QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 36 [QS. 21:36]

وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا الَّذِیۡ یَذۡکُرُ اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ بِذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ
Wa-idzaa raaakal-ladziina kafaruu in yattakhidzuunaka ilaa huzuwan ahadzaal-ladzii yadzkuru aalihatakum wahum bidzikrir-rahmani hum kaafiruun(a);

Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok.
(Mereka mengatakan):
“Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?”,
padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.
―QS. 21:36
Topik ▪ Saat kematian orang kafir
21:36, 21 36, 21-36, Al Anbiyaa 36, AlAnbiyaa 36, Al-Anbya 36, Al Anbiya 36, Alanbiya 36, Al-Anbiya’ 36

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 36

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan sikap dan kelakuan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, yaitu bahwa setiap kali mereka melihatnya, maka mereka menjadikan Nabi sasaran bagi olok-olokan dan ejekan mereka, seraya berkata kepada sesama mereka:
Ini macamnya orang yang mencela tuhan kamu ?
Padahal merekalah orang-orang yang ingkar dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala.
Demikianlah ejekan mereka terhadap Rasulullah.
Dan mereka tidak menginsafi bahwa yang sebenarnya merekalah yang selayaknya menerima ejekan, karena mereka menyembah patung-patung dan berhala, yang tidak kuasa berbuat apapun untuk mereka, bahkan tangan mereka sendirilah yang membuat tuhan-tuhan mereka itu sehingga mereka yang menjadi kholik sedang tuhan-tuhan mereka menjadi makhluk yang diciptakan.
Dengan demikian, keadaan menjadi terbalik dari pada yang semestinya, karena tuhan semestinya sebagai pencipta bukan yang diciptakan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila orang-orang yang ingkar kepada Allah dan kepada ajaran yang kau bawa itu melihatmu, Muhammad, mereka hanya akan mengejek dan menghinamu.
Mereka saling berkata kepada sesamanya, “Inikah orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?”
Padahal mereka sendiri tidak percaya dengan zikir kepada Allah yang melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu tidaklah mereka menjadikanmu melainkan hanyalah sebagai bahan perolokan) yakni mereka memperolok-olok kamu seraya mengatakan, (“Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?”) orang yang mencaci maki tuhan-tuhan kalian.

(Dan mereka adalah orang-orang yang bila disebutkan nama Tuhan Yang Maha Pemurah) kepada mereka (maka mereka) lafal ini berfungsi menjadi taukid (ingkar) kepada-Nya, karena mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui-Nya.”

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ketika orang-orang kafir melihatmu, waha Rasul, mereka menunjukmu untuk mengejekmu, dengan mengatakan satu sama lain :
Inikah orang yang mencaci maki sembahan-sembahan kalian??
Mereka mengingkari Allah Yang Maha Pemurah dan nikmat-nikmat-Nya, serta mengingkari al-Qur’an dam petunjuk yang diturunkan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu.

Yakni orang-orang kafir Quraisy, seperti Abu Jahal dan lain-lainnya.

…mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok.

Maksudnya, mereka menjadikan dirimu bahan olok-olok mereka, dan mendiskreditkan kamu seraya berkata:

Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?

Mereka bermaksud bahwa apakah ini orang yang mencaci maki tuhan-tuhan kalian dan yang membodoh-bodohkan orang-orang terkemuka kalian?

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.

Yakni mereka kafir kepada Allah, selain itu mereka memperolok-olok Rasul-Nya.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan), “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?
Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.” Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.
(Q.S. Al-Al-Furqan: 41-42)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 36

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa Nabi ﷺ lewat di depan Abu Jahl dan Abu Sufyan yang sedang bercakap-cakap.
Ketika Abu Jahl melihat Nabi ﷺ,ia tertawa dan berkata kepada Abu Sufyan: “Inilah Nabi Bani ‘Abdi Manaf.” Marahlah Abu Sufyan dan berkata: “Apakah engkau akan memungkiri jika dari Bani ‘Abdi Manaf seorang Nabi?” Percakapan itu terdengar oleh Nabi ﷺ.
Beliau berbalik kepada Abu Jahl dengan pandangan yang tajam sambil memberikan peringatan: “Aku tidak melihat engkau berhenti mengganggu, sehingga engkau mendapat siksa sebelum waktu seharusnya.” Ayat ini (al-Anbiyaa’: 36) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 36

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz’an, yaitu berdasarkan qira’at ulama Kufah. Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf’an menjadi kufuwan. Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu’ atau makaan huz’in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf”ul yaitu mahzu’an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa’idah (5), ayat 57, 58;
-Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 36;
-Al Furqaan (25), ayat 41;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.

Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Bani Isra’il kepada Musa, “Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan.”

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok. Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu. Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa. Oleh karena itu mereka berkata demikian. Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, “Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasul-rasul Nya, agama Nya dan sebagainya. Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.

Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa ‘idah (5), ayat 57). Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa’ idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
“Bakarlah pendusta ini” Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasul-rasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya’ (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan. Seperti bagi mereka ‘adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat. (Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat. (Al Kahfi (18), ayat 104-106).
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar. Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644-646

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 36 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 36 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 36 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:36
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.8
Ratingmu: 4.8 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim