Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Anbiyaa

Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) surah 21 ayat 47


وَ نَضَعُ الۡمَوَازِیۡنَ الۡقِسۡطَ لِیَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٌ شَیۡئًا ؕ وَ اِنۡ کَانَ مِثۡقَالَ حَبَّۃٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ اَتَیۡنَا بِہَا ؕ وَ کَفٰی بِنَا حٰسِبِیۡنَ
Wanadha’ul mawaaziinal qistha liyaumil qiyaamati falaa tuzhlamu nafsun syai-an wa-in kaana mitsqaala habbatin min khardalin atainaa bihaa wakafa binaa haasibiin(a);

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun.
Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.
Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
―QS. 21:47
Topik ▪ Hisab ▪ Lembaran catatan amal perbuatan ▪ Singkatnya umur dunia
21:47, 21 47, 21-47, Al Anbiyaa 47, AlAnbiyaa 47, Al-Anbya 47, Al Anbiya 47, Alanbiya 47, Al-Anbiya’ 47
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 47. Oleh Kementrian Agama RI

Dengan tegas Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan dalam ayat ini, bahwa dalam menilai perbuatan hamba-Nya kelak di hari kiamat.
Allah akan menegakkan neraca keadilan yang benar-benar adil, sehingga tak seorangpun akan dirugikan dalam penilaian itu.

Maksudnya: penilaian itu akan dilakukan setepat-tepatnya, sehingga tak akan ada seorang hambapun yang amal kebaikannya akan dikurangi sedikitpun, sehingga menyebabkan pahalanya dikurangi dari yang semestinya ia terima Sebaliknya tak seorangpun di antara mereka yang kejahatannya dilebih-lebihkan, sehingga menyebabkan ia mendapat azab yang lebih berat dari pada yang semestinya, walaupun Allah kuasa berbual demikian.

Adapun memberikan pahala yang berlipat ganda dari jumlah kebaikan sekarang, atau menimpakan azab yang lebih ringan dari kejahatan sekarang, adalah terserah kepada kehendak Allah dan Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Keadilan Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa semua kebaikan manusia, betapapun kecilnya niscaya dibalasi-Nya dengan pahala, dan semua kejahatannya betapapun kecilnya niscaya dibalasi-Nya dengan azab atau siksa-Nya.
Dalam hubungan ini, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam ayat yang lain.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.

(Q.S Al Zalzalah: 7-8)

Pada akhir ayat ini Allah.
menegaskan bahwa cukuplah Dia sebagai saksi pembuat perhitungan yang paling adil.
Ini merupakan jaminan bahwa penilaian yang akan dilakukan terhadap segala perbuatan hamba-Nya akan dilakukan-Nya kelak di hari berhisab dengan penilaian yang seadil-adilnya, sehingga tak seorangpun hamba yang dirugikan atau teraniaya, yaitu menerima pahala dari kebaikannya atau menerima azab dari kejahatan yang telah dilakukannya

Al Anbiyaa (21) ayat 47 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anbiyaa (21) ayat 47 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anbiyaa (21) ayat 47 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami menetapkan timbangan untuk menentukan keadilan pada hari kiamat.
Maka, pada hari itu, tidak akan ada seorang pun yang dicurangi dengan pengurangan kebaikannya atau penambahan kejelekannya.
Meskipun perbuatannya hanya seberat biji moster, akan Kami datangkan dan akan Kami perhitungkan.
Cukuplah Kami sebagai penghitung, maka tak seorang pun akan dirugikan[1].

[1] Ayat ini mengisyaratkan betapa ringannya biji moster (khardzal) itu.
Melalui penelitian dapat diketahui bahwa satu kilogram biji moster terdiri atas 913.
000 butir.
Dengan demikian, berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau ± 1 mg., dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang.
Oleh karena itu, biji ini sering digunakan untuk menimbang berat yang sangat detil dan halus.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami akan memasang timbangan yang tepat) timbangan yang adil (pada hari kiamat) pada hari itu (maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun) dengan dikurangi pahala kebaikannya atau ditambahkan dosa keburukannya.
(Dan jika) amalan itu (hanya seberat) sama beratnya dengan (biji sawi Kami mendatangkannya) yakni pahalanya.
(Dan cukuplah Kami menjadi penghisab) segala sesuatu, yakni yang menghitungnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah memasang timbangan yang adil untuk penghisaban pada Hari Kiamat, dan mereka atau selain mereka tidak dizhalimi sedikit pun.
Walaupun perbuatan itu hanya seberat zarrah, baik kebaikan maupun keburukan, maka diperhitungkan dalam hisab pelakunya.
Cukuplah Allah sebagai penghitung perbuatan para hamba-Nya, dan membalas mereka atas perbuatan tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.

Yakni Kami akan meletakkan timbangan (neraca) yang tepat kelak di hari kiamat bagi amal perbuatan mereka.
Menurut pendapat kebanyakan ulama, sesungguhnya yang dimaksud hanyalah sebuah neraca, dan sesungguhnya diungkapkan dalam ayat ini dalam bentuk jamak hanyalah karena me­mandang dari segi banyaknya amal perbuatan yang ditimbang dengannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.
Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)wya.
Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.

Semakna dengan apa yang disebutkan Allah dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.
(Al Kahfi:49)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala, menyitir kata-kata Luqman kepada anak-anaknya:

Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya).
Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.
(Luqman:16)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui sahabat Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada dua kalimat yang ringan dibaca lisan, tetapi berat di dalam timbangan lagi disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu Subhanallah (Mahasuci Allah) Wabihamdihi (dan dengan memuji kepada-Nya) Subhanallahil 'Azim (Mahasuci Allah lagi Mahabesar).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Amr ibnu Yahya, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kelak di hari kiamat neraca akan diletakkan, lalu dihadapkan seorang lelaki (yang akan ditimbang), maka ia diletakkan di salah satu dari kedua sisi neraca itu, sedangkan di sisi lainnya di letakkan catatan amal perbuatannya, dan ternyata catatan amal perbuatannya lebih berat.
Kemudian lelaki itu dikirimkan ke neraka.
Tetapi ketika lelaki itu dibawa ke neraka, tiba-tiba terdengarlah suara seruan dari sisi Tuhan Yang Maha Pemurah seraya mengatakan, "Janganlah kalian (para malaikat) tergesa-gesa, karena sesungguhnya ia masih mempunyai suatu amal lagi.” Lalu didatangkanlah sebuah kartu yang padanya tertulis kalimat "Tidak ada Tuhan selain Allah.” Dan kartu itu diletakkan di timbangannya, sehingga timbangannya jauh lebih berat dari catatan perbuatannya).

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Nuh, telah menceritakan kepada kami Laioe ibnu Sa'd, dari Malik ibnu Anas, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Absyah, bahwa seorang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ duduk di hadapan beliau, lalu lelaki itu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki budak-budak yang pernah berdusta, berkhianat dan menentang perlakuan terhadap caci maki mereka.
Bagaimanakah tentang perlakuanku terhadap mereka itu?
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Kelak akan diperhitungkan kadar khianat, durhaka, dan dusta mereka kepadamu, dan hukuman yang kamu jatuhkan kepada mereka.
Jika hukumanmu kepada mereka sesuai dengan kadar pelanggaran mereka, maka hal itu impas, tidak membawa manfaat kepadamu dan tidak pula menimpakan mudarat kepadamu.
Jika hukumanmu kepada mereka masih di bawah kadar pelanggaran mereka, maka hal itu merupakan suatu keutamaan bagimu.
Dan jika hukumanmu kepada mereka lebih dari kadar pelanggaran mereka, maka mereka akan menuntut balas darimu kelebihan hukuman yang kamu jatuhkan kepada mereka.
Kemudian lelaki itu menangis di hadapan Rasulullah ﷺ seraya bergumam.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Mengapa dia tidak membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan: Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan sesesorang barang sedikit pun.
Dan jika (amalan itu) hanya sebesar biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat Perhitungan' (Al Anbiyaa:47)." Maka lelaki itu berkata, "Wahai Rasulullah, tiadajalan lain yang lebih baik bagiku selain berpisah dari mereka —yakni budak-budaknya—.
Sesungguhnya aku bersaksi kepadamu bahwa mereka semuanya merdeka."

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 47

HABBAH
حَبَّة

Dalam bahasa Arab lafaz habb berarti biji-bijian yang berada pada tangkai seperti biji gandum, beras dan semua tumbuhan yang tidak mempunyai isi atau biji di dalamnya. Sedangkan untuk menyebut satu biji saja, dalam bahasa Arab digunakan lafaz habbah. Biji-biji ini berbeda dengan buah-buahan yang ada isi atau biji di dalamnya seperti kurma, kismis dan lain-lain. Untuk menyebut isi buah-buahan seperti ini dalam bahasa Arab digunakan lafaz nawa, apabila menyebut satu isi buah saja digunakan lafaz nuwah.

Di dalam Al Qur'an, lafaz habb disebut sebanyak tujuh kali yaitu dalam surah:
-Al­ An'aam (6), ayat 95, 99;
-Yaa Siin (36), ayat 33;
-Qaf (50), ayat 9;
-Ar Rahmaan (55), ayat 12;
-An Nabaa (78), ayat 15;
-Abasa (80), ayat 27.

Dalam tujuh ayat itu, Allah mengingatkan, aneka ragam biji-bijian yang tumbuh di muka bumi ini adalah diciptakan untuk keperluan manusia. Allah juga mengingatkan, tumbuhnya di atas permukaan bumi ini adalah tanda keagung­an dan kekuasaanNya. Dengan peringatan ini, diharapkan manusia sadar pada sifat kasih sayang Allah dan juga kekuasaanNya sehingga mereka selalu bersyukur.

Sedangkan lafaz habbah di dalam Al Qur'an disebut sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 261 sebanyak dua kali;
-Al An'aam (6), ayat 59;
-Al Anbiyaa (21), ayat 47;
-Luqman (31), ayat 16.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 261, lafazhabbah dijadikan perumpamaan bagi infak yang dikeluarkan untuk perjuangan di jalan Allah. Infak itu memberikan pahala berlipat ganda seperti satu biji (habbah) yang menjadi tujuh cabang. Tiap-tiap cabangnya itu menghasilkan seratus biji. la adalah per­umpamaan benda logis (maqul) dengan menggunakan benda yang dapat dirasai (mahsus).

Imam Ibn Katsir menyatakan, per­umpamaan seperti ini lebih terkenan di hati apabila dibandingkan menyebut secara jelas pahala itu digandakan sebanyak tujuh ratus kali lipat.

Sedangkan dalam surah Al An'aam (6), ayat 59, lafaz habbah dikaitkan dengan sifat ilmu Allah yang luas tidak terkira. Dalam ayat itu digambarkan sebutir tanaman yang jatuh dalam kegelapan bumi pun diketahui oleh Allah, ''Ayat ini adalah antara ayat-ayat agung yang menerangkan secara terperinci keluas­an ilmu Allah."

Sedangkan dalam surah Al Anbiyaa (21), ayat 47 dan surah Luqman (31), ayat 16, lafaz habbah digunakan untuk menerangkan amalan terkecil yang dilakukan oleh manusia, baik amalan baik ataupun jelek. Digambarkan amalan individu meskipun seberat satu biji yang kecil, nantinya dibalas oleh Allah. Keterangan dalam kedua ayat ini menunjukkan Allah begitu adil dalam meng­hukum dan menilai hambaNya pada hari kiamat nanti sehingga tidak akan ada hamba yang dizalimi.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:174

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur'an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari Al Qur'an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya'juj dan Ma'uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.


Gambar Kutipan Surah Al Anbiyaa Ayat 47 *beta

Surah Al Anbiyaa Ayat 47



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anbiyaa

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.7
Rating Pembaca: 4.3 (27 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ qs al anbiya 21 47 beserta artinya, tafsir al anbiya 47, tafsir surat al anbiya 183