itu menjadikan ia marah, lalu ia pergi ke tepi laut, menjauhkan diri dari kaumnya.

Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya.
Akan tetapi memang demikianlah keadaannya; ia termasuk Nabi-nabi yang sempit dada.
Memang dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut "Ulul Azmi",
yaitu Rasul-rasul yang amat sabar dan ulet.
Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dam Muhammad ﷺ.
Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka maksum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, namun pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Akan tetapi, walaupun Nabi Yunus pada suatu ketika marah kepada kaumnya, namun kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia akhirat dengan menerima dan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka.
Tetapi ternyata sebagian besar diri mereka itu tetap ingkar dan durhaka.
Inilah yang menyakitkan hatinya, dan mengobarkan kemarahannya.

Nabi Muhammad sendiri, walaupun sudah termasuk ulul azmi, namun Allah beberapa kali memberikan peringatan kepada beliau agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar.
Allah berfirman dalam ayat yang lain:

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan.
(Q.S Al Qalam: 48)

Firman-Nya lagi kepada Nabi Muhammad ﷺ:

Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit karenanya dadamu.
(Q.S Hud: 12)

Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang jahat, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah berfirman, "Maka Yunus mengira bahwa Kami tidak akan membiarkan timbulnya kesulitan baginya".
Ini merupakan kritikan Allah terhadap Nabi Yunus.
Kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa dia sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan-Nya menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu datar dan rata.

Akan tetapi dalam kenyataan bukan demikian.
Pada umumnya para Rasul dan Nabi Allah banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar.
Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah subhanahu wa ta'ala mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan.

Menurut riwayat, ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai.
Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ja ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram.
Di kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu mungkin akan tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi.
Maka nahkoda perahu itu berkata, "Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua".
Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu.
Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan.
Akan tetapi, penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari perahu itu.
Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian.
Bahkan undian yang ketiga kalinyapun demikian pula.
Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri.
Allah mengirim seekor ikan paus yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus.

Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam "kegelapan berganda",
maka ia berdoa kepada Allah, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnyalah aku termasuk orang-orang yang zalim".

Yang dimaksud dengan "kegelapan berganda" di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap pula.

Dan pengakuan Nabi Yunus bahwa dia "termasuk golongan orang-orang yang zalim",
berarti kesadarannya atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya Seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu.

Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.

Al Anbiyaa (21) ayat 87 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anbiyaa (21) ayat 87 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anbiyaa (21) ayat 87 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebutkan pula kisah tentang Yunus, tokoh utama peristiwa ikan paus.
Suatu ketika ia merasa sesak dada karena kaumnya berpaling dari seruan yang ia sampaikan, hingga menyebabkannya marah dan pergi meninggalkan mereka.
Dia menyangka bahwa Allah memperkenankan untuk melakukan hal itu dan tidak akan menghukumnya.
Kemudian ia pun ditelan ikan paus dan hidup di dalam perutnya dalam kegelapan laut.
Hingga, ketika ia mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, ia pun memanjatkan doa kepada Allah seraya berkata, "Wahai Tuhanku, tidak ada sembahan yang sebenarnya kecuali Engkau.
Aku menyucikan-Mu dari sesuatu yang tidak pantas bagi diri-Mu.
Aku mengaku telah menganiaya diriku dengan melakukan hal-hal yang tidak membuat-Mu berkenan."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah kisah (Dzun Nun) yaitu orang yang mempunyai ikan yang besar, dia adalah Nabi Yunus bin Mataa.
Kemudian dijelaskan kalimat Dzun Nun ini oleh Badalnya pada ayat selanjutnya, yaitu (ketika ia pergi dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, disebabkan perlakuan kaumnya yang menyakitkan dirinya, sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menjangkaunya) menghukumnya sesuai dengan apa yang telah Kami pastikan baginya, yaitu menahannya di dalam perut ikan paus, atau menyulitkan dirinya disebabkan hal tersebut (maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita) gelapnya malam dan gelapnya laut serta gelapnya suasana dalam perut ikan paus ("bahwa) asal kata An adalah Bi-an, artinya, bahwasanya (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim") karena pergi dari kaumku tanpa seizin Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah kisah orang yang pernah ditelan ikan besar, yaitu Yunus bin Matta.
Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk menyeru mereka, tetapi mereka tidak beriman.
Kemudian ia memberikan ancaman kepada mereka dengan adzab, tetapi mereka tidak bertaubat.
Ia tidak bersabar terhadap mereka, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya, dan ia pergi dari mereka dalam keadaan marah terhadap mereka, sesak dadanya karena kedurhakaan mereka.
Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyulitkannya dan tidak akan menghukumnya akibat menyelisihi perintah-Nya.
Ternyata Allah mengujinya dengan kesulitan dan penahanan sedemikian rupa, serta ditelan ikan besar di laut.
Ia pun menyeru Rabbnya dalam kegelapan malam,lautan, dan perut ikan, dalam keadaan bertaubat lagi mengakui kezhalimannya; karena ia tidak bisa bersabar menghadapi kaumnya, dengan berucap :
Tidak ada Illah yang berhak disembah kecuali Engkau.
Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Menurut Ad-Dahhak, Yunus marah terhadap kaumnya.

...lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).

Maksudnya, tidak akan mempersempitnya dengan dimasukkan ke dalam perut ikan besar.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia menentukan pilihannya ini berdasarkan dalil firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
(Ath Thalaaq:7)

Atiyyah Al-Aufi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).
Yaitu memutuskan ketetapan takdir baginya.
Seakan-akan Atiyyah menganggap lafaz naqdira ini bermakna takdir.
Karena sesungguhnya orang-orang Arab mengatakan qadara dan qaddara dengan makna yang sama.

Termasuk ke dalam pengertian takdir ini, firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditakdirkan.
(Al Qamar:12)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.
Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

Ibnu Mas'ud r.a.
mengatakan bahwa zulumat bentuk jamak, maksudnya gelapnya perut ikan paus, gelapnya lautan, dan gelapnya malam hari.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Amr ibnu Maimun, Sa'id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka'b, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah.
Salim ibnu Abul Ja'd mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah gelapnya keadaan di dalam perut ikan besar dan gelapnya laut.

Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas serta lain-lainnya mengatakan ikan paus itu membawa Yunus menyelam hingga sampai di dasar laut, lalu Yunus mendengar suara tasbih batu-batu kerikil di dasar laut.
Maka pada saat itu juga Yunus mengucapkan:

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.
Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

Auf Al-A'rabi mengatakan bahwa ketika Yunus telah berada di dalam perut ikan besar, ia menduga dirinya telah mati.
Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya, ternyata bergerak, lalu ia bersujud di tempatnya, dan menyeru Tuhannya, "Wahai Tuhanku, saya jadikan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia ini tempat bersujud kepada Engkau."

Sa'id ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Yunus tinggal di dalam perut ikan besar selama empat puluh hari.
Kedua riwayat di atas dikemukakan oleh Ibnu Jubair.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah menceritakan kisah berikut yang ia terima dari orang yang menceritakan kisah ini kepadanya dari Abdullah ibnu Rafi' maula Ummu Salamah yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Ketika Allah hendak menyekap Yunus di dalam perut ikan besar, Allah memerintahkan kepada ikan besar untuk menelannya, tetapi tidak boleh melukai dagingnya dan tidak boleh pula meremukkan tulangnya.
Setelah ikan besar sampai di dasar laut, sedangkan di perutnya terdapat Yunus, Yunus mendengar suara, maka Yunus berkala dalam hatinya, "Suara apakah ini?” Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, sedangkan ia berada di dalam perut ikan, bahwa suara itu adalah suara tasbih hewan-hewan laut.
Maka Yunus pun bertasbih pula dalam perut ikan besar itu, suara tasbihnya terdengar oleh para malaikat.
Maka mereka bertanya, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar suara (tasbih) yang lemah di kedalaman yang jauh sekali lagi terpencil.” Allah berfirman, "Itu adalah suara hamba-Ku, Yunus.
Dia durhaka kepada-Ku, maka Aku sekap dia di dalam perut ikan di laut.” Para malaikat bertanya, "Dia adalah seorang hamba yang saleh, setiap malam dan siang hari dilaporkan ke hadapan­Mu amal saleh darinya.” Allah berfirman, "Ya, benar.” Maka pada saat itu para malaikat memohon syafaat buat Yunus, akhirnya Allah memerintahkan kepada ikan besar itu untuk mengeluarkan Yunus, lalu ikan besar melemparkannya ke tepi pantai, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya, "Sedangkan ia dalam keadaan sakit." (Ash Shaaffat:145)

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, juga oleh Al-Bazzar di dalam kitab Musnadnya melalui jalur Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Rafi', dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hal yang semisal, kemudian ia menyebutkan bahwa kami tidak mengetahui hadis ini bersumber dari Nabi ﷺ kecuali melalui jalur sanad ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Ahmad ibnu Abdur Rahman (anak saudara lelaki Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik —yang menurut keyakinanku Anas tiada lain menerimanya dari Rasulullah ﷺ—menceritakan kisah berikut, "Bahwa Yunus 'alaihis salam ketika mulai memanjatkan doa berikut di dalam perut ikan, yaitu, "Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.'" Maka doanya itu naik sampai di bawah 'Arasy, maka para malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, ada suara lemah yang telah dikenal bersumber dari negeri yang terasing." Allah berfirman, "Tidakkah kalian ketahui suara itu?"
Mereka bertanya, "Tidak, wahai Tuhanku, siapakah dia?"
Allah berfirman, "Dia adalah hamba-Ku Yunus." Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus yang sampai sekarang masih tetap dilaporkan ke hadapan-Mu amalnya yang diterima dan doanya diperkenankan." Mereka berkata pula, "Wahai Tuhan kami, tidakkah Engkau merahmatinya berkat amal yang dikerjakannya di saat dia senang, karenanya Engkau selamatkan dia di saat mendapat cobaan?"
Allah berfirman, "Baiklah," maka Allah memerintahkan kepada ikan besar itu agar memuntahkannya ke daerah yang tandus.

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur'an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari Al Qur'an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya'juj dan Ma'uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.


Gambar Kutipan Surah Al Anbiyaa Ayat 87 *beta

Surah Al Anbiyaa Ayat 87



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anbiyaa

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (15 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ al anbiya ayat 42 beserta artinya, Artinya Qs: 21:87, surah al anbya ayat 87