QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 68 [QS. 21:68]

قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ
Qaaluuu harriquuhu waanshuruu aalihatakum in kuntum faa’iliin(a);

Mereka berkata:
“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.
―QS. 21:68
Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Aisyah binti al Siddiq
21:68, 21 68, 21-68, Al Anbiyaa 68, AlAnbiyaa 68, Al-Anbya 68, Al Anbiya 68, Alanbiya 68, Al-Anbiya’ 68

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 68

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 68. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan, bahwa setelah mereka itu kehabisan akal dan hujah untuk menjawab ucapan Ibrahim, dan marah mereka sudah memuncak, maka mereka berkata kepada sesama mereka, “Bakarlah dia, dan belalah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar ingin bertindak”.

Dengan demikian mereka memutuskan untuk membinasakan Ibrahim, dan tindakan itu mereka pandang sebagai cara yang terbaik untuk membela kehormatan tuhan-tuhan mereka, dan untuk melenyapkan rintangan terhadap mereka dalam menyembah patung-patung.
Dan mereka memilih cara yang paling kejam untuk membinasakan Ibrahim, yaitu dengan membakarnya dalam sebuah api unggun.
Dengan demikianlah Ibrahim dapat dilenyapkan, agar mereka dapat mencapai kemenangan untuk diri dan tuhan-tuhan mereka

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Terjadilah pembicaraan di antara sesama mereka.
Ada yang mengatakan, “Bakar saja dia dengan api.
Jadikan hal itu sebagai wujud pembelaan kalian kepada tuhan, bila kalian benar-benar ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong tuhan kalian!”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka berkata, “Bakarlah dia) yakni Nabi Ibrahim (dan bantulah tuhan-tuhan kalian) dengan membakar Ibrahim (jika kalian benar-benar hendak bertindak”) untuk menolong tuhan-tuhan kalian.

Mereka segera mengumpulkan kayu-kayu yang banyak sekali, lalu mereka menyalakannya.

Mereka mengikat Nabi Ibrahim, kemudian menaruhnya pada Manjaniq atau alat pelontar yang besar, lalu Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api yang besar itu.

Allah berfirman:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tatkala bantahan mereka mentah dan kebenaran menjadi jelas, maka mereka beralih menggunakan kekuasaan mereka seraya mengatakan :
Bakarlah Ibrahim dengan api; sebagai bentuk kemarahan untuk membela sembahan-sembahan kalian, jika kalian menolongnya.
Nyalakan api yang besar dan lemparkanlah ia ke dalam kobarannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Nabi Ibrahim mematahkan hujah kaumnya, menjelaskan kelemahan mereka, serta menampakkan kebenaran dan menghapuskan kebatilan, maka mereka beralih membalasnya dengan menggunakan kekuasaan raja mereka, lalu mereka berkata:

Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.

Kemudian mereka mengumpulkan kayu bakar yang banyak sekali.

As-Saddi menceritakan, sampai-sampai ada seorang wanita yang sakit, lalu ia bernazar bahwa jika ia sembuh dari penyakitnya, ia akan membawakan kayu bakar itu buat membakar Nabi Ibrahim.

Kayu-kayu bakar itu kemudian dikumpulkan di tanah yang legok dan mereka menyalakannya dengan api sehingga terjadilah api yang sangat besar yang belum pernah ada api sebesar itu.
Nyala api itu mengeluarkan percikan-percikan yang sangat besar, dan nyalanya sangat tinggi.
Ibrahim dimasukkan ke dalam sebuah alat pelontar batu besar atas saran seorang Badui dari kalangan penduduk negeri Persia berbangsa Kurdi.
Menurut Syu’aib Al-Jiba’i, nama lelaki itu adalah Haizan, maka Allah membenamkannya ke dalam bumi, dan ia tenggelam terus ke dalam bumi sampai hari kiamat.

Setelah mereka melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam nyala api itu, Nabi Ibrahim mengucapkan, “Cukuplah Allah bagiku, Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”

Seperti yang disebutkan di dalam riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari melalui Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, “Cukuplah Allah bagiku, Dia adalah sebaik-baik Pelindung,” “Kalimat inilah yang diucapkan oleh Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam nyala api, juga kalimat yang diucapkan oleh Muhammad ﷺ ketika mereka mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir Mekah telah menghimpun bala tentara bersekutu untuk menyerang kalian, maka takutlah kalian kepada mereka.” Tetapi iman kaum mukmin bertambah tebal, dan mereka mengatakan, “Cukuplah Allah bagi kami.
Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman, dari Abu Ja’far dari Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang telah berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ketika Ibrahim ‘alaihis salam dilemparkan ke dalam nyala api, ia mengucapkan “Ya Allah, sesungguhnya Engkau di langit Esa dan saya di bumi seorang diri menyembah-Mu.”

Menurut suatu riwayat, ketika mereka mengikatnya, (Nabi Ibrahim) mengucapkan doa berikut, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu semua kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.” Syu’aib Al-Jiba-i mengatakan bahwa saat itu usia Ibrahim ‘alaihis salam enam belas tahun, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui kebenarannya.

Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya di langit, lalu Jibril bertanya, “Apakah kamu mempunyai suatu permintaan?”
Ibrahim menjawab, “Adapun meminta kepadamu, saya tidak akan mau.
Tetapi jika kepada Allah, saya mau.”


Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 68 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 68 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 68 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:68
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.4
Ratingmu: 4.8 (10 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta