QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 33 [QS. 21:33]

وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ فِیۡ فَلَکٍ یَّسۡبَحُوۡنَ
Wahuwal-ladzii khalaqallaila wannahaara wasy-syamsa wal qamara kullun fii falakin yasbahuun(a);

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
―QS. 21:33
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan malam dan siang ▪ Kekuasaan Allah
21:33, 21 33, 21-33, Al Anbiyaa 33, AlAnbiyaa 33, Al-Anbya 33, Al Anbiya 33, Alanbiya 33, Al-Anbiya’ 33

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 33

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 33. Oleh Kementrian Agama RI

Selanjutnya, dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam.
Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.

Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari.
Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam.
Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi.
Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.

Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat di atas adalah untuk menjadi bukti-bukti alamiyah, di samping dalil-dalil yang rasional dan keterangan-keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, tentang wujud dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala, untuk memperkuat apa yang telah disebutkan-Nya dalam firman-Nya yang terdahulu, bahwa “apabila” di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah keduanya”.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah lah yang menciptakan malam, siang, matahari dan bulan.
Semua itu berjalan pada tempat yang telah ditentukan Allah dan beredar pada porosnya masing-masing yang tidak akan pernah melenceng dari garis edarnya[1].

[1] Masing-masing benda langit mempunyai poros dan garis edar sendiri-sendiri.
Semua benda langit itu tidak pernah kenal diam, tetapi terus beredar pada garis edarnya yang disebut orbit.
Kenyataan ini tampak jelas terlihat pada matahari dan bulan.
Demikian halnya dengan peredaran bumi pada porosnya menjadikan siang dan malam datang silih berganti seolah-olah beredar pula.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.

Masing-masing dari semua itu) lafal Kullun ini tanwinnya merupakan pergantian daripada Mudhaf ilaih, maksudnya masing-masing daripada matahari, bulan dan bintang-bintang lainnya (di dalam garis edarnya) pada garis edarnya yang bulat di angkasa bagaikan bundaran batu penggilingan gandum (beredar) maksudnya semua berjalan dengan cepat sebagaimana berenang di atas air.

Disebabkan ungkapan ini memakai Tasybih, maka didatangkanlah Dhamir bagi orang-orang yang berakal, yakni keadaan semua yang beredar pada garis edarnya itu bagaikan orang-orang yang berenang di dalam air.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah-lah yang telah menciptakan malam, agar manusia merasa tentram di dalamnya, dan menciptakan siang, agar mereka mencari penghidupan pada waktu itu.
Dia menciptakan matahari sebagai tanda siang, dan menciptakan bulan sebagai tanda malam.
Masing-masing dari keduanya memiliki tempat peredaran di mana ia beredar dan berjalan tanpa pernah menyimpang darinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abud Dunia telah menuturkan sebuah kisah di dalam kitabnya yang berjudul At-Tafakkur wal I’tibar, bahwa sejumlah ahli ibadah Bani Israil melakukan tana brata selama tiga puluh tahun.
Seseorang dari mereka bila melakukan ibadah selama tiga puluh tahun, pasti ia dinaungi oleh awan.
Tetapi ada seseorang dari mereka yang sudah menjalani ibadahnya selama tiga puluh tahun, namun masih juga tidak ada awan yang menaunginya, tidak seperti yang terjadi pada teman-temannya.
Lalu lelaki itu mengadu kepada ibunya tentang apa yang dialaminya.
Maka ibunya menjawab, “Hai anakku, barangkali engkau berbuat dosa dalam masa ibadahmu itu?”
Ia menjawab, “Tidak.
Demi Allah, saya tidak pernah melakukan suatu dosa pun.” Ibunya berkata lagi, “Barangkali kamu berniat akan melakukan dosa.” Ia menjawab, “Tidak, saya tidak pernah berniat seperti itu.” Ibunya berkata lagi, “Barangkali kamu sering mengangkat kepalamu ke arah langit, lalu menundukkannya tanpa merenungkannya?”
Ia menjawab, “Ya, saya sering melakukan hal itu.” Ibunya berkata, “Itulah kesalahan yang kamu lakukan.”

Kemudian Ibnu Abud Dunia membacakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang.

Yakni malam hari dengan kegelapan dan ketenangannya, dan siang hari dengan cahaya dan keramaiannya.
Terkadang waktu yang satu lebih panjang, dan yang lainnya lebih pendek.
Begitu pula sebaliknya.

…matahari dan bulan.

Matahari mempunyai cahaya tersendiri begitu pula garis edarnya.
Bulan kelihatan mempunyai cahaya yang berbeda serta garis edar yang berbeda pula.
Masing-masing menunjukkan waktu yang berbeda.

Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Yaitu beredar.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa matahari dan bulan masing-masing beredar pada garis edarnya, sebagaimana alat tenun dalam operasinya berputar pada falkah (bandul)nya.

Mujahid mengatakan bahwa alat tenun tidaklah berputar kecuali bila bandulnya berputar, begitu pula bandul alat tenun, ia tidak berputar kecuali bila alat tenunnya berputar.
Demikian pula bintang-bintang, matahari dan bulan, semuanya beredar pada garis edarnya masing-masing dengan teratur dan rapi (sehingga tidak terjadi tabrakan).
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.
Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(Al-An’am:96)


Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 33

FALAK
فَلَك

Arti kata falak adalah tempat berjalannya bintang dan planet.

Ar Raghib Al Isfahani mengatakan bahawa orbit bintang dan planet dinamakan dengan, karena bentuknya bulat panjang seperti bentuk kapal.

Kata falak diulang dua kali saja dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 33;
-Yaa Siin (36), ayat 40.

Dalam kedua ayat ini dijelaskan bagaimana Allah telah mengatur alam raya ini dengan sangat teliti dan rapi, sehingga matahari, bulan, siang dan malam mempunyai garis edar atau orbitnya sendiri-sendiri, dengan itu maka munculnya siang dan matahari tidak akan mendahului munculnya malam dan bulan. Semuanya ini membawa kemanfaatan bagi manusia, yaitu munculnya waktu malam yang gelap sehingga mereka dapat istirahat dengan tenang, dan munculnya waktu siang yang terang sehingga mereka dapat bekerja dan mencari rezeki, wujudnya keseimbangan antara hawa sejuk dan panas, musim berputar dan berulang setiap tahun, dan waktu serta tarikh dapat ditetapkan dengan senang untuk keperluan ibadah maupun mu’amalah. Ini semua merupakan tanda-tanda yang senang difahami oleh manusia yang menunjukkan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Kuasa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:409-410

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 33 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 33 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 33 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:33
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.5
Ratingmu: 4.5 (27 orang)
Sending







Pembahasan ▪ an anbiya ayat 33 ▪ maksud quran surah (21:33) ▪ qs al anibya ayat 33 ▪ Qs alanbiya 33 ▪ surat an ambiya ayat 33 ▪ tafsir qs 21:33

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta