Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anbiyaa

Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) surah 21 ayat 7


وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا قَبۡلَکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ فَسۡـَٔلُوۡۤا اَہۡلَ الذِّکۡرِ اِنۡ کُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
Wamaa arsalnaa qablaka ilaa rijaaalan nuuhii ilaihim faasaluu ahladz-dzikri in kuntum laa ta’lamuun(a);

Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
―QS. 21:7
Topik ▪ Azab orang kafir
21:7, 21 7, 21-7, Al Anbiyaa 7, AlAnbiyaa 7, Al-Anbya 7, Al Anbiya 7, Alanbiya 7, Al-Anbiya’ 7
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat yang lalu Allah subhanahu wa ta'ala telah menegaskan bahwa kaum musyrikin itu tidak juga akan beriman, walaupun permintaan mereka mendatangkan mukjizat yang lain dari Alquran itu dipenuhi Maka.
dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan pula bahwa sebenarnya tidaklah ada alasan bagi kaum musyrikin Mekah itu untuk mengingkari bahwa Rasul-rasul Allah adalah manusia biasa, sebab semua rasul-rasul yang diutus-Nya sebelum Nabi Muhammad semuanya adalah manusia-manusia yang telah diberi-Nya wahyu.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan lagi bahwa kalau mereka tidak mengetahui bahwa para Rasul yang diutus Allah adalah manusia bukan malaikat, mereka boleh bertanya kepada orang-orang yang mengetahui baik dari kalangan kaum yahudi maupun Nasrani, sebab mereka itu mengetahui masalah tersebut dan tidak pernah mengingkarinya.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh Nabi Muhamniad mengatakan kepada kaum musyrikin itu bahwa dia adalah manusia.
Berfirman Allah:

Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku; "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa".
(Q.S Al Kahfi: 110)

Jadi Nabi Muhammad bukanlah terkecuali dari para Rasul yang sebelumnya.

Al Anbiyaa (21) ayat 7 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anbiyaa (21) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anbiyaa (21) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang Kami utus sebagai rasul sebelummu, Muhammad, hanyalah orang laki-laki biasa yang kemudian Kami berikan wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia.
Cobalah kalian bertanya, wahai orang-orang yang ingkar, kepada orang-orang yang tahu tentang kitab-kitab suci samawi, jika kalian tidak tahu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu) menurut qiraat yang lain lafal Nuuhii dibaca Yuuhaa (kepada mereka) mereka bukanlah malaikat (maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu) yakni ulama yang mengetahui kitab Taurat dan kitab Injil (jika kalian tidak mengetahui) hal tersebut, sesungguhnya mereka mengetahuinya, mengingat kepercayaan kalian kepada ulama kitab Taurat dan Injil lebih kuat daripada kepercayaan kaum Mukminin kepada Muhammad.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu, wahai Rasul, melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.
Dan Kami tidak mengutus para malaikat.
Tanyakanlah, wahai orang-orang kafir Makkah, kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, jika kalian tidak mengetahui hal itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman menjawab orang-orang yang mengingkari rasul dari kalangan manusia:

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.

Yakni semua rasul yang terdahulu terdiri atas manusia laki-laki, tiada seorang pun di antara mereka dari kalangan malaikat.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan seorang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.
(Yusuf:109)

Katakanlah : "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al Ahqaaf:9)

Dan firman Alah subhanahu wa ta'ala menceritakan perihal umat-umat terdahulu yang mengingkari hal ini melalui ucapan mereka yang disitir oleh firman-Nya:

Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?
(Ath Taghabun:6)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.

Maksudnya, tanyakanlah kepada ahlul ilmi dari kalangan umat-umat terdahulu —seperti kaum Yahudi dan kaum Nasrani dan semua pemeluk agama terdahulu— apakah rasul-rasul yang datang kepada mereka itu manusia atau malaikat?
Jawaban mereka tentu saja tiada lain adalah manusia.
Hal ini merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang sempurna kepada makhluk-Nya, karena Dia mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka dari kalangan mereka sendiri, sehingga para rasul itu dapat menyampaikan kepada mereka dan mereka dapat menerima dari para rasul.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 7

AHLADZ DZIKR
أَهْلَ ٱلذِّكْر

Lafaz ini mengandung dua kata yaitu ahl dan adz-dzikr. Ahl bermakna keluarga dan kerabat, jamaknya ialah ahlun, ahal, ahal, ahlat.

Apabila lafaz ahl disandarkan kepada ar rajul bermaksud isterinya.

Apabila disandarkan kepada ad dar, maknanya ialah penghuni.

Apabila disandarkan kepada al amr, maknanya para penguasa.

Apabila disandarkan pula kepada al madzhab artinya adalah penganutnya.

Ahl juga bermakna orang yang mahir atau mempunyai pengetahuan yang mendalam dalam suatu bidang atau pakar dalam bidang berkenaan.

Apabila disandarkan kepada as sunnah, maksudnya umat Islam yang mengikuti ajaran hadis Nabi Muhammad.

Sedangkan adz dzikr adalah lawan dari lafaz an nisyan yang bermakna lupa.

Ia juga bermakna kemasyhuran dan pujian, kehormatan dan kemuliaan. Contohnya dalam ayat Allah, wal qur'aani dzi dzikr artinya "Demi Al Qur'an yang mempunyai kemuliaan."

Adz-dzikr juga bermakna shalat dan doa karena Allah. Adz dzikr dari ar-rajul maksudnya pemuda yang gagah berani. Apabila ia dikaitkan dengan al mayyit atau dzikr al mayyit berarti namanya tetap menjadi sebutan manusia setelah kematiannya. Adz dzikr dari perkataan (minal-qawl) maksudnya perkataan yang berisi dan padat. Apabila dikaitkan dengan hujan atau dzikral matar artinya hujan lebat.

Ungkapan ahladz dzikr disebut dua kali dalam Al Qur'an, yaitu pada surah:
-An Nahl (16), ayat 43;
-Al Anbiyaa (21), ayat 7.

An Nasafi berpendapat, makna ahladz­ dzikr dalam surah An Nahl ialah Ahli Kitab, yaitu orang Yahudi dan Nasrani dan ulama-ulamanya. Kata ini disebut dalam ayat ini untuk mengingatkan orang Arab, Allah tidak mengutus kepada umat-umat terdahulu kecuali dalam kalangan manusia juga.

Al Fayruz Abadi menukilkan tafsiran dari Ibn Abbas tentang ahladz dzikr dalam ayat itu bermaksud ahli Injil dan Taurat.

Al Khazin menafsirkan ayat itu dengan "mereka yang berbangsa Arab diperintahkan bertanya kepada Ahli Kitab, karena orang kafir Makkah berkeyakinan Ahli Kitab adalah orang yang berpengetahuan dan diutus kepada mereka para rasul, antaranya Musa, 'Isa dan lainnya. Mereka adalah manusia biasa juga seperti mereka. Sekiranya mereka bertanya kepada Ahli Kitab itu, mereka pasti mengkhabarkan para rasul yang dikirim kepada mereka adalah manusia juga. Sekiranya mereka mengkhabarkan hal itu, hilanglah segala keraguan di dalam hati mereka."

Ibn Katsir menafsirkan ahladz dzikr pada surah Al Anbiyaa dengan ahlal 'ilm atau orang yang berpengetahuan dari kalangan umat terdahulu, seperti Yahudi dan Nasrani dan semua golongan. Adakah rasul yang dikirim kepada mereka manusia atau malaikat? Sudah tentu mereka adalah manusia.

Begitu juga dengan pendapat Fakhr Ad Din Ar Razi, Menurutnya, ahladz­ dzikr ialah Ahli Kitab. Maka, makna ahladz­ dzkir dalam ayat Al Qur'an adalah ulama Ahli Kitab dari golongan Yahudi dan Nasrani.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:28

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur'an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari Al Qur'an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya'juj dan Ma'uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.


Gambar Kutipan Surah Al Anbiyaa Ayat 7 *beta

Surah Al Anbiyaa Ayat 7



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anbiyaa

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku