QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 57 [QS. 21:57]

وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ
Watallahi akiidanna ashnaamakum ba’da an tuwalluu mudbiriin(a);

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
―QS. 21:57
Topik ▪ Dosa-dosa besar
21:57, 21 57, 21-57, Al Anbiyaa 57, AlAnbiyaa 57, Al-Anbya 57, Al Anbiya 57, Alanbiya 57, Al-Anbiya’ 57

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 57

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 57. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang tidak diucapkan kepada kaumnya itu, ialah bahwa ia bertekad untuk menghancurkan patung yang menjadi sesembahan kaumnya itu, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ibrahim berkata kepada dirinya sendiri, “Aku bersumpah demi Allah, akan mengatur siasat untuk menghancurkan patung-patung kalian setelah kalian pergi jauh meninggalkannya agar tampak sesatnya apa yang kalian lakukan.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Demi Allah, sungguh aku akan memperdaya dan menghancurkan berhala-berhala kalian, sesudah kalian pergi berpaling darinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Ibrahim ‘alaihis salam bersumpah —yang sumpahnya dapat didengar oleh sebagian kaumnya— bahwa sesungguhnya dia akan membuat tipu daya terhadap berhala-berhala mereka, yakni dia benar-benar akan menyakiti hati mereka dengan memecahkan berhala-berhala mereka sesudah mereka pergi menuju ke tempat perayaan mereka.
Menurut kisahnya, mereka (kaum Nabi Ibrahim) mempunyai hari pasaran tertentu yang mereka rayakan di suatu tempat.

As-Saddi mengatakan bahwa ketika hari raya itu sudah dekat masanya, ayah Ibrahim berkata, “Hai anakku, seandainya kamu keluar bersama kami menuju ke tempat perayaan kami, niscaya kamu akan kagum kepada agama kami.” Maka Ibrahim keluar (berangkat) bersama mereka.
Ketika di tengah jalan, Ibrahim menjatuhkan dirinya ke tanah dan berkata, “Sesungguhnya aku sakit.” Ketika kaumnya melaluinya, sedangkan dia dalam keadaan tergeletak, mereka bertanya, “Mengapa kamu?”
Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya saya sakit.”

Setelah sebagian besar dari kaumnya telah berlalu dan yang tertinggal hanyalah orang-orang yang lemah dari kalangan mereka, Ibrahim berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian.

Maka ucapannya itu didengar oleh mereka.

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abul Ahwas dari Abdullah yang telah mengatakan, bahwa ketika kaum Nabi Ibrahim ke luar menuju ke tempat perayaan mereka, mereka melalui Ibrahim, lalu berkata kepadanya, “Hai Ibrahim, tidakkah engkau keluar bersama kami?”
Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya aku sedang sakit.” Dan adalah sebelumnya, yakni kematian.
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 57) Maka ucapannya itu didengar oleh sebagian orang dari kalangan kaumnya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 57

ASHNAAM
أَصْنَام

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya ash shanam, artinya sesuatu yang dibuat dari kayu, perak dan tembaga untuk disembah.

Al Kafawi berkata,
“Ia terbuat dari batu'”

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ash shanam ialah setiap benda yang disembah selain Allah, atau setiap yang disembah oleh penyembah-penyembah berhala dari gambar atau patung.”

Lafaz ashnaam disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Al An’aam (6), ayat 74
-Al A’raaf (7), ayat 138
-Ibrahim (14), ayat 35
-Asy Syu’araa (26), ayat 71
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 57.

Al Fayruz berkata,
“Ia bermakna setiap tubuh yang dijadikan dari perak atau tembaga. Orang musyrik menyembahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Malah setiap sesuatu yang menyibukkan sehingga berpaling dari Allah dikatakan shanam. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim berkata,
“Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari perbuatan menyembah berhala.” Nabi Ibrahim mendapat ilmu makrifah dan hikmah tetapi masih takut kembali kepada penyembahan berhala yang disembah oleh mereka, seakan-akan beliau berkata,
“Jauhkanlah aku daripada disibukkan selain Engkau.

Ibn Juraij menjelaskan, “Makna ashnaam dalam surah Al A’raaf ialah patung-patung sapi dan ia adalah anak patung yang pertama dibuat oleh kaum Lakhm atau kaum Kanan yang diperintahkan oleh Nabi Musa untuk memerangi mereka. Mereka mendirikannya dan mengagungkannya sebagaimana orang yang duduk (mengagungkan Allah. pen.) di dalam masjid.”

At Tabari berkata,
“Ia adalah patung dari batu atau kayu dan dalam bentuk manusia, dan ia adalah berhala (watsan). Kadangkala gambar yang dilukis dalam bentuk manusia di atas dinding dikatakan shanam dan watsan.”

Kesimpulannya, makna lafaz ashnaam ialah patung atau berhala yang menjadi tuhan bagi orang musyrik.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:74-75

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 57 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 57 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 57 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:57
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.5
Ratingmu: 4.5 (13 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta