Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 53 [QS. 21:53]

قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ
Qaaluuu wajadnaa aabaa-anaa lahaa ‘aabidiin(a);

Mereka menjawab:
“Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”.
―QS. 21:53
Topik ▪ Istighfar para Nabi as.
21:53, 21 53, 21-53, Al Anbiyaa 53, AlAnbiyaa 53, Al-Anbya 53, Al Anbiya 53, Alanbiya 53, Al-Anbiya’ 53

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Azar dan kaumnya menjawab pertanyaan Ibrahim dengan pernyataan bahwa mereka menyembah patung hanyalah sekadar mengikuti perbuatan nenek moyang mereka.

Jawaban tersebut menunjukkan bermacam-macam kelemahan.

Pertama, bahwa mereka tidak dapat menjawab pertanyaan Ibrahim tadi dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal, yang didasarkan atas kebenaran,

Kedua, bahwa mereka dalam hidup beragama hanyalah berdasarkan rasa taassub (fanatik) kepada tradisi nenek moyang, bukan berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang sehat.

Ketiga, mereka menutup diri terhadap hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka, walaupun nyata kebenarannya Seolah-olah telinga mereka telah tersumbat, dan hati mereka telah tertutup rapat.

Sifat taassub dan bertaklid buta adalah ciri khas orang-orang yang tak mampu mengatakan pendirian mereka dengan bukti yang benar dan hujah yang kuat, karena memang pendirian yang mereka anut itu tidak benar.
Mereka menganutnya hanya sekadar menjaga tradisi yang mereka pusakai dari nenek moyang.
Sifat tersebut sangat menghambat kemajuan manusia, dan menjerumuskan mereka kepada keingkaran terhadap yang benar, bahkan kepada kekafiran terhadap Allah.

Bahkan dalam kalangan kaum Muslimin kita dapati pula orang-orang yang bertaklid buta terhadap sesuatu mazhab, atau terhadap seorang imam, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain.
Sifat semacam itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, yang selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mencari kebenaran.

Para imam dari mazhab-mazhab fikih lingkungan Islam melarang para pengikutnya untuk bertaklid kepadanya, dan menganjurkan agar mereka suka menerima pendapat orang lain, bila ternyata lebih benar dari pendapat yang dianutnya

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka menjawab, “Kami melihat nenek moyang kami mengagungkan dan menyembahnya, maka kami pun mengikuti jejak mereka.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka menjawab, “Kami mendapatkan bapak-bapak kami menyembahnya”) maka kami mengikuti mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka menjawab :
Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya, dan kami menyembahnya karena mengikuti mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.”

Mereka tidak mempunyai suatu alasan pun selain perbuatan bapak-bapak mereka yang sesat.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.


Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Al Anbiyaa (21) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Anbiyaa (21) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Anbiyaa (21) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 112 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.7
Ratingmu: 4.9 (9 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/21-53









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta